My Ketos

My Ketos
87


__ADS_3

Viano menepuk dahinya. Pusing sekali melihat perempuan yang sudah adu mulut, pasti urusannya bakal panjang sepanjang sungai Nil.


Vaino menatap Selena.


"Udah jangan diurusi." lirih Viano berusaha untuk membuat Selena tidak ribut dengan adek adek gemes.


Kekesalan Selena merambat sampai ke Viano, suruh siapa Viano menyuruh Selena untuk berhenti. Kalau ribut itu yah jangan setengah setengah kan gak asik.


"Tuh lihat kak. temen kakak yang ganteng ini malu sama kakak." kompor perempuan itu.


Selena tentu tidak terima. Kelas jelas Viano pacarnya malah dikatain cuman teman. HTS dong Viano sama Selena.


Selena berdiri, wah anak kecil ini menantang Selena yah. Belum tau aja nanti Selena kalau udah berubah jadi harimau.


"dek dari pada cari masalah mending belajar matematika aja persiapan buat nanti masuk ke SMA yah." nasehat Selena.


Viano memegang tangan Selena. "Udah sabar yah."


Selena masih ingin ribut.


Tiba tiba datang mbak mbak penjaga Perpustakaan.


"Maaf kakak kakak cantik. Diperpustakaan dilarang ribut jadi kalau mau ribut keluar saja kak jangan disini." ucap penjaga perpustakaan.


Selena terdiam. Selena berdiri hendak pergi dari Perpustakaan, Viano ikut berdiri dan memegang tangan Selena. Ulah Viano itu diperhatikan oleh adek adek gemes.


"Kakak ini beneran pacar saya." ucap Viano.


Selena menatap Viano tidak percaya, akhirnya Viano membelanya.


Perempuan yang mengejek Selena jadi malu sendiri.


"Bye bye adek gemes, kakak sama pacar kakak mau pergi dulu yah. Kamu belajar yang pintar yah biar tau perbedaan laki laki jomblo sama laki laki punya pacar."


Viano dan Selena melangkah menuju ke resepsionis. Viano dan Selena mengambil keputusan untuk meminjam novel dan komik yang tadinya mau dibaca diperpustakaan, tapi karena ada halangan akhirnya mereka memilih untuk meminjam komik dan novel.


Selena dan Viano segera pulang kerumah.


Selena berjalan kedalam rumahnya dengan lemas. Bagas yang sedari tadi menunggu Selena pulang, jadi cemas karena Selena. Bagas mendekat kearah Selena.


"Kamu kenapa?" Bagas bertanya karena khawatir.


Selena memandang Bagas dengan tatapan datar.


"Kenapa sih?" Bagas kembali bertanya.


Selena menggeleng. "Gak apa apa." jawab Selena.


Bagas semakin curiga.


"Gak apa apa kok kayak ada apa apanya."

__ADS_1


"Muka kamu juga bete banget, jujur aja ada apa?" lanjut Bagas.


Selena menatap Bagas malas, "tadi ada adek adek gemes bikin gemes pengin Selena remuk mukanya."


"Emangnya kenapa?" Bagas menatap Selena dengan tatapan kebingungan.


"Ada anak SMP mau jadi pelakor." jawab Selena.


Bagas menghela nafas lelah, ternyata cuman gara gara masalah ini Selena sampai gak mood.


"Biarin aja, ikhlasin Viano kalau Viano milih tuh cewek."


Selena menatap Bagas dengan tatapan tidak terima.


"Enak aja, gak mungkin lah."


Bagas tersenyum, "Ytta, yang tau tau aja."


Setelah itu Bagas pergi.


Selena merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya, setelah bersih bersih dan skincarean akhirnya Selena bisa merebahkan tubuhnya. Tubuh Selena nyaman sekali jika sudah menempel diranjang.


"Kalau gue gak pacaran sama Viano apa gue jadi pacarnya Agli yah?" Selena berbicara ngaco sendiri.


Aduh tidak bisa dibayangkan kalau Selena kena dampak pelet dari Agli.


Selena menggeleng gelengkan kepalanya berusaha untuk tidak menghayal.


Telepon Selena berbunyi. Selena segera meraih ponselnya dan mengangkat telepon dari Viano, wah emang pas sekali timingnya.


"Lo udah makan?" Viano bertanya.


"Iya. Lo udah makan belum?" Selena balik bertanya.


"Belum." jawab Viano.


"Makan gih sana, kalau Lo gak makan takutnya nanti perut lo sakit."


Viano tersenyum mendengar perhatian dari Selena. Selena benar benar pacar idaman sekali.


"Gak mau, aku udah bosen makan."


Selena yang mendengar ucapan Viano jadi kebingungan, ternyata ada orang yang bosan makan padahal orang lain masih banyak yang mau makan tapi tidak ada lauk ataupun makanan yang tersedia, jadi jangan sia siakan makanan mu.


"Jangan bosen, sana makan demi kesehatan Lo sendiri." Selena mengingatkan.


"Iya Selena sayang."


Viano mematikan sambungan telepon. Selena udah baper mendengar ungkapan sayang eh pelaku yang ngomong malah menghilang, benar benar tidak bertanggung jawab padahal sudah membaperi anak orang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Viano berjalan menuju kekantin, Viano, Rehan dan Agli janjian akan berkumpul dikantin pagi ini. Pagi ini Viano berangkat sendiri, Bagas masih berusaha untuk menjauhkan Selena dengan Viano, sepertinya musuh Viano sekarang adalah kakak calon istrinya sendiri.


"Woi sini Vin." Agli berteriak.


Viano segera menoleh dan mengangguk, Viano melangkahkan kakinya mendekat kearah kedua temannya.


Viano duduk berhadapan dengan Rehan dan Agli yang selalu duduk berdampingan, Agli dan Rehan tuh ibaratnya kucing dan tikus tapi kalau akur bener bener nempel.


"Gimana kemajuan kasus Selena? ada perkembangan?" Rehan bertanya.


Viano menggeleng. "Belum ada perkembangan karena gue super sibuk gak bisa cari tau dalangnya, apalagi setelah kejadian dicafe itu, Bagas berusaha menjauhkan Selena dari gue. Jadinya fokus gue sekarang cuman mempertahankan hubungan gue sama Selena." jawab Viano panjang lebar.


"Lo harus mulai fokus lagi dikasus itu Vin, kasus itu kalau dibiarin bakal merembet pasti, Selena bisa kena bahaya."


Viano mengangguk setuju dengan perkataan Rehan.


Agli menunduk mendengarkan perkataan perkataan dari kedua temannya, apakah Agli harus jujur sekarang?


"Men temen." lesu Agli memanggil kedua temannya.


Viano dan Rehan sontak menoleh, mereka berdua kaget kenapa tiba tiba Agli memanggil mereka teman? padahal biasanya juga Agli manggil pakai nama, kayaknya ada yang salah dengan Agli hari ini.


"Lo sakit gli?" Rehan curiga.


Agli menggeleng. "Gue gak sakit, gue cuman mau memberitahu kalian semua tentang rahasia yang gue sembunyiin." ungkap Agli


Rehan dan Viano semakin dibuat penasaran.


"Lo sembunyiin apa? Lo sebenarnya putra duyung? atau siluman ular?" tebak Rehan.


Agli menatap Rehan dengan tatapan tajamnya, wah benar benar teman lucknut sekali Rehan.


"Bukan." jawab Agli.


"Lo bisa berubah jadi serigala?" Rehan kembali menebak.


Agli menggeleng.


"Lo punya utang triliunan? jadi Lo mau jadi Ngembel?"


"Bukan." jawab Agli lantang.


Rehan terdiam berusaha menebak nebak rahasia besar apa yang sedang ditutupi oleh bestienya.


Tiba tiba terlintas tebakan yang membuat Rehan lemas. Rehan menatap Agli dengan tatapan penuh kesedihan, yang ditatap malah kebingungan.


"Kenapa Lo?" Viano bertanya.


"Gue gak tau apa yang gue pikirin itu benar atau tidak, tapi gue mau minta maaf yah jika punya salah sama Lo." Rehan menatap Agli dalam dalam.


"Kenapa emangnya? Lo nebak gue jadi apa lagi?"

__ADS_1


"Lo kena kanker yah? karena itu loh berusaha buat nutup nutupin biar kita gak sedih." Rehan melirihkan suaranya.


Viano speechless mendengar tebakan Rehan, kali ini Rehan benar benar keterlaluan.


__ADS_2