
Selena merasa aneh karena Viano jarang sekali mengirim pesan romantis.
"Apa jangan jangan yang ngirim setan? tapi masa iya?" gumam Selena.
Selena tidak memperpanjang masalah chat itu, Selena berlalu untuk segera masuk ke kamar mandi.
* Selena turun kebawah untuk sarapan pagi.
"Selamat pagi bunda ku sayang." Selena menyapa Bunda Irama.
Bunda Irama membalas sapaan Selena dengan senyuman.
"Hari ini dianter Abang mu? tumben sekali." Bunda Irama saja juga bingung dengan tingkah Bagas yang tidak seperti biasanya..
"Iya Bun, katanya Viano gak bisa nganter Selena hari ini."
Selena mengambil sarapannya dan mulai menghabiskan sarapan.
Memang tidak biasa Selena sarapan dipagi buta, tapi karena terpaksa Selena jadi harus sarapan di waktu pagi buta.
Setelah selesai sarapan Selena segera memakai sepatu dan melangkah kedepan rumahnya.
"Bang kita beneran berangkat jam segini? ini mah kepagian bang, Selena takut nanti disuruh nyapu halaman sekolah."
"Yah gak apa apa itung itung beramal."
"Dihitung kalau gue ikhlas, kan gue gak ikhlas nyapunya." ucap Selena.
Bagas memilih diam, berdebat dengan Selena adalah hal yang merugikan.
Bagas sudah selesai dan menunggu Selena dimobilnya.
"Bang bang bang." panggil Selena.
"Lo kira gue big bang. gue gak nyanyi bang bang bang yah." bacanya bernada.
Selena tidak lagi berkata, melainkan Selena segera masuk kedalam mobil Bagas.
Bagas menyusul Selena masuk kedalam mobil.
Bagas segera menghidupkan mobil dan menjalankan mobil itu.
Diperjalanan Kakak.dan adik itu hanya diam tidak ada yang berniat berbicara karena memang mereka berdua sudah sering bicara dirumah.
"Bang mobilnya dilambatin aja, Selena benar benar gak mau nyapu halaman sekolah." pinta Selena.
Bagas menatap Selena sebentar kemudian Bagas kembali fokus kejalanan.
"Udah dibilang kalau kamu nyapu pasti dapet pahala. itung itung magang jadi cleaning servis."
"Enak aja."
Mereka berdua kembali diam.
"Bang Lo tau Viano gak bisa nganter gue itu dari mana?" Selena bertanya.
"Kan Abang udah bilang kalau Viano ngechat Abang."
"Lo lupa? padahal Abang ngomong baru tadi pagi udah lupa aja. tua sih loh." lanjut Bagas mengejek adiknya.
Selena yang mendengarnya jadi kesal.
__ADS_1
"Tuan juga Abang."
Bagas menatap Selena sebentar
"Yah walaupun gue udah tua, gue masih inget kalau kamu kan enggak."
Akhirnya mobil yang ditumpangi Selena dan Bagas sudah sampai didepan gerbang utama sekolah Selena .
Selena keluar dari mobil Bagas tanpa mengucapkan terima kasih.
"Adik gak tau terima kasih."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Viano memarkirkan montornya diperkarangan rumah Selena. Viano melangkah masuk kedalam rumah Selena.
Viano yang melihat Bunda Irama segera mendekat.
"Bun." Viano memanggil Bunda Irama.
Bunda Irama menoleh.
"Loh Viano? mau apa kesini?" Bunda Irama bertanya.
Viano yang mendengar itu jadi bingung. Apa bunda Irama sudah diceritakan Bagas? jadi Bunda Irama terlihat bingung saat Viano datang kerumah.
"Bun maaf tapi saya mau menjemput Selena." ungkap Viano.
Bunda Irama menatap Viano penuh kebingungan.
"Kamu mau jemput Selena? katanya kamu gak bisa jemput Selena? apa kamu gak ngechat lagi memberitahu Bagas?"
Viano berangkat kesekolah sendiri. Banyak siswa siswi kebingungan, tumben sekali Viano berangkat sendiri padahal biasanya ada Selena.
Viano berjalan menuju kekelas Selena.
Selena menggerutu, apa yang tidak disukainya ternyata terjadi. Selena disuruh menyapu halaman depan kelas. Selena tidak ikhlas karena seharusnya yang menyapu itu tulang bersih bersih. Siswa gak diwajibkan untuk bersih bersih kecuali jika memang diadakan kegiatan bersih bersih. Kalau yang membersihkan para siswa, tukang bersih bersih kerjaannya ngapain? yang bersihin para siswa eh yang dapet gaji tukang bersih bersih, makan gaji buta dong.
Semua ini salah Bagas, awas aja dirumah Selena bakal marah kepada kakaknya tercinta.
"Selena." panggil seseorang.
Selena menoleh dan kaget karena Viano yang memanggil Selena.
"Ada apa Vin?" Selena bertanya.
"Lo berangkat sama siapa tadi?"
"Siapa lagi kalau bukan bang Bagas?"
Sepertinya Selena belum mengetahui alasan kenapa Bagas menjauhkan Selena dengan Viano.
"Lo udah sarapan?" Viano bertanya.
Selena mengangguk. "Lo belum sarapan?"
Viano sarapan kapan? biasanya Viano sarapan dirumah Selena tapi karena Selena berangkat dahulu membuat Viano tidak sarapan.
"Ayok kita sarapan dulu." Selena menarik tangan Viano untuk menuju kekantin.
Setelah sampai dikantin hanya Viano yang memesan makanan.
__ADS_1
"Lo gak mau makan?" Viano bertanya kepada Selena.
Selena menggeleng. "Gue udah sarapan tadi dirumah."
Viano mengangguk dan melanjutkan sarapannya.
"Bang Bagas ngomong apa aja ke Lo?" Viano bertanya.
Selena terdiam sebentar. "Ngomong kalau Lo gak bisa jemput gue. Lo ada kegiatan? kenapa gak ngechat gue aja?"
Viano tersenyum. 'Ternyata bener sesuai dugaan ku.' batin Viano.
"Gue gugup gugup jadi ngabarin Abang Lo. sorry yah gak bisa jemput." ucap Viano.
Selena mengangguk sambil tersenyum. "Gak apa apa kok. gue bisa maklumi."
Mereka berdua saling diam.
"Ouh yah sebentar lagi masuk. gue ke kelas dulu yah gue takut terlambat masuk,"
"Lo makan jangan gugup gugup yah nanti tersedak kalau Lo gugup. Kalau Lo terlambat masuk kelas tinggal ngomong aja Lo dari kantin buat sarapan, guru pasti bisa memaklumi kok." lanjut Selena.
Selena perhatian sekali, kenapa Viano menjadikan Selena pelampiasan atas cinta Viano dengan Dania? tapi sekarang Viano sudah mencintai Selena.
Selena mengeser kursi duduknya. Tiba tiba Viano berdiri.
"Gue udah selesai. gue anter Lo kekelas."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selena membereskan barang barang yang ada diatas mejanya. Jam pulang sudah berbunyi, Selena segera keluar dari kelas.
Selena lupa memberitahu Bagas untuk menjemputnya, jadi siapa yang akan mengantar Selena pulang?.
Selena melangkah dengan gontai. Apakah Selena harus menaiki angkutan umum? tapi Selena tidak biasa menaiki angkutan umum. Selena takut jika nanti Selena akan tersesat jika menaiki angkutan umum.
"Haish gimana nasib ku? kalau ngechat Abang sekarang juga pasti bakal lama banget nyampainya, tapi kalau gak ngechat siapa yang mau anter gue sampai kerumah?" Selena jadi kesal sendiri.
Ada montor yang mengklakson Selena.
Selena menoleh kebelakang.
"Selena." pengemudi motor itu memanggil Selena.
Pengemudi motor itu membuka kaca helmnya, ternyata Viano.
"Tadi gue kekelas Lo, tapi Lo udah gak ada, gue kira Lo udah pulang,"
"Ayok naik." lanjut Viano.
Selena tersenyum. Selena bisa tenang deh karena ada Viano.
"Nih pake." Viano menyerahkan helm kepada Selena.
"Terima kasih." Selena segera memakai helm pemberian Viano.
Setelah itu Viano menjalankan montornya.
Tidak jauh dari gerbang, Selena menatap mobil yang familiar.
"Kayak kenal mobil itu." lirih Selena tapi masih bisa didengar oleh Viano.
__ADS_1