
Selena berdiri ditribun karena greget dengan permainan tim basket putra.
“Woi jangan dikepung gitu dong.” protes Selena saat melihat lawan mengepung Viano. Selena jadi khawatir.
Pertandingan semakin sengit. Satu skor lagi untuk SMA high bisa menang, Selena hampir ragu jika pemenang turnamen ini akan dimenangkan SMA level. Salah satu pemain basket terjatuh ditengah lapangan, Selena yang dari tadi fokus kelapangan tidak bisa melihat siapa yang pingsan.
Pertandingan kacau balau karena banyak pemain basket yang hampir bertengkar, Selena yang melihat dari tribun jadi penasaran siapa pemain basket yang pingsan.
“Zi yang pingsan siapa sih Zi?” Selena bertanya kepada Auzi.
Karena jarak Auzi yang lebih dekat dari tempat jatuhnya pemain itu, Selena harus bertanya kepada Auzi, mungkin Auzi akan tahu.
“Sepertinya dari pemain sekolah kita.” jawab Auzi.
Pemain yang jatuh ditengah lapangan itu segera digotong menggunakan tandu, Auzi memfokuskan pandanganya agar tau siapa yang pingsan ditengah lapangan.
“Kok gue ngerasa gak asing yah? bukannya itu kak Viano? kok bisa dia pingsan?” Auzi menatap kearah Selena dengan mata prihatin.
Selena ngeblank sebentar mencerna kalimat dari Auzi. Selena menatap kearah lapangan basket, dan benar saja apa yang dikatakan Auzi, Viano sedang digotong menggunakan tenda.
“Gue kesana dulu yah.” Auzi mengangguk.
Selena segera meninggalkan tribun penonton, Selena berlari untuk sampai ditempat penanganan Viano.
“Kak kak tadi pemain itu dibawa kemana kak?” Selena bertanya kepada salah satu petugas yang membawa Viano.
“Dibawa ke uks.” jawab petugas itu.
“Terima kasih kak.” Selena melangkah pergi meninggalkan petugas itu dan melangkah menuju ke UKS untuk menemui Viano.
Selena sudah berada didepan UKS, di UKS sudah ada Agli yang menunggu Viano. Selena belum masuk kedalam UKS, Selena akan kedalam ketika Viano sadar. Selena menatap kedalam UKS dengan tatapan sendu.
Viano mengerjapkan matanya, Viano sudah sadar membuat Selena bisa bernafas lega. Selena melangkah masuk kedalam UKS, mata Selena selalu tertuju ke Viano.
“Lu sih dipaksain padahal sakit, untung bisa menang kita, yah gak gli?” ucap Revendo.
Agli mengangguk menanggapi ucapan Reven, “bener tuh kata Reven, salah lo sih jalan sama Dania, jadinya gini deh.” Agli keceplosan.
Selena menatap kearah Agli, enggak tau kenapa tapi saat mendengar kalimat Agli, Selena jadi merasa sakit dihatinya padahal Selena bukan siapa siapanya Viano.
__ADS_1
Viano dapat melihat aura kemarahan dari wajah Selena, Viano ingin menjelaskan kepada Selena tapi karena tubuhnya masih lemas jadinya Viano hanya menatap Selena.
Revendo menyenggol bahu Agli, “salah lo nih punya mulut lemes amat.”
Agli masih terdiam karena menanti drama terbaru antara Selena dan Viano.
“Yuk keluar aja, disini hawanya panas.” Revendo mengajak Agli keluar.
Agli menatap Revendo. “Lah emangnya kita dineraka sampai panas?”
“Lu aja sana yang ke neraka.” Revendo kesal dengan Agli.
Agli kalau tidak membuat temannya kesal satu hari saja seperti bukan Agli. Tanpa banyak bicara Revendo menarik lengan Agli berusaha menjauh dari dua orang yang sedang saling menatap, mereka mungkin bisa berbicara ketika Revendo dan Agli keluar.
Revendo dan Agli sudah keluar dari UKS.
“Ih abang Revendo, lo suka yah sama gue?” ucap Agli ala ala cewek cewek.
Revendo menampol kepala Agli. “Dih najis banget gue bisa suka sama lo.”
Setelah mengecek dua temannya sudah benar benar keluar, Viano menatap Selena. Viano menepuk nepuk ranjang bagian ranjang disebelahnya yang kosong. Viano mempersilahkan Selena untuk duduk disebelahnya. Karena Selena masih marah, Selena duduk dikursi disamping ranjang Viano.
Selena menatap wajah Viano sebentar, setelah itu Selena menatap kearah lain. “Buat apa lo minta maaf?”
Viano diam sebentar. “Maaf tentang Dania.” jawab Viano.
Selena mengangguk anggukan kepalanya. “Gak apa apa kok, gue kan bukan siapa siapanya lo. jadi lo bebas keluar sama cewek lain. dan gue gak berhak melarang lo.”
“Gak gitu...” Viano menggeleng tidak setuju dengan perkataan Selena.
Hati Selena benar benar sakit sepertinya hati Selena kali ini benar benar remuk, benar ucapan Agli tadi kalau Viano pergi bersama Dania. Selena menunduk kemudian menghela nafas.
“Gue pulang dulu yah.” ucap Selena.
Selena berdiri, baru satu langkah tangan Selena dicekal oleh Viano.
“Lena bentar dulu jangan pulang.” Viano mencegah Selena agar tidak pulang.
Selena tidak menatap Viano. “Ada apa Vin?”
__ADS_1
Viano belum yakin ingin mengatakan kalimat yang ada didalam hatinya didepan Selena. “Gue tuh sebenarnya..” ucapan Viano mengambang belum jelas.
“Butuh lo buat ngejauh dari Dania.” lanjut Viano.
Selena yang mendengarnya langsung menatap Viano dengan tatapan penuh kemarahan. Viano dapat mengira Selena pasti sudah salah paham.
“Jadi selama ini gue cuman buat pelampiasan lo?” Selena menaikan suaranya.
Viano menggeleng. “Bukan, tapi gue udah beneran jatuh cinta dan sayang sama lo.” Viano langsung menunduk karena tidak berani melihat respon dari Selena.
Viano akhirnya lega bisa meluapkan perasaanya.
Viano kembali menatap Selena, Selena masih diam.
“Gue beneran sakit hati ketika pertunangan kita berdua dibatalkan.” ucap Viano.
“Plis maafin gue.”
“Gue gak tau harus gimana sekarang. udahlah terima takdir kita berdua. Gue lagi gak mood buat mikirin lo.” ungkap Selena.
Tanpa basa basi Selena melangkah meninggalkan Viano sendirian di UKS.
Sampai dirumah Selena melangkah menuju kamarnya, dan merebahkan tubuhnya. Selena benar benar lelah sekarang. Selena masih marah karena Viano jalan bersama Dania, tapi Selena juga merasa berbunga bunga karena ternyata Viano menyukainya balik.
Selena bangun dan melangkah kedalam toilet untuk bersiap siap memulai hari. Pagi hari ini terasa biasa saja menurut Selena, suara burung burung masih terdengar, dan yang paling membuat pagi hari ini mood Selena lumayan baik adalah bau dari masakan Bundanya. Selena segera turun menuju lantai bawah.
Diperjalanan Selena jadi keinget rencana liburan dengan keluarga Viano, ternyata setelah berabad abad rencana jalan jalan itu hanya wacana belaka.
“Pagi bun.” Selena menyapa Bundanya, lalu Selena duduk dikursi meja makan.
“Pagi juga anak Bunda."
Bunda Irama menyiapkan sarapan, “Selena tadi kata Viano, dia mau minta ijin ke Bunda buat bawa kamu keluar.” ungkap Bunda Irama.
Selena menatap Bundanya dengan tatapan kebingungan. “What! dia ngehubungi Bunda?”
Tau nomernya dibokir Selena, Viano tidak habis akal dan menghubungi Bunda Selena untuk meminta ijin keluar.
“Tadi pagi Viano datang kesini, minta ijin sama Bunda mau ajak kamu keluar.” ucap Bunda
__ADS_1
“Bunda langsung ngasih ijin, padahal bunda suruh dia buat manggil kamu yang masih tidur, tapi dianya gak mau, sweet banget yah sikap Viano sama kamu.”