
"Vi-Viola, Pa-Papi enggak ... enggak nafas!"
Viola masih mencerna ucapan mami Tania, salahkan Viola yang selalu lemot dalam berfikir itu.
"Ambulance! Cepat Bungin ambulance!" suara mami Tania terdengar lagi.
Entah mengapa suara-suara itu rasanya seperti menyatu dalam kepala Viola, suara itu seperti suara gema yang saling bersautan.
Ia juga melihat suaminya yang sudah keluar dengan papi Galih di gendongan suaminya itu. Entah siapa yang menarik tangannya, yang ia tau ia sudah berada dalam mobil yang baru saja ia tumpangi itu dengan kelajuan di atas rata-rata.
Samar-samar Viola mendengar mami Tania beristighfar dan mengucapkan beberapa ayat-ayat suci. Viola memandang tubuh sang papi yang masih bernafas meskipun tersendat, pria paruh baya yang menciptakan dirinya itu terlihat jauh lebih kurus dari terakhir mereka bertemu.
Hingga terdengar suara hembusan nafas panjang yang membuat Viola semakin merasa ini adalah mimpi. Mimpi yang selalu membuatnya merasa melayang yang tidak akan pernah terjadi di alam nyata.
"Mi, Papi ... enggak apa-apa kan?" Hanya itu kata-kata yang mampu keluar dari mulut Viola.
Lagi-lagi Viola tidak sadar bahwa mereka sudah berada di depan ruangan IGD, entah berapa lama mereka sampai di sini, Viola tidak tau. Kesadarannya seakan-akan sedang dipermainkan di sini. Lalu sekelompok orang berpakaian hijau dengan tutup kepala dan masker serupa keluar dari ruangan tersebut.
"Dokter?" suara mami Tania terdengar setelah keheningan yang melanda.
Dan samar-samar Viola melihat dan mendengar semua itu, ia melihat dokter dengan kacamata itu menggelengkan pelan kepalanya, ia mengusap bahu mami Tania lalu mengucapkan, "kami sudah berusaha, tetapi Yang Maha Kuasa berkata lain, kami turut berdu kacita,"
Lalu ucapan Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun langsung memenuhi otaknya. Saat itu pula rasanya bumi ini seperti berhenti berotasi, jam dinding serasa tidak berputar, tampat yang ia pijaki seakan runtuh. Rasa itu terulang kembali, rasa kehilangan yang amat sangat sakit. Perpisahan yang paling mengerikan adalah ajal.
Viola memandang mami Tania yang berpegangan pada sandaran kursi saat melihat brankar yang berisi orang yang telah meninggalkan mereka itu dikeluarkan dan dibawa ke tempat yang berbeda. Wanita paruh baya itu memang tidak menangis, tapi tubuh pucatnya cukup memberi tahu bahwa dia tidak baik-baik saja.
Kesadarannya mulai Viola kuasai, ia mendekati ibunya, lalu mendekap wanita yang telah melahirkannya itu. Ia mengusap bahunya dan mengucapkan kalimat penenang yang tidak hanya ditujukan pada sang ibu, tetapi juga pada dirinya.
"Mami, Mami ikhlas papi pergi, Mami ikhlas jika itu keinginan papi," kata mami Tania. "Dengan begini mungkin papi enggak akan sakit lagi, enggak akan mengeluh dadanya panas, enggak akan mengeluh sesak nafas atau segalanya. Papi enggak sakit lagi," ucapnya lagi.
Viola mengangguk, ia mencoba untuk tetap tegar seperti sang ibu. Ia mencoba untuk tidak mengeluarkan air matanya.
"Papi orang baik, papi enggak akan kesakitan lagi, Allah lebih sayang papi," ucap Viola.
__ADS_1
Ardo hanya bisa menyaksikan semua ini, ia juga merasa kehilangan. Ia kehilangan sosok ayah mertua yang sudah seperti ayahnya sendiri. Ia ingat terakhir kali mereka berinteraksi adalah saat pulang dari Ketapang. Dan ternyata itu merupakan terakhir kali mereka berinteraksi.
Tak berapa lama Marvel datang dengan raut panik. Ia langsung mendekap sang ibu dan juga adik perempuannya itu. Marvel yang juga memiliki masalah pribadi sekarang semakin menambah.
Saat ini Marvel kehilangan sosok yang selalu menasihati dirinya agar tidak selalu sombong dengan materi yang ia miliki, sosok yang selalu mengingatkan dirinya akan kewajiban sebagai seorang yang memiliki kepercayaan, sosok tanggung yang selalu ia jadikan contoh hidupnya. Dan sekarang ia hanya bisa mengenang sosok itu. Ia hanya bisa melaksanakan ucapan-ucapan beberapa waktu lalu sempat dipinta oleh sosok itu.
"Mi? Mami?!" suara Viola yang meninggi juga badan mami Tania yang meluruh cukup memberi tahu kondisi mami Tania saat ini.
***
Hari ini di kediaman mami Tania sangat ramai dengan orang berbaju hitam dan putih. Sebuah bendera kuning juga terdapat di pagar rumah menandakan bahwa pemilik rumah sedang berduka. Karangan bunga dengan tulisan TURUT BERDUKA CITA berjejer rapi di halaman rumah bahkan sampai di pinggir jalan.
Tidak sedikit pasang mata mengeluarkan air mata, mereka juga merasakan kesedihan yang amat sangat mendalam. Terdengar suara surah Yasin yang dilantunkan oleh para pelayat yang berbondong-bondong hadir.
Viola memakai tudung hitam serupa dengan tudung sang ibu. Mami Tania sudah sadar tidak berapa lama setelah ia kehilangan kesadarannya.
Jenazah masih berada di kediaman, rencananya jenazah akan dikebumikan sehabis Dzuhu , karena waktu wafat sekitar pukul 9 pagi. Dan mereka juga menunggu kepulangan sanak saudara yang berada di negara orang.
Disekitar jenazah tidak dibiarkan satu orang pun yang menangis, mereka dilarang oleh istri yang ditinggalkan untuk tidak mengeluarkan air mata. Ia tidak mau perjalanan sang suami terhambat oleh air mata yang ditujukan untuknya. Mami Tania tau mereka bersedih, tetapi tolong jangan tunjukkan padanya.
Setelah dikebumikan, mami Tania berbicara kepada orang yang hadir agar memaafkan kesalahan yang disengaja atau tidak disengaja yang dilakukan oleh mendiang suaminya. Ia meminta agar hutang dari mendiang suami dikabarkan padanya. Ia meminta agar yang hadir mendoakan dan mengikhlaskan sang suami agar dimuluskan jalannya.
Para pelayat berpamitan pulang, tinggal keluarga yang masih berada di sana.
"Mi, ayo kita pulang," ajak Viola. Anak-anak berada di rumah mami Tania bersama Milen.
Mami Tania mengangguk, ia mengecup batu nisan yang masih basah itu. Ia merapalkan doa-doa untuk sang suami yang sudah berbeda alam itu. Dia tidak menangis, karena menangis tidak akan merubah segalanya. Bukankah mami Tania sudah bilang, dia ikhlas.
***
"Kamu bicara sama siapa, Milen?" tanya Ardo ketika mereka sudah berada di rumah mami Tania. Keadaan rumah masih ramai karena para tetangga masih berada di sana untuk membantu membuat jamuan untuk tahlilan nanti malam.
Milen memandang orang di sampingnya berharap bisa menjawab pertanyaan Ardo.
__ADS_1
"Reon?" tanya Ardo. Tumben sekali mereka berbincang seperti ini, mungkin Milen tidak mengenali orang lain dan hanya mengenal Reon jadilah mereka berbincang.
"Saya membicarakan hukuman mati si Bernardo itu, Tuan," jawab Reon. Karena Reon dan Milen juga ikut andil dalam penangkapan Grace.
"Saya tidak ingin membicarakan itu sekarang, silahkan kamu dan Milen saja yang mengurus semuanya. Tidak mungkin saya meninggalkan Viola hanya karena ingin menyaksikan prosesi hukuman itu, jadi saya minta bukti-buktinya saja," ucap Ardo. Meskipun menyaksikan hukuman Grace itu penting, tetapi menemani dan menghibur istrinya jauh lebih penting dari itu semua.
Reon mengangguk lalu pamit untuk pergi dari sana. Diikuti Ardo yang pergi menyusul Viola dan anak-anak.
Kini tatapan Milen beralih pada Marvel yang juga menatapnya. Milen dapat melihat kesedihan yang amat sangat dalam manik hitam itu.
Ingin ia merengkuh tapi ia sadar, dia tidak pantas karena kesalahan yang ia miliki.
Marvel memutuskan kontak mata itu, lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Milen yang berada di sana.
Milen memandang kepergian Marvel, ia menghirup nafasnya agar tidak terasa sesak. Ia mengusap air matanya, ia sedih tentu saja. Namun apa boleh buat, masalah yang terjadi antara Milen dan Marvel adalah mutlak kesalahan dari Milen.
Nanti jika keadaan sudah mulai membaik, maka Milen akan berusaha bicara pada Marvel. Sekarang ia tidak mau menambah beban dari seorang anak laki-laki yang baru ditinggalkan oleh sang ayah.
***
Di sebuah kamar, mami Tania memegang figura foto pernikahan yang berusia hampir setengah abad itu. Ia mengusap foto sosok laki-laki yang dengan gagahnya memakai setelan jas berwarna hitam itu.
Mami Tania mengecup sosok dalam foto tersebut lalu melangkahkan kakinya keluar dan menutup pintu dengan perlahan.
Selamat jalan, papi Galih Alonso Stewart.
***
Dapet enggak feel-nya?
Jempol dan bintang ya jangan sampe lupa :)
Kalau lupa dengan alur ceritanya coba baca ulang chapter sebelumnya, nah yang lupa ngasi jempol pada chapter itu mohon diklik ya hehe.
__ADS_1
See you :*