
Dara menikmati makanan sambil sesekali terkekeh. Bagaimana tidak terkekeh melihat Wajah Rendi yang masih saja ditekuk.
"Lain kali jika wanita tua tadi menganggu akan kupecat dia." kesal Rendi.
"Huss.. nggak boleh ngomong kayak gitu, Bi Surti kan baik cuma ngasih tau kalau makan siang nya sudah siap, nggak perlu kayak gitu sayang." nasehat Dara hanya membuat Rendi mendengus kesal.
"Nanti malem kan bisa dilanjutin lagi sayang." kata Dara lagi sambil mengenggam tangan Rendi.
"Tapi nanti malem belum tentu kamu se agresif tadi." sebal Rendi.
"Ya udah kalau gitu habis makan gimana?" tawar Dara.
"Aku jam 2 ada meeting, nggak mungkin cukup waktunya."
Dara hanya terkekeh mendengar kekesalan Rendi.
"Ketawa aja teross." kesal Rendi.
"Iya iya maaf."
Akhirnya keduanya makan siang dengan keheningan.
Setelah selesai makan siang Rendi kembali lagi kekantor.
"Aku pulang sedikit larut, jangan menungguku." kata Rendi sebelum memasuki mobilnya dan Dara hanya mengangguk paham.
Mobil Rendi berjalan keluar mansion, Dara terlihat menghela nafas sambil mengelus perutnya.
"Mungkin lupa jika hari ini adalah jadwal periksa, ya sudah nanti kita periksa sendiri ya nak." batin Dara sambil mengelusi perutnya yang terlihat membuncit.
....
Sore hari saat Dara sedang bersiap siap untuk memeriksakan kandungan nya namun siapa sangka Rendi juga sudah pulang.
Rendi memasuki kamar dan melihat istrinya sudah cantik dengan riasan natural dan dress selutut.
"kok sudah pulang? katanya pulang malam?" tanya Dara terkejut melihat suaminya sudah pulang.
"Aku inget kalau hari ini ada jadwal periksa makanya aku undur semua kerjaan dan pulang lebih awal." kata Rendi yang langsung menerbitkan senyum dibibir Dara.
__ADS_1
"Aku pikir kamu lupa." lirih Dara.
"Mana mungkin sih aku lupa." kata Rendi mencium kening Dara. "Aku mandi trus siap siap dulu yaa." Rendi terlihat berjalan meninggalkan Dara yang terlihat sumringah.
...
Rendi dan Dara kini sudah berjalan dilorong rumah sakit hendak menemui dokter Obgyn yang biasanya.
"Maaf Dokter Vero sedang tidak buka praktek, saat ini hanya ada Dokter Vano yang praktek obgyn." kata Salah satu suster yang berjaga.
"Ya sudah mbak, saya tanya istri saya dulu.'' Kata Rendi berjalan mendekati Dara yang menunggu Rendi mendaftar.
"Dokter Vero nya nggak ada sayang, gimana? kamu mau pake Dokter yang lain?" tanya Rendi. "Tapi cowok dokternya" kata Rendi lagi sedikit ragu.
"Trus gimana dong?" Dara juga binggung.
"Ya udahlah pake Dokter itu aja nggak apa apa kan sekali ini aja." jelas Rendi.
"Ya aku nurut aja deh." setelah mendapatkan jawaban dari Dara, Rendi segera menghampiri Suster yang berjaga untuk mendaftar.
Setelah mendapatkan nomor antrian Rendi berjalan mendekati istrinya dan duduk disamping istrinya.
"Bukan nya biasanya kamu juga ikut masuk?'' kekeh Dara sedangakn Rendi hanya diam saja.
Hingga Dara dipanggil oleh suster yang berjaga, keduanya pun memasuki ruang periksa.
Dan saat Dara bertatap muka dengan Dokter itu betapa terkejutnya Dara melihat Dokter yang Ia lihat ternyata Dokter yang Ia temui disupermarket kemarin.
"Lhoo.. kamu bukanya wanita yang kemarin disupermarket?" tanya Dokter Vano yang hanya membuat Dara tersenyum kikkuk sedangkan Rendi terlihat binggung melihat istrinya mengenal dokter yang menurutnya asing itu.
"Nggak nyangka kita ketemu lagi, aku dokter Vano, dokter obgyn disini." Vano terlihat memperkenalkan diri pada Dara tak peduli dengan adanya Rendi disampingnya.
"Ah iya Dokter, saya pikir Anda dokter anak anak karena kemarin kesupermarket bersama Nana." kata Dara sedikit kikkuk sedangkan Rendi terlihat kesal melihat keakraban kedua orang didepan nya ini.
"Jangan terlalu formal, santai saja, aku kemarin hanya mengajak Nana jalan jalan saja." jelas Dokter Vano.
"Ini istri saya, bisakah segera periksa? kami biasanya memeriksa pada Dokter vero tapi sekarang Dokter Vero sedang tak ada jadi biskaah kamu memeriksanya." tanya Rendi dengan nada kesal karena merasa diacuhkan oleh Dara dan Dokter Vano membuat Dara sedikit khawatir.
"Ohh baiklah." Raut kecewa terlihat jelas diwajah Dokter Vano mengetahui jika Dara telah bersuami dan sedang hamil. sewaktu disupermarket Dokter Vano benar benar tidak menyadari jika perut Dara sedikit membuncit, waktu itu Dokter Vano hanya melihat wajah cantik Dara saja.
__ADS_1
Saat melakukan Usg, Dara terpaksa menyikap dressnya meskipun Ia memakai celana leging pendek namun Rendi terlihat kesal karena Dokter itu bisa melihat paha mulus serta perut buncit milik Dara.
"Lain kali tak akan kubiarkan kamu diperiksa oleh pria ini lagi." batin Rendi kesal.
Selama pemeriksaan Dokter Vano terlihat mencuri pandang Dara apalagi saat Dara tersenyum melihat kearah monitor usg yang menampilkan janin yang masih tubuh itu, senyum manis Dara sama sekali tak pudar membuat Rendi merasa kesal sangat kesal.
Setelah selesai pemeriksaan kini Dara serta Rendi sudah berada dimobil. Hening itulah suasana didalam mobil.
Rendi terlihat memikirkan sesuatu sedangkan Dara nampak asyik melihat foto hasil usg janin mereka.
"Aku jadi nggak sabar pengen lahiran." kata Dara sambil masih melihat satu persatu foto Usg nya.
"Darimana kamu kenal dokter tadi? sepertinya kamu kenal sebelum kita periksa disini?" tanya Rendi membuat Dara binggung apakah Ia harus menjawab jujur atau tidak.
"Emm ..a aku kenal pas ketemu disupermarket, dia bawa anak kecil namanya Nana trus pengen botol yogurt yang aku beli dan udah habis karena aku kasian, ya udah aku kasih aja." jelas Dara.
"Suppermarket? kapan kamu kesana?" tanya Rendi.
Glek... Dara lupa jika Ia ke supermarket tanpa sepengetahuan Rendi.
"Emm aku...."
"Jawab aku! kapan kamu kesupermarket." tanya Rendi sedikit membentak.
"Kemarin, maaf aku bosan dirumah jadi aku ikut Bibi ke supermarket." jujur Dara sambil menunduk takut Rendi marah.
"Shitt...." Rendi terlihat emosi hingga membanting setirnya membuat klakson berbunyi.
"Maaf .. maafin aku.." kata Dara terlihat menyesal dan ketakutan.
Rendi tak memperdulikan permintaan maaf Dara, Ia malah melajukan mobilnya sangat kencang membuat Dara takut dan memegang erat seatbelt nya. beruntung itu semua tak lama karena keduanya telah sampai dimansion.
"Sejak kapan kamu jadi pembangkang gini!" kata Rendi terlihat marah kemudian Ia keluar dan menutup pintu dengan keras.
Dara menunduk dan tak kuasa menahan tangisnya karena untuk pertama kalinya Rendi semarah ini dengan nya.
Dara bosan dan apa salahnya jika ia keluar hanya jalan jalan kesupermarket, kenapa Rendi bisa semarah itu padanya? batin Dara menangis hingga air matanya membasahi buku Kia yang sedari tadi berada di pangkuan nya.
Bersambung...
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komen ...