
**************************
Kemanakan kucari,
Saat cinta mulai mekar bersemi,
Haruskah kutahu asam garam,
Awal dari sebuah cinta,
Bukan hanya mimpi jadi,
Khayalan di dalam hidupku,
Di ujung malam sunyi ku terbayang,
Kasih pujaan hatiku,
Darahku berdesir bergejolak,
Aku mulai jatuh cinta,
Tidurku tak nyenyak hati merindu,
Wajahmu membayang,
Bunga-bunga cinta mulai bersemi,
Bernyanyi di dalam jiwaku,
Ku ingin rasakan,
Bahagia di hatiku,
Mimpi-mimpi indah indah bersamamu,
Jadi kenyataan hidup ini,
Kita manusia,
Sudah dituliskan hidup berpasang-pasangan
Nike Ardilla - Bila Cinta Mulai Bersemi
******************************
Massachusset, Amerika Serikat
Di sebuah apartemen mewah tepatnya di ruang tamu yang lumayan besar, seorang pemuda nampak sedang berbincang bincang dengan telepon di telinganya.
"Tolong rayu, pujuk atau apalah dia untuk pulang. Keadaan Ardo tidak baik baik disini, dalam tiga bulan terakhir ini Ardo sudah bolak balik rumah sakit. Om mohon," mohon seseorang disebrang sana.
Pemuda itu menghembuskan nafasnya, ia pun bingung apa yang harus ia lakukan. Di sisi lain ia ingin membantu om-nya, di sisi lain ia ingin membantu orang yang menjadi objek yang mereka bicarakan ini. "Baiklah, saya coba sekali lagi Om," ucap orang itu.
Terdengar helaan nafas di sebrang sana. "Hanya kamu harapan terakhir om ... terima kasih,"
"Hm,"
Pemuda itu mematikan sambungan teleponnya lalu menghembuskan nafas lagi.
"Gimana ini, Kak?"
"Aku juga enggak tau, kita hanya bisa memujuk Viola untuk pulang saja. Tapi ... " orang yang dipanggil 'kak' oleh pemuda itu hanya bisa memijat pngkal hidungnya. Dia juga pusing mengurus wanita hamil dengan sejuta kesensitifannya.
"Kita harus bertindak Kak,"
__ADS_1
"Ya,"
"Kalian kenapa?" tanya seorang wanita di ambang pintu dengan perutnya yang sudah membuncit saat melihat raut gelisah dari sang lawan bicara.
"Kamu baru pulang?" tanya wanita yang bersama pemuda itu.
"Iya, Mbak. Seneng banget deh aku jalan-jalan disini, banyak banget anak-anak lucu main di sana. Aku harap twin bisa tumbuh seperti anak-anak lucu itu!" ucapnya antusias. Viola memang mengandung anak kembar. Hanya dua orang yang menjadi lawan bicaranya saja yang tau, sedangkan keluarganya tidak tau sama sekali. Mereka hanya tau bahwa Viola hamil saja.
"Pasti," jawab wanita itu.
"Pulang deh Kak. Aku kasian sama mas Ardo, juga sama Kakak," ucapan pemuda itu membuat Viola terdiam, dia ingin tapi ia tidak bisa.
Viola menghembuskan nafasnya lalu menunduk. "Aku—aku enggak bisa,"
Pemuda itu mengusap wajahnya kasar. "Kakak enggak rindu sama dia?"
Viola menundukkan kepalanya. "Aku rindu, sangat ... tapi—"
"Astaga! Tapi apalagi? Kakak kayak gini hanya nyiksa diri Kakak aja tau enggak!" ucap lelaki itu yang sudah kesal dengan sifat keras kepala Viola.
Wanita yang berada disamping pemuda itu langsung menenangkannya. "Tenang Yon," ucapnya.
"Aku tau Kakak tersiksa dengan semua ini, aku tau itu. Pulanglah, Kak. Ikuti kata hatimu," lanjut pemuda itu.
"Dia benar, Viola. Lebih baik kamu pulang aja, selesain masalah kalian, masalah kamu, bukan malah kabur-kaburan gini," kata wanita itu.
Mata Viola berkaca kaca, perkataan dua orang itu membuatnya tersinggung. "Hiks ... hiks kalian ... ngusir aku?" pertanyaan Viola di tambah air mata itu membuat mereka gelagapan.
Kalo urusan gini sih lebih baik ngalah aja deh, pikir pemuda itu.
"Eh eh, eng-enggak, bukan gitu. Maksud aku—aku bilang gini karna aku khawatir sama Kakak,"
"Hiks makasih udah khawatir sama aku, mungkin ini hiks terdengar egois tapi aku mau Ardo ngerasain apa yang aku rasain hiks biarin aku egois," ucap Viola.
"Terserah kamu deh. Aku sama dia cuma mau bilang, jangan nyesel karna kamu lebih mementingkan ego daripada hati kamu," ucapan wanita itu melembut. Tapi ucapannya itu membuat Viola tersentak, ada perasaan ragu di hatinya namun ia menepis semua keraguan itu.
Viola mengangguk. "Udah, makan diluar tadi,"
"Bagus deh, tadi lauk yang kamu masak udah kita habisin semua hehe," kekeh wanita itu.
Bibir Viola mencebik lucu. "Enggak heran lagi kalau Mbak Milen mah," ucapnya.
Milen memang berbohong pada Ardo jika ia tidak bisa membantunya menemukan Viola, nyatanya Viola ikut bersamanya. Ia berbohong juga Viola yang memintanya. Beruntunglah Milen benar memiliki jadwal yang padat hingga kebohongan itu tidak diketahui Ardo.
Tidak tau saja si Ardo bahwa Milen merupakan pakar dari jaringan jadi ia dengan leluasa menutupi informasi yang dilacak oleh hacker suruhan Ardo. Ibarat kata 'maling mencuri di rumah maling' pasti si empunya rumah sudah tau darimana saja informasi itu bisa dicuri secara dia juga maling.
"Eh capek aku lama-lama berdiri kayak gini," ucap Viola kemudian duduk di sofa.
Pemuda itu terkekeh lalu mengikuti Viola duduk di sofa juga. "Salah siapa enggak duduk?"
Viola memutar bola matanya malas. "Iyain deh," ucapnya. Lalu ia menoleh pada Milen yang sedang melihat majalah yang isinya fotonya sendiri. "Mbak, ambilin aku minum boleh?" tanya Viola dengan wajah memlasnya. "Baby aku yang minta," lanjutnya.
Hidung Milen mengembang dengan mata menyipit. "Terus saja alesin baby," ucap Milen kesal namun tak urung mengambilkan minum untuk Viola.
"Dua ya, Kak!" teriak pemuda itu, Milen hanya mengacungkan jari tengahnya, sialan emang yang tua selalu jadi babu.
"Gimana hubungan kamu sama Ana?"
Dion terdiam. Ya, lelaki yang bersama Viola adalah Dion. Dion sedang melanjutkan pendidikannya di Harvard University, jurusan ekonomi bisnis. Dion mendapat beasiswa dari sekolahnya.
Mengenai Viola yang bersama Dion bukan karena Dion yang mengajaknya, tapi Viola yang merengek ingin ikut dengan alasan baby ingin ikut uncle nya. Tapi Dion tau itu bukan alasan Viola yang sebenarnya, dengan berat hati Dion pun mengiyakan permintaan sepupu iparnya itu. Ditambah lagi Milen yang berada di sana membuat Dion mau membawa serta Viola.
Dion mengangkat bahunya acuh. "Enggak tau,"
Viola mengernyit bingung. "Kok gitu?"
__ADS_1
Dion menghela nafasnya dan merubah raut wajahnya menjadi datar. "Kita—"
"Mereka udah putus," jawab Milen yang membawa tiga buah gelas dalam nampan dan sebuah teko berisikan sirup Maple. Tak lupa pula kue kering yang ia bawa.
"Mungkin sekarang dia udah bahagia atau mungkin udah hamil malah," ucapan Dion membuat Viola refleks menoyor kepala Dion.
"Hush ... ngomong itu disaring dulu," Viola menggeleng, sedangkan Milen hanya diam saja dan memilih melanjutkan melihat-lihat majalah tadi. Dia sudah tau perihal hubungan Dion dan mantan kekasihnya.
"Penglihatan aku sih, Ana—"
"Jangan sebut nama dia!" potong Dion cepat.
Viola mendengus kesal. "Iya iya! DIA itu gadis baik baik, mana mungkin dia hamil duluan," lanjut Viola.
Dion mendengus mendengar ucapan Viola. "Ya mungkin lah! Orang dia aja udah nikah!"
"Hah? Nikah? Sama siapa? Kok bisa?" pertanyaan beruntun Viola membuat Dion mendengus lagi. Sebenarnya Dion muak menceritakan MANTAN nya itu tapi apa boleh buat Viola tidak akan berhenti mengoceh sebelum mendapatkan jawaban kekepoan nya itu.
"Dia di jodohin KATANYA. Tapi bomat dah gue, orang udah MANTAN juga!"
Viola manggut manggut mendengar jawaban Dion kemudian Viola memincingkan matanya. "Jadi kamu ambil beasiswa ke sini untuk pelarian patah hati ya? Playboy kayak kamu bisa patah hati juga ya ckck,"
Dion mendengus mendengar godaan orang yang sudah ia anggap kakaknya itu. "Idih, ngaca! Bukan aku, tapi Kakak. Pelarian patah hati karna Mas Ardo,"
Skakmat!
***
Jakarta, Indonesia
Setelah menerima telepon dari anak buahnya, Ardo bergegas pergi mendatangi Marvel untuk menanyakan keberdaan Viola. Ternyata dugaan Ardo selama ini benar, Marvel tau dimana Viola berada. Buktinya orang suruhan Ardo mendengar bahwa Marvel sedang berbicara ditelpon dengan yang tak lain tak bukan adalah Viola.
Ardo pun bergegas mencari Marvel tanpa memperdulikan keadaannya. Bagi Ardo, saat ini Viola lah yang lebih penting. Mobil yang digunakan Ardo adalah mobilnya sendiri, saat di lorong rumah sakit Ardo menelpon supir untuk mengantarkan mobilnya. Alhasil mobilnya pun datang tepat waktu.
Tak lama kemudian Ardo sampai di sekitaran jalan tempat apartemen milik Marvel. Marvel memang tinggal sendiri semenjak Viola menghilang. Entah apa alasannya.
Ardo memincingkan matanya saat melihat siluet yang ia yakini adalah Marvel yang baru keluar dari mini market. Mungkin Marvel habis belanja, terbukti dengan kantong belanjaan yang di tentengnya.
Dengan cepat Ardo turun dari mobil lalu menghampiri Marvel. "Marvel! Stop!"
Marvel kaget melihat dari kejauhan Ardo yang berlari kearahnya. Terlebih lagi melihat kondisi Ardo yang sangat pucat.
Tiba-tiba Ardo sudah berada di depan Marvel dan mencengkram bahu Marvel. "Please, Vel. Kasi tau saya dimana Viola berada. Saya mohon, Vel," ujar Ardo lirih.
Emosi Marvel seketika naik saat melihat Ardo menyebut nama adiknya. Dengan emosi yang meluap Marvel memukul Ardo hingga membuat Ardo terjungkal kesamping dengan darah yang mengalir di sudut bibir Ardo. Untung saja malam ini kondisi jalanan sepi sehingga tidak membuat mereka jadi tontonan gratis.
"Jangan harap saya akan kasi tau dimana Viola berada," Marvel berucap dengan nada dingin dan kejam. Bahasa Marvel pun sudah menjadi formal, seakan-akan Ardo adlah orang asing yang patut di jauhi.
Ardo bangun, ia menekukkan kedua lututnya dengan tertatih seraya menyeka darah di sudut bibirnya. Bibirnya yang pucat kini nampak memerah akibat darah keluar dari luka tinjuan itu
"Please, Vel. Saya mohon," mohon Ardo sujud di kaki Marvel. Persetan dengan harga diri, pikir Ardo. Ia tak perduli lagi dengan harga diri yang penting adalah keberadaan Viola.
"Biarpun Anda mencium telapak kaki saya, Saya tidak akan pernah memberitahukan dimana Viola berada, camkan itu!" Marvel berlalu setelah mengucapkan kalimat itu.
Ardo mengacak rambutnya frustasi kemudian bediri dengan hati-hati. Kemana lagi Ardo harus mencari Viola? Cairan bening lolos lagi dari mata Ardo.
"Kamu dimana Viola?" lirihnya.
Bergegas Ardo pulang mengendarai mobil dengan kondisi yang masih lemah ditambah lagi pukulan yang di berikan Marvel. Dengan kecepatan diatas rata-rata Ardo mengendarai mobilnya. Hingga tiba tiba Ardo merasakan sakit itu menyerang kepalanya lagi. Ardo yang menyetir pun menjadi tidak fokus karena penglihatannya tiba-tiba memburam.
Ia menggeleng gelengkan kepalanya guna menghilangkan rasa pusing juga menetralkan pemandangannya. Namun kepalanya semakin memberat saja, pemandangannya pun semakin mengabur, hingga Ardo mendengar suara benturan yang sangat kuat. Ardo dapat merasakan badannya remuk seketika. Ia tak sanggup membuka matanya lagi. Hanya satu nama yang ia sebut dan selalu ia ingat sebelum kesadarannya menghilang.
"Viola ..."
DUARRR!!
__ADS_1
***
(Happy weekend teman-temann🤗)