
Setelah membicarakan pada Rendi dan menemani Rendi makan malam, Dara berniat ke kemar Siti untuk menyampaikan kabar bahagianya pada Siti.
"Apa aku menganggumu?" tanya Dara yang memasuki kamar Siti, melihat Siti tengah asik menonton acara televisi.
"Emm tentu saja tidak." kata Siti terlihat senang melihat Dara datang.
"Maaf jika tempatnya tidak membuatmu nyaman." kata Dara.
"Kau ini bicara apa? tentu saja tempat ini sangat nyaman untuk ku, kau tau rumahmu sangat bagus sekali, lebih mewah dari mansion Tuan Sanjaya." jelas Siti.
Dara hanya tersenyum tipis "Ini rumah Mas Rendi bukan Rumahku." jelas Dara.
"Hey bukankah kau istrinya, tentu saja ini akan menjadi milikmu juga." kata Siti.
"Entahlah, aku tidak terlalu memikirkan itu." kata Dara. "Ohh iya, aku punya kabar yang lebih bagus untukmu." kata Dara terlihat sumringah.
"Kabar apa? apa suami mu mau menolongku?" tanya Siti terlihat sangat berharap.
"Tentu saja, dia mau menolongmu." jawab Dara yang langsung membuat Siti tersenyum lebar.
"Jadi aku boleh tinggal disini dan bekerja jadi maid disini?" tanya Siti.
"Emm sayangnya bukan disini, Mas Rendi mau kamu kerja dikantornya jadi office girl dan untuk masalah tempat tinggal kamu nggak perlu khawatir, dideket kantor Mas Rendi ada banyak kos, nanti biar dibantu sama Asisten nya Mas Rendi." jelas Dara dan entah mengapa membuat raut wajah Siti terlihat kecewa.
"Apa kau tidak apa apa jika seperti itu? kau pasti kecewa ya? maafkan aku." kata Dara melihat perubahan raut wajah Siti.
"Tentu saja tidak, aku sangat berterimakasih padamu telah membantuku seperti ini." balas Siti memaksakan senyuman.
"Besok kau akan berangkat bersama mas Rendi, sekarang istirahatlah lebih dulu." kata Dara yang hanya diangguki oleh Siti.
Dara berdiri hendak keluar dari kamar Siti, "Ohh ya, jika kau butuh sesuatu panggil saja Bik Surti atau Maya." kata Dara.
"Baiklah, terimakasih." kata Siti dan Dara hanya mengangguk lalu pergi dari kamar Siti.
Siti mendesah kecewa, padahal Ia sudah berharap bisa tinggal disini meskipun hanya menjadi maid namun nyatanya Rendi tak mengingikan itu terjadi.
Ya sudahlah, yang penting sekarang dia memiliki pekerjaan dan tempat tinggal hingga anaknya lahir batin Siti pasrah.
Sementara itu Dara memasuki kamarnya dan melihat suaminya sudah diatas ranjang sambil melipat tanganya didada.
"Kau ini dari mana?" tanya Rendi terdengar kesal.
"Aku dari kamar Siti, bukankah tadi aku sudah mengatakan padamu?" kata Dara yang langsung ambruk didada bidang Rendi.
__ADS_1
"Kenapa lama sekali?" tanya Rendi.
"Ya ampun hanya 30 menit sayang, ada apa dengan mu sebenarnya ? kenapa kau akhir akhir ini sering marah?" tanya Dara melihat sifat suaminya yang sedikit pemarah akhir akhir ini.
"Kenapa juga kau harus mengesalkan seperti ini," protes Rendi tak ingin kalah.
"Baiklah, baiklah.. maafkan aku sayang... hmmm." kata Dara memeluk tubuh Rendi.
"Astaga, rasanya sulit sekali untuk marah padamu." celetuk Rendi yang hanya membuat Dara terkekeh.
...
Pagi hari, Siti berangkat bersama Rendi untuk mulai bekerja sebagai Office girl dikantor Rendi.
Siti pikir Ia akan satu mobil bersama Rendi namun nyatanya Rendi malah memesankan taksi sendiri untuk Siti.
Kini mereka sudah tiba dikantor dan Siti sudah berada diruangan Rendi.
"Kau mulai bekerja hari ini, dan untuk tempat tinggal, Fandi asisten ku yang akan mencarikan mu sepulang kerja." jelas Rendi pada Siti yang tengah berdiri didepan Rendi.
"Baiklah Tuan, terimakasih banyak." kata Siti sedikit menunduk.
"Dan ingat jangan berani beraninya kamu melukai Dara lagi, jika aku tau kamu melakukan nya lagi, aku akan membuat hidupmu lebih menderita dari apa yang kamu rasakan sekarang." ancam Rendi pada Siti yang terlihat menunduk ketakutan.
"Sa-saya tidak akan melakukan apapun lagi pada Dara Tuan." kata Siti terdengar gugup.
Tak berapa lama seorang Pria nampak masuk keruangan Rendi.
"Bawa dia untuk bekerja bagian lantai bawah." perintah Rendi pada pria bername tag Hadi itu.
"Baiklah Pak." balas pria itu lalu mengajak Siti keluar bersamanya.
Siti mengikuti Hadi kelantai bawah,
"Mulai sekarang pekerjaanmu membersihkan tempat ini hingga bagian sana." jelas Hadi pada Siti.
"Lakukan tugasmu dengan benar, jangan sampai lantai licin atau kotor, usahakan selalu bersih." perintah Hadi.
"Baiklah pak." jawab Siti mengangguk mengerti.
Rasanya hidup Siti sekarang jadi jungkir balik kebawah. Jika dulu dimansion Sanjaya Ia memiliki jabatan tertinggi sekarang disini Ia kembali menjadi suruhan.
Walaupun begitu, Siti harus tetap semangat menjalani hidup demi anak yang Ia kandung.
__ADS_1
Laras berjalan dengan langkah kemayu menuju ruangan Rendi.
"Maaf Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya Sekertaris Rendi saat melihat Laras hendak masuk keruangan Rendi.
"Aku ingin menemui Bosmu." kata Laras angkuh "Katakan pada Rendi jika Laras ingin menemuinya."
"Baiklah Nona, tunggulah sebentar."
Riri sekertaris Rendi terlihat menghubungi Rendi "Maaf Pak, ada yang ingin bertemu." kata Riri. "Namanya Laras."
"Baiklah Pak." Riri mematikan panggilan.
"Silahkan masuk Nona, sudah ditunggu oleh Pak Rendi." kata Riri.
Laras berjalan meninggalkan Riri tanpa menjawab ucapan Riri.
Laras memasuki ruangan Rendi dan melihat betapa gagahnya Rendi yang tengah duduk dengan mata yang fokus pada layar laptop.
"Apa kau sibuk sekali?" tanya Laras duduk disofa ruangan Rendi.
"Sedikit, ada apa kau kemari?" tanya Rendi yang kini sudah duduk didepan Laras.
"Aku hanya ingin menemui mu saja." kata Laras santai.
"Aku pikir penting," kata Rendi malas, bangkit dari tempat duduknya lalu kembali duduk dikursi kebesaran nya lagi.
Akhir akhir ini memang Laras sering datang kekantor Rendi namun Rendi membiarkan nya dan jarang mengubrisnya.
"Kau seharusnya bersikap lebih baik padaku!" kata Laras yang kini berdiri duduk dimeja kerja Rendi "Kau pasti tau kan jika bukan karena Papiku pasti perusahaan ini sudah bangkrut." jelas Laras yang kini memainkan dasi Rendi.
"Dan kau pasti tak lupa jika pria didepanmu ini sudah beristri?" ketus Rendi mencoba tak mengubris Laras.
"Sayang nya aku tak peduli." kekeh Laras "Waktu itu kau memutuskan ku secara sepihak, dan itu benar benar menyakitiku." kata Laras dengan suara manja.
"Kau masih tak tau malu mengatakan jika aku menyakitimu? apa kau lupa siapa yang telah berkhianat." kesal Rendi.
"Aku tak berkhianat, aku hanya bermain main saja." kata Laras kini bangkit dari duduknya dan berjalan kesamping Rendi "Bahkan aku masih perawan." bisik Laras ditelingga Rendi yang seketika membuat Rendi tertawa.
"Bagaimana mungkin mau menyebut dirimu perawan, kau saja sudah tidur dengan pria selingkuhanmu itu." kekeh Rendi.
"Berhentilah membual." ejek Rendi.
"Bagaimana kalau kau mencobanya?"
__ADS_1
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...