
Sebenarnya kemarin saya double up, tapi karna review gambar itu lama ya harus nunggu lulus sensor dulu baru bisa kalian baca hehe.
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan.
Happy Reading :)
***
"Bang Dimas, fotoin kita dong!" seru Viola ketika mereka ingin menaiki perahu atau kapal nelayan itu.
Sekarang mereka sudah sampai di desa Sungai Tengar, Kendawangan. Tinggal sekitar satu jam lagi waktu yang akan mereka tempuhi agar sampai di Pulau Sawi tempat dimana Ardo membangun resort.
Kapal nelayan yang mereka naiki merupakan kapal milik Ardo yang digunakan khusus jika ia atau Anton jika berkunjung ke sini. Bicara soal Anton, pria itu juga memboyong keluarganya ke sini dan mereka sudah sampai kemarin.
"Tunggu udah naik aja," jawab Ardo.
Viola mengerucutkan bibirnya. "Sekarang! Aku mau ngepost biar banyak yang berkunjung ke sini, kalau banyak kan artinya banyak juga yang datang ke resort kamu," jelas Viola.
Ardo menghela nafasnya, apa sih manfaatnya berfoto di terik begini? Kan kasian anak-anaknya juga, kepanasan.
"Anak-anak kepanasan Sayang,"
"Halah lebay banget! Ini tuh enggak panas, enggak liat mendung gini?" tanya Viola. Memang mendung, cuma sedikit sinar yang dipancarkan matahari di sini, itupun enggak panas. Heran deh sama Ardo, panas dikit aja takut.
"Tapi Yang tempatnya enggak bagus buat foto-foto," sanggah Ardo lagi.
Viola memutar bola matanya. "Ini tuh instagramable! Kamu aja yang katrok, heran deh," kesal Viola.
"Tapi, Yang--"
"Awas aja kamu deket-deket aku,"
Ardo menelan ludahnya, mana bisa ia tidak berdekatan dengan Viola, orng tidur aja mesti ndusel dulu.
"Iya deh iya," putus Ardo daripada enggak bisa ndusel, yekan?
Viola before dengan Varo digendongannya dan Keo digendongan ayahnya.
"Satu, dua, senyum," arahan dari Dimas membuat Viola dan Varo tersenyum.
"Mas Ardo senyum," ucap Dimas.
Namun Ardo masih mempertahankan wajah datanya. Dan hal tersebut sukses membuat Viola kesal.
"Mas, senyum dong! Mau difoto nih," ucap Viola kesal.
"Susah, Yang," jawab Ardo.
"Yaudah terserah kamu, aku males ngomong sama kamu!" ketus Viola. Susah banget sih buat senyum saat di foto?
"Ambil aja Bang, biarin dia senyum atau enggak," lagi-lagi Viola berkata ketus.
Dimas memberi aba-aba lagi. "Satu, dua,"
Wanita yang mengenakan topi bundar berwarna putih senada dengan dres yang ia pakai itu tersenyum manis menghadap kamera tak lupa pula kaca mata hitam yang membingkai wajahnya.
"Senyum!"
Cekrek!
"Sekali lagi, satu, dua, senyum!"
Cup
Mata dan mulut Viola membulat.
__ADS_1
Cekrek
Viola mengerjap-ngerjapkan matanya, ia memandang Ardo yang sedang tersenyum padanya. Laki-laki yang berpakaian couple dengannya ini selalu membuatnya terkejut dengan tindakan yang ia lakukan.
Viola menggelengkan kepalanya, lalu ia memanggil Dimas untuk melihat hasil jepretan nya itu.
Gambar pertama yaitu Viola, dan Varo tersenyum manis ke arah kamera sedangkan Ardo memasang wajah datanya.
Viola beralih pada gambar kedua, gambar yang Dimas tangkap kali ini sangat menyentuh hati Viola. Di mana mulut dan matanya terbuka ketika Ardo yang sedang menggendong Varo itu mengecup pipiny, sedangkan Varo menarik jari jempolnya ke bawah seperti meremehkan pasangan orang tua diluar sana.
"Bagua banget," ucap Viola. "Aku mau cetak yang ini!" serunya. Lalu ia beralih pada Ardo, ia mengecup pipi suaminya. "Kamu gentle banget," puji Viola.
Ardo tersenyum pongah. "Baru tau?"
Viola mengangguk polos.
"Ayo kita naik kapal, bapaknya udah nunggu tuh," ucap Ardo. "Di atas kapal kamu bisa foto sepuasnya, pemandangannya bagus,"
Viola mengangguk semangat, lalu Ardo membimbing Viola untuk naik ke kapal sedangkan Varo bersama pamannya.
Selama hampir satu jam berada di atas air akhirnya mereka sampai di tepian. Dari sana ia sudah melihat resort itu.
Resornya sama seperti bangunan impian Viola yaitu penginapan dengan material kayu. Sangat indah ditambah dengan beberapa hiasan lampu gantung. Viola berani bertaruh jika di malam hari akan terasa lebih indah.
"Selamat datang Pak Ardo, Bu Viola," ucap seseorang paruh baya yang Viola tebak adalah kepala desa sini. Di sinu sudah berkumpul para penduduk desa yang menyambut pemilik resort ini.
Viola tersenyum, sedangkan Ardo hanya mengangguk menanggapinya.
"Kamar Bapak dan Ibu sudah kami siapkan," ucap bapak itu lagi.
"Makasih ya Pak, Mas aku mau istirahat dulu, eh Varo mana?" tanya Viola ketika tidak melihat keberadaan anak sulungnya itu.
"Main sama Yaya," ucap Ardo, ia menunjuk ke area bermain khusus anak-anak itu.
"Aku datengin mereka dulu, saya pamit Pak, Buk," pamit Viola pada penduduk yang berkumpul di sana. Sedangkan Ardo mulai membaur untuk menanyakan strategi yang harus mereka lakukan untuk memajukan resort ini.
"Keo!" seru Yaya. Gadis kecil berponi itu berlari mengejar Viola.
"Enggak usah lari-lari, nanti jatuh," tegur Viola.
Bocah itu menyengir lalu mengajak Keo berbicara. "Yaya enggak sekolah?" tanya Viola.
Yaya menggeleng. "Kata mama ijin dulu,"
"Mama mana--"
"Eh Viola udah dateng, Ardo mana?" tanya Anton yang sepertinya habis dari kamar kecil.
"Lagi ngumpul sama penduduk sana," jawab Viola. "Prilly mana?"
"Di kamar, mabuk laut dia," ucap Anton terkekeh, ia merasa lucu saja dengan istrinya itu.
"Aku mau ke kamar juga deh, mau istirahat,"
"Selamat beristirahat, aku mau nemuin Ardo dulu, nitip Yaya ya." Anton pun berlalu.
"Varo, Yaya, ayo istirahat dulu," ajak Viola.
"Varo mau main, Bunda," jawab Varo.
"Nanti kamu kecapean lho, sayang. Lagian mau main sama siapa?"
"Yaya,"
Yaya menggeleng. "Yaya capek, mau datang mama," ucap Yaya.
__ADS_1
Bibir Varo mengerucut. "Varo kan mau main sama Yaya,"
"Yaya capek, ayo kita istirahat dulu. Varo enggak boleh kecapean nanti sakit lho," ajak Viola lagi.
Varo mengangguk lesu. Lalu menyambut tangan bundanya.
"Varo endak mau main sama Yaya lagi, Yaya jelek," ucap Varo.
"Yaya cantik!" ucap Yaya tidak terima dengan ucapan Varo.
"Jelek!"
"Cantik!"
"Jelek! Jelek! Jelek!"
"Mama... " Yaya pun menangis dibuat Varo.
Viola hanya menggeleng. "Yaya itu cantik, Varo bohong kok,"
"Endak! Varo endak--"
"Varo," peringat Viola. Lalu Varo terdiam dengan raut wajah kesal.
Mereka sudah sampai di kamar, Viola membuka kamar Prilly yang tidak terkunci. Ia lngsung melihat Prilly terbaring dengan si kecil, anak Prilly yang bungsu. Aroma di kamar ini sudah tercampur dengan aroma minyak kayu putih.
"Yaya istirahat dengan mama ya, enggak usah dibangunin, mama kamu masih pusing," ucap Viola. "Tante ke kamar dulu,"
Lalu Viola, Varo dan Keo pun masuk ke kamar mereka untuk beristirahat.
***
"Selamat Pak Ardo, semoga resort di sini berjalan lancar,"
Riuh tepuk tangan memenuhi di pulau kecil ini. Saat ini Ardo sudah menggunting pita yang artinya resort ini sudah dibuka untuk umum.
Di sini Ardo menyiapkan sewa snorkeling, dan juga spit untuk berkeliling pulau dan menikmati keindahan alam yang tersedia.
Hari ini banyak makanan dan minuman yang tersedia, sebagai jamuan Ardo sengaja membuat makanan seafood khas daerah pantai.
Selain mengundang pejabat setempat, Ardo juga mengundang panti asuhan dan beberapa yang mendapatkan fakir miskin. Ia juga mengundang perwakilan dari perusahaan WHW yang merupakan perusahaan milik orang Beijing. Tidak hanya perusahaan WHW, perusahan yang berada di kota Ketapang juga ia undang. Ardo juga memberikan beberapa brosur dan bingkisan agar resort yang ia miliki semakin terkenal.
"Mas aku mau snorkeling!" seru Viola.
"Varo juga!"
"Yaya juga!"
Ardo menghela nafasnya, anak-anak ikut snorkeling? Varo sih udah bisa berenang, lah Yaya?
"Yaya bisa berenang?" tanya Varo.
"Bisa bawa aja," sahut Anton yang sedang menggendong anaknya yang bungsu.
"Terus yang jagain Keo siapa?" tanya Ardo lagi.
"Tuh enggak liat istri gue udah jadi baby sitter anak lo?" sinis Anton. Ia juga melihat Prilly sedang menggendong Keo.
Ardo memandang Viola, wanita itu menyengir. "Aku Mas yang nyuruh, dia juga mau kalau enggak mau kan ya enggak aku suruh," jawabnya.
Lagi-lagi Ardo menghela nafasnya. "Yaudah, ayo. Ganti baju dulu,"
***
Nantikan keseruan mereka dalam melihat ekosistem laut yaa :)
__ADS_1
Jempol dn komentar jangan lupa.
13 Februari 2020.