Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
Tigapuluh


__ADS_3

"Ardo! Geser dikit dong!" ucap Viola yang terus saja menggeser badan suaminya itu. Tau kan badan Ardo itu besarnya kek mana?


"Engh ... " erang Ardo namun tidak juga bergeser.


"Ardo, ih," kesalnya. "Ini batasnya ya. Awas aja kalo kamu ngelewatin batas ini!" ucap Viola memberi guling sebagai batas di antara mereka.


Ardo hanya bergumam tidak jelas membuat Viola semakin kesal.


"Ardo kamu denger gak sih?!"


"Apa sih Viola? Saya dengar, udah, saya capek ini," ucap Ardo yang masih memejamkan matanya.


Viola berdecak kesal. Bagaimana nggak capek mereka habis melakukan pertempuran hebat. Eits ... Jangan salah paham dulu. Pertempuran yang dimaksud bukan pertempuran 'itu' tetapi pertempuran debat antara Lia, Tania, Marvel, Ardo dan juga Viola. Hasilnya ya sekarang ini. Ardo dan Viola harus tidur didalam kamar yang sama juga dalam ranjang yang sama.


Flashback On


"Mama mau bicara penting sama kamu," ucap mama Lia.


Mami Tania, Lia dan Marvel memandang Ardo serius.


"Apa?" tanya Ardo bingung.


"Mama dan Mami sudah tau kalau—"


"Cemilan datang," ucap Viola membawa cemilan juga.


"Wah gini dong dari tadi," ucap Marvel langsung mencomot cemilan dan minuman yang dibawa Viola.


"Dasar Marvel!" decak Viola kesal dengan tingkah abangnya itu.


"Jadi Ma, apa?" tanya Ardo lagi. Viola mengernyit bingung karena dia tidak mengetahui apa yang terjadi sekarang.


"Mama dan Mami sudah tau kalau kalian ... pisah ranjang," ucapan Mama Lia membuat Viola tersedak air minumnya.


"Ma-maksud mama?" tanya Viola.


"Mama tau kalo kalian itu nggak pernah tidur bareng, dan itu membuat Mama kecewa sama kalian, terutama kamu Ardo."


Sontak Ardo dan Viola memandang Marvel. Karna pasti dia dalang di balik semua ini.


"Bang Marvell!" geram Viola sedangkan Ardo memandang tajam Marvel.


Merasa di perhatikan Marvel menghentikan aktivitas mencomot cemilan itu. "Apa?" tanya Marvel dengan watadosnya. Viola menggeram.


"Enggak usah salahin abang kamu," ucap Mami Tania. "Kamu itu gimana sih, Viola? Mami itu udah lama nantiin cucu dari kamu. Eh malah kalian tidurnya enggak bareng. Gimana mau bikinin kita cucu? Orang bikinnya aja nggak pernah! Ahh ... apa jangan jangan kalian ciuman pun belum pernah?" Mami Tania memincingkan matanya kearah Ardo dan Viola.


"Ciuman kita udah pernah Mi, tapi baru baru ini," celetuk Ardo. Mata Viola membulat, pipinya mulai bersemu ketika mendengar ucapan Ardo yang kelewatan jujur itu.


"Ardo," geram Viola.


Sedangkan Ardo menatap Viola seakan bertanya 'apa?' dengan wajah tanpa dosa.


"Pokoknya kita nggak mau tau mulai malam ini kalian harus tidur bareng TITIK!" ucap Mama Lia tidak terbantahkan.


"Tapi—"


"Tidah ada tapi-tapi lagi!" sanggah Mami Tania. "Keputusan sudah final," sambung Mama Lia.

__ADS_1


Ardo dan Viola menghembuskan nafas berat. Sedangkan Marvel sudah tertawa terbahak bahak.


Flashback off


"Ardo, geser dikit dong ini tuh terlalu deket," rengek Viola. Sebenarnya Viola itu mau aja tidur dempet-dempet, tapi sungguh, dia takut sekarang kalo Ardo ngelakuin hal yang itu padanya.


"Diam atau kita kabulkan permintaan mereka," ucap Ardo.


Viola menautkan kedua alisnya. "Kabulkan apa?" tanya Viola.


"Make a baby," bisik Ardo sensual.


Viola membelalakkan matanya. "Mesum!" teriak Viola dan memukul mukul Ardo lengan Ardo menggunakan guling. Nah kan baru aja difikirin! Viola itu tau ngebacot doang, tapi kalau beneran ya nggak berani dia.


"Jangan teriak! Tidur!" perintah Ardo.


Viola menggelengkan kepalanya. "Enggak. Aku gak mau tidur sama om mesum. Entar aku di *****-***** sama kamu lagi," ucap Viola.


"Om mesum? Kamu mau tau Om mesum itu seperti apa?"


Viola menggeleng. "Enggak! Aku udah tau, kamu buktinya!


Ardo menaikkan sebelah alisnya. "Terserah kamu. Tidur atau aku cium sampai kamu kehabisan nafas," ucapan Ardo membuat Viola terdiam dan cepat cepat dia memejamkan matanya.


Tingkah laku Viola membuat Ardo terkekeh. "Good girl," ucap Ardo mengacak rambut Viola.


Pipi Viola bersemu lagi saat merasakan kecupan hangat di keningnya.


"Good sleep, my wife."


***


Pagi menyapa, kedua insan yang sudah sah itu masih setia menutup matanya.


"Vio bangun—"


Ucapan Marvel terpotong karena melihat pemandangan dimana Aro dan Viola masih tertidur dengan posisi saling berpelukan erat seakan akan mereka telah dilumuri lem yang super melekat. Belum lagi selimut serta bantal guling yang sudah berceceran dimana mana.


Marvel terkikik dengan pemikiran yang sudah kemana-mana, ia pun segera mengabadikan momen langka itu, lalu memostingnya di akun media sosial miliknya.


***


"AAA!" kaget dong Viola saat dia melihat Ardo dengan jarak sedekat ini. Ditambah lagi dengan tangan Ardo melingkar diperutnya.


BUGH


BUGH


"Aw," ringis Ardo setelah mendapatkan pukulan serta terjatuh dari ranjang.


Ardo mengusap usap bokongnya yang menghantam marmer dingin itu. "Kamu mau bunuh saya!" Ardo melirik tajam Viola. Ia melindungi Jefry agar masa depan itu selalu aman.


"Suruh siapa deket, udah dibilang jangan deket-deket eh malah deket banget," ucap Viola. Ia kemudian teringat sesuatu, ia langsung mengintip dadanya. "Fiuh, syukurlah enggak ada bercak merah," ucapnya. Bukan apa-apa Viola takut saja Ardo berbuat yang enggak-enggak secara Viola kalo tidur itu lelap banget.


"Kamu fikir saya bakal tertarik dengan dada kamu?" tunjuk Ardo pada bukit kembar Viola.


Viola melotot, dia menyilangkan tangan didepan asetnya. "Kamu mau bilang punya aku kecil?!" enak aja! Punya dia itu gede tau!

__ADS_1


Ardo menahan tawanya ketika melihat mata Viola yang sipit itu melotot, bukan seram malah Viola terlihat lucu di mata Ardo.


"Saya tidak bilang punya kamu kecil, actually ... " Ardo menggantung ucapannya.


"Punya kamu besar, empuk banget kalo digenggam, dan saya udah nyoba tadi malam." Ardo mengepalkan tangannya seperti memegang sesuatu. Lalu kemudian ia menyilangkan tangannya. "Tapi saya tidak tertarik dengan itu," lanjutnya.


Viola terdiam mencerna omongan Ardo. Gila aja kan dia enggak tertarik. Cuma banci doanb yang nggak tertarik sama yang kayak gini. Lalu seketika otaknya langsung sadar, jika Ardo tidak tertarik berarti? Seketika mata Viola melotot. "KAMU GAY?!"


Langsung saja sebuah bantal mendarat di wajah Viola dengan suara Viola menggelegar keseluruh penjuru ruangan.


***


Saat ini mereka sudah berada di meja makan. Viola sarapan dengan wajah yang ditekuknya.


"Lho kamu kenapa Vio? Kok cemberut gitu?" tanya Mama Lia.


"Lagi kesel ma," ucap Viola.


"Kesel kenapa? Gak di kasih jatah sama Ardo hm?" pertanyaan yang dilontarkan Mami Tania membuat Ardo tersedak makanannya.


Seketika tawa Marvel pecah diikuti tawa Mama Lia.


"Mami ngomong apaan sih? Tuh Ardo keselek kan," ucap Viola sambil memberikan segelas air ke Ardo.


"Mi, Marvel juga keselek minta minum dong," rengek Marvel untuk mengolok Viola.


"Makanya cari jodoh sana! Heran deh, ingat umur Marvel, lama-lama sp*rma kamu basi dan gak bisa membuahi, mau?"


"Lah Mami kok gitu, doain yang baik-baik dong Mi," kesal Marvel.


"Rasain tuh," ledek Viola. "Jodohin aja sih Mi, si Marvel."


"Abang Viola," geram mami Tania. "Dosa kalau kamu gak pakek embel-embel 'Abang'," lanjut Mami Tania. "Ide bagus sih, kamu punya calon nggak, Mbak?" tanya Mami Tania pada Mama Lia.


"Ada sih, sepupu jauh Ardo—"


"Haduh, aku mau berangkat kerja dulu. Assalamuaikum!" Marvel pun langsung pergi setelah memotong ucapan Mama Lia.


"Heran ini anak. Kok nggak ada sopan santun nya sama sekali," gumam Mami Tania menggeleng kan kepala melihat kelakuan putranya itu.


Besannya terkekeh. "Biasa lah, anak muda."


"Saya selesai, saya berangkat dulu," pamit Ardo mencium tangan ibu dan ibu mertua nya.


"Viola, cium tangan suami kamu," suruh Mami Tania. Viola pun menurut.


"Mulai sekarang kalian harus gini. Supaya hubungan kalian tambah harmonis," ucap Mama Lia.


"Iya Ma iya," jawab Ardo dan Viola serempak.


"Yaudah saya berangkat dulu,"


***


"Datang ke kafe biasa. Ada yang mau aku bicarakan. Ini penting,"


"Baik!"

__ADS_1


__ADS_2