
"Siapa di sana?!"
Viola dan Varo menatap garang Ardo.
"Mas Ardo sih, mulutnya ember!" ketus Viola.
"Ish Ayah, kenapa suala-suala sih? Kan uncle Epel dengel tuh," kini Varo pun juga mengetusinya.
"Kok Ayah sih? Bunda tuh, suruh siapa ngagetin Ayah,"
"Loh kok jadi Bunda? Yang berisik kan--"
"Ngapain kalian di sini?" tanya Marvel yang ternyata sudah memandang sinis sekeluarga sinting sedang berada di depan pintu kamarnya itu. "Mau ngintip apa? Enggak sopan," katanya lagi.
"Enggak ada yang ngintip, kita cuma lewat," jawab Ardo. "Ayo Bun, Varo, kita pergi. Tadi Ayah cuma mau ajak pulang," katanya lagi.
Marvel memincingkan matanya. "Varo, tadi kalian ngapain? Nanti Uncle kasi semangka yang banyak,"
Mendengar kata semangka, seketika itu pula Varo ingin memakan buah merah segar yang banyak air itu. "Varo mau!" serunya.
"Kasi tau Uncle dulu, tadi kalian ngapain?"
"Tadi kita--"
"Kita pulang dulu," potong Viola. "Ayo," katanya ia menarik Ardo yang sedang menggendong Varo.
"Bunda, kan Varo belum kasi tau uncle Epel, nanti Varo endak dapat maga-maga," ucap Varo.
"Di rumah banyak semangka, makanya kita pulang aja," jawab sang ayah.
"Beneran Ayah?"
Ardo mengangguk sebagai jawaban. Tapi sebelum mereka berlalu, Ardo memberikan bisikan kepada Marvel.
"Jikapun benar, jangan pernah lari dari tanggung jawab,"
Seketika itu Marvel tersentak, ia memandangi punggung yang mulai menjauh itu.
Tanggung jawab?
***
Sesampainya di mobil, Ardo langsung menanyai Viola maksud ucapannya beberapa waktu lalu.
"Maksud kamu tadi apa sih, Yang? Milen hamil sama Mareval? Kok enggak ngasi tau ya kalau mereka berdua pacaran?" heran Ardo, biasanya Milen selalu bicara padanya jika menyangkut soal asmara. Makanya Ardo selalu tau siapa pacar Milen.
"Aku sih tau dari Dion, Mas. Katanya tuh Milen sama abang pacaran, terus si Milen katanya hamil. Makanya aku mau cari tau, eh mulut kamu malah ember!" ketusnya.
Ardo menyengir. "Kan aku kaget, Yang," katanya. "Dion yang ngasi tau kamu?" tanyanya.
Viola mengangguk sebagai jawaban.
Seketika itu Ardo tertawa keras hingga membangunkan Varo yang tertidur bersama Keo.
"Ayah, kenapa kelas-kelas? Varo ngantuk," ucap anak itu.
Ardo masih tertawa. "Maafin Ayah, jagoan. Tidur lagi gih, nanti Ayah gendong kalo udah sampe rumah,"
Varo mengangguk, ia mengucek matanya lalu mulai memjamkan matanya lagi.
__ADS_1
"Kamu sih, Mas ketawanya kayak ornag kesurupan," omel Viola. "Untung anak kamu yang atunya tidur kayak kebo, persis sama kamu," lanjutnya.
Ardo terkekeh. "Kan bibitnya dari aku, makanya mirip," katanya. "Eh itu beneran kamu tau dari Dion?" tanya Ardo lagi.
Viola mengangguk lagi. "Iya, tadi dia ke C'mol ketemu aku, lalu kita cerita dikit,"
Lagi-lagi Ardo terkekeh, ia menggeleng pelan. "Masa kamu percaya Dion sih? Enggak tau ya otak anak itu udah miring akibat gagal move on," ucapnya.
"Maksud, Mas?"
"Milen tuh biasanya selalu ngasi tau aku kalau dia lagi deket sama cowok, jadi mustahil aku enggak tau dia pacaran sama Marvel terus sampe hamil gitu," ucapnya. "Biarpun Milen liar, tapi aku tau dia gak bakal sampai hamil diluar nikah," ucapnya. Ardo tersenyum, ia sangat menyukai sifat Milen yang ini.
Viola memincingkan matanya. "Kok kayaknya kamu kenal banget ya sama Milen," kata Viola.
"Iya lah, orang Milen itu orang yang paling dekat dengan aku," jawabnya.
Viola menghembuskan nafasnya kasar. "Oh begitu," ucapnya, ia menyandarkan punggungnya pada kursi mobil lalu mengalihkan tatapannya keluar jendela.
Tiba-tiba keadaan menjadi hening, sebuah tangan besar menangkup tangan Viola lalu membawanya ke atas paha si tangan besar itu.
Viola menoleh, ia melihat Ardo menatapnya dalam.
"Milen memang orang yang paling dekat denganku," katanya lalu mengecup punggung tangan Viola. "Tapi Viola adalah orang yang bersatu dengan jiwaku," ibu jari Ardo mengusap punggung tangan Viola. "Kamu adalah aku, dan aku adalah kamu. Jangan cemburu, karena orang lain yang hanya bisa dekat denganku tetapi tidak bersatu denganku sepertimu, aku mencintaimu lebih dari apapun."
Tiba-tiba bibir Viola mencebik, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. "Mas Ardo ... " lirinya. "Aku pengen cium kamu, sniftt," katanya disertai tarikan lendir dair hidungnya.
Ardo terkekeh, ia mengusap kepala Viola. "Aku lagi nyetir, jangan bikin aku ngebut karena pengen cepat sampe rumah," ucapnya.
"Kita kan bisa nepi--"
Mobil Ardo pun langsung berhenti, dan ternyata mereka sudah berada di tepian jalan.
Tanpa aba-aba Ardo langsung menarik tengkuk Viola, ia membungkam bibir Viola dengan bibirnya. Mereka larut dalam ciuman hingga tidak tau bahwa banyak orang yang menghidupkan klakson guna menyuruh mobil Ardo berjalan.
Ciuman itu memang terlepas dari bibir Viola, tetapi kembali merambat ke lehernya.
"Mas, udah. Di rumah aja, nanti anak-anak bangun dengar suara klakson," ucap Viola sambil menahan desahannya, bukan apa lidah dan tangan Ardo tidak bisa terlepas dari tubuhnya.
"Ahh Mas, udah," kata Viola karena suara klakson itu sungguh mengganggunya.
Ardo melepaskan Viola, ia mengumpat kecil. "Tanggung, Yang," ucapnya.
"Tapi mereka berisik, Mas. Nanti anak-anak bangun gimana, di rumah aja ya?" tawar Viola, ia juga sudah berada di ujung tanduk. Tetapi jika dilanjutkan maka akan membuat mereka digrebek para pengendara yang lewat.
Ardo melihat keadaan Viola yang sudah berantakan. Dua kancing bajunya sudah terlepas sehingga menampilkan dua buah benda kenyal dan besar yang sudah terdapat beberapa tanda darinya itu.
"Lanjut di rumah lagi, cepetan jalan," kata Viola, ia membetulkan bajunya yang sudah acak-acakan.
Ardo meneguk ludahnya, di rumah ya? He he
***
"Mas, aku gendutan ya?"
"Hm?"
"Aku gendutan?" tanyanya lagi.
"Mana, coba aku cek dulu," Ardo langsung memegang kedua aset Viola yang tidak tertutupi benang itu. Maklum saja mereka habis-- yah kalian pasti taulah mereka ngapain.
__ADS_1
"Ih Mas, bukan itu. Kalau itu sih wajar gendutan, orang Keo dan bapaknya juga nyumpel di situ mulu," ucap Viola. "Apalagi bapaknya, beuh sampai-sampai bagian Keo juga diembat," katanya lagi.
Ardo tertawa. "Apa sih, Yang. Kok kayak enggak ikhlas gitu," ucapnya, ia mengusap punggung Viola. Sekarang Viola sedang dalam posisi menyender di dada bidang Ardo. sehingga rasanya kedua benda kenyal itu menempel di perut Ardo. Rasanya seperti, geli-geli bergairah he he.
Viola hanya terdiam. "Beneran deh, aku gendutan ya?"
"Enggak, siapa bilang gitu?" tanya Ardo.
"Mami, tadi katanya aku gendutan,"
"Oh, perasaan aku enggak tuh. Tapi biarpun kamu agak berisi ya wajar kan kamu udah punya anak, aku juga lebih suka kalau kamu berisi seperti ini," jawabnya.
"Jadi aku sekarang beneran gendut dong?"
"Siapa bilang?"
"Itu Mas tadi bilang kamu lebih suka kalau aku berisi," ucapnya.
"Emang iya?"
"Ish Mas Ardo! Masa dengan ucapan sendiri lupa sih!" kesal Viola. Biarpun kesal tapi tetap saja ia masih memeluk Ardo.
Ardo terkekeh, ia mengecup puncak kepala Viola. "Kok sensitif amet si? Lagi hamil?"
Viola mendongak. "Hamil?"
Ardo mengangguk. "Kamu kan kalau lagi sensitif gini kalau enggak dapet, ya hamil. Tapi kan kamu enggak dapet,"
"Iya juga sih, tapi enggak mungkin lah aku hamil. Orang mens aku baru selesai minggu lalu," ucap Viola.
Ardo mengendikkan bahunya, lalu memeluk Viola. Kini bergantian Ardo yang nyempluk di dada Viola, sambil icip-icip hehe. "Ya kali aja, Yang. Artinya aku topcer," ucapnya.
"Kasian Varo sama Keo dong Mas kalau aku hamil lagi, kan mereka masih kecil-kecil,"
"Hmm," Ardo hanya bergumam, ia masih asyik dengan kegiatannya.
"Yang," panggil Ardo.
"Apa?"
"Mau lagi," jawabnya.
"Kan udah Mas, enggak capek?"
"Enggak, lagi ya?"
"Nanti aku hamil gimana?"
"Apa yang kamu takutin? Anak kita punya orang tua lengkap, bukan hasil zinah,"
"Iya juga sih, tapikan,"
"Boleh ya?" pujuk Ardo lagi.
Viola menghela nafasnya kemudian mengangguk.
Dalam hati Ardo bersorak kegirangan. Baiklah dia akan coba membentuk tim kesebelasan lagi.
***
__ADS_1
Jangan lupa jempol dan komentar🙃🙃🙃
Ayo dong mampir ke lapak Dion😍 masih dikit banget di sana :(