
Siti berjalan tertatih memasuki sebuah perkampungan yang masih terlihat sepi. ya tentu saja masih sepi karena ini masih pukul 4 pagi, semua orang masih terlelap dalam mimpinya.
Langkah Siti berhenti disebuah rumah sederhana. Dengan jantung yang berdegup kencang dan helaan nafas, Siti memberanikan diri memasuki pekarangan rumahnya.
Tok .... Tok... Tokk...
3 kali ketukan dan masih tak ada sahutan dari dalam, mungkin Ibu nya masih terlelap.
Tok .. Tok... Tok...
"Siapa sih yang dateng pagi gini." omel suara wanita dari dalam rumah yang terdengar oleh Siti dan Siti tau jika itu Ibunya.
Pintu terbuka, dan Siti bisa melihat Ibunya terkejut melihat kedatangan nya.
"Siti kamu pulang?" tanya Ibu yang terlihat sumringah.
Siti memeluk Ibunya dan menangis, berharap Ibunya sedikit mengerti pada keadaaannya nanti.
"Kamu kok nangis? kamu nggak apa apa kan?" tanya Ibu namun Siti masih enggan menjawab hanya bungkam.
"Jangan bilang kamu dipecat! Astaga Siti kamu tau kan hutang kita masih banyak, kalau kamu nggak kerja gimana?" Ibu Siti terdengar galak.
"Bu.. aku masuk dulu, nanti biar Siti jelasin!" kata Siti yang kembali menyeret kopernya memasuki rumah.
"Sekarang coba jelasin sama Ibu apa yang terjadi?" tanya Ibu saat Siti sudah memasuki kamarnya.
"Siti dipecat Bu .." kata Siti bohong.
"Apa ? kenapa bisa? Astaga Siti bukankah ditempat kamu kerja itu majikan nya baik dan mau ngasih gaji gede, trus kalau kamu dipecat kita gimana?" tanya Ibu panik.
"Siti hamil Bu.. Siti diperkosa sama preman waktu belanja dan Siti hamil, jadi Siti dipecat karena majikan Siti nggak mau menanggung malu." jelas Siti pada Ibunya
Ibu Siti terlihat shock hingga ia terjatuh dilantai membuat Siti panik langsung mendekati Ibunya. "Ibu.. maafin Siti Bu.. Siti udah ngecewain Ibu." Siti menangis dihadapan Ibunya.
"Nanti kalau masalah Hutang, biar Siti yang lunasi, Siti masih punya tabungan." kata Siti karena memang uang tabungan dan juga gaji serta pesangon Siti sudah cukup untuk melunasi hutang Ibunya.
"Gugurkan kandungan itu!" kata Ibu Lirih.
Siti terkejut tak menyangka sang Ibu akan mengatakan itu padanya. "Tapi Bu.."
"Ibu juga nggak mau menanggung malu, apalagi kalau sampai orang kampung tau, bisa bisa kita jadi bahan gunjingan mereka
! Ibu nggak mau, jadi gugurkan kandungan itu Siti sebelum perut kamu semakin membesar." perintah Ibu.
Awalnya setelah Siti tau jika Rezky itu penipu memang ada niat untuk mengugurkan kandungan nya namun Ia urungkan karena Ia takut dan masih tak memiliki nyali untuk melakukan itu semua.
Sejahat jahatnya, Siti juga tak tega jika harus membunuh darah dagingnya sendiri.
"Nggak Bu... jangann!" kata Siti pelan.
Ibu menatap tajam kearah Siti "Apa maksud kamu jangan? kamu gila Siti?" tanya Ibunya marah. "Kamu mau jadi bahan gunjingan seperti Dara yang juga hamil duluan? pokoknya Ibu nggak mau tau, kamu harus gugurkan kandungan mu!" marah Ibu lalu bangkit meninggalkan Siti.
Siti masih tersimpuh dilantai dan menangis, apa ini karma untuknya karena telah menghina Dara waktu itu. Apa dia terlalu jahat dengan Dara? tidak! Dara memang pantas mendapatkan itu semua, karena Dara telah merebut hati mantan kekasih Siti yang sampai sekarang masih Ia cintai itu.
Siti sebenarnya sudah tau jika mantan kekasihnya itu yang menyukai Dara bukan Dara yang merebutnya, namum memang Siti masih belum terima saja ini semua terjadi.
Mengapa selalu Dara yang dicintai semua orang? Mengapa selalu Dara yang mendapatkan segalanya? sungguh Siti sangat membenci kenyataan itu.
....
"Apa yang kau pikirkan sayang?" tanya Rendi memeluk Dara dari belakang, melihat Dara yang sedari bangun tadi hanya melamun seperti memikirkan sesuatu.
"Aku masih penasaran dengan apa yang terjadi pada Siti, Karena selama aku mengenalnya, aku belum pernah melihat Siti menangis seperti semalam."
"Astaga sayang, kamu itu masih aja mikirin orang jahat kayak dia." geram Rendi mengingat bagaimana ucapan Siti semalam pada Istrinya itu.
"Mau gimana gimana juga dulu dia temen aku sayang, lagian yang ngajakin aku kerja ditempat kamu kan juga dia." jelas Dara.
"Tapi kan nggak harus selalu baik terus, dia aja semalem hampir nyelakain kamu!"
__ADS_1
"Aku juga nggak tau kenapa dia sebenci itu sama aku," Dara menunduk.
"Udahlah, dari pada mikirin yang nggak penting, gimana kalau kita jalan jalan aja, mumpung aku holiday." ajak Rendi dan Dara hanya diam saja.
"Gimana kalau kerumah Mama?"
"Pasti kamu mau nanya sama Mama kan?" tanya Rendi curiga.
Dara hanya tersenyum memperlihatkan gigi putihnya. "Mau yaaa?" mohon Dara pada Rendi.
"Iya iyaa.. mana bisa sih aku nolak permintaan istri tersayangku ini." kata Rendi membuat Dara memutar bola matanya malas.
"Tukang gombal." Rendi hanya terkekeh.
Selesai mandi keduanya hendak sarapan bersama,
Tok ... tokk....
Keduanya menatap kearah pintu kamar yang diketuk.
"Tuan Nyonya, ada tamu." kata salah satu maid.
"Kok tumben pagi pagi udah ada tamu?" heran Dara yang masih menyisir rambutnya.
"Kayaknya juga belum ada yang tau kalau aku tinggal disini, coba biar aku lihat." kata Rendi yang langsung meninggalkan Dara.
Rendi turun dari tangga dan melihat ternyata Kinan dan Randi yang bertamu. "Gue kirain siapa." Randi hanya terkekeh.
"Aku bawain donat buat kamu sama mbak Dara, itu yang bikin aku." kata Kinan memberikan satu kotak yang berisi donat.
"Ya ampun malah repot repot." Rendi menerima donat Kinan.
"Siapa sayang?" suara Dara terdengar dari belakang Rendi.
"Duh kakak ipar sekarang mamggilnya udah sayang sayang aja." goda Randi membuat Dara malu sedangkan Rendi hanya terkekeh.
"Aku kira siapa, ya udah sekalian saraapan bareng aja gimana?" ajak Dara.
"Enak banget yaa disini, adem." kata Kinan saat duduk dikursi taman.
"Adem karena rumahnya atau adem karena yang lain?" tanya Randi.
"Mak-maksud kamu apa?" tanya Kinan pura pura tak mengerti.
"Gue udah tau semuanya, jadi stop pura pura bodoh didepan Gue!" kata Randi yang sudah muak dengan segala perilaku Kinan.
Kinan sedikit bergetar "Maksud kamu sebenernya apa sih?" tanya Kinan sedikit takut.
"Lo suka kan sama Rendi?" tanya Randi, Kinan yang terkejut langsung membegap mulutnya sendiri, tak percaya jika Randi bisa mengetahui perasaan nya.
"Eng-enggak.. mana mungkin aku kayak gitu, lagian Rendi kan udah punya mbak Da-"
"Udah Nan, setop pura pura sama Gue!" bentak Rendi yang membuat Kinan sedikit takut.
"Perasaan Lo tu salah Nan.. Rendi udah sama Dara dan mereka saling mencintai jadi stop bertingkah seolah olah Lo bisa ngrebut Rendi dari Dara, jangan ngimpi Nan, itu nggak akan mungkin terjadi, apalagi bentar lagi mereka bakalan punya anak! sadar Nan.. sadar!" kesal Randi. Jujur Randi ingin mengatakan ini pada Kinan sejak dulu saat Randi mengetahui jika Kinan menyukai Rendi namun Randi masih menahan nya tapi kali ini melihat Kinan sudah semakin berani membuat Randi tak ada pilihan lain, karena Randi tak ingin hubungan Dara dan Rendi yang baru saja bersama bisa rusak hanya karena wanita seperti Kinan.
Kinan terlihat sedih dengan ucapan Randi tuan nya itu. Randi memang benar jika Kinan berharap pada Rendi namun haruskan Randi berkata sekasar itu pada Kinan.
Randi yang melihat mata Kinan sudah mulai memerah ingin menangis sebenarnya sedikit tak tega namun mau bagaimana lagi dengan ini mungkin akan membuat Kinan menjadi sadar akan posisinya.
'Lagi ngomongin apa sih? kayak nya serius banget?" tanya Rendi yang baru datang. Curiga melihat wajah Kinan yang merah seperti ingin menangis.
"Nggak apa, kita bercanda sampai Kinan mau nangis tuh." Randi mengatakan sambil terkekeh agar Rendi tak curiga.
"Masa sih?" Rendi masih tak percaya, tak berapa lama Dara datang dengan membawa nampan berisi minuman dan camilan ringan.
"Maaf yaa kita sarapan nya lama, btw Kinan donat kamu enak lho, barusan aku sama Rendi udah nyobain." kata Dara Yang meletakan secangkir teh dihadapan Kinan dan Randi.
"Tapi masih enak bikinan kamu kok sayang." timpal Rendi pada Dara yang langsung mendapat lirikan tajam dari Dara sedangkan Kinan hanya tersenyum kearah Rendi.
__ADS_1
Randi memang benar, seharusnya Kinan sadar diri, seharusnya Kinan tau posisinya, dan sekarang yang Kinan rasakan hanyalah sakit, Sakit karena Rendi sama sekali tak melihatnya, lagipula untuk apa Rendi melihatnya jika dia saja sudah mempunyai wanita secantik Dara yang lebih dari apapun, Kinan mah tak ada apa apanya. Kinan tersenyum Sinis menertawakan dirinya lalu Ia bangkit membuat semua orang yang disana terkejut.
"Aku mau kekamar mandi dulu." kata Kinan.
"Biar aku anterin yaa." tawar Dara.
"Nggak perlu mbak, aku nggak mungkin nyasar toh kalaupun kesasar aku bakalan tanya sama salah satu maid yang ada disini." jelas Kinan datar dan langsung pergi meninggalkan tiga orang yang merasa binggung dengan sikap dingin Kinan tiba tiba.
'Kamu sih gitu." gerutu Dara menyalahkan Rendi yang duduk disampingnya.
"Kok jadi aku sih sayang?" Rendi tak terima.
"Kita kan dikasih donat harusnya bilang terimakasih dan paling nggak kasih pujian biar Kinan seneng, nggak malah kamu bandingin sama aku." protes Dara.
"Ya mau gimana lagi, aku kan cuma jujur sayang, lagian donat dia emang nggak enak, bantet gitu, masa ya harus bohong sih." Rendi masih tak terima disalahkan oleh Dara.
"Udah kalian ngapain malah ribut didepan gue." Randi terlihat jengah "Dia itu kayak gitu gara gara omongan Gue." kata Randi santai.
"Iya tuh sayang, tadi pas aku kesini Kinan udah mau nangis." kata Rendi mengadukan pada Dara.
"Emangnya kamu apain sih kok bisa sampai kayak gitu?" tanya Dara penasaran.
"Gue kesel aja, dia lama lama kegatelan banget sama laki lu. . Gue nggak mau aja nantinya bikin kalian ribut kan gue jadi nggak enak yang bawa kesini kan Gue." jelas Randi.
"Padahal aku udah nggak apa apa, lagian juga mas Rendi udah cerita semuanya sama aku jadi ya aku ngerti."
"Lo nggak takut kalau laki lu diembat sama Kinan?" tanya Randi pada Dara.
"Apaan sih Lu.. gue nggak bakal suka sama dia!" kesal Rendi pada saudaranya itu.
"Iya sayang, aku percaya sama kamu!" kata Dara mengenggam tangan Rendi dan Rendi dengan sengaja mencium kening Dara lalu turun ke pipi dan terakhir bibir Dara membuat Randi yang melihat sangat kesal.
"Tak bisakah kalian melakukan dikamar saja?" tanya Randi kesal membuat Dara tak enak sedangkan Rendi hanya terkekeh mengejek.
"Sana cari istri kalau pengen." ejek Rendi yang hanya membuat Randi mendengus sebal.
Kinan sudah memasuki kamar mandi bawah yang diperuntukan para Maid. Kinan berdiri didepan wastafel lalu tersenyum didepan cermin.
"Kenapa sih Nan Lo berubah? Lo bukan Kinan yang dulu, Lo sekarang kayak iblis! bisa bisanya Lo mau ngrebut suami orang,!" kata Kinan berbicara sendiri didepan cermin "Lo itu orang baik Kinan bukan orang jahay jadi stop nglukain diiri Lo hanya karena cowok yang nggak cinya sama Lo, Stop berharap sama Rendi." Kata Kinan tersenyum didepan cermin. Menghilangkan make up nya dengan Tisu lalu menguncir rambutnya yang tadi dia gerai. "Mulai sekarang jadi diri Lo sendiri, jadi Kinan yang dulu lagi, jangan sampai harga diri Lo hilang hanya karena berharap sama suami orang, inget Kinan Lo itu cantik, Lo bisa dapetin yang lebih baik dari Rendi!" kata Kinan mantap lalu keluar dari kamar mandi dan kembali ke taman dimana Rendi, Randi dan Dara masih disana.
"Kamu nggak nyasar kan?" tanya Dara ramah saat Kinan sudah duduk dikursinya tadi.
"Enggak kok mbak, aku tadi tanya sama Maid." kata Kinan santai.
Sementara itu Rendi dan Randi nampak binggung dengan perubahan sikap Kinan, dan juga tampilan Kinan yang sudah berbeda, tadi Kinan terlihat bermake up sekarang make up nya sudah dihapus juga rambutnya yang tadinya digerai sekarang sudah dikuncir seperti Kinan yang dulu, Kinan saat pertama kali bertemu dengan Rendi.
"Oh iya, kita mau kerumah Mama, kalian ikut nggak?" tanya Rendi pada Randi.
"Ikut juga boleh, udah lama juga nggak kesana, Lo ikut juga nggak apa apa Nan." ajak Randi pada Kinan.
"Enggak usah aja, aku langsung balik ke apartemen aja nggak apa apa kan?" Kata Kinan merasa tak enak sebenarnya menolak namun mau bagaimana lagi, memangnya dia siapa harus ikut kemanapun Randi pergi.
"Ya nggak apa apa sih, kenapa nggak ikut? ikut aja biar tambah rame." ajak Dara namun Kinan menggeleng.
"Nggak aja mbak, aku mau istrirahat dirumah." tolak Kinan.
"Ya udah, aku bakalan anterin kamu pulang dulu kalau gitu." kata Randi.
"Nggak usah, nanti biar aku naik taksi aja." tolak Kinan lagi.
"Nggak ada penolakan!" kata Randi yang kini sudah berdiri dan berjalan kelluar.
Kinan terlihat menghela nafas lelah "Ya udah, aku balik dulu ya Ren, mbak Dara." pamit Kinan langsung mengikuti Randi.
"Kamu sih..." Dara masih menyalahkan Rendi.
"Kok aku lagi sih sayang." protes Rendi tak terima.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN..