Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
Duapuluhsatu


__ADS_3

Pria itu tersenyum semakin membuatnya terlihat tampan, Viola mah mana tahan liat cogan kayak gini, ingat suami di rumah Viola. "Ingin diambilkan berapa?"


"Lima, iya lima kotak besar itu." Viola menyengir sambil menunjukkan lima jarinya.


Sudah menikah ternyata, batin pria itu melihat cincin yang tersemat di jari manis sebelah kanan milik Viola.


"Terima kasih," ucap Viola saat lima kotak susu Milo sudah berada dalam troli belanjaannya.


"No problem," ucapnya. "Anton,"


"Viola," Viola membalas jabatan tangan Anton.


"Sekali lagi, terima kasih ya, Anton." ucap Viola dan di balas anggukan oleh Anton. "Saya duluan," lanjutnya. Kembali Anton mengangguk seraya tersenyum. "Hati-hati,"


"Semoga kita bertemu lagi," ucap Anton pada punggung Viola yang mulai menjauh.


***


Setelah Viola membayar belanjaannya, ia langsung kembali ke apartemen. Viola sudah tau mengenai password apartemen yang ia tinggali sekarang. Jika tidak ia yang meminta maka jangan harap Ardo akan memberikan nya.


Viola berharap kalau Ardo belum datang. Pintu pun terbuka, saat Viola masuk munculah Ardo dengan wajah datarnya. Viola terkejut namun sedetik kemudian menyengir menampilkan wajah tak berdosanya.


"Darimana saja kamu?" tanya Ardo dengan masih dengan wajah datarnya.


Viola mengangkat kantung belanjaan. "Belanja bahan makanan. Kulkas kamu kosong sama kayak hidup kamu, heran deh isi rumah barang-barang mewah tapi isi kulkas es batu doang. Kamu ngemut es batu ya? Makanya kamu kayak Es gini?" cerocos Viola, respon Ardo? Diam saja.

__ADS_1


"Ambil," Ardo memberikan Viola kartu kredit. Bukan Platinum card, tapi kartu yang lain.


"Buat apa?" tanya Viola yang hanya basa-basi saja.


"Buat bayar itu semua dan uang belanja serta uang jajan kamu," ucap Ardo.


"Eh gak usah, tabunganku masih banyak kok," tolak Viola namun matanya masih melirik kartu itu.


"Yakin?" tanya Ardo. "Saya masukkan—"


"Eh eh, yaudah aku ambil. Nggak boleh nolak rezeki," Viola mengambil kartu kredit itu dengan senyum merekah. Alhamdulillah bisa makan enak, pikirnya.


Ardo yang melihat tingkah Viola seperti itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tingkah ajaib apalagi yang bisa ia temukan di dalam diri wanita yang berstatus istrinya ini.


***


Ardo sedari tadi mencium bau harum yang membuat perutnya keroncongan, ia bergegas keluar dan melihat Viola sedang menyiapkan makanannya.


Ardo terdiam melihat pemandangan di depannya, sudut bibirnya terangkat entah kenapa hatinya menghangat melihat Viola memasak untuknya. Ardo yang mengetahui Viola mulai menyadari kehadirannya dengan cepat cepat ia mengubah ekspresi mukanya menjadi datar kembali.


"Eh Ardo, ayo makan," ajak Viola, ia mengautkan nasi dan lauk pauknya untuk Ardo.


Ardo agak ngeri melihat Viola memberinya kangkung pedas itu. Ingin Ardo menolak tapi melihat senyum merekah Viola saat menghidangkannya membuat Ardo tak tega untuk menolaknya. Apalagi melihat peluh yang membanjiri wajah Viola membuatnya semakin tidak tega, pasti sangat melelahkan memasak dan berkemas seperti ini.


Ardo mulai memakan makanannya, hingga suapan terakhir Ardo merasakan perutnya mulai tidak nyaman. Keringat dingin sudah bercucuran di pelipisnya.

__ADS_1


Melihat Ardo seperti itu Viola langsung menyodorkan segelas air putih. "Makan pedas aja nggak bisa, lelaki bukan sih? Letoy banget," kata Viola dengan senyum mengejek. Ardo tidak menghiraukan ucapan Viola, perutnya serasa diaduk-aduk sekarang. Ardo langsung berlari ke toilet dengan wajah pucat.


"Dasar," ucap Viola menggelengkan kepalanya. Ia kemudian mengemaskan sisa mereka makan tadi lalu mencuci piring kotor.


"Kok belum keluar ya?" tanya Viola pada dirinya sendiri karena Ardo tak kunjung keluar dari toilet.


Karena merasa khawatir Viola mengelap tangannya lalu bejalan pelan menuju pintu toilet. "Ardo," teriak Viola, tapi tidak ada jawaban dari Ardo.


"Ardo!" teriak Viola sekali lagi dengan nada agak tinggi tapi nihil tidak ada jawaban dari Ardo.


Viola mulai panik, ia mulai memikirkan yang tidak tidak. Ia berlari lalu menggedor pintu toilet itu.


"Ardo!!" teriak Viola lagi, namun masih tidak ada jawaban.


"Ardo jawab! Jangan bikin aku takut!" kata Viola, ia masih menggedor pintu itu.


Ceklek ...


Munculah Ardo dengan wajah pucat pasi serta keringat dingin bercucuran. Viola yang melihatnya seperti itu mulai ketakutan.


"Ardo," lirih Viola. "Kamu kenapa?"


Tubuh tegap Ardo limbung, dengan sigap Viola menangkapnya meskipun Ardo berat ia tetap memapahnya Viola tidak memperdulikan lagi debaran jantungnya yang seakan mau keluar dari tempatnya saat ini juga.


Please jantung jangan lebay, orang lagi sakit ini!

__ADS_1


__ADS_2