My Maid My Wife

My Maid My Wife
69


__ADS_3

Siti berjalan menuju sebuah Club dimana Rezky berada. Siti sedikit binggung mengapa Rezky meminta nya bertemu ditempat seperti ini, tak berapa lama mata Siti melihat dimana Rezky sedang duduk disebuah sofa dan disampingnya terlihat seorang wanita yang berpakaian minim sedang mengoda calon suaminya itu.


Dengan kepalan tangan dan hati panas yang memburu, Siti segera menghampiri Rezky yang sedang asik minum itu.


"Apa apaan ini?" tanya Siti marah pada Rezky yang kini menatap Siti.


"Oh sayang, kau sudah datang?" Rezky terlihat sedikit mabuk "Pergilah, aku tak ingin calon istriku cemburu karena aku dekat denganmu!" kata Rezky mengusir wanita yang duduk disebelahnya membuat Siti tersenyum puas sedangkan Wanita itu terlihat menggerutu kesal dan pergi dari sana.


"Kau mabuk?" tanya Siti.


"Sedikit, kau ingin mengatakan sesuatu sayang?" tanya Rezky.


"Tadinya aku mau mengatakan sesuatu tapi melihatmu sedang mabuk seperti ini lebih baik besok saja." kata Siti sebal "Ayo kuantar kau pulang!" kata Siti menarik tangan Rezky.


"Tunggulah sebentar sayang." kata Rezky menarik tangan Siti hingga Siti jatuh ke pangkuan Rezky "Apa kau tak merindukanku sayang?" tanya Rezky yang kini sudah menciumi leher Siti.


"Tapi tidak ditempat seperti ini, Oh ayolah kita pulang saja?" kata Siti melepaskan pelukan Rezky.


"Ayo kita keatas dulu, diatas ada kamar!" ajak Rezky. Siti yang tak bisa menolak keinginan Rezky akhirnya mengikuti Rezky memasuki kamar yang disewa Rezky.


Kali ini kamar yang disewa Rezky cukup sederhana, tidak semewah kamar villa milik Rezky.


Sesampainya didalam kamar, Rezky yang tak sabar segera melucuti pakaian nya dan pakaian Siti hingga keduanya polos tanpa sehelai benang pun.


Keduanya pun memulai permainan memadu cinta setelah hampir satu bulan tak bertemu. Siti pun ikut larut dalam permainan Rezky, Ia tak peduli jika malam ini tidak pulang ke mansion, toh sebentar lagi Ia akan dinikahi oleh Rezky dan segera keluar dari mansion Sanjaya menjadi nyonya dimansion Rezky.


"Ah pastilah rumah Rezky sebesar mansion Sanjaya atau mungkin lebih besar dari itu melihat mobil Rezky yang selalu ganti saat menemuinya." batin Siti girang.


Siti terbangun karena Ia mendengar bunyi alarm diponselnya. Siti melihat jam sudah pukul 5 pagi, memang kebiasaan Siti menyalakan alarm karena Ia tak ingin bangun kesiangan.


"Sayang... ayolah matikan ponselnya, aku masih ingin tidur." teriak Rezky yang membuat Siti segera bangun dan mengambil ponselnya dari nakas.


Siti mengerutkan keningnya kala melihat panggilan tak terjawab dari Nina sebanyak 40x dan juga pesan yang entah berapa banyak.


Kau kemana?


kau pulang jam berapa ?


Ini sudah malam, kau pulang atau tidak?


Nyonya mencarimu, aku harus bilang apa?


Besok pagi jika kau pulang, Nyonya mencarimu!


Beberapa pesan dari Nina yang membuat Siti tersenyum remeh. "Dia pasti akan memecatku! lagipula siapa yang akan bekerja disana lagi?" kekeh Siti meletakan ponselnya dinakas dan kembali berbaring memeluk Rezky yang sudah kembali tidur.


Siti membuka matanya saat seseorang menciumi pipinya, siapa lagi jika bukan Rezky.


"Hei putri tidur, apa kau tak akan bangun?" canda Rezky yang membuat Siti tersenyum.


"Sudah siang yaa?" tanya Siti.


"Masih pukul 9 pagi."


"Astaga, kita kesiangan." kata Siti panik dan Rezky hanya terkekeh.


"Kau ingin mandi bersama?" tanya Rezky sedikit menggoda.


"Tentu saja." Siti mengangguk menyetujui padahal badannya masih terasa sakit semua akibat permainan panas mereka semalam.


Keduanya pun menikmati mandi bersama dengan panasnya.


Kini Siti dan Rezky duduk disebuah restoran menkmati sarapan. Restoran disamping club yang masih sepi pengunjung, tentu saja karena ini masih sangat pagi.


"Emmm.. aku ingin mengatakan sesuatu, aku harap kau akan bahagia mendengar ini." Kata Siti setelah keduanya selesai menghabiskan sarapan mereka.


"Selama kau tidak meminta berpisah, aku pasti akan bahagia." kata Rezky yang membuat Siti tersipu.


"Emm... aku hamil." kata Siti memberikan sebuah tespack garis dua pada Rezky.


Rezky yang melihat tespack langsung girang dan terlihat senang sekali "Astaga sayang, kau hamil?" tanya Rezky, Siti hanya mengangguk senang melihat raut wajah Rezky yang bahagia sepertinya akan menjadi momen yang pas jika Siti mengatakan jujur pada Rezky tentang statusnya yang bukan putri dari Sanjaya.


"Dan aku ingin mengatakan jujur padamu !" Siti terlihat ragu.

__ADS_1


"Katakan apapun itu sayang, Ohh iya jadi kapan aku bisa menemui orangtuamu? kapan orangtuamu pulang dari luar negeri?" tanya Rezky tampak antusias.


"Ya itu yang ingin ku ceritakan padamu!"


"Ada apa sebenarnya sayang? apa terjadi sesuatu?" Rezky terlihat khawatir.


"Jika aku jujur padamu tentang diriku, apakah kau bisa menerima semua kekuranganku?" tanya Siti sedikit takut.


"Tentu saja, apapun itu katakan padaku sayang."


"Se-sebenarnya aku ini bukan putri dari keluarga Sanjaya." Terlihat raut terkejut dari wajah Rezky. "Aku ini salah satu maid dirumah Sanjaya." kata Siti lagi kemudian menunduk.


Hening... tak ada jawaban, Siti yang sedari tadi menuduk kini sudah menatap Raut kecewa dari Rezky.


"Apa kau menyesal? apa kau tak akan menganggap anak yang kukandung ini?" tanya Siti yang tak kunjung mendapatkan jawaban.


"Tentu saja aku akan tetap bertanggung jawab sayang, aku tak peduli bagaimana statusmu, aku mencintaimu." kata Rezky dengan raut wajah tak terbaca.


Siti yang mendapatkan jawaban dari Rezky terlihat senang, benar kan jika Rezky akan tetap bertanggung jawab dengan kehamilannya.


"Baiklah jika seperti itu sepulang dari sini aku akan mengemasi barang barangku, keluar dari mansion Sanjaya dan kau akan membawaku kemansion mu kan?" tanya Siti dengan penuh percaya diri.


"Tentu saja sayang, aku akan membawamu kemansion mewah ku dan kau akan jadi ratu disana, tangan kasarmu ini akan jadi tangan yang sangat lembut karena kau tak perlu bekerja keras lagi." Mata Siti seketika berbinar saat mendengar ucapan Rezky. sepertinya Rezky benar benar menepati ucapannya.


"Ayo kita pulang sekarang, rasanya aku sudah sangat tidak sabar." Ajak Siti.


"Baiklah Sayang."


Setelah membayar makanannya, Siti dan Rezky pun keluar dari restoran dan segera memasuki mobil mereka lalu pulang.


"Aku hanya akan pamit dan mengambil barang barangku, kau akan menunggu disini kann?" tanya Siti saat hendak keluar dari mobil Rezky.


"Ya tentu saja sayang, tak perlu buru buru. aku akan menunggumu." kata Rezky mengecup kening Siti lalu melihat Siti sudah berajak keluar dari mobilnya.


Setelah Siti tak terlihat lagi, Rezky nampak menyerigai lalu melajukan mobilnya dan meninggalkan tempat itu.


"Apa kau gila? kau tidak membalas pesanku dan kenapa kau baru pulang? sejak semalam hingga tadi pagi nyonya mencarimu!" kata Nina saat Siti memasuki mansion dengan bahagianya.


"Nyonya ada dirumah?" tanya Siti tak mengubris Nina yang sedari tadi memberikan rententan pertanyaan untuknya.


"Bahkan sebelum nyonya pecat aku, aku lebih dulu mau ngundurin diri." kata Siti santai sedangkan Nina nampak mengangga tak percaya.


"Kamu gila ya? bukannya kamu tiap bulan harus bayarin hutang ibu kamu dikampung, kalau kamu ngundurin diri gimana sama utang Ibu kamu?" tanya Nina tak percaya.


"Udah santai aja kali Nin, lagian bentar lagi aku juga mau nikah sama orang kaya jadi nggak perlu kerja kayak gini lagi." kata Siti dengan nada sombong.


"Emang kamu yakin dia beneran orang kaya? gimana kalau dia nipu kamu?" kata Nina mengingatkan.


"Nggak mungkin lah,!! udahlah Nin, kamu kalau iri sama aku jangan gitu banget lah, aku tau kamu pasti iri sama aku dan kamu juga pengen dapet suami kaya kayak aku kan?" kata Siti sombong.


"Astaga, kamu ngomongnya gitu banget sih sama aku, oke sekarang semua terserah kamu aja, yang penting aku sebagai temen niatnya ngingetin kamu!" kata Nina kesal lalu meninggalkan Siti.


"Hadeh.. dasar orang kampung! sukanya iri kalau temen nya jadi orang kaya." sinis Siti lalu berjalan ke arah taman.


Siti keluar dari pintu dan melihat Nyoya Sanjaya yang sibuk melihat lihat taman bunganya.


"Nyonya.." sapa Siti mendekati Nyonya Sanjaya yang tak pernah sekalipun memarahi para Maidnya itu.


"Ah kamu Siti, ayo duduk kita ngbrol." ajak Nyonya Sanjaya.


Siti pun menurut dan mengikuti Nyonya Sanjaya dari belakang. "Kamu dari semalem kemana? kenapa baru pulang?" tanya Nyonya Sanjaya saat keduanya telah duduk dibangku tepian taman.


"Maafkan saya Nyonya, ada beberapa urusan diluar yang mengharuskan saya menginap." jelas Siti.


"Tapi kenapa kamu nggak ijin dulu sama saya? paginya kamu juga nggak bersih bersih kan?" Tanya Nyonya Sanjaya yang membuat Siti Gugup. " Sebenarnya saya buka tipe majikan yang suka marahin maid atau bahkan sampi menyiksa Maid, jadi Saya cuma mau menegur kamu saja kalau kamu salah." kata Nyonya Sanjaya.


"Saya tau saya salah Nyonya, dan Say berniat mengundurkan diri dari sini." kata Siti santai.


"Oh jadi karena alasan itu kamu bekerja seenaknya sendiri kemarin?"


"Udahlah Nyonya.. saya kan sudah mengakui kesalahan saya, jadi disini saya mau mengundurkan diri, Nyonya mengijinkan atau tidak saya akan tetap mengundurkan diri!" kata Siti.


"Kamu tenang saja, saya bukan tipe majikan yang akan menahan maid yang sudah tidak ingin bekerja lagi disini, dan jika kamu memang ingin berhenti saya benar benar tak akan menahan." Nyonya Sanjaya terlihat kesal dan marah mengetahui cara bicara Siti yang seenaknya.

__ADS_1


"Saya akan segera mengemasi barang barang saya dan akan keluar saat ini juga." kata Siti yang sudah bangkit dari duduknya.


"Baiklah jika seperti itu, nanti gaji dan uang pesangon kamu akan saya transfer ke nomer rekening kamu." kata Nyonya Sanjaya.


"Tak perlu repot Nyonya, saya sudah tidak membutuhkan gaji apalagi uang pesangon." Kata Siti yang langsung pergi meninggalkan Nyonya Sanjaya yang masih tak percaya dengan sikap arrogant Siti.


Padahal selama ini Ia cukup salut dengan kinerja Siti yang rapi dan baik hingga Nyonya Sanjaya mengangkat Siti sebagai kepala Maid namun entah mengapa akhir akhir ini Siti memang sedikit berubah, dan bersikap seenaknya sendiri.


"Mungkin dia menemukan pekerjaan yang lebih layak dari disini." batin Nyonya Sanjaya mencoba memaklumi..


Siti bergegas memgemasi barang barangnya, hanya sekoper yang Ia bawa. Sisanya Siti berikan pada teman sesama Maid yang mau menggunakan baju bekasnya. Toh sebentar lagi Siti akan jadi orang kaya jadi ya barang barang murahan miliknya tentu sudah tak akan Ia gunakan lagi.


Cepat cepat Siti menyeret kopernya keluar dari sini karena tak ingin Rezky menunggu lama diluar.


"Kau yakin ingin keluar?" tanya teman teman Siti sesama Maid kecuali Nina karena saat ini memang Nina menghindari Siti karena kesal dengan ucapan Siti.


"Ya.. aku pasti merindukan kalian, tapi tenang saja kapan kapan pasti aku akan kesini lagi buat ntraktir kalian." sombong Siti.


"Wihh iya beneran yaa kita tunggu." jawab semua teman Siti serentak.


Siti melambaikan tangannya dengan anggun dan segera menyeret kopernya keluar dari mansion Sanjaya.


....


Randi berjalan angkuh menuju ruangan Rendi. Randi memang sengaja mendatangi kantor Rendi karena ada beberapa hal yang ingin Ia bicarakan pada Rendi.


"Sibuk banget yaa Pak Boss?" goda Randi saat memasuki ruangan Rendi dan melihat Rendi begitu fokus dengan laptopnya.


"Tumben Lo kesini!"


"Karna gue butuh Lo." kekeh Randi.


"Sialan, Lo dateng kalau ada maunya aja!" kata Rendi kesal menutup laptopnya dan berjalan menuju sofa diikuti oleh Randi.


"Apa lagi sekarang?" tanya Rendi yang kini sudah duduk berhadapan dengan Randi "Apa masalah Indah lagi?" Rendi tertawa mengejek.


"Iya benar memang masalah Indah lagi, Gue pengen Lo membebaskan Indah." kata Randi yang langsung menyulut Emosi Rendi.


"Apa Lo GILA!!!, bisa bisanya Lo mikir mau bebasin kriminal kayak Indah!" Rendi terlihat emosi sementara Randi hanya terkekeh.


"Apa maksud Lo ketawa gitu?" tambah Rendi yang tak terima Randi tertawa.


"Lo lucu aja, denger namanya Indah langsung brutal!" ejek Randi membuat Rendi hanya diam.


''Ini bukan masalah Indah tapi masalah Kinan!" kata Randi.


"Kenapa Tuh cewek? kerjanya nggak bener?" tanya Rendi khawatir jika Randi tak menyukai kinerja Kinan dan berakhir memecat Kinan pasti akan membuat Rendi binggung harus dibawa kemana Kinan.


"Bukan masalah itu, Lo tau kalau Kinan suka sama Lo?" tanya Randi.


"Kinan cerita sama Lo?" Rendi terlihat curiga.


"Nggak cerita, tapi dari tingkah dia kalau ada Lo keliatan banget."


"Gue udah tau." kata Rendi santai.


"Lo udah tau?" Randi terlihat terkejut.


"Gue udah tau makanya gue nitip kerja ditempat Lo."


"Sejak kapan Lo pinter gini!" ejek Randi.


"Sialan Lo... Gue cuma nggak mau ada masalah lagi, hubungan Gue sama Dara baru aja baik, gue nggak mau nambah masalah lagi kalau ngajak dia tinggal ditempat Gue." jelas Rendi "Disatu sisi gue kasian sama dia, udah nggak punya siapa siapa lagi tapi disisi lain gue juga harus ngejaga perasaan Dara." Rendi terlihat frustasi.


"Tapi Si Kinan kayaknya bukan orang yang gampang nyerah buat dapetin sesuatu." kata Randi.


"Gue tau.. makanya gue juga pusing."


"Coba deh bikin dia suka sama Lo." kata Rendi membuat Randi mendelik tajam.


"Ogah... gue nggak suka cewek agresif kayak Kinan, kalau Dara mau lah Gue!"


"Mo cari mati Lo..." Tawa Randi menggema diruangan Rendi.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...


__ADS_2