My Ketos

My Ketos
90


__ADS_3

Sarah Bagas mendidih seketika mendengar masalah Selena dengan Dania CS.


Bagas menatap Viano dengan tatapan seperti hendak membunuh.


"Kenapa Lo gak memberitahu masalah itu dari lama? kenapa Lo pendam gitu aja?" Bagas kesal dengan Viano.


"Yah karena itu kemauan Selena bang, dia gak mau keluarganya khawatir." jawab Viano.


Bagas masih tidak terima.


"Gue panggil Selena dulu." Bagas meninggalkan Viano yang masih duduk santai.


Bagas mengetuk pintu kamar Selena, yang punya kamar baru saja bangun.


"Ada apa bang? kenapa pagi buta begini? Selena belum mandi?" ucap Selena.


Selena masih betah bergelung didalam selimut.


"Woi bangun ada Viano." teriak Bagas.


Selena langsung bangkit dan segera bersiap siap.


"Selena mandi dulu bang, setelah itu Selena akan kebawah."


"Oke gue tunggu yah." ucap Bagas.


Selena keluar dari kamar hanya memakai kaos oblong dan celana pendek. Masih terlalu pagi untuk memakai seragam, takutnya nanti seragam bakal bau keringat karena dipakai lama.


Selena segera mendekat kearah Viano. Viano yang melihat kedatangan Selena tersenyum senang.


"Kenapa Lo kesini pagi pagi Vin? ada apa?" Selena bertanya.


"Gue mau bicara tentang pembulian itu." dengan entengnya Viano menjawab. Selena refleks menutup mulut Viano.


"Lo kok gitu sih, ingat yah disini ada bang Bagas." bisik Selena ditelinga Viano. Viano hanya bisa tersenyum, Selena tidak tau jika Bagas sudah mengetahui berita itu.


"Gue udah tau gak usah ditutup tutupi lagi." ucap Bagas.


Selena menatap Bagas, "udah tau apa bang? jangan ngaco deh."


"Gue gak ngaco, gue udah tau kalau Lo pernah dibuli ditoilet."


Selena melongo, 'siapa yang memberitahu bang Bagas? atau jangan jangan Viano?' batin Selena bertanya.


Selena balik menatap Viano, Selena meminta penjelasan, Viano yang tau arti dari tatapan Selena mengangguk anggukan kepalanya.


"Iya gue yang memberitahu bang Bagas tentang kejadian itu, maaf gak memberitahu Lo."


Selena pasrah, biarin deh Bagas tau.

__ADS_1


"Jadi ada apa sama kasus itu? eh kalau ngomongin kasus ini harus lirih lirih yah walaupun bang Bagas udah tau tapi harus berhati hati karena bunda belum tau."


Viano dan Bagas mengangguk kepalanya.


"Pelaku kejadian itu udah ketangkep Sama gue dan hari ini akan dikasih hukuman, kepala sekolah maunya Lo datang buat menerima permintaan maaf dari pelaku pembulian Lo." ungkap Viano.


"Siapa pelakunya?" Selena bertanya.


Viano menghela nafas kemudian Viano menghembuskan nafasnya, memang seharusnya Selena harus tau, tapi Viano takut jika nanti Selena tidak akan memaafkan Dania.


"Siapa Vin? siapa pelakunya? Lo kok gak yakin gitu sih?" Selena memberondong Viano dengan pertanyaan.


Viano menatap Selena dalam dalam, "pelakunya Dania dia ngelakuin itu karena benci sama Lo." jawab Viano.


Selena menyunggingkan senyumnya. "Gue udah punya firasat sih kalau dia yang jadi pelaku, tapi gue gak yakin sama firasat gue eh ternyata beneran."


"Gue mohon Lo harus menerima permintaan maaf dari Dania, gue kasian sama dia." ungkap Viano.


Selena menatap Viano kebingungan, "Lo kasian sama dia?" Viano mengangguk sebagai respon dari pertanyaan Selena.


"Lo beneran kasihan atau Lo sebenarnya ada perasaan suka sama dia?"


Bagas yang mendengar itu sontak menatap Viano tajam, apakah sebenarnya Selena sudah tau jika Selena hanya menjadi bahan pelampiasan Viano?.


Viano menggeleng. "Gak gak gue berani sumpah, gue gak cinta sama Dania."


Selena tidak merespon apa apa.


Selena menyunggingkan senyum sambil menatap bundanya, "enggak kok Bun kita gak bahas apa apa, kita cuman tadi sedang bercanda aja, ya gak bang?"


Bagas mengangguk.


"Tumben banget Viano datang kepagian. Sana ikut kita sarapan. kamu mau kan nak Viano?" tawar Bunda Irama.


Viano mengangguk. " Viano tentu mau dong Bun."


"Ya udah sana langsung ke rumah makan."


Viano dan Bagas berjalan ketempat makan sedangkan Selena memilih untuk kekamarnya beres beres untuk berangkat sekolah.


Bunda Irama menghidangkan banyak masakan seperti ayam bakar, ayam suwir sambel kemangi, SOP buntut dan tidak lupa dengan nasi putih.


"Selena masih lama beres beresnya? kalau mau makan tungguin Selena dulu."


Bagas yang sudah kelaparan hanya bisa mengangguk pasrah.


"Padahal gue udah kelaparan banget." lirih Bagas.


Viano yang mendengar ucapan Bagas dibuat tertawa.

__ADS_1


Selena datang sudah rapi dengan seragamnya berbeda dengan Viano yang masih memakai kaos. Selena segera duduk di kursi makan.


"Waow masakan bunda terlihat enak sekali. Thank you Bunda." ucap Selena.


"Bukan cuman kelihatan tapi memang masakan bunda itu terbaik." Bagas ikut memuji masakan bunda Irama.


Bunda Irama ikut duduk disebelah Selena, Bagas dan Viano duduk bersebelahan berhadapan dengan Bunda Irama dan Selena.


"Ayok dimakan." Bunda Irama mempersilahkan.


Bagas langsung menyerobot makanan yang tersedia, Bagas sudah seperti harimau yang tidak makan bertahun tahun.


*Selena turun dari mobil milik Viano. Viano turun menyusul Selena.


"Kita langsung keruangan kepala sekolah?" Selena bertanya kepada Viano.


Viano menggeleng. "Bukan diruangan kepala sekolah tapi diruang bimbingan konseling, gue bakal nganter kok."


Selena mengangguk anggukan kepalanya. Mereka berdua jalan bersebelahan, banyak yang iri menonton Selena dan Viano yang terlihat sangat serasi.


Mereka masuk setelah dipersilahkan masuk oleh kepala sekolah.


"Selamat pagi pak." Selena menyapa kepala sekolah dan guru BK.


"Silakan duduk Selena." kepala sekolah mempersilahkan Selena.


Hening sebentar.


"Jadi keberadaan kalian disini ini untuk menyelesaikan masalah yang ada agar tidak merembet rembet kemana mana."


"Ouh yah bagaimana dengan nak Selena? kamu baik baik saja?" lanjut kepala sekolah bertanya tentang kondisi Selena.


"Saya hari ini baik baik saja pak, tapi saya ingat tentang kejadian buruk yang menimpa saya, saya bahkan tidak baik baik saja setelah kejadian itu. Saya hampir aja meninggal ditoilet kalau tidak ada Viano yang menyelamatkan saya." akhirnya unek unek Selena dikeluarkan.


Sabrina menunduk, ternyata kasian juga yah nasib Selena. Entah kenapa Sabrina saat kejadian itu tidak merasa kasian kepada Selena, mungkin hari itu hari Sabrina sedang tertutup oleh para setan.


"Lalu apakah kamu memaafkan pelaku?" guru BK bertanya.


Selena menatap ketiga pelaku secara bergantian.


"Sebelum saya menerima permintaan maaf dari ketiganya, saya ingin mendengar alasan mereka melakukan itu pak."


Kepala sekolah menyetujui ucapan Selena.


"Jadi alasan kamu apa Sabrina?" Selena bertanya dengan sorot mata penuh kecewa. Dari awal memang Selena sudah membenci kelakuan Sabrina, apalagi ditambah mengetahui fakta bahwa Sabrina juga adil dalam kejadian itu membuat Selena semakin membenci Sabrina.


"aku iri dengan kamu Sel, kamu mendapatkan semua perhatian dari semua orang, dan aku ingin mendapatkan yang kamu dapatkan."


......................

__ADS_1


Author lupa Selena udah naik kelas atau belum yah? tolong beritahu author cepat.


__ADS_2