Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
38 (Season 02)


__ADS_3

Mungkin di akhir-akhir cerita ini bakalan enggak seru, jadi kalau mau baca silahkan semoga suka, dan kalau enggak mau baca karena bosan enggak papa kok ditinggalkan aja hehe :)


***


Hari ini merupakan hari pertama Varo bersekolah, ia masuk taman kanak-kanak swasta bertaraf internasional. Sekolah itu adalah sekolah pilihan Varo sendiri, dia tidak mau satu sekolahan dengan Yaya, dia hanya mau sekolah dekat dengan sekolah anak Prilly dan Anton itu. Entahlah apa kemauan dari bocah berusia lima tahun itu.


"Abang, bangun dong katanya mau sekolah, udah pagi nih masa kalah sama dedek," ucap Viola membangunkan putra sulungnya.


Keo sudah bangun sedari subuh, balita itu selalu bangun ketika adzan subuh berkumandang dan tidur lagi ketika jam tujuh atau jam delapan.


"Abang," panggil Viola lagi. Viola mulai membahasakan Varo abang agar Keo dapat mengikuti, dan ketika berada di depan anak-anak baik Ardo maupun Viola memanggil satu sama lain dengan panggilan ayah dan bunda.


"Bunda, Varo ngantuk enggak mau sekolah," rengek Varo. Anak itu memeluk paha ibunya yang sedang duduk di sampingnya.


"Lho, kan Abang udah janji mau sekolah? Enggak boleh lho ingkarin janji," pujuk Viola lagi. "Dek, bangunin Abang gih," Viola meletakkan Keo di samping Varo.


Keo langsung menepuk-nepuk pipi sang abang, "Baaaa! Baaaa!" ocehnya.


"Ish, Dede Ocil Keong! Jangan tepuk-tepuk pipi Varo," kata Varo. "Bunda, Keong ih!" adu Varo.


"Makanya bangun dulu, udah Bunda siapin air hangat supaya enggak kedinginan, di dapur juga udah Bunda siapin semangka sama nasi goreng kesukaan Varo,"


Mendengar kata semangka dan nasi goreng membuat Varo membuka selimutnya.


"Bunda juga udah siapin bekal semangka buat Varo, pakai tempat bekal BoboiBoy yang dibeliin ayah kemarin," lanjut Viola lagi.


"Beneran, Bunda?"


"Bener dong, makanya ayo Bunda bantu mandi dan pasang baju baru," ucap Viola.


"No no no, Varo mandi sendili, Varo kan sudah besar," ucapnya. Varo menuruni ranjang kecil miliknya lalu mengambil handuk dan mengalungkan ke lehernya. "Keong udah mandi, Bunda?"


"Udah dong, Dede Keo udah wangi ya sayang?" ucap Viola sambil mencium pipi gembul Keo.


"Varo mau cium Dede Ocil Keong!" seru Varo, ia meloncat-loncat agar bisa menggapai Keo yang digendong Viola.


"Jangan loncat-loncat, nanti jatuh," tegur Viola. Ia menyamakan tingginya dengan Varo agar Varo mudah mencium adiknya.


"Heummm, Dede Ocil Keong wangi,"


"Iya dong Abang, makanya Abang halus sepelti Dede Keo," ucap Viola menirukan suara anak-anak.


"Hihihi suara Bunda lucu," ucap Varo.


Viola tersenyum. "Cepetan mandi, Bunda tunggu di sini ya,"


"Siap Bos!"


Dua puluh menit kemudian, Varo belum keluar dari kamar mandi juga. Viola yang khawatir langsung menengok keadaan Varo.

__ADS_1


"Varo?"


Varo menoleh lalu menyengir menunjukkan gigi-gigi susunya yang bersih itu. "Hehe Bunda hai," sapanya tanpa rasa bersalah.


Viola berdecak melihat keadaan Varo yang belum melepaskan bajunya yang sudah basah. "Kenapa Abang belum mandi?"


"Bebeknya mau mandi, Bunda. Tapi endak bisa mandi sendili, jadi Varo mandiin dulu," ucapnya sambil memandikan boneka-boneka bebek karet miliknya.


"Sini Bunda mandiin aja, nanti Varo kesiangan."


"Endak mau!"


"Abang, Bunda enggak suka ya Abang gak dengerin ucapan Bunda," ucap Viola.


"Tapi Varo mau mandi sendili, Bunda. Nanti kalau Bunda mandiin Yaya bisa olok Varo, kan Varo endak suka," jawab Varo.


Viola menghela nafasnya, jadi semua ini berasal dari Yaya?


"Varo, dengerin Bunda. Bunda mandiin Varo artinya Bunda takut Varo kenapa-kenapa, Bunda khawatir Varo jatuh, kepeleset atau apa. Artinya Bunda sayang sama Varo," ucap Viola.


"Tapi kata Yaya kalau udah punya adik endak boleh dimandiin Bunda lagi,"


"Boleh kok, nanti kalau Varo bisa mandi sendiri baru Bunda enggak mandiin," jawab Viola.


"Bunda mandiin ya? Kalau Varo udah SD, baru mandi sendiri ya?"


Varo mengangguk sebagai jawaban.


Hampir dua puluh menit berlalu, akhirnya Varo selesai dimandikan Viola.


"Wow baju baru!" seru Varo. Ia melihat seragam sekolah yang berada di atas ranjangnya.


Viola tersenyum lalu memakaikan daleman kepada Varo, tapi sebelum itu tak lupa ia mengusapkan minyak telon dan bedak bayi pada Varo. Lalu memakaikan seragam yang nampak pas pada Varo.


"Anak bunda ganteng banget, sini cium dulu," ucap Viola is menyodorkan pipinya.


Varo mencium pipi Viola malas-malasan. "Bunda, Varo endak mau sekolah," ucapnya.


"Kan Abang udah pake seragam, masa endak masa enggak mau sekolah lagi?"


Varo menghela nafasnya. "Iya deh, tapi kaca mata Varo jangan lupa," ucap Varo.


"Ayay captain!" seru Viola. "Ayo turun, ayah pasti udah nunggu dari tadi,"


***


Di meja makan Ardo sedang berbincang dengan papa dan mamanya. Sengaja mereka menunggu kehadiran Viola yang membantu Varo berkemas.


Tak berapa lama, Varo masuk ke ruangan makan diikuti Viola yang menggendong Keo.

__ADS_1


Varo memakai kaca mata hitam miliknya, ia langsung duduk di kursi makan.


"Halo cucu Nenek yang ganteng, udah siap sekolah aja," sapa mama Lia.


Varo masih dengan wajah cemberutnya.


"Lho kenapa cemberut?" tanya mama Lia lagi.


"Biasalah Ma, enggak mau sekolah," jawab Viola.


Papa Martin tertawa. "Sini, Keo sama Kakek," Viola pun memberikan Keo pada papa Martin. "Dulu suami kamu ayahnya Varo juga begitu, paling susah namanya sekolah," cerita papa Martin. "Persis seperti Varo ini," lanjutnya.


"Kan masih kecil, wajarlah," jawab Ardo.


"Varo mah masih mau dimandiin sama pakai seragam, lah bapaknya dulu mana mau. Tau enggak Vio, di awal masuk sekolah, suami kamu enggak mandi dan enggak pakai seragam. Dia cuma pakai seragam tentara yang baru dibelikan om nya itu, jadilah dia pakai seragam tentara sendirian," cerita mama Lia.


Viola tertawa. "Kok kamu gitu, Mas."


"Namanya juga anak-anak, wajarlah," jawab Ardo sama seperti tadi.


"Ayah, Varo endak mau sekolah ya? Masih gelap," ucap Varo berusaha membujuk ayahnya.


"Buka dulu dong kaca matanya," ucap Ardo.


"Varo lupa," Varo langsung melepaskan kaca mata hitamnya.


"Masih gelap?" tanay Ardo.


Varo menggeleng. "Ayah, ya? Varo endak mau sekolah,"


"Kenapa?"


"Nanti endak bisa main," jawabnya.


"Di sana bisa kok Abang main, malah lebih asik lagi karena banyak teman," ucap Ardo. "Yaudah, sarapan dulu, nanti Ayah bakal anter Abang sekolah,"


"Bunda harus ikut,"


"Iya, Bunda juga ikut anter Varo. Makanya sarapan dulu," jawab Ardo.


Varo pun makan nasi goreng miliknya, ia menyantap satu persatu sosis di piringnya. "Bunda, Keong sekolah juga kan?"


"Dede Keo belum sekolah, nanti tunggu udah besar seperti Abang baru Keo sekolah," jawab Viola.


"Alah," desah Varo.


Mereka yang berada di sana hanya bisa menggelengkan kepala. Apalagi Ardo, ia tidak menyangka bahwa sang anak sangat menuruni sifatnya, tentu saja ia bangga. Artinya kekuatannya dalam membentuk anak sangat besar hehe.


***

__ADS_1


Cerita Dion



__ADS_2