My Ketos

My Ketos
86


__ADS_3

"Kayak kenal mobil itu." lirih Selena yang masih bisa didengar oleh Viano.


"Apa Len?" sahut Viano.


Selena menggeleng. "Bukan apa apa kok. Lo fokus aja kedepan."


Viano mengangguk tidak lagi mempermasalahkan Selena.


Viano sekarang fokus menatap lurus takut terjadi kecelakaan.


'kok mobil itu mirip punya kak Bagas yah?' batin Selena.


Tapi tumben sekali Bagas menjemput tanpa diberitahu.


Seseorang didalam mobil itu mengepalkan tangan.


"Lo bener bener kurang ajar Vin. Lo berani main belakang sama adik gue. lihat aja gue bakal buat Lo menjauh dari Selena." gumam Bagas menatap tajam motor Viano yang sudah menjauh.


Setelah tau Selena sudah pulang, Bagas segera melajukan mobilnya menjauh dari sekolah Selena.


Selena menatap jalan didepannya dengan kening mengerut. Jalan yang dilewati Viano dan Selena itu bukan jalan menuju kerumah Selena. Apa Viano lupa?


"Vin Lo lupa rumah gue?" Selena bertanya.


Viano yang sedang fokus menatap jalanan menjawab dengan gelengan.


"Lalu kita mau kemana Vin? ini bukan jalan menuju rumah ku." ucap Selena.


"Gue mau ngajak Lo keperpustakaan."


Selena kaget bukan kepalang, ada apa nih? tumben sekali Viano mengajaknya ke perpustakaan, bukan tumben sih tapi lebih ke tidak pernah.


"Mau apa ke perpustakaan?" Selena bertanya.


"Mau nyiram tanaman didepan perpus."


Selena memandang Viano penuh tanda tanya.


"Lo tukang kebon perpustakaan? kenapa gue baru tau?"


Viano tertawa.


"Iya gue tukang kebon perpustakaan." jawab Viano.


Tentunya Viano berbohong. Tidak mungkin anak seorang CEO bekerja menjadi tukang kebon.


"Gaji Lo berapa? emangnya duitnya nyampai? Lo kan sering keluar ke cafe cafe."


Viano benar benar gemas sekali dengan Selena.


"Nyampai aja, gue masih dapet duit dari papa jadi nyampai kalau buat jajan." bohong Viano.

__ADS_1


Selena mengangguk anggukan kepalanya percaya dengan perkataan dari Viano.


Viano tidak bisa lagi menahan tawanya. Selena yang mendengar tawa Viano jadi bingung.


"Lo kenapa ketawa?"


"Karena tadi cuman bohong Sel, gue gak kerja jadi tukang kebon diperpustakaan." ungkap Viano.


Selena menepuk bahu Viano.


"Heh jangan tepuk tepuk. bahaya bisa kecelakaan. biarin gue nikahin Lo dulu." ucap Viano.


Selena auto baper. Selena senyum senyum sendiri.


"Lo sih kenapa harus bohong?"


"Yah karena asik aja denger Lo yang percaya percaya aja." jawab Viano.


Selena mengerucutkan bibirnya.


Akhirnya mereka berdua sudah sampai didepan perpustakaan.


Selena dan Viano segera turun dari montornya.


Selena dan Viano masuk kedalam perpustakaan.


"Kita sebenarnya mau apa sih ke perpustakaan?" Selena bertanya.


Viano melangkah dirak buku. Viano mengambil salah satu buku komik.


Selena menatap buku yang dipegang Viano dengan kerutan dikeningnya, kirain Selena Viano akan membaca buku pelajaran ternyata salah, Viano malah membaca buku komik.


"Lo mau baca buku komik?" Selena bertanya.


Viano mengangguk.


"Kenapa baca komik sampai keperpustakaan? kenapa gak beli aja."


Viano menatap Selena.


"Kalau gue beli komik, sayang banget uangnya apalagi kadang komiknya gak dibaca lagi. lebih baik baca diperpustakaan." ungkap Viano.


Selena mengangguk anggukan kepalanya mengerti.


"Lo sekalian mau baca disini atau komik itu mau Lo bawa pulang?"


"Baca disini sebentar. Lo gak nyaman disini?" Viano bertanya tentang keadaan Selena.


Selena menggeleng sambil tersenyum.


"Nyaman nyaman aja sih, tapi jangan lama lama yah takutnya nanti gue ketiduran saking bosennya."

__ADS_1


Viano tersenyum sambil mengobrak Abrik rambut Selena.


Selena menatap kesal kepada Viano.


"Ish rambut gue udah rapi yah. kenapa diobrak Abrik." kesal Selena.


"Walaupun rambut Lo udah gak rapi tapi gue tetep cinta kok." Viano mengombali Selena.


Selena menatap aneh Viano.


"Lo tadi salah makan yah?"


Viano menggeleng.


"Tumben banget romantis biasanya juga cuek bebek." Sepertinya Viano ketempelan jin romantis yang bisa bikin klepek klepek. Selena bukannya baper malah jadi kebingungan plus ngeri karena gombalan dari Viano yang tidak biasa dilakukan.


Viano fokus membaca komik. Selena masih memilih milih buku yang akan Selena baca. Sebenarnya Selena itu suka baca buku, tapi hanya sekedar buku novel, komik atau buku biografi. Buku buku pelajaran ketika dibaca membuat ngantuk Selena. Buku buku pelajaran isinya hanya rumus dan bacaan yang kalau dibaca sendiri belum tentu paham.


Selena melangkah menuju rak rak novel. Selena tertarik dengan novel yang berjudul La trône de sang de la raine.


"Kayaknya novel luar. kok judulnya asing banget dilidah orang Indonesia." gumam Selena.


Karena Selena tertarik akhirnya Selena memilih novel itu untuk dibaca.


Selena melangkah mendekat kearah Viano.


Tapi ternyata ada seorang perempuan yang berdiri dihadapan Viano. Selena semakin mendekat karena penasaran.


"Kak boleh minta nomernya gak?" tanya perempuan itu.


Selena langsung duduk disamping Viano. Selena mengkode bahwa Viano adalah miliknya, tidak ada perempuan lain yang bisa memiliki Viano.


"Dek dek masih SMP udah ganjen aja." sinis Selena.


Viano yang tadinya fokus membaca akhirnya teralihkan karena ucapan dari Selena. Viano takut ucapan Selena bisa membuat sakit hati perempuan yang ada dihadapan Viano sekarang.


"Apaan sih kak. saya kan cuman mau minta nomer handphone gak sampai minta dinikahin kok. jadi gak usah sinis gitu." kesal adek adek gemes.


Wah wah mau ngajak berantem nih adek adek gemes.


Selena menatap adek adek gemes itu dengan tatapan tidak bersahabatnya.


"Adek yang centil jangan minta nomer handphone kesembarang orang, takutnya nanti orang itu udah punya pawang. nanti kamu dilabrak loh. kamu gak takut apa?" Selena menakut nakuti adek adek gemes pake banget.


Perempuan itu memandang arah lain. Perempuan itu kembali menatap Selena.


"Gak apa apa kalau kakak ini udah punya pacar. Dan yang pasti pacarnya bukan kakak, jadi aman aman aja. Selagi jamur kuning belum melengkung masih bisa ditikung." ungkap perempuan itu.


Mata Selena melotot tidak percaya perempuan yang umurnya dibawah Selena sudah berani berbicara seperti ini. Kecil kecil cabai setan ini mah. Bibit bibit pelakor memang sangat bertebaran yah, apalagi kalau pacar atau suami yang super super kaya, humble, perhatian, ganteng pasti banyak tuh bibit biru pelakor yang mau minta perhatian. Rasanya kalau liat pelakor itu pengin diremes aja kalau gak digeprek.


"Heh kamu kecil kecil belajar pelajaran jangan belajar ngerebut pacar orang. lagian dari mana kamu tau kalau aku bukan pacar kakak ini?" Selena menunjuk Viano menggunakan jarinya. Kali ini nada tinggi Selena keluar, Selena tidak bisa sabar kalau mengurusi bibit bibit pelakor, kalau bisa diawal harus Selena basmi agar kedepannya hubungan Viano dan Selena adem ayem tentrem.

__ADS_1


Viano menepuk dahinya, pusing sekali kalau para perempuan udah adu mulut pasti selesainya bakalan tujuh turunan.


__ADS_2