Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
29 (Season 02)


__ADS_3

Setelah mendapatkan kabar dari anak-anaknya, Ardo langsung bergegas mencari keberadaan mereka. Syukurlah gps Varo bisa terdeteksi, dan letaknya ternyata jauh di dalam hutan.


"Tuan, anak buah saya sudah menyebar masuk ke dalam hutan, kita tinggal menunggu kabarnya saja,"


"Tidak, saya harus ikut mencari mereka! Saya sudah membawa susu Keo dan makanan untuk Varo!" tegas Ardo.


"Ini sudah malam dan hutan itu sangat berbahaya--"


"Dan anak saya dalam hutan berbahaya itu! Jangan halangi saya kalau kamu masih mau bernafas kedepannya," ucap Ardo, jangan lupakan aura dingin yang dia keluarkan. Reon langsung terdiam, ia harus mengikuti perintah sang atasan biar bagaimanapun Reon masih ingin hidup dan menemukan belahan jiwanya.


Dion juga berada di sini, ia juga ingin ikut mencari sang keponakan.


Masalah Viola, Ardo sudah menyerahkannya pada Milen dan Marvel. Bukan Ardo tidak mau mencari Viola, tetapi Varo dan Keo lebih membutuhkannya, Viola bisa bela diri dan anak-anaknya bisa apa? Apalagi di dalam hutan yang tidak mungkin tidak ada hewan buas di dalamnya.


Dengan berbekal alat penguat sinyal, senter, beserta alat medis, Ardo, Dion dan juga Reon masuk ke dalam hutan membawa sekantung besar peralatan bayi dan kanak-kanak beserta makanan dan susu. Ardo tau pasti anak-anaknya pasti tidak makan di hutan ini, apalagi ini sudah malam.


Hampir tiga jam mereka masuk ke dalam hutan namun tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia di sini. Dan sialnya lagi gps Varo langsung menghilang. Ada dua pilihan, antara watch phone nya habis baterai atau watch phone nya rusak.


Ardo mengumpat, dirinya semakin khawatir karena tidak menemukan apapun.


Namun hidungnya mencium sesuatu ditambah lagi asap yang menghampiri mereka. "Ini bukan kabut tetapi asap! Ya ini asap!" teriak Ardo. "VARO! KEO! INI AYAH DODO!" teriak Ardo, ia yakin anak-anaknya pasti sudah dekat.


"TUAN KECIL!" teriak Reon.


"VARO! KEO!"


"VARO! INI UNCLE ION!"


Namun tidak ada sautan dari mereka.


"Mas! Asapnya berasal dari sana!" seru Dion saat melihat kepulan asap dan juga sebuah api unggun.


Ardo langsung berlari, seketika itu jantungnya berdegup kencang.


"Varo! Keo!"


Ardo hampir menangis ketika melihat kedua anaknya tertidur di pangkuan orang yang tak dikenalnya itu.


Ia menghampiri mereka, lalu mengambil Keo dari pangkuan orang itu.


"Keo," lirihnya, ia terus menciumi anak bayi itu. Seketika itu pula Keo menangis kencang.


Varo yang mendengar tangisan adiknya itu langsung terbangun. "Keong!" ia mencari keberadaan adiknya.


"Varo... "


"Ayah!" seru Varo. Ia langsung menghambur ke pelukan ayahnya.


Ardo pun mendekap erat kedua anaknya, ia menciumi Varo dan Keo bergantian.


"Ayah, Varo lapar," rengek Varo.


Ardo yang tersadar pun langsung mengambil makanan untuk Varo dan susu untuk Keo.


Varo tertawa lalu memakan makanan yng dibawa ayahnya. Keo yang tadinya menangis pun langsung menghisap rakus dot berisi susu vegetable untuknya. Wajar saja, bayi itu tidak memakan apapun seharian ini.


"Itu, siapa?" tanya Dion ketika melihat orang yang masih tertidur itu. Dion mengernyit, mengapa pemuda ini sangat familier? Pernahkah mereka bertemu sebelumnya?


"Om Kepin!" seru Varo. "Ayah! Om Kepin bangunin, kaki Om Kepin beldarah. Varo takut," kata Varo.


Reon langsung bergegas memeriksa keadaan Kevin, Reon juga merupakan lulusan kedokteran, namun ia beralih profesi untuk menjadi kaki tangan Ardo.


Ternyata pemuda itu tidak tertidur tetapi pungsan. "Pemuda ini kekurangan banyak cairan dan harus dibawa ke rumah sakit secepatny." Melepaskan stetoskop  mengatakan itu.

__ADS_1


"Cepat bawa ke rumah sakit!"


Bergegas Reon membawa Kevin keluar dari hutan menuju rumah sakit bersama anak buahnya.


Ardo pun juga keluar dari sana dengan Keo di gendongannya sedangkan Varo berada di gendongan Dion.


Mereka sama-sama menuju rumah sakit, Ardo juga ingin memeriksa anak-anaknya takut mereka kenapa-kenapa maklum saja ini adalah hutan.


***


"Bagaimana? Apa kalian sudah membunuh anak itu?"


"Anu bos, itu... "


"Apa?!"


"Anu, Kevin kabur dan membawa--"


PLAK!


"APA KAU BILANG?! KENAPA B*JINGAN ITU KABUR?!"


"Maafkan saya bos, saya tidak tau bahwa Kevin mengkhianati kita. Tapi tenang bos, hutan itu sangat berbahaya dan tidak mungkin mereka pulang dalam keadaan selamat,"


"BODOH! Kau tidak tau ayah mereka adalah Ardo! Dia pasti mencari anak-anaknya, si*lan!" teriak Grace. Mengapa ia memiliki anak buah yang sangat *****?!


"Kemarikan pistolmu!"


"A-apa bos?" tanya Bang Jek gemetar.


"PISTOL! APA KAU TULI?!"


Masuh dengan tangan gemetar, Bang Jek memberikan pistolnya.


Grace mengambil pistol itu dengan kasar, lalu menarik pelatuknya.


Bang Jek langsung tewas seketika. "Itulah akibat dari perbuatan kalian!" Grace tertawa. Ia senang melihat ini. Grace memang psikopat, Grace gila, hatinya sudah mati, mentalnya sudah cacat. Grace selalu haus akan kekuasaan dan ia tidak mau ada yang lebih bahagia darinya. Wanita itu adalah iblis.


Kaki Grace melenggang masuk ke kamar dimana Viola dan Joshua berada. Ia ingin bermain dengan mereka.


"Sayang,"


Grace masuk ke dalam kamar itu, namun tidak ada Joshua maupun Viola.


"JOSHUA!"


Tidak ada sahutan dati Joshua.


Grace menggeram. "DORI!"


Orang yang dipanggil Dori itu tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar.


"Kenapa bos?" tanya lelaki itu.


"Dimana Joshua dan Viola?!"


Dori mengernyitkan dahinya. "Bukannya bos yang nyuruh mereka pindah dari tempat ini?"


Lagi-lagi Grace menggeram. "Kepar*t!!!"


Lagi-lagi suara tembakan diiringi suara Dori memenuhi kamar tersebut.


***

__ADS_1


Viola membuka matanya perlahan, kepalanya langsung dihantam oleh nyeri yang hebat.


Ia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan sinar yang masuk. Tempat asing langsung menyapanya.


Ia ingat terakhir kali ia berada dalam mobil orang suruhan Grace untuk menemui anaknya.


"Varo! Keo?!" teriak Viola.


Ia bangun dari ranjang tempatnya dibaringkan.


"Varo! Keo! Ini bunda!"


Viola tidak tau sudah berapa lama ia berada di sini, sepertinya sudah lama karena Viola melihat keadaan di luar sunyi dan gelap. Artinya hari ini sudah malam.


Hera merasakan dadanya sakit karena tidak menyusui Keo. Merasakan itu ia langsung teringat Keo, bayi itu belum ia susui sedari siang. Viola langsung dihantam rasa khawatir, tanpa sadar air mata mengalir dari pipinya. Fikiran-fikiran buruk langsung berkeliaran dalam kepalanya.


Viola melihat ke arah pintu lalu ia berlari ke arah sana. Ia menggedor pintu itu.


"Buka pintunya!" teriak Viola.


"Buka!"


Ceklek.


Pintu itu terbuka dan memunculkan seseorang yang Viola kenal.


"Joshua?!"


Joshua tersenyum. "Udah bangun, sayang? Atau masih kelelahan karena habis bermain?"


Viola mengernyit mendengar ucapan Joshua. "Apa maksud Lo? Dimana anak-anak gue?!" tanya Viola.


"Anak-anak? Kita belum punya anak, sayang. Baru aja bikinnya tadi, masa lupa?"


Ucapan Joshua kembali membuat Viola mengernyit. "Maksud lo apa? Bikin apa? Enggak usah basa-basi! Cepat kasi tau anak gue! Lo bersekongkol dengan Grace kan?! Jawab gue!" sentak Viola.


"Aku enggak basa-basi, masa kamu lupa kamu teriak-teriak di bawah aku tadi? Kamu minta terus," kata Joshua.


Viola mengernyit, dirinya dihantam rasa ketakutan. Ia takut dalam keadaan tidak sadar Joshua melakukan hal tidak senonoh padanya. "Ap-apa kita melakukannya?"


"Menurut kamu ini karena siapa?" Joshua menunjuk area dadanya yang terbuka. Dada itu terluka seperti cakaran kuku.


Kaki Viola meluruh, air matanya tidak mampu lagi untuk dibendungnya. Apa ini? Apa yang terjadi padanya? Mengapa ia melakukan hal yang hina ini?


Ia menatap nanar pria b*jingan yang masih berdiri imdi hadapannya itu.


Viola bangkit lalu menampar pipi Joshua dengan keras, lalu sedikit memberi tinjuan pada Joshua hingga laki-laki itu teruhuyung ke belakang.


"APA YANG LO LAKUIN, B*JINGAN?! LO UDAH MEMPERK*SA ISTRI ORANG, SIALAN!" teriak Viola disertai isakan tangisan yang ia keluarkan. Ia merasa kotor akan tubuhnya. Anak-anaknya belum ketemu dan dia sudah mendapatkan hal yang paling memalukan.


"Viola, aku cuma--"


Tiba-tiba suara seseorang memotong ucapan Joshua.


"Sayang? Benarkah?"


***


Heummmmm siapa sih itu? Ayo ayoo siapaa Ardo atauuu bukan? Tebak dong hehe


Maaf ya saya updatenya lama dan jarang🙃 soalnya ide lagi mampet dan juga saya dalam minggu-minggu ini memiliki banyak tugas kuliah. Dan tugas kuliah yang ini adalah tugas yang akan menentukan kelanjutan dari kuliah saya, kalau di tahap ini saya gagal maka otomatis kuliah saya juga gagal.


Mohon doanya ya semoga dalam tahap ini dan tahap tahap lainnya saya bisa ngelewatin hingga bisa wisuda😭

__ADS_1


__ADS_2