Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
Limapuluhsatu


__ADS_3

"Udah pulang—" Viola terkejut bukan main ketika bukan Ardo yang datang melainkan wanita cantik dengan postur tubuh bak model papan atas.


"Hai,"


"Aku bawa coklat dari Paris nih, Etta mana?" tanya wanita itu langsung masuk tanpa memperdulikan Viola yang masih berdiri cengo di pintu.


"Viola, sini,"


"Uh? I-iya, Mbak Milen," jika orang lain yang melihat penampilan Milen yang sekarang pasti orang itu akan menganggap Milen seorang j*lang dengan pakaian seperti sekarang ini.


"Kamu suka coklat kan? Ini aku beliin coklat asli dari Paris!" ucapnya semangat. Sebenarnya Viola masih agak sungkan dengan Milen, Viola takut aja Milen ini enggak sebaik yang ia kira melihat dari tampilannya sekarang.


"Kamu pasti masih sungkan dengan aku, wajar aja pertemuan pertama kita kan enggak bagus,"


"Enggak kok, Mbak," kata Viola. "Mbak baru pulang ya?" tanyanya mengalihkan perhatian Milen yang sempat sendu tadi.


Milen mengangguk semangat. "Ya! Aku baru aja nyampe, aku langsung ke sini. Kata Ardo kamu suka coklat jadi aku beliin dari sana, aku enggak mampir kerumah lagi, langsung ke sini soalnya aku suka khilaf kalo sama coklat hehe," katanya panjang lebar seolah-olah Viola adalah sahabat karibnya.


Viola tersenyum. "Mbak enggak capek pulang dari Paris langsung ke sini?"


"Enggak, aku udah biasa kayak gini. Eh kamu ada baju kaos enggak? Sesek nih dada aku, bajunya ketat banget,"


"Ada kok, Mbak tinggal pilih aja. Masuk aja ke kamar," suruh Viola. Milen pun langsung menuju kamar Viola.


Viola mengucapkan kata maaf pada Tuhan karena telah menilai Milen dari penampilan saja, ia tidak tau kalau ternyata Milen berpakaian seksi itu hanyalah tuntutan pekerjaan dan juga di depan media saja, sedangkan di rumah Milen akan berpakaian waras.


Milen kembali dengan wajah yang sudah bersih dari make up, ia mengenakan kaos hitam milik Viola.


"Ahh leganya, aku numpang kamar mandi kalian tadi," kekehnya.


"Pakai aja lah Mbak enggak usah ijin lagi," ucap Viola. Ia mengabil coklat oleh-oleh dari Milen.


"Mbak kenal dengan Raline?" tanya Viola.


"Raline?" tanya Milen, Viola mengangguk. "Enggak tuh, kenapa?"


Viola menggeleng. "Nanya aja,"


***


"Maaf pak, sekretaris dari WJY Group memberi tau saya bahwa mereka membatalkan kerja samanya," ucap wanita itu dengan kepala menunduk.


Orang yang dipanggilnya 'Pak' itu memijat kepalanya yang semakin berdenyut. Belum selesai masalah satu muncul lagi masalah lainnya.


"Apa alasan mereka?"


"Sekretarisnya hanya bilang bahwa mereka tidak mau menanam modal pada perusahaan yang terancam akan gulung--"


Prang!!


"Kabar murahan dari mana itu?!"


"Sa-saya tidak--"


"Saya tidak memberimu gajih buta! Cari tau atau angkat kaki sekarang!"


"Ba-baik pak, saya permisi,"


Setelah peninggalan sekretarisnya itu, dia mengerang keras, nafasnya memburu, dasi yang kenakannya serasa mencekik sekarang. Sialan! Berani sekali mereka menyebarkan isu hoax seperti itu! Ia tak akan membiarkan isu itu menyebar luas hingga berdampak pada perusahaan nya maupun keluarganya.


"Reon! Cepat cari tau sumber hoax itu, jangan sampai berita itu menyebar! Juga cari tau alasan valid kenapa banyak perusahaan membatalkan kerja samanya!"


"Baik pak, dalam satu jam kedepan Anda akan menerima data-data tersebut!"


***

__ADS_1


"Lo jujur deh sama gue, lo lagi ada masalah kan?"


Viola menggeleng. Lalu menatap ponselnya lagi, pasalnya sudah dua hari ini Viola kabur dari rumah namun Ardo sama sekali tidak menghubunginya. Viola kabur dari rumahnya setelah dua hari yang lalu ia mendapatkan foto Ardo dengan seorang perempuan yang tidak ia kenali, di foto itu nampak Ardo sedang memeluk seorang wanita yang berada di keramaian. Jika bukan orang terdekatnya mana mungkin ia memeluk wanita itu tanpa memperdulikan sekitarnya. Viola mendapatkan foto itu dari seseorang yang tak dikenalnya.


Orang itu berdecak kesal. "Anak gue yang belum lahir pun tau kalo lo lagi ada masalah! Cerita napa, La? Kita ini sahabat. Siapa tau gue sama Anton bisa bantu lo."


Viola menatap Prilly sebentar lalu menatap kolam ikan di depannya lagi.


"Gue hamil," ujar Viola yang masih menatap ikan ikan yang berenang disana.


Prilly terkejut. "Lo hamil?"


Viola mengangguk


Tiba tiba Prilly memeluk Viola dari samping.


"Alhamdulillah, La. Akhirnya lo hamil juga. Gue terharu banget dengernya," ucap Prilly melepaskan pelukannya kemudian menyeka air mata nya. Prilly sangat terharu mendengar itu.


"Ardo udah tau?"


Viola mengangguk. "Udah tau,"


Prilly mengangguk anggukan kepalanya. "Jadi ... masalahnya?"


Viola menghembuskan nafasnya. "Ardo selalu ngalihin pembicaraan saat gue bilang cinta sama dia ... itu nggak masalah Pril, mungkin dia butuh waktu. Masalahnya Ardo berubah hiks berubah saat gue ngasih tau dia kalo gue hamil hikss ... yang gue liat sekarang adalah Ardo yang gue liat saat pertama kita ketemu, Pril. Datar hiks ..." Prilly lalu membawa Viola kedalam pelukannya. Prilly masih setia mendengarkan curahan sabatnya itu.


"Gu-gue liat dia pelukan sama wanita lain, Pril. Yang gue tau dia nggak punya sodara perempuan, gue takut dia selingkuh, Pril," ucap Viola terisak.


"Mungkin lo salah paham, La. Nggak mungkin kalo Ardo selingluh," ucapnya. "Emang kamu udah tanya sama dia?"


Viola menggeleng. "Gue ... gue takut ka-kalo Ardo gak nerima a-anak ini hiks ... gue hiks takut kalo dia lebih memilih wanita it uterus nyuruh gue aborsi—"


"Sstt ... lo ga boleh ngomong gitu, La. Mungkin Ardo lagi banyak fikiran. Besok, lo ajak ketemu laki lo, komunikasi itu penting La, apalagi pada pasangan."


Viola mengangguk lemah.


"Thanks ya, Pril. Rasanya beban gue sedikit terangkat,"


"Iya sama sama. Lo mah kayak sama siapa aja," ucap Prilly.


"Eh, ngomong-ngomong orang tua sama mertua lo tau nggak kalo lo hamil?" tanya Prilly.


"Enggak, yang tau cuma Ardo sama lo doang,"


Prilly mengangguk. "Masuk yuk, bikin kue. Gue lagi pengen ni," ajak Prilly.


Viola tertawa kecil seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ngidam itu,"


***


"HALO! DION GANTENG DI SINI!"


"APAKAH ADA ORANG DI DALAM?!" teriakan Dion menggema di dalam rumah Prilly. Namun tidak ada sahutan dari sang empunya rumah.


Dion langsung masuk dan mencari cari keberadaan orang rumah ini. Dia udah janji dengan Anton untuk main bola sore ini.


"BANG ANTON! KAK ILI! WOI ORANG RUMAH!" pekik Dion nyaring.


"Gue haus astaga, ini pada kemana ya? Hais!" gerutu Dion.


"Bik! Orang rumah kemana ya?" Tanya Dion yang kebetulan melihat ART lewat.


"Di gazebo, den."


"Ok tencuh ya bibique,"

__ADS_1


ART itu mengernyit bingung. "Maksud Aden?"


"Bibi cantik," ucap Dion mengedipkan matanya lalu berlalu mencari Gazebo.


"Dasar anak muda," ucap bibi ART itu.


***


Dari kejauhan Dion melihat Prilly bersama seorang wanita dengan rambut di kucir kuda. Rasa-rasanya Dion mengenal wanita itu, tidak salah lagi itu adalah sepupu iparnya, Viola.


"HALLO BEAUTY GIRLS!!" seru Dion sambil berlari kearah dua wanita hamil itu.


"Astaga! Kaget kita, Yon," ucap Viola seraya mengusap usap dadanya.


"Ckck! Di sini ada dua bumil tauk! Kamu mau anak kita kaget karna teriakan kamu, hah?" ucap Prilly yang juga mengusap usap dadanya.


Dion terkekeh seraya menggaruk tengkuk nya. "Sorry deh sist, gue tuh udah teriak-teriak dari tadi tapi nggak ada yang denger. Tapi, tunggu dulu. Kakak bilang apa, Kak Ili? Dua bumil? Kan kakak doang yang hamil," Dion mengedarkan pandangan nya mencari keberadaan orang lain selain mereka. Namun tidak ada siapapun.


"Di sini gak ada siapa siapa, hanya ada gue, Kak Ili sama Kak Vio—ASTAGAA! JADI KAK VIOLA HAMIL?! KA—KAKAK BENERAN HAMIL? JAWAB GUE DONG, KAK? ASTAGA!! GUE BAKAL JADI UNCLE LAGI DONG?!" teriak Grace saat baru paham maksud Prilly.


Sontak Prilly dan Viola menutup telinganya. "Kuping aku sakit, peak! Toa kamu nih disumbangin aja. Atu enggak di jual sana!" ketus Viola.


Dion terkekeh. "Ya aku kan seneng. Eh, bener gak sih, Kak? Penasaran ini," tanya Dion lagi. Sedangkan Prilly menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Dion itu.


"Iya Dion. Bener," ucap Viola


"Yeayy. Akhirnya berhasil juga misi kita! Harus bilang babang Marvel ini,"


"JANGAN!" teriak Viola dan Prilly bersamaan.


"Terlambat," ucap Dion menggigit bibirnya.


Viola dan Prilly menghembuskan nafas kasar. Dion menatap Viola dan Prilly seakan akan bertanya 'kenapa?'.


"Bang Marvel belom tau, Dion."


Dion mengernyit bingung. "Emang kenapa? Bagus dong kalo gue kabarin, kan babang juga harus tau," ucap Dion.


"Ada hal yang kamu nggak tau, Yon. Ini tentang dia sama mas kamu,"


Dion semakin bingung. "Ardo? Kenapa lagi sama tu Kulkas?"


"Viola lagi ada konflik dikit sama dia," ucap Prilly. Viola sedari tadi hanya diam.


"Konflik—"


"Violaa!" pekikan Marvel membuat Viola dan Prilly memejamkan matanya sebentar.


"Berisik Marvel!" gerutu Anton yang muncul dengan Marvel.


"Nah, Kak. Konflik kakak sama mas Ardo apa?" tanya Dion. Lagi lagi Viola dan Prilly memejamkan matanya. Ingin mereka menjahit mulut Dion yang ember itu.


"Masalah? Kalian punya masalah?" tanya Marvel yang sudah mendekati Viola.


"Enggak—"


"Masalah sama lakinya, Bang." cerocos Dion memotong omongan Viola. "Apa sih masalahnya? Kasih tau dong, Kak. Penasaran ini!" sambungnya.


Viola menghembuskan nafasnya lagi untuk meredakan amarah yang sudah menguasai dirinya. Prilly pun hanya mampu menggelengkan kepalanya. Tidak mampu berkata-kata lagi.


***


(Jempollllll dan komentar jangan lupa hehehe, makin banyak jempol makin banyak komentar makin semangat juga saya update. Buruannnnn!)


(Gimana part ini? Tuliskan di kolom komentar, komentar paling menarik akan dapat something, tp boong ehehe :') piss)

__ADS_1


__ADS_2