Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
Empatpuluhdelapan


__ADS_3

Huek ...


Huek ...


"Kita ke dokter aja ya?"


"Enggak,"


Huek ...


Lagi-lagi hanya ada cairan bening yang keluar dari mulutnya. Rasanya mulutnya ini hanya memproduksi cairan bening itu aja.


"Atau saya telpon mbak Gita aja?" Mbak Gita adalah dokter khusus keluarga Vazquez.


"Jangan, aku kayaknya karna banyak makan cabe sama minum yang asam deh, makanya jadi gini," ucapnya lemah.


"Kamu itu kalo dibilangin ngeyel. Ya jadi gini kan akhirnya. Pokoknya kita—"


Huek ...


"Jangan debat deh, Do. Aku lemes ini," ia bertumpu pada wastafel, wajahnya pucat karena berkali-kali muntah hanya mengeluarkan hanya cairan bening. "Aku minta minyak kayu putih aja ya? Enggak usah ke dokter, aku takut jarum suntik," ucapnya.


Ardo hanya bisa menghela nafas, akhirnya ia pun menuruti ucapan Viola.


Ardo memapah Viola menuju ranjang kemudian membaringkan tubuh lemah perempuan itum


"Saya mau bikin teh jahe, kamu mau minta balurin tidak?" tanya Ardo menyerahkan minyak kayu putih aroma lavender.


Viola tidak merespon, ia hanya memejamkan matanya kala tangan Ardo mulai mengusap perutnya dengan minyak tersebut.


Setelah selesai menyapukan minyak kayu putih ke perut Viola, Ardo pun langsung ke dapur untuk membuat teh jahe.


"Air panas mana ya?" monolog Ardo.


"Lah kok dingin?" Ardo mengecek dispenser.


"Rusak?" Ardo menggeleng kemudian mencari termos elektrik.


Namun ketika ia mencolokkan ke listrik termos itupun ternyata rusak juga .


"Huh? Kenapa tidak diganti, uangnya enggak cukup?" monolog Ardo lagi. Lalu ia mencari panci untuk menanak air.


"Panci di mana ya?"


"Oh di sini, perasaan kemarin letaknya bukan di sini,"


Setelah semuanya selesai ia langsung membuat secangkir teh jahe, Ardo memang tau pekerjaan rumah tangga meskipun hanya sedikit setidaknya jika ia tinggal sendiri dia tidak akan kelaparan.


Ardo membawa secangkir teh jahe ke kamar mereka lalu meletakkan nya diatas nakas.


Melihat tidur pulas Viola, lelaki itu jadi tidak tega untuk membangunkan nya.


Ardo memperhatikan wajah polos Viola saat tidur. Lalu mengecup pelan keningnya.


Cup ...


"Cepat sembuh ya,"


Viola menggeliat dan kemudian terbangun.


"Eh? Belum ke kantor?"


"Tidak, saya mau nungguin kamu."


Pipi Viola bersemu. "Kerja sana. Gimana aku mau habisin duit kamu kalo enggak kerja,"


Ardo mengangkat sebelah alisnya. "Saya tidak akan bangkrut jika tidak bekerja sehari saja," ucap Ardo santai.


"Ck! Sombong,"


Ardo terkekeh. "Yaudah, minum dulu teh nya, habis itu istirahat lagi,"


Viola menurut lalu menerima cangkir berisi teh itu. "Aku lupa ngasi tau, dispenser sama termosnya rusak, aku belum sempat beli."


"Hm, nanti saya beli," ucap Ardo.


"Sudah?"

__ADS_1


Viola menganggukkan kepalanya lalu berbaring lagi, ia memejamkan matanya namun sedetik kemudian dia membuka matanya lagi.


"Apalagi?" tanya Ardo.


"Ardo,"


"Hm?"


"Itu ..."


"Itu apa? Masih sakit?"


Viola menggeleng. "Itu ... anu..."


Ardo mengerang kesal. "Apa Viola? Ngomong, saya enggak bisa baca fikiran,"


Viola menunduk malu. "Viola minta elus perut, boleh," ucap Viola, baru kali ini Ardo mendengar Viola berucap namanya sendiri di depan Ardo. Ardo gemas, rasanya ia pingin nerkam Viola sekarang juga.


"Hanya itu?"


Viola mengangguk.


"Bilang itu aja lama banget kaya mau minta jatah," gumam Ardo seraya mengelus elus perut rata Viola.


Viola diam saja mendengar ocehan Ardo. Viola memejamkan matanya menikmati sentuhan Ardo. Kok nyaman sih? Ardo pakek pelet apa?


Ardo yang sudah mendengar dengkuran halus Viola 'pun tersenyum lalu mengecup kening perempuan itu lagi.


Cup..


"Selamat istirahat, wifey."


***


Viola membuka matanya lalu menguap. Ia melirik ke sana kemari untuk mencari keberadaan Ardo di kamar. Namun nihil, yang terdengar hanyalah suara grasak grusuk Viola saja.


Mungkin ke kantor, pikir Viola.


Viola kembali melirik jam yang berada di dinding.


"Udah jam dua ternyata. Lamanya gue tidur," gumam Viola.


Mengenai sakit perut juga mual Viola, itu sudah tidak terasa lagi.


Setelah membersihkan diri, Viola pergi ke dapur untuk mengisi perutnya.


Viola sadar bahwa dia sama sekali belum makan. Hanya teh jahe buatan Ardo saja yang masuk kedalam perutnya.


Jangan salahkan Ardo yang tidak memberi Viola makan, hanya saja sia sia jika makanan yang di berikan ke Viola di muntahkan lagi.


Di dapur, Viola melihat ada tudung saji disana. Di tudung saji tersebut juga terdapat note kecil.


'Saya pergi ke kantor, jam 14:30 nanti ada meeting. Makanan itu habisin, dari pagi kamu belum ada makan.


Belum tau juga jam berapa saya pulang.'


Your Husband.


Viola tersenyum, lalu membuka tudung saji tersebut. Masih ada asap yang mengepul di makanan itu, berarti Ardo baru saja berangkat.


Kebetulan sekali, Viola sedang ingin makan semur ayam kecap dan didalam tudung saji itu adalah semur ayam kecap. Senyum Viola semakin merekah kemudian dia makan dengan lahap.


'Ardo the best deh! Jadi makin cinta!'


Viola membersihkan piringnya setelah selesai menyantap makanan buatan Ardo tadi. Kemudian Viola mengambil handphone nya.


To: Ice cream


Ardo, aku keluar bentar. Di rumah bosen.


Seberapa menit kemudian Ardo pun membalas pesannya.


From : Ice cream.


Tp kmu msh skt, Viola.


Viola mengurucutkan bibirnya melihat balasan Ardo

__ADS_1


To : Ice cream


Udah enggak lagi, boleh ya?


Viola berharap Ardo mengijinkannya.


From : Ice cream


Ydah, iy. Tp kmu ht2. Klau ad ap2 hbngin sy, sy mau meeting skrg.


To : Ice cream


Yeaayy. Makasih suamiku😘


Viola berjingkrak kesenangan saat mendapatkan ijin dari Ardo.


Sedangkan di sebrang sana, Ardo tersenyum melihat balasan dari Viola. Namun sedetik kemudian senyum Ardo pun menghilang digantikan dengan wajah datar dingin dan mata yang penuh dengan amarah.


***


Viola berjalan jalan di sekitar taman kota. Sebenarnya sekarang matahari masih terik namun entah mengapa Viola rasanya ingin jam segini pergi ke taman nya.


Di taman itu banyak sekali anak anak yang bermain. Viola tersenyum melihat bocah-bocah kecil itu berlari larian. Di taman itu ada juga ibu ibu hamil yang perut sudah membesar.


Tanpa sadar Viola pun mengelus perutnya.


"Hamil muda ya Nbak?"


Viola terkejut lalu menoleh ke arah sumber suara. Disamping Viola ada gadis remaja yang sudah hamil besar. Entah Viola pun bingung apakah gadis ini hamil di luar nikah.


"Em enggak kok. Saya belum hamil," ucap Viola seraya tersenyum.


Wanita muda itu ber'oh' ria. "Saya pikir Mbak-nya hamil. Soalnya saya dulu juga gitu," jelas wanita muda itu.


Viola memandang wanita muda itu sebentar. "Nama kamu siapa?" tanya Viola.


"Elizabeth, Mbak. Panggil Liza aja. Kalo Mbak?" tanya Liza.


"Nama Mbak, Viola. Eum Mbak boleh nanya enggak?"


"Tanya aja, Mbak. Kalo Liza bisa jawab ya Liza jawab,"


"Eumm kamu hamil ... aduh maaf, enggak jadi deh."


Liza terkekeh. "Biasa aja Mbak. Liza enggak hamil diluar nikah kok. Liza nikah muda, Mbak. Tepatnya usia Liza 17 tahun," jawab Liza.


"Oh. Kamu ... di jodohin?" tanya Viola lagi.


Liza mengangguk. "Iya, Liza di jodohin. Liza di jodohkan dengan pacar Liza sendiri. Waktu itu mama sama papa Liza engga tau kalo Liza itu udah punya pacar. Pas waktu orang yang di jodohin dateng kerumah Liza, Liza kaget! Kok pacar Liza ada di sini? Eh rupanya dia yang dijodohkan sama Liza. Dia udah tau sebenarnya. Waktu itu pun dia udah putusin Liza. Katanya, dia enggak mau lagi pacaran sama aku, ya aku nangis dong Mbak kan sedih, terpaksa deh Liza terima perjodohan itu. Eh gataunya putus jadi pacar lalu jadi suami. Ternyata dia sengaja putusin Liza karena nggak mau pacaran maunya nikah," jelasnya panjang.


"Kalo Mbak? Udah nikah apa belum?" tanya Liza.


"Mbak udah nikah. Sama kayak kamu, Mbak juga di jodohin," jawab Viola.


"Ternyata masih banyak ya orang yang dijodohin di masa modern seperti ini,"


Viola mengangguk. "Tapi bedanya, Mbak sama suami enggak saling cinta. Jangankan cinta, kenal juga enggak. Tapi sekarang Mbak sudah mulai mencintai suamiku. Yah walaupun dia belum balas perasaan Mbak," lanjut cerita Viola.


"Oh gitu. Sabar aja mbak. Liza yakin cepat ato lambat suami mbak bakal balas perasaan Mbak kok," hibur Liza.


"Mbak berharap juga gitu,"


"Mbak. Liza pulang dulu ya, itu suami udah jemput. Bye mbak Viola, senang ketemu sama Mbak," pamit Liza


"Hati-hati ya,"


Setelah Liza mulai menjauh, wanita muda itu menoleh ke arah Viola lagi kemudian berteriak.


"MBAK! PERIKSAIN KE DOKTER! LIZA YAKIN MBAK HAMIL!"


Viola terkejut dengan teriakan Liza. Kemudian menggeleng kan kepalanya melihat tingkah wanita muda itu. Kemudian Viola pun berfikir, mereka kan hanya melakukannya sekali itupun sudah hampir dua bulan yang lalu. Enggak mungkin kan kalo dia hamil? Tapi, emang sih tamunya belum dateng bulan ini, tapi ...


Periksa ke dokter? Apa iya?


***


(Yo gaess, jempol dan komentar jangan lupa. Kemaren tuh ya tembus 300 hampir 400 lho jempolnya, mantul banget kalian semua😘 part ini kira-kira bisa nggak ya tembus 350 jempol?🤔 tapi tenang, biar nggak bisa 'pun saya tetep update buat readers2 terluppp❤❤)

__ADS_1


(Okay selamat membaca, oh iya terimakasih buat yang udah ngasi jempol. Yang belum ayooo acungkan jempol kelen😊)


__ADS_2