
“Iya udah gue ada disini kok untuk lo, bangun yah kita kembali keposko,” ucap Viano.
Selena menghapus air matanya lalu berdiri. Viano memberikan jaketnya untuk Selena.
“Nih jaket gue lo pakai aja, lo kelihatan kedinginan.” Viano langsung memakaikan jaketnya ketubuh Selena.
Dikasih jaket oleh Viano membuat tubuh Selena menjadi lebih hangat. Viano lantas memegang tangan Selena, Selena mengengam tangan Viano karena takut kejadian kesasar dihutan akan terjadi kembali.
Selena menatap wajah Viano yang masih sibuk memandang jalan.
‘Kayaknya gue udah mulai membuka hati untuk Viano.’ batin Selena.
Selena lantas mengalihkan pandanganya ketika Viano menoleh menatap Selena. Viano lantas tersenyum karena melihat Selena yang langsung membuang pandanganya ketika Viano menoleh.
‘Sepertinya Selena yang kubutuhkan selama ini. gue harus selalu jagain wanita ini.’ batin Viano.
Viano mempererat gengaman tangannya. “Jangan dilepas yah.” ucap Viano.
Selena mengangguk dan mempererat gengaman tangan Viano. Sebisa mungkin Selena tidak akan melepaskan gengaman tangan dari Viano.
Jangan salahkan mereka berdua jika mereka berdua sudah saling membutuhkan
Cinta bukan sepenuhnya berasal dari rasa, tapi cinta juga membutuhkan kehadiran seseorang yang akan menjaga kita.
Selena dan Viano sudah sampai diposko camping, teman teman Selena langsung mengerombol untuk mendekat ke Selena. Baru tampak sangat khawatir, tadi juga Baru juga ikut mencari Selena.
Auzi memeluk tubuh Selena, “gue khawatir banget sama lo bestie.” Auzi menangis haru karena merasa lega Selena bisa ditemukan.
Selena membalas pelukan dari Auzi. “Gue takut banget zi tadi disana.”
Auzi tambah menangis mendengar cerita dari Selena. “Maafin gue yah tadi ninggalin lo. gue bener bener gak tahu kalau lo ketinggalan Len. tadi kita kita juga udah coba mencari lo, tapi karena takut kita kita juga ikut nyasar akhirnya kita pulang dulu keposko camping.” penuturan dari Auzi.
Selena mengangguk kok. “Gue tahu kok kalian juga bakal cariin gue, makasih juga yah.”
Viano langsung mendekat kearah Selena. “Udah yah biarin Selena istirahat dulu.” ucap Viano.
__ADS_1
Auzi mengangguk dan langsung melepaskan pelukannya. Selena langsung dibawa kedalam tenda pmr yang tersedia.
Melihat Viano begitu perhatian kepada Selena, membuat Dania hampir saja akan menampar Selena. Saat orang lain sudah kembali ketenda masing masing, Dania masih berdiri didepan api unggun. Teman teman Dania segera bergabung dengan Dania.
“Gue kalau jadi lo, yah udah pasti bakal gak bantu pas pencarian sih.” ucap Tata salah satu teman Dania.
Dania menatap Tata dengan tatapan ketus. “Lo tau?, gue tadi cari dia biar Viano tahu kalau gue itu perhatian sama mantannya.”
Tata tertawa. “Lucu yah kukira lo bakalan jadian sama Viano, tapi ternyata gak jadian jadian.” Tata meledek kisah percintaan Dania.
Dania langsung menjambak rambut Tata, “sekali lagi lo ngeledek gue, lo pasti udah bakal jadi bahan bullyan selanjutnya.” setelah mengatakan itu Dania langsung melepaskan rambut Tata dengan cepat.
Dania mencium tangannya, “bau banget ternyata rambut lo. gak pernah nyalon yah?” kini giliran Dania yang meledek Tata.
Tata menatap Dania dengan tatapan tidak terima. Tata memang teman Dania, tapi Tata suka selaki mencaci maki Dania, mereka tidak pernah akur.
“Kejar terus cinta lo sampai lo sendiri udah bosen.” teriak Tata..
Ditenda PMR, Viano mengantarkan Selena untuk berbaring disalah satu brankar.
“Lo mau pulang atau gimana? kayaknya keadaan lo tidak memungkin kalau ikut kegiatan camping ini.” Viano bertanya.
Viano menggeleng. “Enggak enggak mendingan lo pulang aja deh. biar gue yang nganter lo.” Viano memberi saran.
Selena menggeleng, “kok lu yang sewot sih. kan ini tubuh gue.” jawab Selena.
“Udah lo pulang aja, gue khawatir.” Viano langsung meraih tangan Selena, Viano menyeret tubuh Selena masuk kedalam mobil hitamnya.
Viano mulai menyalakan mobilnya dan melaju membelah jalanan hutan. Selena masih sibuk menatap ponselnya.
“Bunda tahu gak kabar gue yang tersesat?” Selena bertanya karena khawatir saat Bundanya mendengar kabar Selena tersesat pasti Bundanya bisa langsung pingsan.
Viano menggeleng. “Bunda belum tau karena gue gak ngasih tau bunda, keburu panik dengar kabar dari Auzi jadi langsung dilaksanakan pencarian deh.”
Selena mengusap dadanya karena lega. Selena langsung menatap keluar jendela mobil Viano, pemadangan hutan dari dalam mobil saja sudah seram, tidak terbayang jika sampai jam segini Selena belum bisa ditemukan, Selena bisa ditemukan sudah meninggal karena hiportemia.
__ADS_1
“Lo istirahat dulu aja.” Viano memberi selimut yang terletak didalam dashboard.
Selena menerima selimut berwarna pink itu, ada gambar beruang ditengah selimut ini, Selena merasa bahwa selimut ini milik Dania bukan milik Viano.
Selena menggeleng, Selena berusaha untuk tidak cemburu cuman gara gara selimut. Lagian Viano sudah memperlihatkan bahwa Viano memang menyimpan rasa untuk Selena. Selena sekarang benar benar yakin jika Viano akan kembali kepada Selena.
Karena terlalu lama untuk kembali kerumah Selena, Selena tertidur pulas. Viano menatap Selena yang tertidur pulas.
“Lucu.” gumam Viano. Viano membelai lembut pipi Dania.
Jam menunjukan pukul satu dini hari, Viano memarkirkan mobilnya pas didepan rumah Selena yang sudah sepi, lampu lampu dirumah Selena sudah padam, maklum karena memang datang pada jam jam istirahat.
Viano berusaha untuk membangunkan Selena. “Sel bangun kita udah nyampai.” lirihViano.
Viano mendekat kearah Selena, Viano berusaha untuk melepas sealtbelt tanpa menganggu tidur Selena yang masih pulas. Muka Viano dekat sekali dengan Selena.
“Sel, bangun yuk.” Viano masih berusaha untuk membangunkan Selena.
Mata Selena mulai terbuka, melihat Viano yang dekat dengan mukanya membuat Selena kaget dan langsung bangkit. Karena bangkit otomatis kepala bagian kiri Viano terkena kepala Selena.
“Auw sakit.” Selena kesakitan dan memegang kepalanya.
Viano melupakan sakit dikepalanya, Viano malah langsung mengelus kepala Selena yang terbentur dengan kepala Viano.
“Lo gak apa apa?” Viano bertanya karena khawatir.
Selena mengangguk. “Gak apa apa kok, tadi cuman pusing. lagian lo kenapa sih deket banget sama muka gue.” sewot Selena.
Mereka berdua langsung meminta satpam untuk membuka pintu rumah, untungnya satpam belum tertidur. Selena dan Viano masuk terlebih dahulu.
Ruang keluarga Selena masih menyala artinya ada orang yang sedang berada diruang keluarga. Selena mendekat ternyata ada Bagas.
“Abang?” Selena memanggil Bagas lirih.
Selena memanggil Bagas karena untuk memastikan apakah Bagas menonton televisi sambil tertidur?.
__ADS_1
Bagas menoleh dan langsung mengucek ucek matanya. “Ini beneran adik gue?, auto khayalan karena gue udah ngantuk?” Bagas berbicara sendiri.
Selena mendekat dan duduk disamping Bagas. “Ini beneran adik lo bang. dan itu ada Viano yang ngantar Selena pulang.” ungkap Selena.