
Viano menatap tajam kearah Tania, Tania langsung diam tidak berani berbicara lagi. Kalau Viano sudah marah membuat siapapun ketakutan.
Mereka yang berada diruangan Dania cuman bisa terdiam. Mereka tidak lagi saling bicara.
Tidak lama datang kedua orang tua Dania. Viano segera menyambut kedatangan orang tua Dania. Viano tidak lupa Salim kepada kedua orang tua Dania.
"Om, Tante." sapa Viano
Terlihat wajah seorang ibu yang khawatir, mama Dania segera mendekat kearah ranjang Dania. Mama Dania mengengam tangan anaknya.
Tangan Dania mulai gerak gerak, melihat itu Viano segera memanggil dokter. Dania membuka matanya, pusing mendera dikepala Dania.
"Ma." lirih Dania memanggil mamanya.
Mamanya tersenyum, "iya nak, kenapa? kamu masih sakit? istirahat dulu yah, setelah ini kamu mau diperiksa sama dokter."
Dania mengangguk lemas.
Dokter yang dibicarakan masuk kedalam ruangan rawat Dania, dokter mulai memeriksa Dania.
"Bagaimana dok keadaan anak saya?" ayah Dania bertanya.
dokter itu tersenyum, "anak anda sedang pemulihan, sepertinya satu hari lagi dia bisa pulang, keadaanya juga semakin membaik." jawab dokter itu.
Ayah dan mama Dania lega.
* "Vin, om mau ngomong sama kamu berdua boleh?" Ayah Dania bertanya kepada Viano.
Viano menatap ayah Dania. Viano merasa bingung karena tumben sekali ayah Dania mengajak Viano berbicara empat mata.
Viano mengangguk membolehkan Ayah Dania untuk berbicara dengannya.
"Keluar saja." ucap Ayah Dania.
Viano menuruti permintaan ayah Dania. Viano dan ayah Dania keluar dari ruangan rawat Dania.
Dania menatap mamanya, "ma, ayah kenapa mau ajak bicara Viano?" Dania bertanya.
Mama Dania tersenyum sambil mengelus rambut Dania. "Mama gak tau, mungkin ayah kamu begitu biar Viano lebih menjaga kamu."
Dania tersenyum senang mendengar ucapan dari Mamanya. Wah Dania bisa kembali dekat dengan Viano. Semoga saja apa yang dikatakan mamanya itu benar.
Viano dan Ayah Dania berada dipojokan rumah sakit.
"Ada apa om?" Viano bertanya.
__ADS_1
Ayah Dania menatap Viano. "Gini Vin, mungkin Dania pingsan gara gara shok dengar berita skores, Dania dari kemarin tidak bisa tidur ditambah Dania juga nangis nangis, om gak tega Vin. Kamu bisa gak berkordinasi sama kepala sekolah bair meringankan hukuman Dania?"
Viano terkejut dengan permintaan dari ayah Dania.
Viano menggeleng, Viano jelas menolak permintaan ayah Dania.
"Maaf om tapi itu sudah pas dengan apa yang Dania lakukan, menurut saya hukuman itu kurang." ungkap Viano.
Mendengar ucapan Viano membuat darah didalam tubuh Ayah Dania mendidih.
"Anak sayakan pintar Vin, pasti kalau minta sama kepala sekolah juga bakal diringankan." kesal Ayah Dania.
Rasanya Viano ingin tertawa, tapi karena didepannya ini adalah seorang orang tua yang harus dihormati.
"Walaupun anak pintar kalau berbuat salah yah pasti tetap salah." ucap Viano.
Ayah Dania mengepalkan tangannya.
"Ya sudah kalau kamu gak bisa buat hukuman lebih ringan, kamu bisa bukan kalau ngelindungi Dania? saya takutnya setelah berita itu beredar banyak yang membully Dania."
Padahal Anaknya suka membully tapi kenapa takut dibully?
Kali ini Viano akan menuruti permintaan dari ayah Dania. "Baik om."
Setelah itu Ayah Dania masuk kembali ke ruangan rawat Dania, sedangkan Viano masih berdiri didepan pintu ruangan Dania.
"Om, Tante. Viano ijin pulang."
Ayah Dania tidak menanggapi Viano karena masih kesal, sedangkan Mama Dania tampak terkejut.
"Loh, udah mau pulang aja? gak mau santai santai disini jagain Dania?"
Viano tersenyum sambil menggeleng, "tidak Tante, Viano ada keperluan." jawab Viano.
Dania mendadak lesu mendengar ucapan dari Viano. Walaupun sekarang dekat tapi rasanya Viano semakin menjauh dari Dania. Dania harus apa kali ini?
"Vin. gue mau dong ditemenin sama kamu, temen temen gue baru aja pulang." pinta Dania.
Dania kenapa semakin menjadi jadi yah?
Viano menggeleng. "Maaf Dania, tapi kamu udah ada orang tua disini, jadi ada yang jaga."
Dania memberengut kesal, kenapa sih Viano menolak permintaan Dania?.
"Kalau begitu Viano pamit. Om, Tan, Dan." ucap Viano.
__ADS_1
"Hati hati Vin." ucap Dania.
Viano mengangguk. Viano keluar dari ruangan rawat Dania.
*Viano menghentikan langkahnya, Viano merasa bimbang, apakah Viano akan pulang terlebih dahulu untuk mandi? atau Viano langsung saja menuju ke keruangan rawat Selena?
Viano sedang berpikir keras. Akhirnya Viano memutuskan untuk pulang terlebih dahulu setelah itu menuju kembali kerumah sakit untuk menemui kekasih tercinta.
Selang satu jam, Viano kembali menuju kerumah sakit. Viano langsung menuju ke ruang rawat Selena.
Viano membuka pintu ruang rawat Selena, disana sudah ada Bagas dan juga Selena yang masih duduk diatas ranjang.
"Selamat malam." sapa Viano.
Viano mendekat kearah Selena, tanpa aba aba Viano mengelus rambut Selena penuh kasih sayang.
"Gimana? sakitnya udah berkurang atau masih sama aja kayak kemarin?" Viano bertanya dengan nada lembut.
Selena bukannya menjawab malah baper karena kelakuan Viano. Viano menyadari Selena yang tidak menjawab karena salah tingkat. Viano terkekeh melihat wajah Selena yang speechless.
"Kenapa? Lo gak pernah digodain cowok?" tebak Viano dengan senyuman menyeringai.
Selena kembali tersadar, memang yah Selena tidak boleh baper kepada Viano karena Viano awalnya memang orang yang sifatnya cuek bukan orang yang romantis.
"Its, apaan sih. omongan Lo itu gak benar sama sekali karena setiap hari gue pasti dapetin godaan dari cowok cowok." sombong Selena.
Viano tersenyum, "yakin?"
Selena langsung mengangguk. "Yakin seratus persen."
"Lo kan udah punya pacar? kenapa masih mau digodain sama cowok lain?" Viano bertanya sok kesal kepada Selena.
Selena menatap kesal kearah Viano, Viano sembarangan banget kalau ngomong padahalkan Selena gak pernah godain buat digoda, cowok cowok ganjennya aja yang godain Selena.
"Enak aja, gue gak pernah yah caper buat digodain. Lo mungkin yang punya salingkuhan." tiba tiba nyambungnya selingkuhan? wanita kalau kesal salahnya hari ini tapi pasti akan mengungkit masa lalu. Cewek gak akan pernah lupa ingatan tentang cowoknya.
"Selingkuh? sama siapa?"
Selena mendelik menatap Viano. "Jadi Lo beneran punya selingkuh!?"
Bagas yang sedari tadi menyimak bahkan terkaget, bukannya kemarin Viano berjanji akan mencintai Selena dengan sepenuh hati? tapi sekarang malahan Viano terang terangan mengakui punya selingkuhan.
Bagas berdiri dan langsung menghampiri Viano. Bagas menarik kerah baju Viano.
"Lo. beneran punya selingkuhan?" tegas Bagas dengan rahang mengeras.
__ADS_1
Bagas saja tidak punya pacar sama sekali, Viano malah punya banyak ternyata.
Waow Author tidak meyangka kalau bisa nulis sampai bab ini, hampir 100 bab guys dan hampir seratus ribu kata, kaget gak? kaget lah