Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
21 (Season 02)


__ADS_3

Masih di Ketapang yaa :)


***


Selama perjalanan Dimas bagaikan tour guide yang menjelaskan beberapa tempat yang menjadi wisata bagi para penduduk Ketapang.


"Lagi musim durian, Mas. Mau coba?" tanya Dimas pada Ardo. Ardo duduk di depan bersama Dimas. Sedangkan Viola di bagian belakang bersama Varo dan Keo.


"Boleh," jawab Ardo.


"Eh, rambutan enam kilo sepuluh ribu? Beneran?" tanya Viola, ia melihat buah merah itu bertumpuk-tumpuk dengan plang harga 6kg/10.


"Iye, buah kalau udah banjir ya gini. Rambutan bisa enam kilo sepuluh, durian bisa tiga sepuluh, ada yang satu lima ribu," jawab Dimas.


Jika buah durian banjir biasanya berbarengan dengan rambutan. Kadang-kadang saking banyaknya sampai enggak laku dan dibuang saja. Dan kedua buah itu biasanya akan ada di akhir tahun atau awal tahun.


Kalau durian biasanya akan dibuat olahan seperti tempoyak, lempok durian, gula durian, dan lain-lain bisa juga sebagai penyedap rasa.


Mobil mereka berhenti di salah satu penjual buah durian yang berada di pinggir jalan.


"Yang, sehat enggak?" tanya Ardo. Karena ini dipinggir jalan, apa aja yang enggak ada.


Viola tersenyum. "Sehat, makanya orang Indonesia enggak terserang virus Korona karena udah kebal," canda Viola. Karena Viola berbicara seperti itu yasudah ia ikut saja.


Dan mereka pun menjadi pusat perhatian, terutama Ardo yang wajahnya wajah orang bule itu. Tentu saja karena di sini sangat jarang orang bule berkunjung ke sini.


"Ha senek Bang, duriannye murah kualitas bagus," ucap sang penjual.


"Durian dari mane nin Bang? (Durian dari mana, Bang?" tanya Dimas mereka sudah berjongkok. Tetapi Ardo masih berdiri dengan Keo digendongannya. Dan hal itu sukses membuat Ardo semakin memancarkan aura ketampanan yang ia miliki.


"Dari Serengkah nin, haklah men durian bah mun kite beli di pokok udah maen 1500 heh seje, kenaknye banjer t dak tepehape kan gik im, (Dari Serengkah (nama daerah hulu) durian beli di kebun harganya udah 1500, kalau udah buahnya banjir enggak bisa di apa-apain lagi,)" kata Abang penjual buah durian itu. "Piliham Bang, kualitas ok,"


Pandangan Abang itu beralih pada Ardo yang berdiri menatap buah durian itu.


"Abang nyan orang bule e? (Abang yang itu orang bule?)"


"Iye Bang e, ini istrinye. (Iya Bang, ini istrinya.)" Tunjuk Dimas pada Viola.


"Wajar mah bininye pun jangak, (wajar aja, istrinya cantik,)" Abang-abang itu tertawa. "Orang mane nin? (Orang mana?)"


"Saye bah orang senek mah bang e, ha sidak nin orang Jakarta, sepupu saye yang istrinye, (Saya orang sini kok, kalau mereka orang Jakarta, istrinya sepupu saya,)" jelas Dimas. "Bukak kan am Bang, ini a, (Buka kan, Bang. Ini,)" Dimas memberikan beberapa buah durian untuk dibuka. Dimas memilih durian dengan bijinya besar besar karena biasanya durian yang seperti itu biasanya rasanya enak.


"Bunda, buah apa? Varo endak mau, mau maga-maga," rengek Varo. Ia takut dengan buah itu karena ada durinya.


"Bentar ya Bunda bilang dulu," ucap Viola.


"Bang, ade semangke endak?" tanya Viola.


"Eh bise bahase ketapang Amoy nin, adelah ni maok semangke kuning? Semangke merah? Semangke tanpa biji? Ade semue."


Amoy, panggilan untuk wanita Cina yang cantik.


Viola tertawa, para laki-laki disana terpesona dengan tawa yang Viola miliki. Dan hal itu sukses membuat wajah Ardo semakin datar.


"Yang merah jak am, tanpa biji,"


"Ok siap! Sekalian dipotong ke?" tanya abang itu.


"Iye,"

__ADS_1


Setelah dipotong Varo pun memakan semangka itu dengan lahap.


"Mas, coba dulu duriannya," ucap Viola.


Ardo menggeleng. "Enggak," jawabnya.


"Eh endak pake bahase Inggris e? (Enggak pakai bahasa Inggris?)" celetuk abang-abang itu.


Viola tersenyum lalu menggeleng.


"Coba dulu satu," pujuk Viola. Ia tau suaminya sedang kesal sekarang, siapa juga yang tidak tau dengan wajah datar yang ia miliki kambuh itu.


Dengan terpaksa Ardo mengambil sebiji buah itu. Ia mencium aromanya lalu mencoba makan sedikit. "Enggak mau, pahit," jawab Ardo.


"Durian yang enak emang gini, ada rasa pait-paitnya," jawab Viola.


Ardo menggeleng, ia tidak suka dengan buah berduri itu. Ia memberikan duriannya pada Viola. "Aku ke mobil aja, Yang. Kasian Keo kepanasan," ucap Ardo.


"Iya deh," jawab Viola.


"Varo, mau ikut Ayah ke mobil?" tanya Ardo pada Varo.


Varo mengangguk. "Bunda, maga-maga Varo bawa ya?"


"Bawa aja, makannya jangan belepotan ya,"


Varo mengangguk lalu berjalan menuju ayahnya berada, tak lupa ia memasang kaca mata hitam miliknya.


"Eh anak-anaknye lucu-lucu ye, Moy," ucap sang abang penjual tadi.


Viola tersenyum menanggapi. Tentu saja, orang bapaknya ganteng begitu.


"Nah ini jalan menuju pantai Pecal, mau singgah ke?" tanya Dimas.


"Boleh, mumpung udah ke sini," jawab Ardo.


Lalu mobil Dimas masuk ke area persawahan, karena sebelum pantai kalian akan masuk area persawahan terlebih dahulu.


Mengapa disebut pantai Pecal? Karena selama di pantai ini kalian akan menemukan bibi penjual pecal di setiap warung. Dan pecal disini rata-rata dibuat oleh bibi suku Madura, dan pecal tersebut sangat enak. Bumbu kacang, lontong, sayur-sayuran menjadi satu yang akan memanjakan lidah kalian.


"Pecal Bik, duak pedas duak endak, pop es coklat satu aqu* tige," lalu Setelah memesan pecal, Dimas langsung duduk di saung yang memang sudah disiapkan oleh sang pemilik warung. Ia membawa beberapa botol air putih dengan merek Tirkan*, merek lokal di sana. Mereka memang menyebutnya Aqu* meskipun bukan merek Aqu* mungkin karena jenis pertama air mineral dalam kemasan yang dijual adalah Aqu*. Sama seperti motor, motor apapun penyebutan nya pasti Honda.


Kembali ke topik, di sini kita bisa menikmati pecal sambil melihat deburan ombak. Jika hampir senja maka kalian akan melihat sunset yang indah, yah meskipun tidak seindah sunset di tanah anarki.


"Yang ini pedas, yang ini endak." Bibik penjual pecal itu mengantarkan pesanan mereka. Lagi-lagi mereka menjadi pusat perhatian, mereka berbondong-bondong lewat hanya sekedar melihat si Bule. Ada yang memvideokan ada juga yang memfoto.


Ardo semakin membuat wajahnya datar, ia tidak nyaman dibuat seperti ini.


"Nikmati aja Mas, jarang-jarang kita ke sini," ucap Viola. "Makan dulu pecalnya," ucapnya lagi.


Ardo menyuapkan pecal itu kedalam mulutnya. Dan boom! Rasanya meledak dalam mulutnya, rasa bumbu kacang ini benar-benar nikmat, ada beberapa bumbu yang ia tidak tau tetapi sangat enak.


"Yang, kok rasanya ada kayak bau tanaman herbal yang mama tanam ya?" tanya Ardo.


"Iya ya, kayak bau kencur gitu," jawab Viola. Karena ia juga baru kali ini makan pecal yng seperti ini.


"Emang dikasi kencur," jawab Dimas. "Tapi enak kan?"


Mereka mengangguk, lalu memakan lahap pecal itu. Apalagi Varo, anak itu ingin menambah lagi pecalnya. Dengan baik hati sang paman langsung memesankan lagi.

__ADS_1


"Kayaknya umak ade ngasi Amplang lah, bentar ku ambik,"


Sepeninggal Dimas, mereka melanjutkan makan pecal tadi.


"Udah berapa kali kamu ke sini, Yang?" tanya Ardo.


"Baru kali ini, Mas. Soalnya dulu tempat ini belum ada, pantainya sih udah ada tapi belum dijadikan objek wisata. Baru," jawab Viola.


"Nah kan benar, makan dulu amplang nya." Dimas membuka bungkus amplang itu.


Varo mengambil kerupuk itu lalu memakannya. "Enak, paman."


Dimas mengangguk. "Di mobil masih banyak, semuanya untuk Varo."


Varo bersorak mendengarkan ucapan paman barunya itu.


Setelah puas menikmati pantai pecal, mereka pun membayar pesan mereka dan melanjutkan perjalanan lagi.


Sekitar dua jam mereka berjalan, mereka menemui lokasi yang tidak berpenghuni dengan pasir putih yang sangat indah.


"Kita sudah memasuki area Padang 12, udah tau kan Padang 12 terkenal dengan apa?" tanya Dimas.


Viola mengangguk, tentu saja ia tau. Padang 12 ini terkenal dengan dunia lain itu, dunia untuk orang kebenaran (orang suci) atau orang Limun. Katanya orang limun tidak memiliki garis yang menghubungkan antara hidung dan mulut atau philtrum.


Hanya orang yang mendapat tuah saja yang bisa bertemu atau bahkan dikasi kunyit oleh orang-orang Limun tersebut. Banyak cerita ada beberapa yang bertemu orang-orang tersebut. Salah satunya seorang bidan yang membantu persalinan yang dibayar dengan kunyit, namun kunyit itu berubah jadi emas. Banyak versi dari cerita orang Limun ini.


Orang-orang Ketapang percaya bahwa orang Limun adalah orang kebenaran yang suci, dan memiliki kekayaan yang tiada tara. Pernah ada cerita juga bahwa mereka pernah membeli mobil lalu minta antarkan mobil itu di area Padang 12 sontak saja membuat orang yang berada di dealer mobil kaget.


Masih banyak lagi cerita tentang Padang 12 ini. Tinggal bagaimana kalian menanggapinya saja.


***


Soal padang 12 kalian bisa cek di google ya ehehe soalnya saya kurang paham juga. Meskipun sering lewat sana tapi saya enggak tau letak pasti Padang 12 itu๐Ÿ˜โœŒ


Saya kasi gambar nihh


Tugu Ketapang



Amplang




Pantai Pecal





Pecal



Untuk gambar Padang 12 dan kemisterian yang ada silahkan cek google dengan mengetikkan Padang 12. Btw, kota gaib ini pernah masuk on the spot juga.

__ADS_1


Ini saya nyerahin naskahnya tnggal 10 Februari 2020 ke MANGATOON, tp enggak tau lulus review dan nyampe ke kaliannya kapan ehehe yang sabar yaa :)


__ADS_2