
Setelah melakukan pertemuan itu, Ardo dan Viola langsung masuk keruangan Ardo. Para pegawai 'pun sudah kembali ke pekerjaan masing-masing. Dan untuk wanita cabe itu sudah angkat kaki dari perusahaan ini.
Sedari tadi Viola masih tersenyam senyum sendiri membuat Ardo bingung. Bukan apa ia takut Viola jadi kurang waras setelah insiden tadi.
"Kamu kenapa?" tanya Ardo dengan kening berkerut. "Dari tadi saya liat kamu senyam senyum terus, kenapa? Kepala kamu nggak di apa-apain sama mereka kan?"
Tiba-tiba Viola mengecup pelan bibir Ardo
Cup
"Enggak dong, Suamiku. Aku kan wanita perkasa ehe,"
Ia masih menatap Ardo. "Kamu kenapa sih?" tanya Ardo merinding. Ini beneran, Viola enggak papa?
Viola menggeleng lalu tersenyum. "I love you, Ardo. "
Ardo mematung, namun dengan cepat Ardo mengalihkan pembicaraan. "E-eum, ka-kamu belum makan kan? Terus bekalnya saya liat sudah nyecer. Ayo kita cari makan, saya lagi kepengen makan di luar."
Viola tersenyum kecut melihat Ardo tidak membalas perasaannya, malah sepertinya ia enggan untuk membahas masalah hati ini.
Mungkin belum, Viola, hibur dewi batin Viola.
Viola menguatkan diri dan memaksakan senyumnya. Ia tidak mau lemah, tapi jika dihadapkan dengan Ardo entah mengapa Viola menjadi sangat lemah. Entah mengapa ia merasa bahwa hidupnya berada dibawah kendali lelaki itu.
"Ayo!"
***
Saat keluar dari ruangan, semua pegawai yng berkeliaran membungkuk hormat pada Ardo dan Viola.
__ADS_1
Viola yang tak biasa dilakukan seperti itu hanya tersenyum kikuk. Sedangkan Ardo? Pasti kalian udah tau jawaban nya. Enggak usah ditanya lagi.
Diperjalanan tidak ada yang membuka suara. Masing masing sibuk dengan pemikiran sendiri.
Hingga Ardo yang memulai pembicaraan. "Mau makan di mana?"
"Nurut aja deh, tapi aku pengen jus jeruk yang asem banget, bolehkan?" tanya Viola manja. Rasanya air liur gadis itu akan tumpah sekarang ketika memikirkan jus jeruk itu.
"Hah? E-em iya,"
"Eh tapi kayaknya aku berubah fikiran deh,"
Ardo mengangkat sebelah alisnya. "Jadi?"
Viola menyengir lebar. "Aku mau bakso itu!" tunjuk Viola pada mamang bakso pinggir jalan.
"Yakin mau di situ?" tanya Ardo lagi.
Jadilah mobil mereka parkir di tanah lapang dekat bakso itu dijual. Lumayan bersih, fikir Ardo. Bukan apa Ardo itu sering melihat para pedagang yang sembarangan dan tidak menjaga kebersihannya.
"Mang baksonya dua mangkuk ya? Yang satunya pentol besar kasi lima biji, terus yang kecil tujuh biji nanti di bayar lebih kok, nah untuk mangkok satunya lengkap aja,"
"Siap eneng geulis,"
Tak berapa lama pesanan pun datang.
"Silahkan dinikmati. Minumnya apa?"
"Jus jeruk yang aseem gitu ada gak Mang?" tanya Viola. Ardo hanya menggeleng melihat tingkah istrinya itu. Tumben sekali Viola minum jeruk, biasanya jika ada coklat maka dia akan pesan itu.
__ADS_1
Mamang bakso itu menggeleng tak enak hati. "Gak ada Neng. Yang ada teh es, jus jeruk manis juga air putih, jeruk asem mah nggak ada atuh,"
Viola mencebik dan tiba-tiba saja ia ingin menangis mendengar ucapan mamang bakso itu. Ardo yang melihat itupun langsung gelagapan. Kenapa lagi si Viola?
"Aduh kok bisa gini. Mang emang gak ada ya?" tanya Ardo bingung.
"Gak ada Den. Yang mamang sebutin itu aja yang ada, jeruk sambel juga kosong, kalau ada mah Mamang bikini itu aja 'kan asem tuh," kata Mamang.
"Viola minta jeruk manis aja ya. Nanti kita beli jeruk asemnya terus bikin dirumah,"
Viola menghapus air matanya dengan punggung tanganya. "Janji?"
"Iya janji," Viola akhirnya mengangguk.
"Yaudah Mang, jus jeruk dua,"
"Siap Den, itu ngidam istrinya diturutin ya, Den. Takut ileran nanti anaknya, kan sayang anaknya cakep eh ileran hehe," ucap Mamang itu lalu berlalu untuk membuat es jeruk mereka.
Ardo terdiam.
Ngidam?
Kalo ngidam berarti hamil?
Viola... hamil?
***
(Hayooooo mana komentar nya? Jempol jangan lupaa😉😉)
__ADS_1
(Bagi yang udah kasi jempol dan komentar saya ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknyaaaaaa, yang belum ayo donggg tuangin aja yang mau kalian komentarin ehehee)
(Warning : Siapkan diri kelen yah gaes😈)