
Randi dan Kinan sudah berada didalam mobil. Randi kini mengantar Kinan terlebih dahulu sebelum ia ikut kerumah Mama.
"Sorry.." kata Randi memulai berbicara.
"Sorry buat?" tanya Kinan.
"Kata kata gue tadi terlalu kasar." jelas Randi yang sadar jika tak seharusnya mengatakan sesuatu yang menyakiti Kinan.
"Gue justru yang makasih sama Elo." kata Kinan membuat Randi binggung "Makasih Lo udah nyadarin Gue kalau emang nggak seharusnya Gue nglakuin ini semua." jelas Kinan sambil tersenyum dengan Randi.
"Secepet itu?"
"Kenapa Lo nggak percaya sama gue?" tanya Kinan sambil terkekeh.
'Ya nggak juga sih."
"Rendi itu terlalu baik, itu yang ngebuat gue nyalahin kebaikan dengan membawa perasan yang nggak seharusnya Gue rasaain! lagian Si Rendi juga nggak pernah bilang kalau udah punya calon istri dari awal." kata Kinan sambil mengerucutkan bibirnya.
"Dia emang gitu, Lo yakin udah nyerah?" tanya Randi memastikan jika Kinan benar benar sudah tak berharap pada Rendi.
Kinan mengangguk mantap "Ngrebut suami orang bukan tipe gue banget." kata Kinan yang langsung dikekehi oleh Randi.
"Hahaha trus kemarin itu apa?" tanya Randi menertawakan Kinan.
"Gue khilaf." kekeh Kinan yang hanya mendapatkan gelengan dari Randi.
Randi hanya mengantar sampai didepan apartemen saja, setelah itu Randi meluncur menuju mansion Mama.
Sedangkan Rendi dan Dara kini sudah sampai dimansion Mama.
"Kalian kok tumben kesini?" tanya Mama yang heran melihat putra dan menantunya tiba tiba datang.
"Jadi aku nggak boleh nih Ma kesini?" tanya Rendi.
"Ya boleh lah, biasanya aja Mama suruh kesini nggak dateng, sekarang nggak disuruh tiba tiba dateng." kata Mama yang hanya dikekehi oleh Rendi.
"Mama apa kabar?" tanya Dara yang nampak menyalami tangan Mama mertuanya itu.
"Mama lagi nggak baik, Tau nggak? Mama lagi kesel sama temen kamu itu, Si Siti " jelas Mama membuat Dara sedikit senang, Ia kesini memang ingin menanyakan masalah Siti dan pas sekali Mama nya pun ingin menceritakan Siti.
"Aku keatas dulu deh Ma, nggak mau dengerin ghibahan para wanita." kata Rendi yang kini sudah berjalan meninggalkan Dara dan Mama nya.
"Emang Siti kenapa Ma?" tanya Dara.
"Dia itu sombong banget tau nggak? Mama kesel! masa akhir akhir ini dia sering keluar nggak bilang trus kemarin pas Mama tegur dia malah menggundurkan diri." cerita Mama pada Dara.
"Jadi dia ngundurin diri trus omongan nya juga sombong banget pake nggak mau dikasih gaji sama pesangon lagi padahal Mama nanya juga baik baik." jelas Mama terlihat kesal.
"Emamgnya alesan nya apa Ma? kenapa dia ngundurin diri?" tanya Dara yang masih penasaran. Dara pikir Mama mertuanya memecat Siti namun kenyataan nya Siti lah yang mengundurkan diri. Sebenarnya ada apa ini?.
"Mama nggak tau, ya mungkin dia punya kerjaan lain yang gajinya lebih gede dari sini." jelas Mama seperti sudah malas menceritakan Siti.
"Emm iya mungkin Ma." Dara tak mengatakan jika semalam Ia menemukan Siti dalam keadaan menangis karena Dara juga belum mengetahui kebenaranya dan apa yang sebenarnya terjadi.
Dara berbincang bincang cukup lama dengan mama mertuanya hingga Randi datang, barulah Dara pergi karena tak ingin menganggu Randi dan Mama mertuanya yang sedang berbincang.
Dara hendak menyusul Rendi yang berada dikamarnya, namun Ia malah berpapasan dengan Nina, seorang Maid yang Dara tau Nina cukup dekat dengan Siti.
"Eh ada Nyonya Dara." goda Nina pada Dara, memang sejak Dara masuk mansion, teman teman Dara sesama Maid dulu menggodanya dengan sebutan Nyonya Dara namun Dara juga tau mereka bercanda bukan karena Iri karena mereka mengatakan dengan nada bercanda.
"Nina, kebetulan banget aku ketemu kamu, ada yang mau aku tanyain kekamu." Dara menarik tangan Nina dan mengajak Nina ke kamar Nina.
"Ada apa mbak?" tanya Nina yang kini sudah berada dikamarnya dengan Dara.
"Aku tau kamu deket sama Siti, aku cuma penasaran kenapa Siti bisa keluar?" Dara terlihat serius sedangkan Nina menanggapi dengan malas.
__ADS_1
"Jujur ya mbak, aku tu sebenernya udah males ngomongin Siti." kata Nina "Tapi kalau mbak Dara maksa ya aku bakal cerita." Nina menambahkan.
"Akhir akhir ini Siti berubah mbak, jarang pulang trus kerja males malesan! setiap kali aku ingetin malah ngomongnya nyakitin banget." kesal Nina dengan wajah cemberutnya.
Sedangkan Dara nampak masih belum puas dengan jawaban Nina "Kok dia keluar alesannnya apa?" tanya Dara.
"Katanya dia mau nikah sama orang kaya kenalan nya itu mbak, tapi kok aku nggak percaya ya kalau pacarnya itu beneran kaya!" kata Nina yang membuat Dara jadi paham masalahnya.
"Tapi kok semalem aku liat dia dihalte nangis, trus aku tanyain marah marah, makanya aku penasaran aja sama apa yang udah terjadi." jelas Dara.
"Bener kan mbak dugaaan aku! kalau Rezky pacarnya Siti itu memang penipu!, pasti mbak Siti udah ketipu deh!"
"Udah ah, jangan ngomong gitu, kasian!" nasehat Dara.
"Alah orang songgong kayak dia nggak usah dikasihani mbak!" ketus Nina yang terlihat sangat kesal dengan Siti.
'Lagian mbak Dara kan dulu udah dijahatin sama Siti, ngapain sih masih peduli." kata Nina mengingat dulu saat Dara masih jadi Maid, Siti suka menjelekan Dara pada teman teman nya termasuk dirinya.
"Kalau orang jahat kan nggak harus dibales jahat Nin." kata Dara sambil tersenyum.
"Baik banget sih mbak, pantes Tuan Rendi ngelirik mbak Dara." goda Nina yang hanya disenyumi oleh Dara.
"Ya udah, mbak ke atas dulu ya Nin." Nina hanya mengangguk dan Dara pun keluar dari kamar Nina lalu naik keatas menuju kamar Rendi.
Dara membuka pintu kamar Rendi yang tidak dikunci. Rendi terlihat bersandar diranjang sambil memainkan game diponselnya. Rendi terlihat serius main game hingga tak melihat Dara yang sudah duduk disampingny.
"Ahhh kalah!!' kesal Rendi "LHoo sejak kapan kamu disini sayang?" Tanya Rendi kaget dan langsung meletakan ponselnya dinakas.
"Dari tadilah, kamu serius banget main game sampai aku masuk aja nggak tau." jelas Dara yang hanya mendapatkan senyuman dari Rendi.
"Gimana? udah dapet jawaban nya apa belum?" tanya Rendi.
Dara mengangguk "Udah kok, sekarang aku udah tau kenapa semalam Siti nangis kayak gitu." jelas Dara.
"Ya udah... pulang yukk!" ajak Rendi.
"Padahal aku mau ngajak kamu, dinner diluar berduaan."
"Ya kapan kapan aja, sekarang udah di sini jadi makan malam disini aja yaa?" pinta Dara.
"Ya udahlah ngalah dari pada ntar malem nggak dijatah." Rendi terlihat cemberut membuat Dara terkekeh.
Dara nampak mengamati seluruh ruangan kamar Rendi lalu tersenyum.
"Ngapain sih?" tanya Rendi.
"Aku kalau disini jadi inget waktu pertama kali Emm.." Dara terlihat malu untuk melanjutkan ucapan nya.
"Inget apa? yang aku inget kamu kesini trus pakai baju tidur kurang bahan bikin aku nafsu tau nggak?" kata Rendi yang juga mengingat awal pertama Ia memperkosa Dara. Malam itu Rendi mabuk dan melihat Dara yang terlihat seksi membuat Rendi ingin mencicipi nya, awalnya Rendi pikir Dara sudah biasa melakukan itu namun siapa sangka ini pertama kalinya untuk Dara dan itulah yang membuat Rendi tak bisa lupa hingga sengaja membuat Dara hamil agar bisa selalu bersama nya.
"Masa sih aku kayak gitu?" tanya Dara sedikit malu karena Dara benar benar tak menyadari jika pakaian nya lah yang membuat Rendi tergoda hingga memperkosanya.
"Kamu beneran nggak sadar kan? tapi aku masih penasaran mau tanya ini sama kamu?".
"Tanya apa?" Dara terlihat penasaran.
"Kamu kok bisa menjaga perawan sampai sekarang ?" tanya Rendi yang membuat Dara terkejut, mengapa pula Rendi harus menanyakan itu.
"Yaa kamu kan tau Ayah aku gimana, dari dulu Ayah nggak ngebiarin aku pacaran sama cowok." jelas Dara mengingat jika Tomo sang Ayah memang super overprotektif sekali jika dengan kedua putri nya itu.
"Trus cowok yang kamu temuin waktu pulang dulu itu?" tanya Rendi, Dara pun ingat dimana Rendi marah dengan nya waktu itu.
"Aku sama Dia kan nggak pacaran, cuma deket trus sebelum aku kerja sini dia ngalamar aku tapi aku belum ngasih jawaban, dan pas pulang dulu itu waktunya pas buat ngasih jawaban." jelas Dara.
"Kalau kemarin kamu nggak hamil pasti udah nerima dia ya?" tanya Rendi.
__ADS_1
"Ya belum tentu juga, masalahnya dari dulu aku nganggep dia cuma kakak, enggak lebih."
"Berarti aku beruntung yaa? dapet Istri cantik masih perawan pula dan yang jelas udah dapetin hatinya juga." goda Rendi membuat Dara tersipu malu.
"Kamu apaan sih? kayak cewek perawan cuma aku aja."
"Ya emang gitu kenyataan nya sayang, temen temen kamu yang kerja disini itu kebanyakan udah nggak virgin kali." kata Rendi santai dan langsung mendapatkan pelototan tajam dari Dara.
"Jangan jangan kamu udah nyobain satu satu ?" curiga Dara membuat Rendi terkekeh.
"Kamu apaan sih sayang, kamu pikir aku cowok apaan nyobain satu satu. aku nggak doyan lagi sama temen temen kamu." jelas Rendi namun Dara masih terlihat curiga.
"Yaa ampun masih nggak percaya! aku ceritain ya, aku bilang gini karena aku sering ngeliat temen temen kamu itu juga hubungan disini sama sopir ada yang sama satpam." jelas Rendi membuat Dara mengangga tak percaya.
"Siti itu pernah hubungan sama sopir Papa dimobil Papa malahan." jelas Rendi yang membuat Dara tak percaya, jadi Siti sudah melakukanya? pantas saja Siti bisa cinta mati dengan mantan nya dan sampai memusuhinya saat tau mantan kekasihnya itu menyukai Dara.
"Kok kamu cuma diem, nggak dimarahin?" tanya Dara.
"Buat apa ? mereka gituan dimobil Papa ini, coba kalau mobil ku, ya langsung aku pecat." kekeh Rendi "Lagian kasian juga kalau dipergoki pas lagi enak enaknya kan jadi nggak tuntas!" kekeh Rendi lagi yang membuat Dara memukul lengan Rendi karena bicara terlalu vulgar.
"Banyak kali Maid sini yang kayak gitu, maka nya aku pikir dulu kamu juga udah nggak perawan ngeliat kamu kalau pakai baju kayak ngode minta di- aduhh sakit sayang." Kekeh Rendi yang kini mendapat cubitan dari Dara lagi.
"Maka nya kalau ngomong jangan terlalu vulgar bisa kan?" kesal Dara.
Rendi hanya terkekeh lalu memeluk Dara "Aku beruntung banget yaa dapet kamu, yang jadiin aku yang pertama dan terakhir." kata Rendi yang lansung membuat Dara sedikit senang hingga tersenyum. Sedangkan Dara cukup tau bagaimana Rendi dulu yang terkenal pemain wanita dan juga suka tidur dengan banyak wanita, meskipun sekarang Dara tau jika Rendi sudah tak melakukan itu namun tetap sajaa ada kekhawatiran dihati kecil Dara jika Rendi kembali seperti dulu.
"Kok malah diem sih?" tanya Rendi.
"Kalau nanti suatu saat kamu bosen sama aku bilang aja yaa? jangan sampai main dibelakang aku, aku takut." kata Dara lirih, jika harus membayangkan Rendi seperti itu rasanya pasti menyakitkan sekali.
'Kamu ngomong apaan sih sayang? aku udah nggak akan kayak dulu lagi! lagian punya kamu sama calon anak kita aja udah cukup buat aku." kata Rendi sambil mengelus perut Dara membuat Dara lega.
"Bener kan?"
"Iya sayang! bener dong." kata Rendi yang langsung memberikan kecupan di bibir Dara.
"Praktek lagi yukk sayang!" bisik Rendi dan Dara mengangguk menyetujui.
...
"Lhoo nak Siti pulang kampung yaa?" tanya Leha pada Siti saat keduanya berpapasan dijalan hendak pulang kerumah.
Siti tak menjawab pertanyaan Leha Ibu Dara, hanya mengangguk lalu berjalan cepat meninggalkan Leha membuat Leha merasa aneh. Sebenarnya apa yang terjadi? bukanlah dulu Siti sangat ramah denganya bahkan dulu Siti sering kerumah nya karena memang teman dekat dengan Dara sejak kecil.
"Apa Dara dan Siti sedang ada masalah? Siti juga tak datang dipernikahan Dara kemarin padahal semua teman Dara pada datang." batin Leha menggelengkan kepala nya dan langsung pulang.
"Siapa yang nyuruh kamu keluar??!"
"Ibu.. Siti cuma pengen beli bubur." Siti terlihat takut saat ibunya mencegatnya didepan pintu dan lansung memarahinya.
"Masuk!!" Siti pun menurut memasuki rumahnya, disana sudah ada Bapak dan Mas abdul kakak Siti yang membuat Siti semakin takut karena semuanya melihatnya dengan tatapan marah.
"Sebelum kamu gugurin kandungan kamu, jangan pernah keluar rumah! Ibu malu jika sampai semua orang tau jika kamu hamil diluar nikah!"
''Tapi Bu... Siti takut." kata Siti mengiba, berharap Ibunya mengerti dan tak meminta nya mengugurkan kandungan.
"Kalau Lo takut ngapain kemarin bikinn?" tanya Abdul yang membuat Siti geram karena tau pasti Abdul tengah membuat Ibunya semakin panas sekarang.
"Bener kata Ibu kamu Siti, lebih baik kamu gugurin kandungan kamu sekarang karena keluarga kita nggak mau menanggung malu.'' kata Bapak Siti membuat Siti benar benar merasa hancur karena tak ada yang peduli dengan perasaan nya saat ini.
Siti bangkit dan langsung meninggalkan ruang tamu membuat Ibunya semakin murka.
"Siti mau kemana kamu? kita belum selesai bicara!"
Siti berhenti tepat didepan pintu "Mau ngomongin apa lagi sih Bu? semuanya udah jelas kan nggak ada yang peduli sama aku sama perasaan aku! kalian disini cuma mikirin gimana biar aku kerja lagi trus ngasih uang lagi kan?" kata Siti lalu menutup pintunya sekeras mungkin hingga membuat Ibu, Bapak dan Abdul sedikit tersentak.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN....