Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
34 (Season 02)


__ADS_3

Tak terasa sudah hampir satu bulan kepergian papi Galih dari dunia ini. Semuanya sudah berjalan normal, tidak ada lagi kesedihan yang ada hanyalah bagaimana hidup selanjutnya berjalan.


Hari ini Varo diboyong mami Tania ke rumahnya, ia merasa kesepian karena Marvel selalu saja sibuk bekerja. Sudah berapa kali mami Tania membujuknya untuk menikah tetapi jawaban yang ia berikan selalu saja nanti dan nanti.


"Nek, di sini endak suka. Endak ada Yaya atau Keong, Varo jadi main sendiri," kata Varo cemberut. Wajar saja di sini hanya ada dirinya dan juga sang nenek. Kadang-kadang ada pembantu yang berlalu lalang melakukan pekerjaannya, tapi setelah selesai mereka akan pulang.


Mami Tania berfikir keras, bagaimana caranya agar Varo tidak merasa kebosanan.


"Varo udah makan?"


Varo menggeleng lalu mengangguk. "Varo belum makan nasi, tapi makan maga-maga udah," jawabnya.


Mami Tania berdecak kesal pada orang tua Varo itu. "Bisa-bisanya anak sendiri enggak dikasi makan!" kesalnya. "Varo mau makan apa? Biar Nenek buatkan,"


Varo menelengkan kepalanya, ia mengetuk-ngetuk dagunya. "Aha! Varo nak makan ayam goreng sepelti kemarin sama ayah bunda," jawabnya.


Dahi wanita paruh baya itu mengkerut. Hanya ayam goreng kan, itu mah gampang!


"Ayo kita goreng ayam,"


"No, no, bukan goreng tapi beli. Beli tempat sama ayah bunda itu lho, Nek. Varo suka makan disitu," cegatnya saat mami Tania menarik lembut tangan kecil Varo.


"Dimana sih?" tanya nya lagi.


"Ish Nenek! Telpon ayah bunda lah, masa tanya Varo, kan Varo ndak tau," katanya.


"Nenek harus tanya ayah bunda, pake hp Nenek itu yang Varo main tadi. Cepatlah, Varo dah lapar nih," kata bocah itu lagi.


"Iya, Nenek tau. Enggak usah di ajarin lagi," jawab mami Tania.


"Cepatlah, Nek. Varo lapeerrrr!"


Mami Tania langsung menelpon ibu dari bacah ini.


"Hallo?"


"Waalaikum salam, kenapa Mi? Varo bandel?"


"Varo endak bandel!" seru Varo saat mendengar pertanyaan dari sang bunda.


"Enggak kok, Mami mau nanya itu kalian kemarin ajak Varo makan di mana? Soalnya dia ngajak ke situ lagi," ucap mami Tania.


"Oh itu lho Mi, restauran pinggiran kota itu. Enggak jauh dari rumah Mami, palingan 45 menit itupun kalau enggak macet," jawab Viola.


Mami Tania mengangguk. "Varo nginep di sini ya? Marvel enggak pulang katanya,"


"Terserah Mami aja, tapi Varo nya mau enggak?"

__ADS_1


"Varo mau kan?" tanya mami Tania pada Varo yang sedang memberi Cucu semangka miliknya. Cucu adalah kucing Persia milik mami Tania, kucing itu baru kemarin ia beli dari anak tetangga yang katanya salah beli kucing. Dia mau kucing anggora, malah dibelikan kucing persia.


"Apa?" tanya Varo.


"Tidur dengan Nenek,"


"Tapi di sini Varo endak bisa main, Nek. Varo kangen Keong," jawabnya.


"Yah, Nenek kan jadi sedih," ucap mami Tania.


Melihat raut kesedihan sang nenek, Varo jadi berubah fikiran. "Nenek endak boleh syedih, kata bunda Varo harus bisa hibul Nenek, yaudah deh Varo tidul sini."


Mami Tania tersenyum. "Varo mau kok, yaudah Mami tutup dulu, assalamualaikum!"


"Ayo kita beli makan," ajaknya


"Eh Nenek harus janji dulu!"


"Janji apa lagi?"


"Janji, kalau Nenek harus belikan Varo maga-maga banyaaaaaaaakkkk! Varo juga mau yang walnanya biru sepelti ini," katanya seraya menunjuk topi berwarna kuning miliknya.


Hari ini Varo mengenakan setelan baju kaos berwarna kuning dipadukan dengan celana jeans pendek, serta sepasang sepatu yang pas di tubuhnya itu. Oh jangan lupakan topi kuning yang semakin menambah kadar kelucuan dan ketampanan dari seorang Ardo Vazquez muda.


Mami Tania tertawa. "Ini warna kuning Varo, bukan warna biru," koreksinya.


"Boleh, bentar ya Nenek ambilkan tas Cucu dulu,"


***


"Di sini ya, Varo?" tanya mami Tania ketika mereka sampai pada sebuah restoran bertingkat yang menggunakan kayu sebagai bahan utama pembangunannya. Bukan restoran berbintang tapi cukup mahal jika mami Tania lihat dari yang ia baca tadi di internet.


Varo mengangguk. "Cepatlah Nek, Varo laper. Cucu pun sama, ya kan Cucu?" tanya Varo pada Cucu.


"Meow meow Cucu lapel meow," ucap Varo membalas pertanyaannya seolah ia adalah seekor kucing bernama Cucu itu.


Mami Tania menggeleng. "Ayo, Nenek juga udah laper."


Sesampainya di dalam, mereka langsung disambut beberapa karyawan yang bertugas.


Setelah memesan, mami Tania memilih tempat paling pojok karena kata karyawan di sana akan aman jika mereka di sana dengan seekor kucing. Karena memang di bagian pojok sudah disediakan seperti sebuah kandang untuk hewan piaraan milik pengunjung.


"Varo laper apa doyan sih? Kok lahap banget cucu Nenek?" tanya mami ketika melihat Varo makan sangat lahap. Sampai ia tidak sadar kalau Cucu sudah tidak berada di sana.


"Nenek! Cucu hilang!" teriak Varo ketika ia menyadari tidak ada Cucu di sana.


"Palingan cuma jalan-jalan aja, nanti juga balik," balas sang Nenek. "Varo makan lagi gih,"

__ADS_1


Varo turun dari bangku yang ia duduki, lalu berlari mencari Cucu tanpa mendengarkan teguran mami Tania.


"CUCU!" teriak Varo pada seekor kucing yang baru saja melenggang masuk ke sebuah ruangan di sana.


Varo mengejar kucing itu, ia pun juga ikut masuk. Dan di dalam sana terdapat seseorang yang ia kenal.


"Om Kepin?!" seru Varo saat melihat Kevin bersama seorang wanita yang tidak Varo kenal. "Hai," Varo melambaikan tangannya pada Kevin.


Kevin mengernyit. "Varo? Kok di sini? Sama siapa?" tanya Kevin. Ia mendekati Varo lalu mensejajarkan tingginya.


"Sama nenek Nia. Om Kepin ambilin Cucu dong, nanti Cucu hilang,"


"Cucu? Di mana dot Varo? Biar Om ambilin,"


"Ish, bukan dot lah Om, tapi Cucu,"


"Iya, dimana susu Varo, biar Om ambilin,"


"Om Kepin! Cu-cu-cu! Bukan shushushu!"


"Cucu? Cucu siapa?" tanya Kevin lagi. Inilah yang ia benci ketika berbicara dengan anak-anak seperti Varo ini.


Varo menghentakkan kakinya. "Ish Om Kepin nih! NENEK!" Varo memanggil mami Tania.


Mami Tania Yang sedari tadi mencari Varo pun langsung masuk ke dalam ruangan tersebut mendengar suara sang cucu.


"Ada apa Varo?"


"Nenek! Om Kepin endak tau Cucu, Nek," adu Varo.


Kevin memandang ibu dari bundanya Varo itu. Kevin memang tidak pernah berbicara dengan mami Tania, tetapi Kevin tau mami Tania adalah ibu dari Viola, Bunda Varo.


"Itu, kucing persia warna oren," jawab mami Tania. Ia juga memandang pemuda yang lebih muda dari Dion ini. Mami Tania sedikit banyak tau tentang permasalahan antara keluarga suami Viola dengan pemuda ini, tapi dia memilih diam saja dan tidak akan ikut campur. Yang terpenting pemuda ini kemarin tidak mencelakai cucu-cucunya meskipun sudah berniat.


"Kucing ini punya kamu?" tanya seorang perempuan yang bersama dengan Kevin tadi. Ia menggendong kucing gemuk berwarna oren dengan mata abu-abu itu.


"Cucu!" Varo langsung mengambil alih Cucu dari gendongan wanita tadi.


Mami Tania beralih menatap wanita itu. Wanita dengan kulit kuning langsat itu sangat manis dan berparas ayu. Mungkin saja dia adalah pacar Kevin, fikir mami Tania.


"Oh iya, kamu lagi ngapain ke sini?" tanya mami Tania basa-basi. "Itu pacar kamu ya?"


"Oh itu saya cuma mampir aja, Bi. " Kevin tersenyum mengucapkan itu. "Dan di samping saya adalah Tasya ... "


"... saudari saya,"


***

__ADS_1


jempol dan komentar yaaa :)


__ADS_2