
Massachusset, Amerika Serikat
Viola dan Dion sedang bersantai ria di balkon apartemen. Sedangkan Milen sedang pemotretan di studio tempat ia bekerja.
Sekarang Viola sedang merajut jaket untuk calon-calon anaknya. Selama disana ia belajar merajut dengan tetangga apartemen milik Milen. Ia sangat senang mengetahui bahwa bayinya kembar, dalam riwayat keluarga Viola baik Ardo tidak ada yang kembar, artinya ini adalah sebuah mukjizat dari Yang Maha Kuasa dan Viola sangat bersyukur akan hal itu.
Mengingat Ardo, Viola jadi semakin rindu, tapi dia takut, dia takut bahwa Ardo mungkin sudah menikah dengan wanita lain, Viola tak akan sanggup melihat itu. Biarlah ia menahannya seorang diri.
"Akh ..." ringis Viola saat jarum itu menusuk jarinya dan mengeluarkan darah. Entah mengapa jarum itu terasa tajam padahal jarum rajut itu tidak tajam. Dan kenapa juga jantung Viola tiba-tiba berdetak lebih kencang dan itu sangat menyakitkan, seketika itu pula Viola memegang dada dimana letak jantungnya berada.
Dion menoleh ke arah Viola yang sedang kesakitan. "Kenapa, kak?" tanya Dion.
Viola menggeleng lemah, entah perasaannya kurang nyaman saat ini. Fikirannya terus melayang pada satu nama yaitu Ardo. "Ketusuk jarum dikit," entah kenapa Viola ingin menangis sekarang, hormone kehamilan sangat membebaninya.
Dion menggeleng. "Makanya, kak. Hati-hati," ucapnya. Tiba tiba Dion mengelinjang yang membuat Viola mengernyit bingung.
"Kamu kenapa?" tanya Viola.
Dion terkekeh. "Panggilan alam," Dion langsung kebelakang untuk menuntaskan panggilan alamnya. Viola menggeleng lalu melanjutkan aktivitasnya lagi.
Drrrttt drrtt ...
Viola berhenti sejenak dan melirik hp Dion yang bergetar namun ia abaikan. Tidak sopan jika mengangkat telepon orang lain.
Drrt drrtt ...
Viola masih mengabaikannya.
Drrt drrtt ...
Viola yang kesal dengan getaran itu langsung mengangkat telpon milik Dion tersebut.
"Ha—"
"Ardo kecelakaan," ucap orang di sebrang sana. Viola kenal betul dengan pemilik suara ini.
"Dia ... dia koma,"
JDEERR!
__ADS_1
Seketika itu dada Viola bergemuruh hebat, pipinya sudah membentuk sungai yang entah kapan mengalir itu.
Ya Tuhan, apa ini?
"Ko—koma?" lirih Viola yang masih dapat didengar orang di sebrangnya itu.
"Vi—Viola?" orang disebang sana nampak terkejut.
Jadi ini yang membuat perasaan Viola tak menentu? Pemandangan Viola buram dan saat itu Viola melihat Dion yang tergopoh-gopoh mendekatinya setelah itu hanya kegelapan yang Viola rasakan.
"KAK VIOLA!" teriak Dion saat melihat Viola yang sudah tergeletak dilantai dengan handphone yang masih mengeluarkan suara.
Dion tergopoh gopoh mendekati Viola dan mengangkat telepon yang belum terputus itu. "Halo?"
"Halo, Dion ini kamu? Viola, Viola kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu teriak panggil Viola? Kenapa? JAWAB OM, DION!!" pertanyaan beruntun dari Martin membuat Dion memijat pelipisnya.
"Om tenang dulu, nanti Dion telpon lagi. Dion mau urus kak Viola dulu tutt ..." Dion langsung mematikan sambungan telepon itu dan langsung mengangkat Viola ke kamarnya.
"Bumil berat banget huhh," ucap Dion setelah berhasil meletakkan Viola ke atas ranjang. Dion menegakkan pinggangnya karena merasa sakit. Butuh perjuangan bagi Dion saat melewati tangga sambil menggendong Viola, meskipun badan Dion kekar namun menggendong bumil yang berisi dua calon bayi itu membutuhkan kekuatan super.
Mungkin jika istrinya hamil nanti, Dion akan menyuruh istrinya olahraga agar tidak gemuk begitulah isi fikiran Dion. Setelah itu Dion segera menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan Viola.
Dokter itu langsung menoleh. "Pasien mengalami shock berat, Saya sudah memberikan perawatan yang tepat. Saya harap Anda bisa menjaganya dengan baik, jangan biarkan batin dan pikiran pasien tertekan karna akan berpengaruh pada kandungannya. Kandungannya lemah, ditambah lagi ada dua bayi di dalamnya," ucap sang dokter, Dion mengangguk patuh. Dokter itu melirik jam yang melilit indah di pergalangannya. "Saya permisi," ucapnya.
"Mari saya antar,"
Dokter yang tadi datangkan Dion adalah dokter wanita, mengingat dulu Dion pernah menemani Viola check up dan saat itu dokter yang sedang praktek adalah laki laki alhasil Viola merengek pindah check up ke tempat lain saat Dion menanyakan alasannya dengan enteng Viola menjawab. "Tubuhku hanya untuk suamiku," Viola juga mengatakan bahwa ia tidak mau tubuhnya disentuh oleh lelaki lain selain suami dan keluarganya. "Kalo aku yang sentuh kakak, gimana? Aku kan bukan suami kakak?" tanya Dion waktu itu. Viola tersenyum lalu menjawab. "Kamu itu udah kayak adek kandung sendiri, kamu itu adek kesayangan aku. Sayangnya aku sama kamu, sama kayak sayang aku ke bang Marvel," wajah Dion memerah kala mendengar jawaban Viola. Jawaban Viola pun membuatnya senang sekaligus malu. Senang karna Dion selalu memimpikan seorang kakak –mengingat Dion anak tunggal dan malu dalam arti tersipu.
Aneh memang jika dipikir Viola possesif terhadap tubuhnya, biasanya yang bertingkah seperti itu adalah sang suami kepada istri namun hal itu tidak berlaku pada bumil satu ini. Efek ngidam maybe?.
Dion teringat dengan Martin, ia sudah berjanji untuk menghubunginya lagi. Dion berlari ke ruang tamu dan mengambil handphone yang ia letakkan di samping figura foto. Kemudian Dion melepon kembali om nya itu.
"Ha—"
"Gimana keadaan Viola? Dia baik-baik aja kan? Apa ada yang terluka? Kita semua khawatir Dion!" Dion menjauhkan sedikit handphone itu dari telinganya saat mendengar suara yang hampir mirip teriakan itu. Suara itu milik tentenya–Lia. Jelas sekali kalau suara Lia terdengar sangat mengkhawatirkan Viola.
"Tenang aja tante, kak Viola baik-baik aja. Tadi dia hanya shock," ucap Dion dan mendapat helaaan nafas lega dari sebrang sana.
"Ehm, tadi—om Martin kenapa telpon Dion ya, Tan?" tanya Dion baru saja ingat yang ingin ia tanyakan tadi.
__ADS_1
Lagi lagi terdengar helaan nafas, bukan helaan nafas lega namun helaan seperti ke-frustasian. "Ardo kecelakan,"
"Kecelakan? Mas Ardo hamilin anak orang?" tanya Dion mendapat pelototan mata dari Lia meskipun Dion tidak melihatnya.
"Sembarangan! Udah Tante bunuh kalau dia berani hamilin anak orang!"
Dion mengernyit bingung. "Tante mau bunuh mas Ardo? Kak Viola hamil lho Tan, yang hamilin mas Ardo. Masa mau dibunuh, jadi janda—"
"Astaga! Kamu ini makin di sana makin **** ya, yang itu pengecualian Dion!" Lia menggeram kesal mendengar perkataan ponakan sablengnya itu. Entah ngidam apa dulu Resty—ibunya Dion istrinya Justin—adiknya Martin. Jadi yang saudaraan itu ayahnya Ardo dan ayahnya Dion, Martin lebih tua empat tahun dari Justin.
Dion menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Jadi, mas Ardo kenapa?" tanya Dion lagi.
"Ardo, Ardo tabrakan. Dia—koma,"
Dion mematung, dia tidak salah dengar kan? Baru saja kemarin Ardo masuk rumah sakit karna lambungnya, sekarang masuk rumah sakit lagi karna kecelakaan terlebih lagi dia koma.
Kapan mengendarai mobil nya?
Mendengar suara isakan di sebrang sana membuat Dion berfikir bahwa yang di katakan tantenya itu benar adanya.
"Tante, Tante gak bohong kan? Mas Ardo kecelakaan dan koma itu—"
"Jadi ... Ardo beneran koma?"
Nafas Dion tercekat saat mendengar suara di belakangnya inu, Dion membalikkan tubuhnya dan benar saja Viola sudah berdiri dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
"JAWAB GUE DION!" bentak Viola yang entah kapan sudah berada di depan Dion.
Dion menjadi sangat bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang. Dion ingin sekali memberitahukan Viola perihal Ardo namun disisi lain Dion masih ingat perkataan dokter tadi, Viola tidak boleh tertekan itu akan membahayakan kandungannya.
Milen juga tak ada di sana, jadi apa yang harus Dion lakukan sekarang?
Dion harus gimana?!
Kak Milen tolongin gue, batinnya.
***
(Tangan saya nih gatel banget pengen update, ehehe, tolong maafkan saya yang tidak konsisten ini, yang tidak update sesuai jadwal.)
__ADS_1
(Karena hari ini saya double update, boleh dong saya minta jempol dan komentar yang banyak🤔 kalau banyak yang like sama komentar otomatis saya pasti kepikiran buat update, dan semangat buat nulis. Nah jadi saya minta itu, boleh kann?)