
Bagas memukul Viano berkali kali, hari Bagas sakit karena tau jika Selena dipermainkan.
Bagas benar benar kebawa emosi sekali. Bagas akan membalas perbuatan Viano kepada Selena berkali kali lipat.
Pengunjung cafe merasa terganggu dengan ulah Bagas.
Satpam dan manajer cafe datang tergopoh gopoh.
Satpam segera berusaha memisahkan Bagas dan Viano, tapi karena kekuatan Bagas terlalu over Satpam jadi kesulitan.
Akhirnya setelah mengeluarkan genjutsu para satpam bisa memisahkan Bagas yang terus membabi buta.
Setelah dipisahkan Bagas masih berusaha untuk kembali membogem Viano.
Satpam berusaha menjauhkan Bagas dari Viano.
"Sabar mas sabar, ada masalah apa sih?" setelah mengecek Bagas sudah tenang, satpam pun bertanya karena mereka berdua bisa berantem.
Bagas mengusap wajahnya kasar.
"Karena laki laki itu bajingan pak." jawab Bagas dengan emosi yang masih membara.
Satpam itu mengusap baju Bagas. "Hust jangan ngomong begitu, kalau orangnya gak terima nanti ribut lagi loh. lihat bagian dicafe ini banyak yang rusak." ucap satpam itu.
Bagas ikut memperhatikan sudut sudut cafe dan benar saja banyak barang yang rusak karena kebrutalan Bagas.
"Manager cafenya mana pak?" Bagas bertanya.
Satpam itu memperhatikan sekelilingnya.
Satpam itu menunjuk sesuatu menggunakan jarinya.
"Itu manajer, kayaknya dia bakal marah sama kamu." ucap Pak Satpam.
Bagas mengangguk setuju, dilihat dari muka manajernya juga Bagas sudah tau jika dia akan dimarahi karena membuat kerusuhan dipublik.
Manajer itu segera melangkah dan menghentikan langkahnya diantara Bagas dan Viano.
"Siapa yang bertanggung jawab atas kerusuhan ini?" manajer itu memandang Bagas dan Viano.
Bagas segera mengacungkan jarinya, namun Viano juga ikut mengacungkan jari. Melihat itu keduanya saling bertatapan, tapi Viano langsung membuang mukanya.
"Jadi siapa yang bertanggung jawab?"
Keduanya kembali mengacungkan jari, manajer itu menatap Viano dan Bagas. Manajer cafe menghembuskan nafas lelah, dari tadi tidak menemukan ujungnya.
"Saya capek jadi kalian sebaiknya ngaku saja, siapa yang memulai keributan ini?" manajer itu terlihat sangat emosi.
Bagas berdiri. "Saya pak, saya yang memulai pertengkaran ini,"
Bagas maju mendekati manajer cafe itu.
"Mana rekening cafenya? saya akan transfer sekarang semua kerugiannya, mau ditambah juga gak apa apa." ungkap Bagas sekalian menyombongkan diri, maklum Bagas itu masih muda udah kaya raya.
__ADS_1
Manajer itu memberikan sebuah kertas berisi alamat rekening milik cafe.
Bagas segera mengambil kertas itu.
"Saya akan segera mentransfer, kalau dua puluh empat jam, anda bisa menelepon ke nomer ini." Bagas memberikan kartu identitasnya.
"Baik. Terimakasih."
Bagas segera keluar dari cafe. Padahal hari ini rencananya Bagas mau coffe coffe nyantai, eh ternyata Bagas harus ikut bogem bogeman.
"Saya pamit dahulu pak, maaf membuat keributan disini." Bagas melangkah keluar dari cafe.
Bagas membuka pintu mobilnya, tapi ada tangan yang menghentikan aktivitas Bagas.
Bagas menatap sang empunya tangan.
"Mau gue bogem Lo? minggir." Bagas menyenggol badan Viano.
Viano masih saja berusaha menghalangi jalan Bagas.
"Minggir telinga Lo dimana sih? Bu dek apa gimana?" sarkas Bagas.
Emosi Bagas kembali memuncak.
"Maaf bang, sekali lagi gue minta maaf." ucap Viano tulus dari dalam hati.
Bagas menatap tajam Viano.
"Gue gak akan maafin Lo. Lo udah terlalu nyakitin adik gue. Mending Lo sekarang pulang daripada gue bogem Lo lagi." ucap Bagas.
"Gue udah merasa nyaman sama Selena bang." lanjut Viano.
Bagas tersenyum remeh. "Mau Lo udah nyaman atau gimana pun gue gak bakalan bikin Selena jadi menderita karena gak dianggap sama Lo!" tegas Bagas.
Viano dan Bagas terdiam. Dibelakang Viano ternyata ada Rehan dan Agli yang menemani, mereka berdua berjaga jaga takut jika ada part 2 perkelahian antara Bagas dan Viano.
Melihat Viano lengah, Bagas segera masuk kedalam mobilnya dan menutup pintu tidak lupa menguncinya agar Viano tidak berusaha untuk masuk. Sepertinya kedepannya hubungan Bagas dan Viano akan memburuk.
"Gue mohon bang, jangan bilang masalah ini ke Selena!" Viano berteriak.
Bagas pun sudah pergi jauh dari cafe itu.
Agli dan Rehan segera mendekat kearah Viano. Agli menepuk nepuk pundak sahabatnya itu.
"Gue gak tau Selena punya kakak yang super serem, gue jadi takut. Gue gak jadi deh mau ngejar Selena." ucap Agli berusaha mencairkan suasana.
Bukannya cair, Viano jadi terpancing karena kata kata terakhir yang diucapkan Agli.
"Gue belum putus sama Selena, jangan coba coba ngerebut dia dari gue. kalau Lo ngerebut gue gak segan segan buat nonjok Lo." ancam Viano.
Agli bergedik ngeri, ternyata Viano masih terbawa emosi. Lain kali Agli akan mencari waktu yang tepat untuk bercanda.
"Yah yah sorry bro, gue gak bakalan ngerebut Selena kok."
__ADS_1
Viano tidak lagi berbicara melainkan Viano menghilang entah kemana.
Agli kebingungan, sedangkan Rehan cuman diam saja.
"Bro Viano kemana?" Agli bertanya.
"Dua cabut, mungkin mau ke rumah gebetannya." jawab Rehan.
"Buset kayak demit aja dia, bisa bisanya langsung menghilang tanpa kata."
Rehan menatap Agli malas. "Lagian salah Lo, kenapa Lo tadi ngomong begitu?"
"Yah sorry itu langsung keucap gitu aja." jawab Agli dengan entengnya.
"Lain kali mulut Lo dijaga." nasehat dari Rehan.
"Siap bos." ucap Agli disertai dengan cengiran khasnya.
*Viano menghentikan laju montirnya didepan halaman rumah Selena. Saat ini sudah malam, tapi Viano nekat bertamu, semoga Viano tidak dianggap tidak sopan oleh Bunda Irama. Viano takut namanya dicoret dari daftar mantu idaman.
Viano melangkah dihalaman rumah simple dan elegen itu.
Viano mengetok pintu rumah Selena.
Tidak lama ada yang membuka pintu dan ternyata pucuk dicinta ulang pun tiba yang membuka pintu adalah Selena, keberuntungan yang membahagiakan.
"Loh kok Viano? kirain bang Bagas." ucap Selena dengan tampang kebingungannya membuat Selena jadi lebih imut.
Selena kaget melihat penampilan Viano yang berantakan.
"Lo kok mula Lo pada lebam? kenapa?"
Viano menatap Selena sendu. "Gak apa apa tadi cuman jatuh dikamar mandi."
"Kok bisa?"
Viano tidak menjawab pertanyaan Selena. Yang ada malah Viano memeluk tubuh Selena.
"Ada apa sih? kok tiba tiba meluk?" Selena masih membiarkann Viano memeluknya.
Vaino menggeleng. "Gak apa apa gue cuman kangen sama Lo."
Selena semakin kebingungan, kenapa Viano kangen dengan Selena padahal setiap hari Selena dan Viano hampir saling tatapan kadang makan dikantin bareng.
'Curiga gue.' batin Selena bertanya tanya.
Perempuan tuh yah kalau lakinya cuek dikit dicurigai kalau romantis juga dicurigai, betul gak nih?
Viano masih saja terus memeluk tubuh Selena, Viano merasa tenang karena sepertinya Selena belum tau tentang kejadian di cafe.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihat kearah mereka sambil mengepalkan tangan, orang itu melangkah semakin mendekat kearah Selena dan Viano.
Kira kira siapakah orang itu?
__ADS_1
tenang guys masalah pembullyan Selena akan terungkap sedikit demi sedikit.