Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
35 (Season 02)


__ADS_3

Yuhuuuu, jempol makin dikiiiiittttttt komentar makin dikiiiittt, ayo dong kalian tunjukkan kecepatan jempolnya. Ayo ayo ayooo!!!


***


"Aaa! Aku enggak mau liat!"


"Dikit aja, puas banget aku liatnya,"


"Ih, enggak mau! Serem banget itu,"


Ardo memaksa membuka tangan Viola yang sedang menutup matanya itu.


"Liat dikit aja, Yang. Biar kamu tau bahwa dia beneran metong,"


Viola bergidik, sudah dia bilang dia enggak mau melihat eksekusi Grace itu meskipun hanya sebuah video. Tetap saja hal itu membuat dirinya bergidik. "Aku enggak mau! Nanti aku ngigau lho, Mas."


Ardo berdecak. "Enggak asik ah," ucapnya.


"Udah kamu matiin belum?"


"Udah,"


Viola membuka matanya. "Aaa!" Viola berteriak lagi kala sebuah layar ponsel di depan wajahnya itu menampilkan seseorang yang kepalanya ditutupi oleh kain.


"Mas Ardo! Hapus enggak?!"


Ardo tertawa, ia mematikan ponselnya. Ardo memperhatikan wajah Viola yang merah karena emosi. Lalu ia mencolek dagu istrinya.


"Idih istri aku ngambek," jahilnya.


"Enggak usah colek-colek, aku bukan sabun cuci!" ketus Viola.


"Ulululu tayang, kok ngambekan sih? Nanti tambah jelek lho,"


"Biarin!"


"Aku cari istri baru lagi ah--"


"Oo kamu mau cari istri baru begitu?" Viola langsung memandang suaminya datar. Jadi mau cari istri lagi ceritanya?


Ardo meneguk ludahnya, niatnya ingin bercanda tapi malah jadi seperti ini alamat puasa lagi si Jefry (1).


"Enggak, Yang. Kamu salah denger," elak Ardo.


"Kamu ngatain aku tuli, iya?!"


Ardo semakin kalang kabut mendengar suara Viola. Untung saja Keo tidurnya seperti kebo, biar mendengar suara teriakan pun bayi itu tidak akan menangis.


"Aduh, maksud aku kamu itu--"


"Mau ngatain aku apa lagi?" Sekarang Viola sudah menjauhi ranjang. "Mau bilang aku ini gendut, iya? Emang ya semua laki-laki itu kalau istrinya udah jelek ya pasti dikata-katain!"


Ardo menjadi salah tingkah, ya begini teman-teman kalau ngomong sama istri tuh harus penuh kehati-hatian kalau enggak Jefry kalian pasti bakalan puasa (2).


"Yang,--"


"Ngapain kamu deket-deket?! Berhenti di situ!" Cegat Viola ketika Ardo mulai mendekatinya.


"Jangan marah dong, Yang. Nanti cepat tua--"


"Mas Ardo!"


"Apa sih sayang?" tanya Ardo pasrah.


"Tidur di sofa! Jangan dekatin aku selama satu bulan!"

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


Denger kan suara ketukan palu itu? Ya, Jefry resmi berpuasa (3) selama satu bulan dengan denda lebih besar dari uang. Poor Jefry.


***


Hari ini Viola berencana untuk mengunjungi cafe miliknya. Sudah lama dia tidak ke sana, Viola hanya memantau lewat cctv beserta laporan yang diberikan Karin (kalau lupa, Karin itu asisten Viola). Pulang dari sana dia akan mampir ke rumah mami sekalian jemput Varo pulang. Ia juga ingin memujuk sang anak untuk bersekolah mengingat usia Varo sudah memasuki 5 tahun yang merupakan usia produktif untuk masuk taman kanak-kanak.


"Selamat pagi, Bos!" sapa Karin ketika melihat Viola masuk ke dalam kafe, ia sudah tau perihal Viola akan datang ke sini.


Viola tersenyum, ia mendorong kereta bayi Keo. Kini usia Alceo sudah memasuki bulan ke sembilan. Bayi yang sedang aktif-aktifnya dalam memakan sesuatu itu, sedang duduk tegak disertai ocehan yang selalu dikeluarkan bayi itu.


"Mbak, boleh aku gendong baby C nya?" tanya Karin pada Viola. Dia memang menyebut Keo dengan baby C.


"Iya, gendong aja gapapa. Hati-hati seragam kamu kotor, Keo lagi makan biskuit soalnya,"


"Siap! Adudu baby C gembul banget sih, kaya roti. Empuk dan wangi, aduh lucu banget si ni bocah," ucap Karin, ia langsung menggendong Keo yang masih mengunyah biskuit itu.


"Makan aja terus, Ndut! Enggak tau badan udah kaya buntel," ucap seorang pemuda yang baru memasuki kafe.


Viola mengernyit. "Dion? Kok ke sini, ngapain?"


"Mau beli sayur, Kak," jawab Dion.


Karyawan lain tertawa. "Beli sayur mah ke pasar atuh, Kang. Masa di sini," celetuk salah satu karyawan.


Dion mencari asal suara itu, ya seorang wanita dengan celemek khas kafe Viola sedang terkikik bersama teman-temannya.


"Yaudah ayo kita ke pasar beli sayur, tapi kamu mau kan masakin aku?" tanya Dion disertai kedipan matanya.


Jawaban malu-malu itu membuat Dion gemas ingin membawa mereka semua ke kamar khusus. Beginilah Dion jika berada di kafe Viola, matanya akan segar karena para karyawan wanita di sini cantik dan aduhai semua.


Selain terkenal akan rasa St*rb*cks harga T*rabika, kafe Viola terkenal akan visual dari para karyawan nya yang tampan dan cantik itu. Pokoknya enggak nyesal kalau mampir di sini.


Kembali ke Viola, wanita itu hanya menggeleng melihat tingkah Dion. Pasti pemuda itu sedang memiliki masalah, karena biasanya Dion akan pergi ke Milen atau enggak ke kafe ini jika ada masalah.


"Kamu mau pesan apa? Biar aku buatin," ucap Viola, kebetulan ia sedang ingin meracik kopi.


"Tumben?"


Viola tertawa. "Sesekali baik sama kamu, kan semasa aku hamil kamu terus yang jadi sasaran," ucap Viola.


Dion mengangguk. "Sadar diri juga ternyata. Kopi hitam aja deh, lagi kusut nih, Kak."


Viola mengangguk langsung menuju meja barista.


Tidak berapa lama Viola kembali ke meja tadi dengan sebuah nampan berisi kopi hitam yang asapnya mengepul di permukaan cangkir.


"Lagi ada masalah ya?" tanya Viola ketika sudah memberikan secangkir kopi itu. Nampan hang tadi sudah ia berikan pada karyawannya.


Dion menghela nafas, lalu mengangguk.


"Pekerjaan, cinta atau?"


"Atau," jawabnya.


Viola menghela nafas, pasti tentang hal itu.


Viola memperhatikan Dion yang sedang meniup kepulan asap di atas kopi dalam cangkir itu. Dion memang santai dalam hal apapun jika dilihat dari luar, tetapi jika di dalam tidak ada yang tahu.


"Jadi, kenapa enggak bawa Ana? Biasanya kan selalu buntutin kamu?" tanya Viola. Ana sudah tidak menjadi baby sitter di tempat Ardo lagi melainkan sudah menjadi asisten Dion. Entah apa yang terjadi Viola tidak tau, tiba-tiba aja suaminya bilang bahwa si Dion merengek agar Ana dipindahkan ke kantornya.

__ADS_1


"Enggak usah nanya wanita itu, dia juga termasuk dalam salah satu masalahku," ucapnya.


Viola tertawa. "Kalau ini sih masalah hati, kenapa si? Kamu CLBK sama dia?"


"Idih, yang ada dia CLBK sama aku," jawab Dion. "Bukan itu Kak masalahnya,"


"Terus?"


"Masa aku ditinggal demi orang lain di jam kerja? Kan aku bosnya wajar dong aku marah," kesal Dion. Ia kembali kesal mengingat Ana yang dengan kurang ajarnya melawan perintah dirinya itu.


"Mungkin ada masalah lain, atau mungkin anaknya rewel?" tebak Viola. "Eh tapi, udah punya anak belom si?"


"Siapa? Aku? Yakali aku udah punya anak,"


"Si Ana lah Dion, bukan kamu," decak Viola.


"Mana aku tau," jawabnya.


"Dia beneran udah sendiri?" tanya Viola lagi. Sebenarnya Viola sudah tau dari Ardo, tapi ia ingin mendengarnya langsung dari Dion.


"Iya, makanya dia kayak kurang belaian gitu. Masa sih Kak teman club aku pada kepincut juga, ganjen enggak sih namanya," kembali Dion merasa kesal dengan Ana yang disukai oleh-oleh teman-temannya itu. Entah mengapa jika menyangkut tentang Ana, Dion selaku kesal dibuatnya.


Viola hanya tertawa menanggapi.


"Oh iya, murid aku mana ya? Baru sadar muridku enggak ada,"


"Varo di rumah ibuku, nginep sana dia semalam. Nanti baru aku jemput," jawab Viola.


"Oh gitu,"


Viola mengangguk. "Kamu enggak ke rumah Milen?"


Dion menggeleng.


"Kenapa? Milen udah ke Amerika?" tanya Viola, jika benar mengapa wanita itu tidak berpamitan padanya.


"Belum, tapi dia juga punya masalah juga, makanya aku kabur ke sini," kata Dion.


"Masalah juga?"


"Iya, about love with your brother,"


"Marvel?"


"Iyalah! Emang sodara Kakak siapa lagi?"


Viola mengernyit. "Cinta? Emang mereka kenapa?"


"Kakak enggak tau mereka berdua pacaran?"


Mata Viola melotot. "Pacaran?!"


Dion mengangguk. "Iya, masa enggak tau sih! Dan Kakak tau enggak, ternyata kak Milen itu-- siniin kuping Kakak biar aku bisikin,"


Viola langsung mendekatkan telinganya.


"Kak Milen hamil,"


"APA?!"


***


YO GAESSSS, JEMPOL YAKKSSS.


Happy Wedding eh Weekend hehe

__ADS_1


__ADS_2