
Selena akhirnya memutuskan untuk mendobrak pintu toilet. Kalau nanti pintu toilet rusak dan Sekolah meminta pertanggung jawaban, maka Selena akan menggantinya, yang penting sekarang Selena bisa keluar dari toilet itu yang terpenting.
Tubuh Selena menabrak pintu toilet. Pintu toilet masih belum bisa terbuka.
Selena mengusap kasar rambutnya yang tergerai. "Aish gimana ini?" gumam Selena pusing sendiri.
"Siapa yang bisa nolongin gue kalau gini?" Selena bertanya dengan dirinya sendiri.
Tidak putus asa, akhirnya Selena mencoba kembali untuk mendobrak pintu.
Sudah 4 kali Selena mencoba mendobrak pintu, namun pintunya masih tidak terbuka yang ada tubuh Selena kesakitan semua.
Tubuh Selena menjauh dari pintu. Selena menghentak hentakan kakinya kesal karena sedari tadi tidak bisa membuka pintu.
"Dorong pintu kebuka? nonono dorong pintu badan sakit semua yes yes yes" Selena masih sempat bercanda.
Selena melangkah menjauh dari pintu, lalu Selena sekuat tenaga menahan kekuatan diarea kaki. Selena akan menendang bagian knop pintu, semoga usaha Selena kali ini akan membuahkan hasil.
Selena menabrakan tubuhnya, dan knop pintu rusak, akhirnya pintu bisa terbuka. Selena tersenyum senang, halangan satu bisa terselesaikan tinggal pintu depan yang lebih kokoh dari pintu toilet untuk dirobohkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sabrina mulai mengotak atik komputer yang baru saja ditinggalkan oleh Selena.
"Gue benci banget sama adek kelas sok kecintilan kayak dia."
__ADS_1
"Gue disuruh baik baikin dia? kalau bukan karena disuruh sih, gue ogah yah." gumam Sabrina.
Ponsel pintar milik Sabrina berdering, Sabrina segera meraih ponselnya dan ternyata teman Sabrinalah yang menelepon Sabrina.
"Tenang aja, dia baru keluar kok. Setelah ini jangan suruh suruh gue lagi yah. gue gak mau sok sok an baik sama dia." ungkap Sabrina.
"Oke oke."
Telepon dimatikan oleh Sabrina. Setelah itu Sabrina melanjutkan pekerjaan Selena, sebenarnya sih cuman ngecek saja, karena 95% kerjaan sudah diselesaikan Selena, dan Sabrina hanya mengerjakan 5% nya.
Selena menghela nafas panjang. Selena mengusap kakinya yang sudah lebam.
"Gue udah gak kuat, sakit banget badan gue." lama kelamaan badan Selena menjadi sakit semua, padahal tadi pas masih berjuang dobrak pintu, semuanya baik baik saja.
'Siapa pun tolongin gue dong' batin Selena memohon.
Selena mencoba duduk untuk mengurangi rasa sakit pada punggungnya. Selena berdoa semoga ada orang yang mencari Selena dan menyelamatkan Selena.
Selena sudah hampir terkunci ditoilet selama 1 jam. Selena bahkan sudah sesak nafas karena bau menyengat ciri khas toilet.
Raen menghentikan pekerjaannya. Setelah mengecek semuanya selesai, Raen bersiap siap untuk pulang karena memang sudah sore sekali. Sebelum pulang, Raen akan mengecek satu satu anggota jurnalistik.
Raen menuju komputer yang tadi digunakan oleh Selena, Raen tampak kebingungan kenapa disana tidak ada Selena? malahan adanya Sabrina yang sedang bersiap siap pulang.
"Sab." Raen memanggil nama Sabrina.
__ADS_1
Sabrina menoleh kearah Raen. Melihat kedatangan Raen, Sabrina langsung kecentilan dan sok cantik, Sabrina berdoa semoga Raen menjadi suka sama Sabrina.
"Ada apa Raen?" Sabrina melembutkan suaranya, padahal tadi saat bersama Selena, Sabrina malah ngegas dan tidak pernah berkata dengan nada lembut kepada Selena. Sabrina kenapa beda sekali.
"Selena mana yah?" Raen bertanya tentang Selena kepada Sabrina.
Raut muka Sabrina langsung berubah dratis mendengar nama itu disebut.
"Mungkin udah pulang." jawab Sabrina dengan raut muka cuek.
Raen tampak tidak percaya. "Udah pulang? tapi kenapa tas nya masih disini?" Raen curiga.
Sabrina langsung gelagapan dalam hati ingin sekali marah. 'Kenapa kelupaan belum ambil tas sih.' batin Sabrina.
"Selena mungkin buru buru jadinya kelupaan tasnya. Udah Lo pulang aja gak usah pikirin dia." Sabrina menghasut Raen.
Raen menggelengkan kepalanya. "Gak gak. Gue takutnya ada apa apa sama Selena. Gue sebagai ketua jurnalistik harus tau sama keadaan anggota gue. Gue gak boleh teledor karena mereka itu tanggung jawab gue." ungkap Raen.
Sabrina meletakan tasnya dengan kasar. "Ya udah kalau gak percaya. Kalau menurut Lo dia hilang ya udah cari dia sampai ketemu. Ada ada aja, lagian gak mungkin Selena hilang disekolah." Sabrina berusaha menyakinkan Raen.
Raen mengangguk angguk. Walaupun Raen masih tidak percaya dengan ucapan Sabrina, namun Raen akan menggunakan cara lain agar bisa tau keadaan Selena.
"Oke oke, Lo mau disini sampai kapan?" Raen mengusir Sabrina dengan halus.
Sabrina mencebikan bibirnya. "Kalau Lo gak tanya tanya, gue udah pulang dari tadi." Sabrina meraih tasnya kemudian melangkah meninggalkan Raen. Hari ini Sabrina merasa bad mood gara gara Raen yang terlalu peduli dengan Selena.
__ADS_1