
Ardo jadi tidak berkonsentrasi dengan kerjaannya, sedari tadi ia terus menatap pintu masuk berharap seseorang yang ia tunggu muncul dari pintu itu. Tapi sayang belum ada tanda-tanda seseorang akan masuk dari sana.
Sejak tadi ia gelisah karena Viola yang belum sampai juga padahal jam makan siang sudah berakhir hampir satu jam yang lalu. Ini Viola sesat atau bagaimana? Enggak mungkin kan dia lupa jalan kantor ini?
Tak biasa juga Viola datang terlambat. Biasanya wanita itu datang 15 menit setelah ia mengirimkan pesan. Karena tidak bisa menunggu lagi akhirnya Ardo memutuskan untuk tanya ke resepsionis.
"Viola sudah datang?"
"Sudah pak. Sekitaran satu jam yang lalu—tutt"
Shit!
Sudah satu jam yang lalu? Lalu kemana nyangkutnya Viola ini?
Perasaan Ardo udah enggak nyaman. Pasti terjadi sesuatu dengan Viola. Baru saja Ardo ingin mencari Viola, ponsel Ardo pun bordering.
Tengil's calling..
Dengan cepat Ardo mengangkat nya.
"Kamu di mana? Sudah pikun sampai lupa ruangan saya?"
"Ardo--"
"Kamu sesat, iya? Atau kamu keluyuran dulu, sengaja bikin saya kelaperan, iya?"
"To-longin, aku," lirih wanita itu.
Dahi Ardo berkerut dalam. "Kamu kenapa?"
"Hiks, sakit tolongin--"
"Kamu dimana? Katakan!" tanya Ardo panik.
"To-toilet—"
"Halo! Halo! Viola?!"
Sial! Ponsel Ardo mati! Mengapa disaat seperti ini ponselnya harus mati? Ia membanting ponsel itu, tidak ada gunanya lagi ponsel itu.
Ardo mengambil langkah seribu untuk mencari Viola. Wanita itu bilang dirinya berada di toilet, tetapi kenapa menangis?
Toilet
Toilet
Toilet
BRAKK
"AAAAAAA! TOILET CEWEK WOI!"
__ADS_1
"Shit! Salah masuk! Sorry!"
"EH MAAP PAK ARDO!"
Sialan! Ardo harus menahan malu ketika masuk ke dalam toilet wanita itu!
BRAKKK
Bukan! Bukan ini. Apa jangan-jangan toilet rusak itu?
BRAKKK
"VIOLA!"
***
Ardo, ya Viola harus minta tolong kepadanya. Ia mencari tas jinjing miliknya, untung saja tas itu tidak dibuang oleh para wanita itu. Dan untung lagi handphone itu ada sinyal tidak lowbat. Oh Tuhan sedang berpihak padanya.
"Kamu di mana? Sudah pikun sampai lupa ruangan saya?" suara cerocosan Ardo langsung bersarang di telinganya.
"Ardo--"
"Kamu sesat, iya? Atau kamu keluyuran dulu, sengaja bikin saya kelaperan, iya?"
"To-longin, aku" lirih Viola, ia sudah tidak mampu berdebat dengan mulut cabe Ardo itu.
"Kamu kenapa?"
"Hiks, sakit tolongin--"
"To-toilet—" tiba-tiba telepon itu terputus. Padahal sinyal dan baterainya masih banyak.
"Halo?! Halo!" Viola berteriak pada ponselnya itu. Dia mencoba menghubungi Ardo lagi, namun hanya operator saja yang menjawab.
Sial! Kenapa dengan ponsel Ardo?! Atau laki-laki itu sengaja mematikannya karena ia berfikir Viola menipu? Ya Allah kalau begini mungkinkah Viola harus menunggu sampai malaikat menjemputnya? Mengingat toilet ini adalah toilet rusak yang pastinya tidak akan dimasuki seseorang.
Hampir 30 menit berlalu, namun belum juga ada tanda-tanda Ardo muncul.
BRAKKK
"VIOLA!"
Viola mendongak saat seseorang memanggil namanya. Oh Tuhan, akhirnya sang penyelamat datang. "Ardo hiks ..."
Hidung Ardo mengkerut kala mencium aroma yang kurang sedap dan itu berasal dari tubuh istrinya. Ardo langsung melepaskan jas yang ia kenakan.
"Ja-jangan," tolak Viola saat Ardo ingin mendekatinya.
Alis Ardo bertaut bingung. "Kenapa?"
Viola menunduk. "A-aku bau, tubuhku kotor,"
__ADS_1
Ardo tidak mendengarkan ucapan Viola, ia langsung memakaikan jasnya pada Viola karena pakaian wanita itu sudah tidak layak lagi. Ardo pun langsung mendekapnya hangat.
"Siapa yang ngelakuin ini?" tanya Ardo dingin. Ia akan memberi pelajaran pada orang itu! Berani sekali menyentuh milik Ardo! Sebenarnya Ardo juga salah di sini, harusnya ia mengumkan lebih cepat bahwa Viola adalah istrinya.
"Hiks hiks aku enggak kenal mereka," jawab Viola masih dengan isakannya.
"Karyawan sini?"
Viola mengangguk.
Bagus! Mereka akan menanggung akibatnya.
Segera Ardo menggendong Viola ala bridal style, Viola mengalungkan tangannya ke leher Ardo agar ia tidak jatuh.
Ketika melewati para karyawan kantor, Viola menenggelamkan wajahnya di dada bidang Ardo. Ia malu, ia bau, dan ia belum siap untuk dimaki lagi.
Semua karyawan di sana menatap Ardo bingung juga bertanya-tanya siapa gerangan yang di gendongan si bos triplek itu. Karena rupa manusia yang di gendongan Ardo tertutupi oleh jas miliknya.
Para karyawan di sana langsung menutup hidungnya kala mencium aroma tak sedap bercampur aroma parfum Ardo. Ardo menatap datar para karyawan tersebut.
Ardo berhenti sejenak ketika sampai di depan meja sekretarisnya. Tanpa menolah ia berucap. "Cari dress beserta sepatu wanita formal, 15 menit dari sekarang!" perintahnya pada asisten dari sekretaris Ardo.
"Dalaman perlu tidak, Pak?"
"Perlu,"
"Maaf Pak, ukurannya?"
Sial! Tiba-tiba Ardo merasakan panas di pipinya. "Terserah kau! Yang penting semuanya harus ada di meja saya! Waktumu hanya 15 menit!"
Asisten sekretaris Ardo mengangguk patuh, wanita itu langsung berlari mencari keperluan bosnya.
Ardo sengaja tidak menyuruh sekretarisnya karena Ardo masih memiliki hati untuk menyuruh wanita habis melahirkan itu kejar kejaran karena perintahnya itu.
***
"Mau saya mandikan?" tanya Ardo saat mereka sampai di ruangan Ardo.
Viola menggeleng. "Aku bisa mandi sendiri." Yakali Ardo mandiin, emang tahan?
"Saya antar," Viola mengangguk. Jadilah ia digendong sampai ke pintu kamar mandi.
"Yakin bisa sendiri? Saya tidak akan macam-macam, karena saya bukan orang yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan," ucap Ardo.
Viola menggeleng. "Aku bisa sendiri, kamu keluar."
Ardo mengangguk, namun dalam hatinya ia masih ragu meninggalkan Viola sendirian dengan keaadan kaki pincang seperti itu. Lalu Ardo kembali ke kursinya untuk mengecek cctv, setelah mengetahui apa yang terjadi pada Viola ia menyeringai. Uh sebentar lagi mereka akan menyaksikan drama yang menyenangkan.
Ia langsung menelpon Reon dengan pandangan tajam mengintimidasi oh jangan lupakan aura dingin yang dikeluarkannya. Kekuatan es yang dimiliki Elsa saja kalah.
"Atur pertemuan dengan semua karyawan satu jam lagi, pastikan semua yang bekerja disini bekumpul, bahkan satpam maupun penjaga kantin!"
__ADS_1
"Baik,"