Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
10 (Season 02)


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA DIHARAPKAN ANDA SUDAH MENEKAN TOMBOL 👍


Happy Reading :)


Semoga suka🤗


***


"Nggak usah nyuruh Varo nguping! Emang aku nggak tau sifat kamu? Kasian banget sih Varo punya emak kayak kamu," sinis Marvel dengan Varo berada di gendongan nya.


Feeling Marvel benar, Viola bakal nyuruh Varo ngikutin dia buat denger apa yang dia bicarakan.


Viola menyinyir. "Abang ngapain sih telponan sama kolega tapi kok ngejauh segala? Takut aku denger?"


"Nggak usah kepo urusan orang," Marvel menurunkan Varo dalam gendongan nya. "Varo denger apa aja waktu Om nelpon tadi?" tanya Marvel sama Varo.


Bocah itu menggeleng. "Alo nda tau, Alo tak dengal,"


"Nah udah denger kan anak kamu bilang apa? Jadi stop ngepoin aku,"


Lagi-lagi Viola menyinyir. "Sini, Varo duduk deket Bunda," dengan patuh bocah berpampers itu mendekati Bundanya.


"Beneran Varo nggak denger Uncle ngomong apa?" tanya Viola sekali lagi, sungguh ia sangat penasaran apa yang Marvel bicarakan tadi.


"Nda Unda, Alo kan akan maga-maga dikaci Uncle Epel," jawab Varo.


Pantesan ni anak nggak denger, orang dia disogok maga-maga itu. Wajar lah, Varo kalo udah ada semangka yang lain nggak hirau lagi, dunianya sudah teralihkan dengan maga-maga itu.


Viola menghembuskan nafasnya, ia menoleh ke Marvel yang sedang asyik chat an entah dengan siapa. Mungkin dengan si My L itu, siapa sih sebenernya L itu? Lucinta Luna? Masa iya sih? Viola menggelengkan kepalanya sungguh ia sangat penasaran.


"Bang, kamu inget nggak waktu kita dapet undangan nikahan Reynal?" tanya Viola, entah mengapa ia tiba-tiba teringat hal yang ingin ia tanyakan sedari dulu dengan Marvel ini.


"Hm," jawab Marvel acuh. Ia masih senyam-senyum dengan ponselnya itu. Jangan-jangan ni Marvel udah gila? Astagfirullah, abang kamu Viola, Viola ngebatin.


"Inget nggak sih?"


Marvel memutar bola matanya. "Inget, aku inget waktu kamu nangisin mantan pacar kamu itu,"


Viola mendelik, apaan sih si Marvel. Masa iya Viola nangis? Kan cuma boongan waktu itu. "Nggak usah fitnah, aku nggak nangis ya. Bukan itu yang pengen aku tanya,"


"Apa?"


"Abang bilang si Mira istri Reynal itu udah hamil lima bulan, tapi beberapa bulan lalu aku kan ketemu sama Reynal pas cek kandungan aku. Nah dia bilang itu si Mira masih gadis waktu nikah sama dia, jadi Abang tau dari mana Mira udah hamil itu?" tanya Viola. Inilah yang ingin ia tanyakan pada Marvel. Bukannya ia belum move on, enak aja kalau belum masa udah mau brojol lagi anak si bapak Ardo. Masalahnya itu, selama ini rasanya banyak kejanggalan-kejanggalan yang ia temui di hidupnya.


Marvel mengernyit mencoba mengingat siapa yang memberitahunya. "Oh iya, itu si Grace ngasi tau. Ck! Ternyata aku dikibulin nih? Dasar ular, syukur deh dia udah di penjara. Kenapa nggak dihukum mati sekalian sih?!" kesal Marvel. Ular betina itu sangat licin, entah mengapa si Ular itu selalu lolos dari hukuman. Hah namanya juga ular, licin.


Viola menggeleng, entah apalagi yang dilakukan Grace itu ia tidak perduli asalkan nggak nyakitin keluarga nya aja. "Nyesel banget udah temenan sama dia," kata Viola.


"Yaudah si, yang penting dia nggak ganggu kita lagi," jawab Marvel.


Viola mengangguk membenarkan. "Jam berapa sekarang?" tanya Viola.


"Lima,"


Viola berdecak. "Ini kemana sih si bapak Ardo? Kok nggak pake pulang," kesalnya. Biasanya Ardo udah pulang ke rumah satu jam yang lalu.


"Pacaran sama sekertarisnya kali," ngawur Marvel.


"Nggak usah sok tau! Bilang aja kamu iri, jadi fitnah orang sembarangan!" sebuah kulit semangka mendarat di kening Marvel.


"Ayah!" seru Varo ketika melihat Ardo sudah berada di sini. Ardo langsung menggendong Varo lalu mengecup bocah itu. Ardo tidak memakai baju kerjanya, jadi kemungkinan bapak dua anak itu pulang dulu untuk berganti baju.

__ADS_1


Marvel mendelik ke arah tersangka pelemparan kulit semangka itu. "Iri apaan?"


"Iri karena saya setiap pulang kerja ada yang nunguin," Ardo menghampiri Viola lalu mengecup kening dan pipinya. "Nungguin buat dicium gini, nggak kayak kamu yang nungguin cuma kamar yang dingin," ledek Ardo. Lelaki itu langsung memepet tubuh Viola. "Ya nggak, Yang?"


Viola mengangguk lalu membalas mengecup pipi Ardo lalu mengecup pipi Varo. "Iya dong, kamu tau nggak Mas, si Abang udah punya gebetan kayaknya," adu Viola.


"Syukur deh, aku takutnya sperm* dia jadi basi, Yang. Nggak topcer kayak aku lagi,"


Kali ini kulit semangka itu mendarat di kening Ardo. "Songong lu! Gue masih mampu nyetak tim kesebelasan kalo gue mau!" kata Marvel.


Ardo tersenyum mengejek. "Sayangnya pasangan kamu nggak mau, eh bukan nggak mau tapi nggak ada. Iya nggak, Yang?"


Viola tertawa, ia memeluk Ardo dan Varo dari samping. "Bener banget, Cintaku. Si Marvel mah emang nggak laku, dasar jomblo!"


"Dasal omblo, hihihi," dan kini Varo pun juga ikut-ikutan mengejek Marvel.


Ardo mengecup pipi Varo yang berada di pangkuannya. "Apa sayang coba ulangi lagi?"


"Uncle Epel omblo," ulang Varo. Bocah itu terkikik dengan dengan menampilkan gigi-gigi kecilnya. Sela-sela gigi itu berwarna kemerahan akibat semangka yang ia makan.


Ardo tak mampu menahan tawanya. "Dengarkan anak saya bilang apa? Anak kecil aja tau kalau kamu jomblo,"


Marvel mengerang kesal, dasar keluarga ini kompak sekali dalam mengejeknya. "Dasar keluarga sinting, awas aja kalian!" Marvel berlalu tapi sebelum itu dia berkata, "Om bakal kasi tau Yaya kalau Varo nangis! Biar Yaya nggak mau temenan sama Varo lagi!" pria itupun berlalu.


Seketika itu Varo bergerak gelisah dalam pangkuan ayahnya. "Ayah!" Varo mulai mencebikkan bibirnya.


"Eh eh anak kebanggaan Ayah nggak boleh nangis dong," hibur Ardo.


"Ayah, Unda! Uncle Epel jaaat hueeee!!"


Ardo menggeram. "Awas kamu Marvel! Saya doain kamu nggak dapet jodoh!!" lalu terdengar suara tawa Marvel dari arah atas.


***


"Wah ngusir nih, Mas. Tapi kita udah bilang mau nginep, gimana dong?" jawab Viola.


Mereka memang sudah bicara untuk menginap di rumah ini, jarang-jarang mereka nginap di sini tetapi Marvel si Jomblo itu malah nyinyir nggak jelas.


"Ngapain nginap? Pulang sana, kayak nggak punya rumah aja!" ketus Marvel. Kalau mereka beneran nginap maka malam ini akan menjadi malapetaka bagi Marvel.


"Yang, kayanya abang kamu lagi sensi nih, liat tuh aura kejombloannya semakin keluar," lagi-lagi Ardo mengejek Marvel.


"Diem lu, Do. Makin hari mulut lu nggak bisa direm, kayaknya gue lebih suka lu yang dulu, gampang dikerjain!"


"Nggak usah bicara dulu dan sekarang, udah sukur saya berubah karena istri saya. Daripada kamu? Nggak pernah berubah, dari dulu sampai sekarang tetap aja jomblo!"


Sinting! Lagi-lagi dia kena bully suami adiknya sekaligus sahabatnya ini. Kenapa sih jomblo selalu dibully sepanjang masa? Nggak bisa ya memuliakan seorang jomblo? Mereka ini butuh nominasi lho, karena nggak ada yang bisa bertahan diterpa badai dan hujan sendirian kayak jomblo. Dengan itu udah dibuktikan kalau jomblo itu kuat, tegar, dan mandiri. Nggak kayak yang berpasangan, lemah banget apa-apa harus berdua. Dasar kaum lemah!


Viola tertawa mendengar ucapan suaminya. Namun tiba-tiba dia teringat akan sesuatu. "Bang, bukannya mau dinner? Kok belum berangkat?" tanya Viola. Bukankah tadi sore Marvel bilang dia mau dinner sama kolega, tapi kok belum berangkat, dan dia juga udah makan malam tadi.


Tiba-tiba wajah Marvel jadi sendu, dinner itu gagal karena orang yang diajak dinner menggagalkan secara sepihak karena suatu alasan.


"Gagal kayaknya, nggak liat wajahnya udah kayak gitu. Kasian kamu Marvel, udah pengen nggak jomblo lagi eh batal, kayaknya jomblo itu melekat banget sama kamu,"


Marvel berdecak kesal. "Mulut cabe, diem! Mulut atau petasan sih, nyerocos mulu! Dasar bebek!" makinya. Dia hanya bisa memaki seperti itu, karena jika ia maen baku hantam pasti nggak bisa, nggak liat tuh tangan si mulut cabe melekat banget sama istrinya. Bisa-bisa Marvel kena hantam Viola karena udah nonjok suaminya. Taulah kan dua orang itu adalah orang paling bucin yang pernah ia temui.


"Unda, Ayah. Alo nantuk," ucap Varo seraya menguap. Bocah itu tiba-tiba muncul dengan botol dot susu di tangannya.


Ardo berjongkok menyamakan tingginya dengan Varo. "Siapa yang bikinin susu, sayang?"


"Atok Alih," ucap Varo.

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah ide melintas dalam fikiran Ardo. "Varo ngantuk kan?" Varo mengangguk.


"Kasur Bunda kecil, sayang. Kasur om Marvel beesaaarrr kayak raksasa, jadi kalau Varo tidur sana pasti enak."


"Eh eh apa apaan?! Nggak, Varo jangan tidur sama Om, tidur sama Ayah Bunda kamu sana!" enak aja mau tidur sama Marvel, orang bukan anak dia!


"Bang, sesekali doang Varo tidur sama Abang. Masa nggak boleh sih?" tanya Viola. Karena malam ini ia pingin manja-manjaan sama suaminya ehe ehe ehe.


"Nggak!" tolak Marvel.


"Uncle, Alo nak tidul ama Uncle," ucap Varo. Bocah itu langsung mendahului mereka dan masuk ke dalam kamar Marvel. Varo itu anak yang cerdas, jadi tau mana kamar bunda nya dan mana kamar pamannya.


"See? Anak saya aja mau tidur sama kamu," kata Ardo. "Kan kamu gagal dinner, ya otomatis kamu kesepian lagi, masih untung Varo mau nemenin kamu kalau nggak ya dingin lagi deh ranjang kamu, yaudah kita masuk dulu, tutup telinga aja kalau dengar something," lalu pasutri itu masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Marvel sendirian.


"SINTING!"


"Uncle, Alo nantuk,"


Arghh!


***


Ardo menutup pintu itu lalu mendekat ke arah Viola yang sedang duduk di meja riasnya.


Ardo memeluk Viola dari belakang, ia mengelus perut Viola yang membuncit.


"Kok kamu cantik sih, Yang?" tanya Ardo, ia melihat wajah Viola di kaca.


"Kan emang cantik, baru nyadar?" Viola menyamping guna melihat langsung wajah Ardo.


Ardo tidak menyiakan itu, ia langsung mencium bibir istrinya yang selalu menjadi candu baginya. Inilah untungnya kalau Varo tidur dengan orang lain, maka mereka akan memanfaatkan waktu ini untuk saling menebar cinta.


Sedangkan di kamar Marvel,


'Emh Mas yah yah itu di situ ahh,'


'Yang, uh shit!'


'Pelan-pelan, dedeknyahh!'


Marvel menulikan telinganya, ia juga menutup telinga ponakannya yang asyik dengan dotnya itu. Entah suara mereka yang terlalu keras atau pendengaran Marvel yang sensitif sehingga ia bisa mendengar suara laknat itu. Sialan! Padahal kamar ini kedap suara! Sialan! Sialan! Sialan!


"Uncle, uping Alo cakit, angan utup,"


"Varo diem, tidur."


"Nda au, Alo nak ain ama Uncle,"


"Mainnya besok, sekarang tidur!"


"Uncle, cucu bish, itinin ce.ka.lang!"


Marvel menghembuskan nafasnya frustasi, bukankah Marvel sudah bilang bahwa malam ini menjadi malapetaka baginya?


***


Plis jempol, komentarnya ditingkatin dong :( makin hari makin dikit jempolnya😭


Kira-kira chapter ini gimana? B aja atau nggak lucu sama sekali?


Komentar sebanyak-banyaknya yessss bala-mala minceuuu😅✌

__ADS_1


__ADS_2