My Ketos

My Ketos
82


__ADS_3

"Kayaknya Lo bohong deh, hati sama mulut gak sinkron."


" Tadi gue lihat Lo lagi berduaan sama Dania, dan Selena juga lihat, Lo masih mau mengelak?" Auzi emosi deh sama Viano.


Auzi mengepalkan tangannya, padahal seharusnya yang sakit hati itu adalah Selena, kenapa malah Auzi yang marah marah.


Viano menatap kearah Selena.


"Gue sama Dania itu temen, gue cuman duduk aja sampingan sama Dania, gak lebih."


Viano mengengam tangan Selena.


"Lo harus percaya sama gue Len." bisik Viano ditelinga Selena.


Selena tidak sama sekali merespon bisikan dari Viano, Selena sudah malas berbicara.


Selena melepaskan tangan Viano tapi kembali dingengam oleh Viano.


"Lepas Vin, gue mau pergi kekantin sama Auzi." ucap Selena.


Viano menggeleng dan terus mengengam tangan Selena.


"Zi Lo pergi duluan aja, gue sama Selena yang akan kekantin."


Auzi menggeleng. "Gue sama Selena udah janjian dari tadi, gue tetap sama Selena yang akan kekantin."


Viano kembali mengengam tangan Selena.


Tanpa mengatakan apapun Viano menarik tangan Selena.


Viano dan Selena berjalan menuju ke kantin, sampai dikantin Viano menyuruh Selena untuk duduk. Selena menuruti perintah dari Viano.


"Lo tadi lihat Gue sama Dania?" Viano bertanya.


Selena mengangguk tanpa sekalipun mengeluarkan suaranya.


"Kenapa tadi gak manggil gue? Lo malah cuman jadi penonton aja."


Selena menghembuskan nafas lelah, lelah karena dari tadi mulut Selena sudah mulai mengering, Selena tidak kuat jika harus diam.


"Yah karena gue gak mau ganggu waktu kalian berdua." jawab Selena.


"Padahal tadi gue udah nunggu Lo Dateng, gue kira yang Dateng itu Lo ternyata Dania. Gue udah sumringah banget tau tau Dania. Dania yang lihat ekspresi gue ngiranya gue senang karena dia Dateng, jadi Dania langsung duduk disebelah gue. Gue setelah itu gak bicara apapun sama Dania,"


"Maaf jika itu membuat Lo jadi marah." lanjut Viano.


Selena menatap manik mata Viano. Selena terenyuh karena Viano berani jujur kepada Selena, susah menemukan laki laki yang jujur.


"Gak apa apa, tadi gue cuman kebawa emosi dan sekarang gue baik baik aja kok."


Viano menatap Selena, Viano mengengam tangan Selena. "Lo beneran gak apa apa?"

__ADS_1


Selena mengangguk sebagai tanggapan dari pertanyaan Viano.


Viano mengelus rambut Selena. "Sel nanti gue gak bisa nganter Lo pulang, karena gue ada rapat OSIS." ucap Viano.


Selena mengangguk mengerti.


Selena dan Viano lanjut makan, setelah makan Viano mengantar Selena untuk kembali ke kelas.


Banyak dari teman Selena yang iri dengan hubungan Selena. Mereka ingin punya pacar seperti Viano.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pulang sekolah telah tiba, Viano bergegas membereskan barang barangnya yang ada diatas meja.


Setelah semuanya rapi, Viano keluar dari kelas. Viano melangkah menuju keruang OSIS untuk rapat.


Ditengah jalan Viano bertemu Dania, Dania berjalan bersama Viano karena memang tujuan mereka berdua sama. Dania berusaha untuk dekat dengan Viano, tetapi Viano terus berusaha untuk menjauh agar sang pawang tidak marah.


"Hari ini rapat membahas apa sih Vin?" Dania basa basi.


Viano tidak menjawab pertanyaan dari Dania.


"Vin Vin telinga Lo masih normalkan? kenapa gak jawab pertanyaan gue?"


Viano menatap Dania malas.


"Bukannya dari kemarin yang dibahas masih sama? Lo gak berangkat rapat kemarin? atau Lo gak denger isi rapat kemarin? "


Dania tampak kikuk.


Viano hanya diam.


Viano mengecek jam tangannya tapi mata Viano malah salah fokus dan mata Viano melihat kearah sepatu milik Dania.


'Bukannya sepatu ini persis seperti pelaku pembulian Selena? apakah Dania pelakunya?', batin Viano bertanya tanya.


Viano menatap Dania penuh selidik. Dania yang ditatap seperti itu malah jadi salah tingkah.


"Kenapa Vin? hari ini tampilan gue aneh?" Dania bertanya.


Viano tersadar kemudian menggeleng.


Viano dan Dania masuk kedalam ruang OSIS. Semua anggota OSIS melakukan rapat.


Hampir 1 jam lebih mereka rapat, akhirnya mereka bisa selesai. Viano dan anggota OSIS lain membereskan barang barang yang mereka bawah.


Setelah semuanya selesai mereka mulai meninggalkan ruang OSIS begitu juga dengan Viano.


Viano tadi janjian akan bertemu dengan kedua sahabatnya disalah satu cafe.


*"Woi Vin sini sini." teriak Agli.

__ADS_1


Viano yang baru masuk cafe menjadi malu karena tingkah Agli.


Viano melangkah mendekat ke meja Agli dan Rehan.


Agli dan Rehan melakukan tos dengan Viano.


"Ada yang mau dibicarakan bro? tumben Lo ngajak kita kesini, pasti ada hal penting yang Lo perlu bicarakan." Rehan bertanya.


Viano mengangguk merespon pertanyaan Rehan.


"Gue ketemu pelaku pembulian Selena." ucap Viano.


Rehan dan Agli kaget, hati Agli dah Dig dug ser karena takut jika pelaku utamanya adalah pujaan hatinya Sabrina. Tapi kalau beneran Sabrina yang salah maka Agli tidak bisa membantu apa apa.


"Lo udah memastikan jika itu beneran pelakunya?" Rehan kembali bertanya.


Viano menggeleng. "Gue taunya lewat sepatu, gue juga gak tau dia beneran pelaku atau memang cuman sepatunya aja yang sama."


"Siapa yang memakai sepatu itu?" Agli bertanya.


Agli berusaha mengontrol detak jantungnya. Ini sama sekali saat Agli bertemu Sabrina yang memakai sepatu itu. Apakah Agli harus jujur kepada kedua temannya?


"Dania, Dania yang pake sepatu itu." jawab Viano.


Rehan dan Agli kaget. Agli lega karena bukan nama Sabrina yang keluar dari mulut Viano. Sabrina masih selamat ternyata.


"What the f ck, beneran plot twist kalau Dania pelakunya, selain Dania ada satu lagi bukan?"


Viano mengangguk. "Dan satunya kayaknya gak asing juga."


"Adik kelas bukan? terlalu nampak sekali dari gelagat dia." ucap Rehan.


Viano kembali mengangguk. "Gue udah tau kaki tangannya dan gue kurang tau siapa pelaku utamanya, gue gak yakin kalau beneran Dania yang ngelakuin itu." ungkap Viano.


Rehan tersenyum. "Lo pasti masih punya rasa yah sama Dania? ngaku Lo."


Viano terdiam, kedua sahabatnya menanti jawaban dari Viano.


Viano akhirnya mengangguk. "Gue emang masih suka sama dia tapi gak seperti dulu lagi, sekarang gue masih berusaha untuk mencintai Selena." ungkap Viano.


Tiba tiba dari arah belakang ada yang menarik kerah baju Viano. Orang yang baru datang tampak emosi sekali.


"Apa Lo bilang? jadi adik gue selama ini cuman dijadiin Lo pelampiasan?!" teriak orang itu membuat satu cafe jadi heboh.


Agli dan Rehan segera berdiri dan akan memisahkan Viano dengan Bagas.


Bagas menatap Viano dengan tatapan maut penuh dendam.


Viano hanya diam.


"Selena bahagia Deket sama Lo. Tapi setelah dia tau Lo cuman jadiin dia pelampiasan, apa yang akan terjadi? bajing an Lo yah!" Bagas memukul wajah tampan Viano.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jreng jreng jreng ternyata pelakunya Dania....


__ADS_2