
"Apa?" tanya Milen tanpa rasa bersalah. "Apa salah jika aku merindukan kekasihku sendiri?" ucapnya menekankan kata 'kekasih'.
Viola sudah tidak tahan dengan drama sepasang kekasih yang baru saja bertemu ini. Ia berdiri lalu meninggalkan tempat itu. "Masukkan dalam bon saya, Buk!" teriaknya.
Viola berlari kedalam lift, syukurlah hanya ada dia saja dalam lift itu. Ia mengacak rambutnya, rasanya Viola ingin membenturkan kepalanya di dinding lift tersebut. Ia marah dengan Ardo tentu saja, istri mana yang tidak marah mengetahui bahwa suaminya memiliki pacar? Tetapi ia sadar, di kantor ini tidak ada yang tau kalau Viola merupakan istri dari sang CEO.
Viola masuk ke dalam ruangannya, ia menangis sejadi-jadinya dalam ruangan itu. Biar saja jika orang mendengar tangisannya, ia tidak perduli. Ia ingin melepaskan segala kesakitan dihatinya, mungkin dengan cara ini amarahnya bisa berkurang.
Tanpa Viola sadari benih-benih itu mulai tumbuh, entah hanya akan menjadi benih saja atau akan menjadi pohon yang subur, tidak ada yang tau. Kalian hanya bisa menyaksikan dan menikmati semua yang telah direncanakan oleh Author dan Tuhan.
"Viola," panggil Ardo ketika ia sudah masuk ke dalam ruangan Viola. Ia dapat melihat punggung gadis itu bergetar. Gadis bar-bar itu sedang menangis nampaknya.
"Saya bisa jelasin—"
"Apa?!" tanya Viola yang sudah menatap nyalang Ardo. Lelaki kaget melihat mata Viola yang sudah membengkak ditambah hidung berair dan bibir masih bergetar karena kepedasan. "Lu mau jelasin kalo tante tadi itu beneran pacar lo?!" lanjut Viola.
Ardo memegang tangan Viola, namun langsung di sentak oleh Viola. "Nggak usah pegang-pegang!"
Ardo kembali menarik Viola lalu mmebawanya ke dalam ruangan CEO, karena ruangan Ardo kedap suara. Milen juga ikut masuk menyaksikan tontonan gratis ini dengan merekam pertengkaran pasutri itu.
"Dengerin saya, kamu salah paham Viola," ucap Ardo masih menggenggam tangan Viola.
Viola menyentak tangannya kasar. "Salah paham dari Hongkong?! Gue baru sadar waktu itu lo bilang enggak tertarik dengan dada gue itu karena lu udah punya pacar! Iyakan?!"
Milen melirik dada Viola, lalu ia tertawa dalam hati. Seru banget nih bawa dada dada segala, batin wanita itu.
"Saya dan Milen cuma—"
"Cuma pacaran di belakang gue, gitu?!"
"Viola dengerin saya!"
"Lo yang harus dengerin gue! Dengerin baik-baik, gue.minta.cerai!"
__ADS_1
"VIOLA!" bentak Ardo marah, seketika jantung Viola berdegup kencang. Ia tidak tau kenapa kata-kata itu keluar dari mulutnya, Viola juga terkejut sebenarnya. Viola hanya bisa menangis menyesali kebodohan ucapan yang ia keluarkan, jika Ardo menyetujui ucapannya maka Janda akan menjadi gelar baru lnya.
"Saya masih terima jika kamu pakai enggak sopan dengan saya, selain kamu istri saya kamu juga bawahan saya, ingat itu! Tapi saya masih bisa toleransi, karena kamu lagi marah. Tapi, untuk yang satu ini ... saya tidak akan pernah menceraikan kamu!" tegas Ardo. "Saya bukan pria yang main-main dengan pernikahan!" tegas Ardo sekali lagi. "Milen, jelaskan!" titah Ardo.
Milen berdecak. "Apa sayang—"
"MILEN! Saya nggak akan segan-segan menghancurkan dunia permodelanmu itu!"
Milen meneguk ludahnya kasar, gila aja kalau Ardo benar-benar menghancurkan pundi-pundi uangnya itu. "Oke-oke!" Milen menatap Viola yang wajahnya sudah tidak beraturan itu.
"Aku sama Ardo gak ada apa-apa," ucapnya santai masih merekam perdebatan mereka.
"Gak ada apa-apa di depan gue, di belakang?!" sinis Viola. Rasanya Viola ingin mencabik mulut perempuan itu. Ganjen banget!
"Ck! Aku nggak nafsu sama Ardo, orang dia belok—"
"Milen!"
"Enggak ada keluarga yang selalu melakukan hal yang lebih dari pelukan,"
"Hmpt, kamu percaya?" seketika tawa Milen pecah. "Lihat Etta, istri kamu cemburu!" ucap Milen masih dengan tertawa kencangnya.
"Gue enggak cemburu!" hardik Viola.
"Kamu cemburu sayang, ternyata selain jadi Model aku juga cocok jadi pemain film," ucap Milen.
"Maksud kamu?" Viola mengernyit bingung.
"Aku cuma akting tadi, aku memang rindu sama Etta ini karena udah lama aku enggak ketemu dia, aku sibuk dengan dunia permodelanku," jelas Milen.
"Aku marah sama Etta karena nggak ngasi tau kalo dia nikah—"
"Saya udah kasi tau, kamu aja gak bisa dihubungi."
__ADS_1
"Ya ya, jadi aku ingin mengerjai kalian sedikit," ucap Milen sambil terkikik. "Tapi malah jadi gini, sorry." Lanjutnya.
"Kamu masih minta cerai?" tanya Ardo pada Viola, Viola menggeleng. Yakali dia ngangguk status janda kembang akan menempel padanya nanti.
"Tadi, kamu cemburu?" tanya Ardo, Viola menatap Ardo kesal. "Istri mana yang enggak marah kalo suaminya punya pacar? Dan ingat aku enggak cemburu, Cuma kesel!"
Tanpa sadar Ardo tersenyum simpul, tidak ada yang mengetahui karena dengan cepat ia merubah raut wajahnya.
"Jadi udah clear?" tanya Milen sudah mematikan rekamannya. Ia mengeluarkan sebatang rokok lalu menyalakannya.
"Kamu masih merokok?" tanya Ardo yang sudah duduk di samping Viola yang sibuk merapikan wajahnya yang berantakan.
Milen mengangguk. "Rokok dan alkohol nggak bisa lepas dariku, kamu tau itu kan?"
"Tapi itu tidak baik—"
"Aku bisa menjaga tubuhku, Etta."
Viola bingung bagaimana Milen bisa menjaga bentuk tubuhnya sedangkan kebiasaan buruk itu melekat padanya. Dan lagi kok bisa ia menjadi model?
"Apa jadwal saya sore ini?"
"Tidak ada," jawab Viola.
"Baiklah, kita pulang."
"Kamu mau ikut?" tanya Ardo pada Milen.
Milen menggeleng. "Aku mau kerumah Tante Lia," jawabnya.
***
(Itu, cuma mau bilang konflik nya ada buanyakk yaa hehe nggak berat kok, menurut saya sih😅)
__ADS_1