Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
27 (Season 02)


__ADS_3

Jangan lupa juga jempol untuk chapter sebelumnya, karena saya juga memantau jumlah jempol yang kalian berikan hehe.


Maaf kalau terlalu maksa :)


Happy Reading, semoga suka :)


***


"Mbak, tungguin Mama sampai papa pulang, saya mau cari keberadaan Viola," ucap Ardo pada dokter Gita yang sudah berada dirumahnya.


"Viola ke mana?" tanya dokter Gita.


Kenapa ketika ia berada di sini Ardo selalu mencari keberadaan Viola? Istri kok keluyuran terus, batin dokter umum itu.


Dokter Gita memang tidak dekat dengan Viola, bukan karena apa tetapi karena waktunya yang sangat sibuk sehingga tidak bisa berkomunikasi lebih leluasa seperti para sepupunya yang lain.


"Ayah mertuaku sakit, jadi dia nemenin ibunya, tapi sekarang ponselnya sama sekali tidak bisa dihubungi. Bahkan gpsnya pun juga mati," jelas Ardo. Lalu ia pamit ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, ia langsung menemui mami Tania.


"Mi, Viola mana?" tanya Ardo.


"Eh Ardo, Viola? Bukannya pulang bareng kamu?" tanya Mami Tania bingung, karena sedari tadi ia tidak melihat keberadaan Viola. Ia fikir Viola pulang dengan suaminya, mengingat mereka juga baru pulang dari Kalimantan.


"Enggak Mi, Viola tinggal sini katanya mau nemenin Mami,"


"Enggak ada, Mami enggak liat," ucap Mami Tania. "Coba ditelpon,"


"Ponselnya enggak aktif, gps nya mati, aku bingung Mi. Mana anak-anak juga enggak ada," ucap Ardo. Badannya meluruh ke lantai, masalah anak-anak ia percayakan pada Rein dan anak buahnya.


Mami Tania terkejut. "Anak-anak enggak ada? Apa maksud kamu?"


"Mama pingsan ketika aku sampe rumah, anak-anak enggak ada, setelah aku liat cctv Keo di bawa sama dua orang bertopeng, terus aku enggak liat Varo, aku bingung Mi. Semua anak buah udah aku kerahkan mencari mereka, ditambah lagi Viola menghilang," jelas Ardo gusar.


"Coba kita lapor polisi, Mami temenin,"


"Percuma, Mi, polisi akan bertindak jika sudah dua puluh empat jam kehilangan," ucap Ardo. "Aku mau liat cctv di sini aja, siapa tau Viola kerekam,"


***


Di ruangan cctv Ardo sudah bersama dengan beberapa petugas keamanan di rumah sakit.


"Bapak ada liat orang ini enggak?" Ardo memperlihatkan foto Viola dari dompet beserta hpnya.


Satpam itu mencoba mengingat sesuatu. "Kayaknya ada, tapi ya sama Mas,"


"Bukan sama saya Pak, tapi waktu dia sendiri ada liat?"


"Enggak Mas, soalnya bukan jam saya bekerja, waktu mbaknya sama Mas aja saya udah mau pulang," jelas satpam itu.


"Saya liat, Mas. Tapi waktu mbak nya nerima panggilan, habis itu saya enggak liat lagi," ucap petugas lainnya.


"Mas, ini istrinya?" tanya petugas yang memegang bagian cctv.


Ardo melihat layar. "Ya! Itu istri saya," ucapnya. Ia melihat Viola sedang menerima panggilan. "Coba agak cepatin," ucap Ardo. Setelah Viola menerima panggilan Viola nampak tergesa-gesa menuju arah luar dengan wajah khawatir.

__ADS_1


Laku petugas itu membuka cctv bagian luar dan juga tepi jalan sebelum masuk gerbang rumah sakit.


Ardo mengernyitkan dahinya ketika Viola masuk ke dalam mobik yang tidak ia kenal. "Pause!" ucap Ardo.


Ardo melihat plat mobil yang digunakan orang tersebut. Dari nomor platnya mobil itu berasal dari luar pulau jawa.


Ardo mengirimkan nomor plat itu ke Milen, berharap Milen bisa melacak keberadaan dari kotak hitam mobil tersebut. Ardo juga sudah tau bahwa Milen juga merupakan seorang IT yang sedikit banyak akan membantunya mencari keberadaan Viola.


Tiba-tiba ponsel Ardo berdering. Nama Marvel terpampang di layarnya.


"Ya?"


"Anak-anak beneran diculik?"


"Ya,"


"Kata mami, Viola juga menghilang?"


"Ya, saya udah cek cctv dan saya juga dapat plat mobil yang membawa Viola,"


"Kirim!"


"Sudah,"


"Lo enggak usah khawatir, gue juga bakal bantu nemuin anak dan istri lo,"


***


"Om, Varo lapar,"


"Varo, badan Varo sakit enggak?" tanya Kevin.


Varo menggeleng. "Endak Om,"


"Sepatu Varo mana? Kok cuma pake kaos?" tanya Kevin lagi, pasalnya bocah itu hanya menggunakan kaos kaki. Beruntung Varo menggunakan celana dan kaos panjang sehingga jika malam ia tidak akan begitu kedinginan. Begitu pula dengan Keo, bayi itu masih lengkap dengan kaos dan sepatu, serta kaos tangannya. Tak lupa juga dengan selembar popok yang melilit tubuh kecil nan rapuh itu.


"Varo lepas, basah, Varo endak suka."


Varo memang tidak suka dengan sepatunya jika basah, maka ia akan melepas sepatu itu dan menyisakan kaosnya. Beruntung lagi kaos kaki yang Varo pasang adalah kaos tebal.


Kevin mengangguk. "Varo masih lapar?"


"Masih Om,"


"Kita cari buah aja yuk, berdoa semoga kita nemukan sesuatu yang bisa Varo dan Keong makan,"


Dengan patuh Varo mengikuti perintah Om baru yang ia temukan itu.


"Sini Om gendong,"


"Endak mau, Varo bisa jalan," tolak Varo.


"Tapi kan Varo enggak punya sepatu,"


"Ish, Varo kan punya ini, Varo mau jalan sendiri Om," bantah Varo.

__ADS_1


"Varo, Om gendong aja,"


"Endak mau! Varo nangis nih!" ancam Varo.


Kevin menghela nafasnya, baiklah ia akan mengikuti kemauan bocah ini. Lalu mereka berjalan mencari makan sekaligus mencari arah jalan keluar hutan.


***


"Gila! Lo beneran bawa Viola?" tanya pria itu tak percaya.


Grace tersenyum, ia memasang kaca matanya lalu melenggang masuk ke dalam mansion pria tadi. Di belakangnya para antek-antek Grace sudah membawa Viola yang sudah tak sadarkan diri.


"Seperti yang gue bilang," ia berbalik lalu mendekatkan mulutnya pada Joshua. "Rekening gue masih sama, jangan lupa bonus gue muasin lo kemaren," katanya disertai tiupan sensual di sekitar telinga Joshua membuat tubuh lelaki itu meremang.


"Terus mau lo bawa kemana?" tanya Joshua lagi.


"Kamar lo, bukannya lo pengen maen?" tanya Grace disertai kedipan matanya.


Joshua menelan salivanya, ia melihat Viola yang digendong salah satu bodyguard Grace. Lagi-lagi ia menelan ludahnya ketika melihat kancing baju Viola bagian atas terbuka, ia bisa melihat benda itu sangat besar dan empuk. Gila! Joshua menggelengkan kepalanya.


"Gila Grace, gila!" ucapnya.


"Kenapa? Lo udah enggak tahan? Hajar aja selagi obat biusnya masih bekerja," jawab Grace. "Bawa masuk kamar ini," titahnya.


"Tunggu apa lagi?" Grace bersedekap. "Perlu gue kasi obat kuat?"


Joshua menggeleng, ia melangkah masuk ke dalam kamarnya. "Gue udah kuat, bahkan untuk dua orang wanita sekaligus," ucapnya menyeringai.


Grace tertawa, bibir merah menyala itu menyeringai. "Setelah kau puas aku akan kembali memuaskanmu, asalkan yah rekening ku masih sama,"


***


Joshua memperhatikan Viola yang terbaring di ranjang yang selalu menjadi saksi bisu pertempuran panasnya bersama para wanita pemuas disana. 


Ia mendekati ranjang itu kemudian duduk di samping Viola yang masih memejamkan matanya. Entah kapan Viola akan terbangun.


"Masih cantik aja mantan gue, malah sekarang makin tambah cantik," gumam nya.


Pandangan Joshua kembali pada dada Viola, lagi-lagi ia menelan ludahnya. Gila! Masih pakai baju aja udah bikin juniornya bangun, apa lagi enggak pake apa-apa!


Perlahan tangannya mengarah pada dua buah gundukan itu, ia ingin merasakan betapa lembutnya kedua buah benda itu, dulu sewaktu mereka pacaran ia pernah memegang benda itu tapi dulu tidak sebesar dan seberisi sekarang.


Ia mengurungkan niatnya untuk memegang benda itu. Pandangannya teralih pada bibir pink pucat milik Viola. Sial! Sudah berapa kali ia menelan ludahnya, gila! Ini beneran gila!


Ia mendekatkan wajahnya pada bibir Viola. Akankah rasanya sama manis seperti dulu? Ingat kan bahwa yang mengambil ciuman pertama Viola adalah dirinya?


Bibirnya sudah menempel pada bibir Viola, namun ketika ia ingin mengeksplor lebih jauh ia dikagetkan dengan suara pintu kamarnya terbanting.


Brak!


***


Hayolo! Kira-kira siapa yang banting yaa? Jawab di kolom komentar.


Makin banyak komentar dan vote, makin cepat juga saya update.

__ADS_1


Mampir ke cerita Dion yah!


__ADS_2