
Raen mengunci pintu ruang teather. Setelah itu Raen melangkah meninggalkan ruang teather. Satu tangan Raen memegang ponsel dan satu tangan Raen memegang tas milik Selena.
Raen mencoba menghubungi seseorang. Panggilan pertama ternyata ditolak.
"Ayo angkat ini penting." Raen bergumam sendiri.
Panggilan dari Raen terus ditolak oleh Viano. Raen bahkan hampir menyerah dan akan mencari Selena sendiri, namun sepertinya Raen masih diberi kesempatan.
"Ada apa?" Viano bertanya dengan nada garang.
"Slow bro gue baru aja mau ngomong nih udah ditadang sama kegarangan Lo aja." ucap Raen ditelepon.
"Gak usah basa basi, langsung ke inti." sepertinya Viano alergi berbicara dengan Raen. Mungkin karena pernah cemburu saat Selena berduaan sama Raen.
"Gue mau tanya, Selena udah pulang sama Lo?"
"Belum pulang, gue masih nunggu. Bukannya masih ada urusan sama Lo diruang teather?" sepertinya alasan Viano galak kepada Raen adalah karena alasan Selena yang masih ada urusan dengan Raen.
"Selena belum ngomong mau pulang tadi. Dan tiba tiba menghilang begitu saja." ucap Raen disambungan telepon.
"Oke segitu saja yang mau gue omongin sama Lo. Tas Selena sama ponsel Selena ada sama gue yah." setelah itu Raen mematikan sambungan telepon.
Viano panik mendengar bahwa Selena belum pulang padahal seharusnya Selena sudah pulang sejak 1 jam yang lalu.
Viano segera masuk kembali kesekolah. Viano berkeliling sambil mencari ruang dimana yang masih ada orang.
Sekolah sudah sangat sepi sekali, mungkin beberapa menit lagi gerbang sekolah akan segera ketutup.
__ADS_1
Viano tidak bisa menghubungi Selena karena memang Selena tidak membawa ponsel.
"Gue harus cari kemana lagi?" Viano sekarang kebingungan sekali.
Viano sudah mencari Selena diruang kelas bahkan sampai kelantai atas tapi tidak ada tanda tanda Selena berada disalah satu ruang itu.
"Sel Lo dimana?" Viano berteriak berharap jika Selena mendengar suara teriakan dari Viano.
"Lena."
"Len."
"Lena, plis Lo ada dimana?"
Ponsel Viano berbunyi, Viano sudah sangat antusias mengira jika sipenelepon adalah Raen, mungkin Raen tau keberadaan dari Selena. Tapi ternyata salah, yang menelepon Viano adalah Bagas.
"Woi Selena dibawa kemana? kok sampai jam segini belum pulang. Awas yah nanti kalau Sampek Selena lecet lecet gue bogem muka Lo." Bagas mengancam Viano.
Viano tidak mungkin mengungkapkan kebenaran jika Selena menghilang, Viano takut jika nanti Bagas khawatir. Lebih baik sekarang Viano berbohong.
"Selena aku bawa jalan jalan bang." Viano terpaksa berbohong.
"Ouh begitu yah? mana Selenanya? gak ada suaranya tuh." Bagas sepertinya menaruh curiga.
"Lagi ditoilet bang." Viano menjawab.
"Oke kalau begitu. pulangnya hari hati dijalan." Bagas mematikan sambungan telepon.
__ADS_1
Viano segera memasukan ponselnya kembali kesaku.
Ngomong ngomong tentang toilet. Sepertinya Viano belum mengecek toilet dilantai atas, semoga ditoilet lantai atas ada tanda tanda keberadaan Selena.
Viano segera melangkah menampaki tangga tangga menuju lantai atas.
"Sel Sel." Viano kembali meneriaki nama Selena
"Len Lena." Viano sudah sampai didepan pintu toilet wanita.
Ada suara ketukan yang berasal dari dalam toilet wanita. Viano menoleh kearah toilet.
Apakah yang mengetuk itu hantu? tapi apa mungkin? Viano menggelengkan kepala menghapus pemikiran absurdnya. Tidak mungkin hantu bisa mengetok pintu.
Viano masih terdiam didepan pintu toilet wanita.
"Vin? Vin itu suara Lo kan?" ada suara lirih yang berasal dari dalam toilet.
Viano membelalak matanya tidak percaya hantu bisa menyebutkan nama manusia.
"Vin ini gue Selena, gue kekunci didalam sini Vin. bukain." permintaan dari dalam toilet.
Viano merasa lega, Viano tau suara didalam toilet adalah suara milik Selena.
Viano segera lebih mendekat kedepan pintu toilet.
...****************...
__ADS_1
Pemirsah pembaca my ketos thank you very much sudah membaca novel ini.