Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
Duapuluhdua


__ADS_3

Viola membaringkan Ardo ke sofa ruang tamu kerena dapur, toilet, dan ruang tamu berdekatan, ia tak mampu lagi untuk memapahnya sampai ke kamar. Ardo itu tubuhnya kayak raksasa, Viola mah kayak kurcaci mana mampu kurcaci memapah raksasa, yekhan?


"Telfon mama," lirih Ardo dengan mata terpejam. Viola mengangguk saja lalu mengutak atikkan hp nya dengan perasaan tak menentu. Yaiyalah orang Ardo kayak gini gara-gara dia.


"Hallo ma,"


"Ada apa, sayang?"


"Ardo ma, mama cepet dateng ke sini aku takut," lirih Viola.


"Kenapa?! Ardo ngapain kamu?! Bilang sama Mama! Dasar tuh anak, umur pernikahan baru satu hari aja udah bikin anak orang sengsara!" Suara Mama Lia terdengar marah.


"Bukan Ma, Ardo-Ardo nggak tau dia kayak kesakitan gitu--Aku takut, Ma."


"Yaudah, Mama ke sana. Kamu yang tenang, nggak usah panik!" Mama Lia menyuruh Viola nggak panik tetapi suara dia terdengar sangat panik di seberang sana.


"Iya-- tut ... tutt tutt ..."


"Kamu kenapa si? Jangan buat aku takut dong," lirih Viola. Dia paling nggak mampu liat orang sakit, makanya waktu kecil dia juga mempimpikan menjadi seorang dokter. Asal kalian tau cita-cita Viola itu banyak, mulai dari: Dokter, Desainer, Koki, Mekanik, Apoteker, Artis. Tapi ujung-ujungnya dia malah sekolah bisnis kemudian jadi pengangguran kemudian jadi istri orang, jauh banget nggak tuh dari cita-cita ke kehidupan nyatanya?


Tidak berapa lama Mama Lia memasuki apartemen Ardo dengan tergopoh-gopoh. Perempuan paruh baya itu masih menggunakan daster dengan rambut di roll serta wajah ditutupi masker putih.


"Ya ampun Nak kamu kenapa?" Mama Lia meletakkan punggung tangannya ke kening Ardo.


"Panas," gumamnya.


"Ini kenapa bisa jadi gini?" tanya Mama Lia.


"Aku enggak tau Ma, tadi sehabis makan tiba tiba Ardo langsung masuk ke toilet, setelah keluar dari toilet Ardo jadi kayak gini," lirih Viola sambil menunduk. Sungguh Viola ingin menangis sekarang. "Aku takut, Ma. Takut makanannya beracun, aku-aku panggilin dokter aja ya, Ma?"


"Jangan dulu, apa makanannya kamu kasih cabe?" tanya Mama Lia lagi.


Viola mengangguk. "Iya, Ma. Aku fikir Ardo suka pedas,"

__ADS_1


Lia menghembuskan nafasnya berat sambil bersidekap. "Ardo itu emang suka pedas. Tapi," jedanya lalu menatap Viola, "dia gak bisa makan pedas, dia punya penyakit lambung. Sedikit aja makanannya ada cabe dia akan kayak gitu. Lihat aja bentar lagi dia bakal demam, mulut aja kayak cabe tapi dikasi cabe langsung kicep," masih sempat-sempatnya Mama Lia bercanda.


"Maaf Ma, Aku gak tau hiks," ucap Viola tertunduk dengan isakan yang ia keluarkan. Akhirnya tangis yang dia tahan sedari tadi keluar juga. Sialan banget nih air mata, kan Viola nampak cengeng banget di sini. Padahal nggak lho, Viola manusia kuat, kan wonder woman.


"Udah, kamu jangan nangis. Bukan sepenuhnya salah kamu, Mama juga lupa ngasi tau," ucapnya. "Apa Ardo nggak bilang?"


Viola menggeleng. "Enggak, ma. Maaf harusnya aku lebih teliti melihat perubahan Ardo tadi," ucap Viola menyesali ketidakpekaannya. Biasanya Viola itu orangnya pekaan tapi entahlah kenapa tadi nggak. Apa karna dia nikah sama Ardo? Jadi ketidakpekaan Ardo itu tertular padanya?


"Jangan salahin diri sendiri, buat pelajaran aja. Lain kali jangan masak masakan mengandung cabe lagi untuk Ardo," Viola mengangguk.


Mama Lia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Kalau dia sudah bangun jangan lupa kasih obat ini ke Ardo, kamu jangan khawatir obat ini memang dari dokter keluarga kita."


Viola menerima obat itu. "Makasih, Ma."


"Mama pulang dulu. Ardo urusan kamu sekarang. Ini juga udah malem, Mama juga nggak sempet ngabarin papa kamu kalo mama disini,"


"Iya Ma hati-hati, eh mama tadi sama siapa?"


"Itu sama anak tetangga, mana waktu itu dia sempet kaget liat Mama kayak gini hihi,"


"Nggak usah, supir udah nunggu di bawah. Kamu jagain Ardo aja, ok?"


"Ok Mam,"


"Mama pulang dulu, kalian hati-hati. Mama denger di gedung di sini ada Miss K nya,"


"Miss K? Siapa, Ma?"


"Itu lho si Mbak,"


"Mbak?" tanya Viola masih dengan raut kebingungan. Jangan lupakan, Viola ini lemotnya aduhai tak tertahan lagi.


Mama Lia berdecak. "Ish! Makanya! Nonton youtubenya Sara Wijayanto dong, biar tau miss K itu siapa."

__ADS_1


"Ma beneran aku nggak tau miss K itu siapa sih?" tanya Viola lagi, bukan apa ia takutnya Miss K itu pelakor. Gila aja belum lama nih pernikahannya masa udah ada pelakor, kan enggak lucu.


Mama Lia menyeringai. Lalu ia berbisik, "Miss K, miss Kunti, hiii."


"Ih mama, jangan nakutin dong," Viola bergidik ngeri, siapa tau benar-benar ada Miss K gimana?


"Enggak canda doang,"


"Maa," rengek Viola, Mama Lia nih jahilnya nggak ketulungan lagi.


Mama Lia terkekeh. "Udah ah, Mama nggak pake pulang ini." Mama Lia mengecup dahi Viola kemudian berlalu pergi, tetapi ia berbalik lagi karna ia lupa sesuatu.


"Ada yang ketinggalan, Ma?" tanya Viola.


"Mama lupa, Ardo itu kalo lagi sakit manjanya kebangetan jadi kamu harus ekstra sabar kalo manjanya kumat," ucap Mama Lia.


Viola mengerutkan kening nya. "Yang bener, Ma?"


"Iya, nggak boong ini."


Viola mengangguk paham. Terus Mama Lia berbalik lagi. "Soal miss K, Mama juga enggak boong," bisik Mama Lia.


"Maa ih nggak lucu."


Mama Lia tertawa, lalu pamit pulang.


Viola masih memikirkan ucapan Mama Lia tadi.


Bukan, bukan masalah mbak kunti tetapi tentang Ardo ketika sakit berubah jadi manja.


Seorang Ardo? Lempeng dengan kekuatan es dan cabe itu, manja?


Viola menggelengkan kepalanya nggak percaya. "Gila aja nih Kulkas isi cabe berubah jadi manja, kesurupan mbak kunti kali, hihihi." Viola cekikikan membayangkan jika benar Ardo kesurupan lalu berubah jadi manja, hah mungkin akan sangat lucu.

__ADS_1


Tapi, memikirkan mbak kunti, kok Viola kayak merasa ada yang memperhatikan dia ya? Haish, merinding bulu jaketku~


__ADS_2