My Maid My Wife

My Maid My Wife
11


__ADS_3

Dara merasa ada yang mengangkat tubuhnya dan menyelimuti dirinya, entah hanya mimpinya atau memang kenyataan namun Dara sudah tak mampu untuk membuka mata hanya sekedar mengetahui apakah ini mimpi atau nyata.


Rasa kantuk dan lelah yang sangat hebat membuat Dara tertidur seperti orang pingsan bahkan tak bangun ketika tubuhnya diangkat oleh seseorang yang kini tengah memandangi wajah teduh Dara ketika memejamkan mata.


Siapa lagi jika bukan Randi, Ya Randi memang memindahkan Dara dikamar nya karena tak tega melihat tubuh Dara yang meringkuk dimeja makan.


Sebenarnya tadi Randi ingin membangunkan Dara namun karena Dara terlihat lelah, Randi akhirnya memindahkan Dara tanpa menbangunkanya.


Puas menikmati memandang wajah Dara, Randi keluar dan mendekati meja makan, Randi melihat Dara sudah memasakan udang saus padang kesukaanya, walaupun sebenarnya Randi sudah kenyang akhirnya mau tak mau Randi mencicipi Masakan Dara karena mau bagaimana pun juga ia ingin menghargai apa yang Dara siapkan untuknya.


Satu suapan udang masuk kemulut Randi membuat Randi ketagihan karena rasa Udang saus padang buatan Dara terasa nikmat, ya sangat nikmat sekali, dan membuat Randi tak sadar sudah menghabiskan Udang yang dimasakan oleh Dara.


Selesai makan, Randi segera mencuci piring dan membersihkan meja makan, setidaknya ini bisa meringankan pekerjaan Dara besok pagi, entahlah apa yang Randi pikirkan namun ia merasa jika Randi memang harus melakukan ini.


Selesai makan dan membersihkan meja makan, Randi memasuki kamar mandinya dan mulai menguyur badan nya dibawah shower.


Selesai mandi Randi merebahkan badan lelahnya diranjang, dia memang sengaja berbohong pada Indah karena memang ia sedang lelah dan tak ingin mendengarkan manja dan rajukan dari Indah.


Ya dia sedang tidak ingin, entah apa yang Randi rasakan pada Indah sebenarnya ia sendiri juga bingung dengan dirinya sendiri.


...


Subuh, Dara terbangun karena mual yang melanda nya, seketika Dara berlari kecil ke memasuki kamar mandi untuk memuntahkan isi perut yang sedari tadi mengoyak perutnya untuk dikeluarkan.


Setelah lega, Dara berjalan lunglai menuju ranjangnya kembali, Sedikit terkejut mengapa Dara bisa tidur dikamar nya seingatnya semalam ia masih menunggu Tuan Randi dimeja makan, Apakah Tuan Randi yang memindahkan nya? tetapi tidak mungkin Tuan Randi mengangkat nya kan, ahh iya tidak mungkin batin Dara, mungkin ia semalam lupa jika sudah memasuki kamarnya.


Setelah dirasa badan Dara sedikit enak, Dara bangun dan bergegas menyiapkan sarapan untuk Tuan Randi, tak lupa ia mencuci muka sebelum keluar dari kamarnya.


Dara melihat meja makan sudah rapi dan bersih, seingatnya ia tak membereskan meja makan semalam tapi kenapa bisa sebersih ini batin Dara, dan juga tak ada sisa makanan yang ia masak semalam, apakah sudah dimakan oleh tuan Randi, batin Dara lagi.


Dara mencoba melihat ditempat sampah, hanya memastikan apakah Tuan Randi membuang makanan nya atau memakan masakannya namun nyatanya ditempat sampah tak ada sesuatu yang terlihat seperti masakan nya semalam, sedikit lega karena Tuan Randi menghabiskan makanan buatan nya dan tak terasa semburat senyum melengking dibibir Dara.


Selesai menyiapkan sarapan Dara melihat kearah jam dinding dan sudah pukul 6 pagi, apakah Ia harus membangunkan Tuan Randi? Sedikit ragu akhirnya Dara pun bergegas menuju kamar Randi.

__ADS_1


Didepan kamar Randi, Dara mengetuk pintu kamar namun tak mendapat sahutan, akhirnya Ia memberanikan diri membuka pintu yang tak terkunci itu. Dara memasuki kamar Randi dan melihat Randi masih terbaring memejamkan mata.


Dilihatnya wajah tampan Randi yang membuat Dara merindukan sosok Rendi yang sekarang masih terbaring dirumah sakit.


Mirip, sangat mirip, tentu saja mereka kan kembar batin Dara nampak menggelengkan kepala nya.


"Tuan..." panggil Dara pelan.


"Hmmm." jawab Randi .


"Sudah pukul 6 pagi Tuan, apakah tidak bekerja?" tanya Dara masih dengan suara yang pelan.


"Hmmm, ya baiklah, aku bangun." kata Randi namun masih memejamkan mata.


Menghela nafas, Dara kemudian keluar dari kamar Randi.


Dara kembali memulai aktifitasnya, membersihkan seluruh ruangan apartemen.


Justru Dara sangat bersyukur karena kebaikan Tuan muda nya ia bisa memiliki status meskipun statusnya tak akan bertahan lama karena Dara sadar Tuan muda nya akan tetap kembali pada kekasihnya Dokter Indah, Dara tak mempermasalahkan itu sebab baginya ia memiliki status sampai anak nya lahir pun tak masalah.


Namun Dara tetap berharap Tuan Rendi segera sadar dan mengetahui apa yang terjadi dengan nya meskipun ia sedikit ragu apakah Tuan Rendi mau mengakui atau tidak setelah sadar nanti.


"Kita kuat kok ya sayang." lirih Dara sambil mengelus perutnya.


Tanpa Ia sadari Randi sudah dibelakang nya mendengarkan lirihan nya.


"Istirahatlah jika lelah, biar nanti kupanggilkan salah satu maid Mama untuk membersihkan tempat ini." kata Randi tiba tiba membuat Dara tersentak terkejut.


"Ehmm, tak perlu Tuan saya tidak apa apa." kata Dara merasa tak enak.


" Hmmm... kapan kau akan memeriksakan kandungan mu lagi?" Tanya Randi nampak duduk di kursi meja makan dan mulai meminum kopi yang sudah disiapkan Dara.


"Mungkin lusa tuan." jawab Dara .

__ADS_1


"Besok kalau kamu mau memeriksa kandunganmu, aku akan mengantar mu ." kata Randi.


"Tuan serius?" tanya Dara nampak terkejut.


"Tentu saja, kenapa kamu tidak mau?" tanya Randi pada Dara.


"Tidak tuan, bukan nya saya tidak mau, tapi dokter yang memeriksa saya kan Dokter Indah, saya tidak enak jika Dokter Indah tau kalau Tuan mengantar saya memeriksa kandungan saya" jelas Dara .


"Hmmm, ganti Dokter saja kalau begitu." balas Randi sambil menyuapkan sarapan ke mulutnya.


"Tapi tuan." Dara terlihat Ragu.


"Nanti aku akan mencarikan dokter kandungan untukmu, jadi kamu tak perlu pergi ke Klinik Dokter Indah lagi." jelas Randi yang kini selesai dengan sarapan nya.


"Baik Tuan." jawab Dara pasrah.


"Aku berangkat dulu..." pamit Randi .


"Baik Tuan." Dara nampak mengambilkan sepatu yang akan dipakai Randi.


Setelah Randi selesai memakai sepatunya, Randi keluar dari apartemen nya dan Dara masih setia memandangi pria yang kini berstatus sebagai istrinya.


Ya meskipun hanya pernikahan secara agama namun Tuan Randi tetaplah suaminya.


Dara masih berdiri didepan pintu dan teringat ucapan Randi yang mengatakan untuk mengganti dokter kandungan nya padahal ia sudah merasa nyaman jika Dokter Indah yang memeriksanya. Namun jika dipikirkan lagi ia juga merasa sangat bersalah jika trus bertemu dengan kekasih dari Tuan Randi yang notaben nya adalah kekasih dari suaminya itu.


Namun mau bagaimana lagi, bahkan sejak awal ia juga tak menyangka akan menikah dengan Tuan Randi.


Menghela nafas lelah, Dara melanjutkan pekerjaannya membersihkan debu diapartemen Randi.


Bersambung.....


jangan lupa like vote dan komen...

__ADS_1


__ADS_2