Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
13 (Season 02)


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA PASTIKAN ANDA SUDAH MENEKAN TOMBOL 👍


Happy Reading :)


Semoga suka🤗


(Typo bertebaran)


***


Tiba-tiba suasana di sini terasa seperti berada dimusim salju, dimana hawa dari benda putih dingin itu menusuk sampai ke tulang.


Wajah dan tatapan Dion masih dingin diikuti kedinginan sang sepupu, Ardo. Laki-laki itu juga menjadi dingin mungkin terpancing dari aura sang sepupu.


Viola menelan ludahnya, ia harus membawa kabur Ardo, Varo dan Yaya. Ia akan membiarkan sepasang mantan itu menyelesaikan masalah mereka yang tertunda.


"Varo, ikut Bunda yuk, kita beli ice cream!" ajak Viola. Ia menyikut Ardo lalu berbisik, "Mas, kita kabur. Biar Dion disini sama mantannya,"


Ardo mengangguk, ia mengekori Viola namun sebelum itu dia menyeringai dan berbisik kepada Dion. "Dari surat lamaran dia, mantan kamu itu single. Ajak balikan gih biar enggak nyabun mulu,"


Dion menatap Ardo tajam, tatapannya juga tidak kalah tajam dari milik Ardo. Mungkin semua keluarga Vazquez memiliki tatapan seperti itu.


Ardo mengabaikan tatapan Dion, ia malah memandang putra kebanggaannya. "Putra Ayah, sini Ayah gendong."


Varo langsung meloncat ke tubuh sang ayah, jangan lupakan boneka barbie itu masih di tangannya.


"Yaya mau digendong juga?" tanya Viola.


Gadis kecil itu menggeleng sambil mengusap air matanya. "Yaya udah besal," jawabnya.


Mendengar ucapan Yaya, seketika itu pula Varo memberontak dari gendongan Ardo. "Ulunin! Alo udah esal!"


"Ayah gendong aja, nanti jagoan Ayah kecapean,"


Varo menggeleng kuat. "Alo angis nih?" ancam Varo.


Ardo menggeleng lalu ia menurunkan Varo. Anak itu suka sekali mengeluarkan ancaman yang membuat kedua orangtuanya tidak berdaya.


Lalu keluarga itu keluar dari Baby's Day meninggalkan dua orang yang masih dengan kediaman yang melanda mereka.


***


"Papa!" seru Yaya ketika melihat Anton berada di hall kantor.


Anton langsung menangkap putrinya. "Yaya enggak usah lari-lari, nanti Papa bilangin mama lho," ucap Anton memperingati putrinya. Prilly memang tidak ikut ke kantor karena ia harus pergi ke posyandu.


Yaya menyengir. "Papa, Yaya mau esklim," ucapnya. Dari segi pelafalan, Yaya emang sudah lantas dalam berbicara meskipun Varo sedikit lebih tua dari Yaya.


"Nah, kebetulan ada kamu. Yaudah kamu aja yang beliin," kata Viola. Karena ia sedang malas untuk pergi ke luar. Tadi itu cuma pelarian agar anak-anak mau pergi dari Baby's Day.


Anton mengangguk, kebetulan dia juga lagi istirahat.


"Alo nak ikut!"


Varo memasang kaca mata kecil berwarna hitam miliknya. Lalu ia menarik tangan kecil milik Yaya. "Yom!"


Anton menggeleng. "Kayaknya kita bakal besanan, Do," kata Anton. "Gue sih setuju aja," lanjutnya lalu menyusul Varo dan Yaya.


Ardo menatap Viola. "Kamu setuju enggak, Yang?"


"Varo masih ngompol, enggak usah ngomong jodoh-jodohan!" ketusnya, ia lalu memasuki lift menuju ruangan Ardo.


***


"Varo mau ice cream apa?"


"Itu!" Varo menunjuk ice cream wals cup.


"Yaya?"


"Acam Valo,"


"Uncle, Alo nak itu," Varo menunjuk lagi ice cream cornetto coklat.


Anton pun mengambilkannya untuk Varo dan Yaya.


"Nak itu," tunjuk Varo lagi.


"Itu," katanya lagi.


"Itu, ma itu. Cegini," Varo menunjukkan dua jarinya.


"Uat Alo ma Yaya,"

__ADS_1


Oh Anton mengerti sekarang, ia mau semua jenis ice cream itu dua, jadi apa yang Varo punya Yaya juga punya.


"Tapi kalian enggak boleh makan ice cream banyak-banyak nanti sakit,"


"Cikit, Om. Alo ndak akan anyak, cemuanya uat Yaya,"


Yaya mengangguk. "Yaya mau!" seru gadis kecil itu


Anton menggeleng. "Enggak boleh, sayang, Yaya makan dikit aja, ya. Yaya kan masih kecil,"


Yaya mencebik, gadis kecil itu sudah siap menumpahkan air matanya.


"Eh, nda oleh angis," Varo menggerakkan jari telunjuknya dengan kepala menggeleng, "alau adi pacal Alo ndak oleh engeng," kata Varo. Ia mengelap air mata di pipi chubby Yaya.


Gadis yang sudah sesegukan itu mengangguk.


Sedangkan papanya diam tidak berkutik mendengar ucapan bocah laki-laki berusia tiga tahun itu.


Apa katanya?


Pacar?


Astagfirullah, anak kecil yang masih ngenyot ini udah tau pacar-pacaran? Wow.


"Varo, siapa yang ngajarin pacar pacar gitu?" tanya Anton seraya membawa barang belanjaan mereka ke kasir.


"Pacal? Uncle Ion," jawab bocah itu, ia menggandeng tangan Yaya sampai ke kasir.


Anton menggelengkan kepalanya.


"Berapa, Mbak?"


"88.750,"


Anton mengeluarkan uang seratus ribuan dalam dompetnya.


"Sembilan puluh aja,"


Mbak kasir itu mengangguk lalu memberikan kantong belanjaannya beserta uang kembalian.


"Terima kasih,"


Anton mengangguk.


Mereka bertiga pun keluar dari Alfamart dimana mereka belanja.


"Varo mau langsung dateng ayah bunda?" tanya Anton lewat kaca depan kepada Varo yang sibuk memakan ice creamnya.


"Au alan-alan ma Yaya," jawabnya.


"Yaya mau jalan-jalan?"


"Yaya mau pulang, ateng mama," jawab Yaya.


"Eh nda oleh! Yaya halus ikut Alo alan-alan, ata Uncle Ion, Alo halus awa Yaya alan-alan. Yaya tan pacal Alo,"


Astagfirullah, kenapa Varo berbicara layaknya orang yang udah pubertas sih?


"Uncle Dion yang bilang gitu?"


Varo mengangguk dengan mulut belepotan ice cream.


Ya, Varo masihlah anak kecil yang sering mengucapkan apa yang diajarkan orang dewasa padanya. Maka harusnya Dion sebagai guru harus diberi pelajaran.


Anak lo udah ngjk anak gue pcrn, Dion yng ngajarin.


Anton mengirimkan pesan WhatsApp itu ke ayahnya Varo, biar dia tau kelakuan anaknya ini.


Tidak berapa lama balasan dari Ardo.


Bru pcrn kan? Untng ngg ngjk nikah


Balas Ardo.


Santuy amet pak balasannya.


"Yaya nikah ama Alo ya, ata unda alo dah nikah ita bica ama-ama. Telus ita ain cepuasnya,"


Anton terkekeh, bukannya nggak tetapi belum diucapkan doang.


"Apa kata Varo? Varo mau nikah sama Yaya?"


"Ho'oh! Bial bica ain cepuasnya,"

__ADS_1


"Denger tuh, Do. Kita beneran besanan kayaknya." Lalu Anton mengirimkan voice note nya kepada Ardo.


Ia menggeleng, gini amet sih anaknya si Lempeng itu?


Sedangkan Ardo di ruangannya sudah mencak-mencak mendengar voice note dari Anton itu.


"Anak kamu tuh, Mas," ucap Viola terkekeh. Ia salut pada bocah berusia tiga tahun yang bisa berbicara seperti itu. Entah sepertinya Varo ini kelewatan cerdas makanya seperti ini.


Ardo mendengus. "Dion nih biangnya!"


Sedangkan di ruangan Dion,


"Hatci!" Dion menggosok hidungnya yang tiba-tiba bersin itu. Mungkinkah seseorang sedang membicarakannya?


***


"Ayah! Unda!" teriak Varo diiringi langkah kecilnya memasuki ruangan Ardo.


"Anak lo tuh bener-bener, masa anak gue diajakin nikah? Makan ice cream aja masih belepotan mau ngajakin anak gue nikah," ucap Anton.


"Yaya enggak usah lari-lari, anak gadis harus anggun ya," peringat Anton.


Yaya mengangguk. Tapi gadis itu masih saja lari-larian bersama Varo. Namanya juga anak kecil.


Yaya juga ikut, anak itu berubah fikiran setelah mendengar ocehan dari Varo.


Viola tertawa kecil. "Beneran Varo?"


"Apa Unda?"


"Yaya pacar Varo?"


Varo mengangguk semangat. "Iya dong, Unda."


"Siapa yang ngajarin?"


"Uncle Ion!" kata Varo.


"Bagus! Ponakan Uncle emang murid teladan," ucap Dion yang baru saja datang dengan sebuah map di tangannya.


"Sini tos dulu,"


Varo dan Dion pun ber tos ria.


"Kamu ngapain--"


"Eits, jangan ngomel dulu. Ini laporan keuangan minggu ini," Dion memberikan map tadi. "Udah clear, jadi Mas enggak perlu neror aku balikan lagi," ucapnya. Bukan apa, Dion sudah pusing dengan teroran sepupunya agar cepat balikan itu. Heran, ini yang punya hubungan asmara siapa? Dion atau bapak Varo itu?


"Syukur deh, tapi saya enggak janji bakalan berhenti neror kamu sama si baby sitter itu--"


"Udah deh, Pak. Enggak usah dibahas, saya lagi pusing mikirin kehidupan saya ke depannya," jawab Dion cepat. "Saya keluar dulu," lanjutnya.


"Varo mau ikut enggak?"


"Ada maga-maga?"


"Banyak,"


"Yaya oleh ikut?"


"Boleh, tapi kalian jangan pacaran kasian Uncle jomblo,"


"Dion! Enggak usah ajarin anak saya yang macem-macem! Awas kamu!" peringat Ardo.


Dion terkekeh. "Ok!"


Lalu mereka bertiga langsung keluar. Namun Dion berbalik lagi, ia hanya menampakkan kepalanya.


"Tapi, jangan kaget kalau Varo tambah cerdas nantinya. Assalamualaikum!"


"DION AWAS KAMU!"


***


Hallo guys, selamat malam hehe :)


Jangan pernah bosan untuk ngevote novel ini kalau menurut kalian layak buat divote hehe.


Saya cuma mau ngasi tau mungkin dua atau tiga hari nanti saya bakalan enggak update, soalnya saya mau lanjutin novel saya yng Queen of the Earth itu, udah di gantung soalnya😅


Jangan lupa mampir ke novel saya yang lainnya ya🤗🤗


Oh iya, semoga virus korona enggak berjangkit ke Indonesia ya, cukup virus kanker (kantong kering) aja yang masuk, korona jangan. Let's pray for the city of Wuhan, China🙏

__ADS_1


See u next chapter :)


__ADS_2