
Sesuai dengan janji Dara tadi pagi, malam ini Dara benar benar mempersiapkan segalanya.
Ia sudah menyiapkan makan malam untuk Rendi dan ia juga sudah mengenakan kain satin tipis yang menerawang, yang mungkin membuat suaminya itu senang karena niat Dara memang ingin menyenangkan suaminya itu.
Namun hingga pukul 9 malam Rendi belum juga pulang, kemana Rendi apa pekerjaannya belum selesai batin Dara.
Dara mengalihkan pemikiran pemikiran negatif tentang Rendi dengan mencoba menonton televisi, hingga satu jam bukanya larut dalam acara televisi justru ia jenuh dengan acara televisi yang unfaedah sama sekali.
Karena kesal hingga pukul 10 malam Rendi belum juga pulang Dara pun akhirnya memasuki kamarnya dan mengunci pintunya agar Rendi tak bisa memasuki kamarnya saat pulang nanti.
...
Sedangkan itu Rendi tampak berjalan cepat memasuki sebuah rumah sakit.
Mendengar jika Randi kini kritis , segera Rendi buru buru kerumah sakit untuk memastikan itu dan benar saja setibanya didepan ruang rawat inap Randi , Ia melihat sang Mama yang sedang menangis dan nampak disebelahnya ada Papa nya yang sedang menenangkan Mama Rendi.
"Ma ... apa yang terjadi ..." ucap Rendi yang kini merengkuh tubuh Mama nya itu.
"Mama juga nggak tau... tadi sewaktu Mama tinggal mandi sebentar dan Mama keluar Rendi sudah kejang kejang , Mama nggak tau apa yang terjadi..." ucap Sang Mama disela isak tangisnya.
"Mamah pikir ittu Rendi padahal Randi" batin Rendi , memang dia dan Randi adalah kembar yang sulit dibedakan, bahkan sejak kecil dulu sang Mama juga kadang salah memanggil nama satu dengan satunya.
"Sudahlah... kalian tidak usah cemas... kita doakan yang terbaik untuk Rendi .." ucap sang Papa yang mencoba menenangkan Istri dan anaknya itu.
Hingga tengah malam dokter yang memeriksa masih belum keluar, semakin membuat ketiga orang yang masih menunggu diluar itu sangat khawatir.
Rendi nampak mengambil ponsel dalam celana nya , hendak menghubungi Dara namu sialnya baterei Rendi habis dan ponselnya mati.
"Sial... Dara pasti sudah menungguku. " batin Rendi.
__ADS_1
"Mah... lebih baik mama sama papa pulang, biar Rendi aku yang tungguuin" ucap Rendi melihat mata sang Mama yang bengkak efek sehabis menangis dan Sang Papa yang keliahatan letih .
"Nggak... Mama nggak akan pulang sebelum dokter keluar dan ngasih tau gimana keadaan Rendi " ucap Sang Mama terlihat menerawang keatas.
"Papa juga, setidaknya kami tau gimana keadaan Rendi.." ucap Sang papa yang kini masih setia memeluk Istrinya.
Rendi hanya diam pasrah, jika memang itu yang diinginkan orangtuanya ia bisa apa.
Tepat pukul 3 pagi Dokter dan beebrapa suster yang menangani Randi akhirnya keluar membuat ketiga orang yang sedari tadi menunggu 5 jam lamanya kini akhirnya berdiri secara bersamaan dan menanyakan pada dokter yang baru saja menanggani Randi.
"Bagaimana dokter keadaane putra kami ???" tanya Nyonya Sanjaya .
"Siapa yang menemani ibu didalam ruangan tadi ?" tanya Dokter pada Nyonya Sanjaya.
"Saya sendiri namun tadi saya tinggal sebentar untuk mandi dan pas saya kembali sudah kejang kenjang" ucap Nyonya Sanjaya seperti tak sanggup melanjutkan ucapanya.
"Ada yang memasukan racun didalam tubuh Tuan Rendi dan itu yang menyebabkan Tuan Rendi mengalami kejang kejang."Jelas sang Dokter.
"Untung kami segera menangani dan membuang racun nya jika tidak mungkin nyawa pasien tak akan terselamatkan "ucap Dokter itu kembali memberikan penjelasan.
"Lalu bagaimana kelanjutan nya sekarang dok ??? " tanya Rendi .
"Selama detak jantung masih ada kemungkinan sadar masih ada namun jika tidak maafkan kami sudah melakukan yang terbaik, lebih baik kita doakan agar segera sadar dan pastikan untuk menambah keamanan disekitar sini agar tak ada kejadian seperti ini lagi" ucap Dokter itu.
"Ya Tuhan Rendi... " tangis sang Mamah memecah kala mendengar ucapan dokter itu.
"Sudahlah Mah... lebih baik kita doakan Rendi saja . " ucap Tuan Sanjaya .
"Brengsek ...siapa yang berani melakukan ini semua" ucap Rendi dengan nada marah.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi, dan kalian boleh masuk untuk melihat keadaan pasien" ucap Dokter yang berlalu meninggalkan ketiga orang yang sedari tadi menunggu disana.
"Papah akan telepon Joko untuk segera mencarikan orang orang yang akan menjaga Rendi disini " ucap Sanjaya .
"Aku besok juga bakal kirim orang kesini Pa , Ma buat memperketat penjagaan, jadi Papa sama Mama nggak perlu khawatir lagi."Ucap Rendi.
"Mama nggak tau siapa yang udah jahat sama Rendi Apa memang Mama yang nggak becus jagain Rendi... " ucap Nyonya Sanjaya kembali terisak.
"Udahlah Ma... nggak usah nangis lagi ..nggak usah sedih terus, jangan nyalahin diri Mama sendiri... nanti Mama sakit, sekaarang lebih baik Mama pulang, istirahat biar Randi yang jagain" ucap Rendi yang mendapatkan gelengan dari sang Mama.
"Iya Ma... bener Randi bilang, Mama harus pulang istirahat , besok kita kesini lagi. ." ucap Sanjaya nampak membujuk Istrinya.
Cukup Lama Rendi dan sang Papa membujuk Mamanya agar pulang akhirnya Nyonya Sanjaya pun menurut dan pulang untuk istirahat.
Kini tinggalah Rendi yang sendiri diruagan itu, memandang wajah Randi yang sama saja ia memandang wajahnya sendiri.
"Kapan sih elo sadar... cepet sadar woyy... Gue udah nggak sabar buat nikahin Dara secara resmi jadi biar nggak umpet umpetan gini " gerutu Rendi kesal sambil.memandangi wajah kembaran nya itu.
Pagi harinya Rendi sudah disibukan oleh banyak kegiatan, dirinya hanya tidur selama 2 jam dan sekarang dia sudah berada dikantor dihadapkan oleh setumpuk berkas, meninggalkan Randi yang kini sudah dijaga ketat oleh pengawalnya dan pengawal sang Papa, Ia juga sedari tadi sibuk mencari orang bayaran untuk menyelidiki siapa yang telah menyuntikan racun ditubuh Randi.
Jika nanti orang itu tertangkap , Rendi sudah pastikan tak akan membiarkan orang itu hidup.
Ponsel yang semalaman mati akhirnya kini sudah menyala, ia mencoba menghubungi Dara untuk mengatakan jika beberapa hari ini mungkin ia tak akan pulang karena mulai malam ini ia harus ikut menjaga Randi dirumah sakit. Dan ia takut jika Dara menunggunya , sebenarnya pagi tadi ia ingin menyempatkan pulang ke apartemen untuk menjelaskan kepada Dara mengapa ia tak pulang namun pagi pagi sekali sekertarisnya sudah menelepon dan memberitahukan jika ia harus meeting dengan klien dan karena Rendi tak ingin terlambat akhirnya ia memutuskan untuk langsung menuju kantornya dan mandi disana , diruangan yang Rendi siapkan untuk dirinya jika tidak bisa pulang.
Rendi mulai mendial nomer Dara, Satu kali dua kali mencoba menghubungi namun tak ada respon dari Dara.
Kemana sih Dara , apa dia marah ???!" batin Rendi kesal.
Karena tak bisa menghubungi Dara akhirnya Rendi memutuskan untuk menghubungi nanti setelah ia selesai meeting karena pagi ini ia sudah ditunggu klien untuk meeting.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen...