
Bunda Irama khawatir dengan keadaan Selena, tapi Bunda Irama juga tau kalau Selena dipaksa pulang pasti keadaan Selena bakal semakin parah. Tapi Bunda Irama yakin jika memang inilah pilihan terbaik saat ini. Bunda Irama juga meminta agar Viano saat sudah sampai dihotel, Viano langsung membeli obat obat untuk kondisi Selena. Viano langsung mengiyakan permintaan Bunda Irama.
Mobil milik Viano sudah berhenti digedung hotel yang lumayan tidak tinggi tapi diparkirannya banyak mobil terjajar rapi. Hotel itu juga terlihat megah padahal ditengah hutan, mungkin pemilik hotel ini suka hutan jadi membangun hotel ditengah hutan. Selena pusing sendiri menghayal berapa biaya menyewa kamar dihotel ini, yang pasti biaya sewanya mahal. Viano dan Selena segera masuk kedalam lobi hotel, Viano mendekat kearah resepsionis untuk memesan kamar.
“Halo selamat datang dicentral flores, tuan muda” Resepsionis itu menyapa Selena dan Viano.
Selena jadi penasaran kenapa pelayan itu memanggil Viano dengan sebutan tuan muda. ‘Jangan jangan hotel ini milik keluarga Alexander?’ batin Selena.
‘Wah artinya kekayaan keluarga Alexander banyak juga yah.’ lanjut Selena.
“Mbak masih ada ruang kamar yang kosong?” Viano bertanya.
“Saya cek dulu tuan muda.” Viano dan Selena menunggu konfirmasi dari resepsionis.
“Setelah saya cek masih ada kamar yang kosong tuan.” senyum Vianopun mengambang.
“Saya bisa pesan dua kamar?” Viano bertanya.
Resepsionis hotel itu menggeleng, “maaf tuan muda, semua kamar sudah diboking untuk penginapan dan yang tersisa cuman satu kamar kosong. Bagaimana tuan muda?”
Selena terkejut padahal hotel ini berada dihutan tapi mengapa bisa laku yah?.
‘Wah pasti dalam sehari hotel ini pasti ramai.’ batin Selena.
‘Dapet banyak duit dong pemilik hotelnya.’ lanjut Selena didalam hati.
Viano memijat pelipisnya bingung akan memilih. “Beneran gak ada kamar kosong selain kamar itu?” Viano kembali bertanya untuk memastikan, Resepsionis itupun mengangguk.
“Kamar tipe apa?”
Resepsionis itu mengecek layar laptopnya. “Yang masih tersedia kamar sweet tuan muda.”
‘What kamar sweet?, bukannya itu kamar untuk pasangan baru menikah yah?’ batin Selena.
Viano mengangguk mengerti penjelasan dari resepsionis. “Yaudah saya ambil kamar itu.” keputusan akhir dari Viano.
“Oke tuan.”
__ADS_1
Resepsionis itu langsung membuka laci dan memberikan kunci kepada Viano. “Kalau ada apa apa tinggal panggil pelayan tuan.” Viano mengangguk menanggapi.
Selena mengikuti langkah kaki Viano untuk sampai dikamar yang Viano pesan. Viano sudah membuka kunci pintu, sebelum masuk tangan Viano ditarik oleh Selena.
“Ada apa?” Viano bertanya.
“Lu kira kira aja, kita beneran tidur berdua disini?” protes Selena.
Viano mengangguk. “Iyalah cuman bisa tidur disini.” jawab Viano.
“Gue gak mau tidur sama lo, apalagi berdua.” Selena menolak mentah mentah.
Viano mengangguk anggukan kepalanya. “Kalau lo gak mau tidur disini?, mau tidur dimana? mau tidur diruang pelayan hotel?, atau mau pulang?,”
“Udah jam delapan malam, yakin gak takut?” lanjut Viano.
Selena terdiam memikirkan perkataan Viano, kalau dipikir pikir benar juga apa yang dikatakan Viano, tidak mungkin Selena pulang ditengah hutan sendirian apalagi sudah malam begini, sudah pasti Selena takut.
“Lo masuk aja, gue mau keluar sebentar mau cari paracetamol dan obat alergi lo.” tanpa berlama lama, Viano meninggalkan Selena yang mematung didepan pintu hotel.
“Gue baper.” teriak Selena didalam kamar hotel.
Tidak lama Viano kembali masuk kedalam kamar hotel, Selena menormalkan ekspresi wajahnya dan menormalkan detak jantungnya.
“Nih minum dulu obatnya.” perintah Viano kepada Selena.
Selena langsung mematuhi perintah dari Viano. Setelah meminum obat Selena lanjut berbaring diatas kasur tidur, Viano mendekat dan juga ingin merebahkan tubuhnya diatas kasur. Selena yang melihat kedatangan Viano langsung panik.
“Eits lo kok tidur disini? satu kasur bareng gue?” Selena bertanya dengan muka tidak percaya.
“Iya gue tidur disini.” tanpa persetujuan Selena, Viano langsung ikut merebahkan tubuhnya disamping Selena.
Selena refleks berdiri dan menunjuk Viano dengan jarinya. “No no no lo gak bisa tidur bareng gue, setidaknya jangan satu kasur, lo kan bisa tidur disofa.”
Viano memandang Selena dengan tatapan tajam. “Gue gak mau. emangnya kenapa kalau gue tidur satu kasur sama lo?” Viano bertanya karena penasaran kenapa Selena bisa takut dengan Viano.
“Gue takut nanti lo unboxing gue, kayak lo sama dania, pasti lo udah unboxing kak Dania bukan?” Selena keceplosan.
__ADS_1
“Nanti kalau lo nyentuh gue, keblabasan gimana nanti jadinya. kacau nanti.” dari pada menutupi kabar itu, Selena langsung membeberkannya saja kepada Viano.
Viano menyipitkan matanya. “Lo kok lu tau kalau gue pernah kehotel sama Dania?” Viano malah mengucapkan kalimat ini, artinya gosip itu benar adanya.
Selena menatap tajam kearah Viano, Selena marah kepada Viano, bisa bisanya Selena tidak tahu dan tidak diberitahu Viano. “Jadi gosip itu memang benar?” nada bicara Selena langsung tegas.
Viano merasa jika sekarang Selena emosi dengan Viano, kenapa juga Viano menjawab tanpa memikirkan ulang kata katanya.
“Jawab gue!” Selena merasa kecewa kepada Viano.
Hening seketika, tapi tidak lama Viano kembali bersuara. “Gue memang kehotel bareng Dania, tapi itu cuman makan diresto kita gak pernah tuh tidur satu kamar kayak sekarang, dan gue gak pernah nyentuh Dania kearah hal yang berlebihan,”
“Sebaiknya lo jangan percaya sama gosip gosip itu.” nasehat Viano untuk Selena.
Selena jadi lega, ternyata rumor itu salah, ternyata satu satunya wanita yang diajak ngamar Viano cuman Selena. Selena jadi baper lagi deh.
“Tapi lo kan cowok normal, pasti kalau sekamar sama gue, lo bakal nyentuh gue gak?” Selena menatap tajam kearah Viano.
Viano mengangguk anggukan kepalanya. “Yah gue bakal nyentuh lo kalau gue nafsu sama lo, tapi sorry yah gue gak nafsu sama tubuh lo.” ungkap Viano.
Selena langsung melempar kaos ke muka Viano. “Asal ngomong aja lo. padahal kalau lo lihat gue gak pakai baju juga bakal langsung sampai matanya hijau.”
“Yah namanya juga lo gak pakai baju, ibaratnya itu kucing dikasih ikan asin yah pasti mau.”
“Iyain deh biar seneng.” Selena pasrah.
Dipagi hari Selena terbangun tapi Viano sudah tidak disamping tubuh Selena. Selena bangkit dan berdiri mencari keberadaan Viano.
Viano datang dari arah balkon. “Lo udah bangun?”
Selena mengangguk dengan lemas.
Thank you guys sudah baca hasil kegabutan aku ini.
Maaf yah jika banyak typo karena baru pemula, kalau ada salah juga mohon comment.
Terima kasih.
__ADS_1