
Sekitar tiga tahun lalu, sebelum kecelakaan Ardo.
"Pak, Nona Bernardo ternyata tidak meninggal."
Mata Ardo memicing. "Apa maksud kamu?"
"Nona Bernardo memanipulasi keadaan seakan-akan dirinyalah yang meninggal," kata Reon.
"Ia memang menumpangi sebuah mobil setelah kabur dari tahanan kita, dia tidak sendiri dalam mobil tersebut tetapi juga ada seorang perempuan lagi," ungkapnya lagi.
"Menurut kotak hitam mobil tersebut, Nona Bernardo mengambil tindakan nekat, yaitu terjun dari mobil yang melaju kencang. Ia meninggalkan identitasnya bersama wanita tadi, dan dia juga membawa kabur identitas orang lain."
"Apa kau menemukan identitas orang itu?" tanya Ardo. Ia memijat keningnya yang terasa sangat pusing. Belum selesai urusan rumah tangganya ia dikalutkan lagi dengan urusan rubah licik itu.
"Dalam satu minggu penyelidikan--"
"Sudah satu minggu dan kau baru memberitahukan ku sekarang?" tanya Ardo dingin. Bukankah harusnya Reon harus memberitahukan hal itu jauh-jauh hari?
"Saya hanya tidak mau menambah beban Anda, Pak." Reon benar, ia memang tidak mau menambah beban bosnya itu. Ia sudah di pusingkan dengan masalah rumah tangganya, maka dari itu Reon mengambil inisiatif sendiri.
Ardo mengangguk saja, entah mengapa rasa pusing itu tidak menghilang atau bahkan berkurang. "Kita harus cepat menemukan medusa itu, saya tidak mau dia menjadi ular dalam hidup saya."
"Wanita yang identitasnya di bawa oleh Nona Bernardo itu bernama Aldania, beliau menumpangi mobil tersebut karena ingin pergi ke bandara dengan tujuan Australia, Pak."
"Jadi, besar kemungkinan ular itu kabur ke Australia mengandalkan tiket dari Aldania itu," kata Ardo.
Reon mengangguk. "Benar, dan anak buah saya sudah berada di sana, mereka juga menemukan tempat menginap Nona Bernardo."
Ardo menyeringai. "Bagus, tidak salah saya memperkerjakan kalian."
Reon tersenyum dalam hati, bonus tambahan sudah di depan mata, pikir Reon. "Malam ini kita berangkat ke Dubai, karena nama Aldania tercatat dalam penerbangan menuju Dubai. Dan saya sudah menyiapkan segalanya."
Lagi lagi Ardo menyeringai. Ia bangga pada kaki tangannya yang satu ini. "Bonusmu setelah kita mendapatkan ular itu," Ardo menepuk pundak Reon.
Laki-laki itu menahan kegirangannya karena akan mendapat bonus. Alhamdulillah, dapet bonus lagi.
***
Dubai, UEA.
"Wow, Bernardo, wow! Apakah kau ingin menjual tubuhmu pada pengusaha Dubai?" tanya Ardo sarkastik. Ia sudah mengepung ular satu ini. Gampang saja, ia hanya perlu menyiapkan banyak garam agar sang ular tidak licin lagi.
"Sialan!" umpat Grace. Ternyata ia kalah cepat, niatnya ingin kabur dan mengurus identitasnya namun Ardo lebih cepat dari yang ia kira.
"Kau fikir kau adalah kancil yang bisa menipu semua orang? Tapi sayangnya tidak bagiku, kau tidak lebih dari seekor binatang,"
Grace hanya bisa diam, yang sekarang harus ia fikirkan adalah bagaimana ia bisa lepas dari manusia setan satu ini.
"Tidak ada celah lagi bagi ular seperti kamu!" ucap Ardo.
"Reon!"
Reon mengangguk, ia memencet salah satu tombol yang berada dipinggangnya. Lalu tanpa Grace sadari dia sudah masuk ke dalam sebuah sangkar.
"Bukankah ular itu seharusnya berada dalam sangkar?" Ardo menyeringai mendekati Grace yang sudah berada dalam sangkar itu.
"Tunggu pembalasan ku Ardo!" desis Grace.
__ADS_1
"Sebelum kau membalasku, kau akan menjadi sebuah kerangka terlebih dahulu," kata Ardo dingin.
Lalu datanglah para polisi Dubai dengan mengendarai mobil khas polisi dari Dubai itu. Para polisi itu mengangkat sangkar tersebut menggunakan alat berat. Namun sebelum Grace dimasukkan ke dalam mobil tahanan, wanita itu tertawa lalu berteriak. "Jangan tersenyum dulu, akan ku pastikan kau akan menderita!"
***
Waktu sekarang,
"JADI MAS PERGI BERDUA SAMA RALINE BUAT BELI CELANA DALEM?!!"
Seketika itu Ardo jadi gelagapan. "Enggak Yang, enggak!"
"Bagus! Istri lagi hamil di rumah, kamu enak-enakan ngemall sama wanita lain!" omel Viola. "Aku tau, sekarang aku jelek, gendut, bengkak di mana-mana, wajar aja suamiku ngejar wanita lain," katanya lagi. Kali ini disertai tarikan ingus dari hidung Viola.
Ardo melototkan matanya enggak percaya dengan ucapan Viola barusan, apa katanya? Dia main wanita lain? Astagfirullah, kayaknya Viola perlu di ruqiyah beneran.
"Enggak usah melotot gitu! Mata kamu udah kayak boneka Annabelle!"
Ardo mengerjap-ngerjapkan matanya. "Sayang--"
"Apa?!"
Sniftttt ...
"Dengerin dulu, jangan dipotong!" kata Ardo. "Aku sama Raline enggak belanja bareng, waktu itu aku nyuruh dia maketin doang. Kan aku udah beli nih, nah setelah nyampe kantor aku nyuruh dia," jelas Ardo.
"Aku sama sekali enggak pernah main wanita di belakang kamu, sedikitpun enggak pernah, Viola." Ardo mengelus rambut Viola. "Meskipun kamu gendut sampe enggak bisa gerak, aku tetap cinta dan sayang kamu. Kamu gendut gini kan juga aku yang bikin--"
"Nah kan kamu bilang aku gendut!" protes Viola.
Ardo menghembuskan nafasnya, salah ngomong lagi. "Sayang, maksud aku itu kamu kayak gini kan juga karena aku, karena Bocil ada dalem sini." Ardo mengusap perut Viola yang semakin hari semakin membesar itu. "Masa aku ninggalin kamu? Enggak mungkin dan nggak akan pernah."
"Kamu enggak ngambek lagi kan?"
Viola menggeleng, ia tidak kesal lagi. Malah sekarang ia ingin dimanja oleh suaminya. "Mas, peluk. Bocil pengen dipeluk sama ayah katanya,"
Senyum Ardo mengembang ia langsung merengkuh wanita hamil itu dalam pelukannya, jarang-jarang lho Viola pengen manja-manjaan sama dia. Atau mungkin masa sensitif dan ngidamnya udah pindah ke Viola? Karena udah beberapa hari ini Ardo tidak terlalu sensitif atau menginginkan sesuatu yang aneh-aneh.
"Yang,"
"Hm," Viola bergumam karena sekarang ia sedang asik mengendus aroma ketek Ardo, entah mengapa ketek Ardo baunya enak, rasanya Viola tidak mau melepaskan hidungnya dari ketek Ardo itu.
"Habis lahiran, aku pengen bawa kamu ke Kalimantan buat peresmian proyek di sana. Sekalian aku pengen ketemu nenek kamu di sana," kata Ardo.
"Hm, terserah." Hanya itu doang jawaban Viola karena sesungguhnya ia masih menikmati aroma ketek suaminya. "Mas, kok baunya enak ya?" tanya Viola.
"Kan aku wangi, Yang. Aroma ketek aku bisa dibikin minyak wangi," kata Ardo pongah.
Viola mengangguk dalam ketek Ardo. "Aku pengen pake minyak wangi dari ketek kamu,"
Mata Ardo terbelalak. Sungguh? Viola ingin minyak wangi dari keteknya?
"Mas, aku ngantuk."
"Tidur aja, biar aku yang angkat kamu ke kasur."
Viola menggeleng. "Aku maunya tidur kayak gini,"
__ADS_1
"Pinggang kamu sakit nanti,"
Namun Viola tidak merespon ucapan Ardo. Ia masih setia mengendus Aroma yang membuatnya semakin mengantuk.
Dalam keadaan setengah sadar Viola terbayang akan sebuah makanan khas yang berasal dari Sambas, bubur pedas.
"Mas,"
"Kenapa? Katanya mau tidur?" ucap Ardo.
"Aku kepengen sesuatu,"
Siaga satu,
Ardo menelan ludahnya, ia melirik jam dinding. Ok pukul sebelas malam.
"Apa?" tanya Ardo.
"Nggak aneh kok,"
Siaga dua,
"Sebutin aja," kata Ardo. Ia sudah berdoa semoga saja Viola tidak meminta yang macam-macam ditengah malam begini.
"Aku pengen bubur pedas, tapi,"
Siaga tiga,
"Tapi Dion yang bikin, sekarang!"
Duarr! Meledak!
Berdoalah agar Dion masih berada di tanah air dan Ardo diberi kemudahan.
***
Beberapa waktu lalu sebelum Viola menerima paket.
Ardo membuka paket yang baru saja ingin dikirimkan ke rumahnya. Ia memandang nanar paket itu, di dalamnya terdapat boneka bayi yang sudah dikafani. Di dalam kotak itu juga terdapat secarik kertas yang bertuliskan,
"Bukankah boneka ini seperti bayi yang akan dikuburkan?"
Ardo mengeraskan rahangnya, ia tau dalang dari semua ini. Sialan! Untung saja ia sudah mewanti-wanti keadaan seperti ini akan datang kapan saja, jadi ia mengutuskan anak buahnya untuk berada di setiap tempat pengiriman dan penerimaan barang. Paket apapun yang akan dikirimkan ke rumahnya harus diperiksa terlebih dahulu. Dan firasatnya benar, firasatnya terbukti.
Grace Bernardo, tunggu saja ajakan bermainku!
***
Hallo hallo, sudah siap dengan konflik? Tapi tenang, konfliknya masih jauh kok. Dan nggak berat ehehehe.
Tenang dan tenang, Season 2 ini saya mau bikin lebih banyak suka dari pada duka.
Oke gaes sekian dulu hari ini, happy reading semoga chapter ini dapat menghibur kalian.
Jempol 800 dan komentar 60, bisa? Ehehe nggak maksa kok, kalau bisa aja. Saya minta vote novel ini dong, pleaseeeee! Naikin peringkatnyaa
Byee, see u next chapter.
__ADS_1
Jangan lupa juga mampir ke cerita saya yang lainnya, Assalamualaikum!