My Maid My Wife

My Maid My Wife
70


__ADS_3

Siti terlihat celinggukan didepan gerbang mansion Sanjaya.


"Tadi mobilnya Rezky kan disini kok sekarang udah nggak ada?" batin Siti masih celinggukan.


"Apa dia udah pergi yaa? tapi kok nggak ngechat apa telepon aku ya?" Siti melihat ponselnya sama sekali tak ada notif dari Rezky.


Akhirnya Siti mendial nomer Rezky namun sayang sekali nomer Rezky sudah tidak aktif. Berkali kali Siti mencoba mendial nomer Rezky namun sayang memang sudah tidak aktif.


"Jangan jangan Rezky dibegal disini." khwatir Siti yang masiih saja menelepon nomer Rezky namun tetap saja panggilan nya tak terhubung.


Karena binggung dan frustasi akhirnya Siti mencoba menunggu disebuah pos penjaga yang tak jauh dari mansion Rezky.


Hingga hari sudah mulai gelap pun Rezky masih juga belum datang, 'Sebenarnya apa yang terjadi?" batin Siti semakin khawatir.


"Apa aku coba nyusul ketempat yang kemarin malam ya?"


Dengen mengumpulkan semua tenaga yang sudah lemas karena tak menemukan Rezky, akhirnya Siti berjalan mencari taksi untuk pergi ke club malam tempat kemarin Ia menemui Rezky.


Didalam taksi Siti berharap Ia bisa segera menemukan Rezky dan mempertanyakan apa maksudnya ini. Mengapa Rezky meninggalkannya.


Sampai diclub, dengan menyeret kopernya Siti berjalan memasuki club tak peduli dengan semua orang yang berada disana tengah memperhatikanya heran.


kenapa dengan wanita itu, apa dia gila masuk ke club dengan menyeret koper ? para Pengunjung nampak berbisik dan menertawakan Siti namun Siti tak peduli, Ia masih saja berjalan sambil mencari Rezky, hingga akhirnya Siti menemukan Rezky tengah duduk sambil merangkul wanita yang kemarin malam lagi.


"Apa apaan dia!" kesal Siti langsung berjalan mendekati Rezky dan Wanitanya.


"Apa maksudmu ini?" tanya Siti penuh amarah didepan Rezky.


"Memang nya apa salahku?" tanya Rezky santai dan masih merangkul wanita yang tersenyum sinis pada Siti.


"Kau bilang apa salahmu? apa kau gila? aku sudah menunggumu berjam jam dan sekarang kau malah disini bersama wanita lain?" tanya Siti geram.


"Lagipula salahmu sendiri kenapa harus menungguku." jawab Rezky santai, malah menciumi pipi wanita yang disampingnya.


"Kau membohongiku? kau bilang kau akan membawaku ke mansion mu! kau bilang kau akan menikahiku?" tanya Siti terlihat sudah ingin menangis.


"Ya aku memang akan melakukan itu jika kau benar putri dari Sanjaya, tapi kenyataan nya kau sudah membohongiku, kau hanyalah seorang maid, dan aku tak akan pernah menikahimu!" tukas Rezky.


"Apa katamu? aku sedang mengandung anak mu, bisa bisanya kau mengatakan itu!" Kata Siti yang kini sudah memukuli Rezky namun segera tangan Siti digenggam erat oleh Rezky hingga membuat Siti meringgis kesakitan.


"Gugurkan saja! semua akan selesai!" kata Rezky yang kini sudah melepaskan cekalan tangan Siti.


"Kau brengsek .. kau ********!" umpat Siti yang membuat Rezky hanya terkekeh.


"Lalu kau apa? pembual, penipu? jika kau ingin kaya pakailah otakmu untuk bekerja bukan mencari pria kaya yang tidak selevel dengan mu!" Kata Rezky tajam membuat Siti benar benar menangis karena sakit hati.


Siti tak menyangka, Rezky akan melakukan ini pada nya bahkan pada calon anak mereka.


Rezky melangkahkan kaki meninggalkann Siti yang tengah menangis sambil mengandeng wanitanya, Siti yang masih tak terima segera bangkit dan menghadang Rezky "Aku masih tak terima kau melakukan ini padaku!!" hadang Siti membuat Rezky geram dan menjatuhkan tubuh Siti.


"Lebih baik kau pergi dariku, atau aku akan membunuhmu sekarang juga!" ancam Rezky membuat Siti bergindik ngeri dan akhirnya pergi dari hadapan Rezky sambil menangis.


Rezky membawa wanitanya memasuki sebuah kamar, Rezky duduk dipinggir ranjang dan mengepalkan tangan.


"Apa kau tidak kasihan dengan wanita itu sayang? bagaimana jika Ia benar mengandung anakmu?" tanya Wanita yang kini duduk disamping Rezky.


"Aku tak peduli, dia sudah berani menipu ku!" kesal Rezky.


"Bukankah kau juga akan menipu dia sayang." kekeh wanita disampingnya.


"Aku pikir dia adalah putri Sanjaya, dan jika aku bisa menikahinya aku bisa hidup kaya dan tak perlu lagi menjadi penipu lalu kita akan menguras habis harta orangtuanya dan hidup bahagia namun nyatanya aku malah ditipu mentah mentah, dia hanya seorang maid." terlihat Rezky begitu kesal "Dan sekarang dia mengaku jika mengandung putraku? Hah aku bahkan sudah tak mempercayainya, dia bahkan sudah tak perawan saat bersama ku." kesal Rezky.


"Sudahlah sayang, berhentilah memaki, lebih baik kita mencari mangsa baru dan sekarang kita nikmati malam bersama, bukankah sudah lama kau tak melakukan itu denganku? apa kau tak merindukanku?" tanya Wanita itu dengan gaya mengoda.


"Tentu aku sangat merindukan wanitaku ini." kata Rezky yang kini sudah memeluk Wanitanya dengan erat.


Sedangkan itu, Siti terlihat sesenggukan menangis sambil berjalan menyeret kopernya. Ia masih tak menyangka jika Rezky tega melakukan itu padanya padahal Ia memang tengah mengandung anaknya.

__ADS_1


Siti menyeret kopernya ditengah malam, kini Ia benar benar tak tau dengan apa yang harus Ia lakukan dan kemana ia harus pergi karena Ia sudah tak mungkin kembali ke mansion Sanjaya. Tentu Ia sudah malu setelah siang tadi dengan sombongnya Siti keluar bahkan juga menyinggung perasaan Nyonya Sanjaya dan Nina teman nya.


Ting... satu pesan masuk ke ponsel Siti.


Siti membuka pesan itu, tenyata itu pesan dari bank yang memberitahunya jika ada sejumlah uang yang masuk. Siti yakin jika itu pesan berasal dari Nyonya Sanjaya.


Setelah siang tadi dengan sombongnya Siti menolak uang dari Nyonya Sanjaya, nyatanya Nyonya Sanjaya masih mentransfer gaji dan juga pesangonya dan nilainya cukup besar membuat Siti merasa bersyukur, setidaknya Ia kini memiliki uang untuk membuka usaha dikampung halaman nya karena Ia sudah tak mungkin kembali ke mansion Sanjaya.


....


Rendi dan Dara nempak bahagia melihat tumbuh kembang bayi mereka disebuah layar USG.


Rendi memang sengaja pulang lebih awal untuk menemani istrinya memeriksa calon buah hati mereka.


"Usia kandungan nya sudah menginjak 5 bulan, sampai saat ini perkembangan janinnya sangat baik, apakah sudah ada tendangan kecil dari janinya?" tanya Dokter obgyn yang memeriksa Dara.


"Tendangan nya sudah terasa namun masing jarang sekali."


"Nanti setelah 7 bulan akan sangat terasa tendangan dari gerak aktif janin nya." jelas Dokter "Jaga pola makan , jangan bekerja berat dan yang lebih penting jangan sampai stress." Jelas Dokter lagi.


"Dokter tenang saja, saya akan selalu menjaga istri saya sebaik mungkin agar dia tidak Stres." timpal Rendi dengan bangganya.


"Bagus, suami memang ikut berperan menjaga istri saat hamil." jelas dokter itu.


Setelah memeriksakan calon bayi mereka, kini Rendi dan Dara sudah berada didalam mobil hendak pulang.


"Apa kau ingin mampir untuk makan sesuatu sayang?" tanya Rendi yang hanya mendapatkan gelengan dari Dara.


"Tidak, aku sudah meminta Bibi untuk membuatkan sop buntut jadi aku ingin makan malam dirumah saja." jawab Dara.


"Baiklan Tuan Putri jika memang ingin seperti itu." Kata Rendi yang langsung melajukan mobilnya menuju mansion sedangkan Dara hanya terkekeh.


Saat mobil Rendi berhenti karena lampu merah, Dara seperti melihat seseorang yang Ia kenal berdiri dihalte dekat lampu merah.


"Boleh nggak berhenti sebentar di halte itu?" tanya Dara.


"Aku sepertinya mengenal orang yang sedang berdiri disana." kata Dara membuat Rendi terlihat lega, ternyata bukan ngidam yang aneh aneh.


"Kamu yakin sayang? gimana kalau sampai salah orang?"


"Enggak kok, aku yakin banget! boleh ya sayang? sebentar aja nggak akan lama." pinta Dara memohon pada Rendi.


"Baiklah baiklah, tapi aku akan ikut turun bersamamu!" jelas Rendi yang tak tahan jika melihat istrinya itu memohon pada Rendi.


"Hmmm baiklah."


Setelah lampu hijau, segera Rendi melajukan mobilnya dan berhenti didepan halte. Dara langsung keluar tanpa menunggu Rendi membuat Rendi hanya menggelengkan kepalanya.


"Siti.. kau kah itu?' tanya Dara saat keluar dari mobil dan langsung menghampiri Siti yang tengah duduk dihalte dan menangis.


Siti yang melihat kedatangan Dara dengan Rendi mantan majikan nya itu tampak mengabaikan kedua orang itu, Siti hanya menuduk, Ia tak ingin Dara melihatnya menangis, pasti Dara akan menertawakan nya.


"Siti, ini aku Dara." Dara kini sudah duduk disamping Siti.


"Pergi Lo..." kata Siti membuat Dara binggung, apa yang terjadi sama Siti? mengapa ia menangis dipinggir jalan dan membawa kopernya? batin Dara.


"Siti.. sebenarnya apa yang terjadi ? kenapa kamu disini dan nangis?" tanya Dara iba.


"Gue bilang pergi Lo... gue nggak butuh Lo! oh Lo disini mau ngetawain gue ? iya kann!" sentak Siti, Dara hanya menggelengkan kepala, Dara tak menyangka mengapa Siti bisa berfikir seperti itu.


Rendi yang melihat Dara diperlakukan tidak baik, buru buru mendekati Dara "Sudahlah sayang, nggak perlu peduli sama orang kayak dia, lebih baik kita pergi aja." ajak Rendi membuat Dara mendelik, mengkode Rendi "Jangan ngomong kayak gitu."


"Aku binggung sama kamu .. sebenarnya salah aku tu apa ? kenapa kamu selalu benci sama aku, padahal selama ini semua yang aku lakukan tulus nggak ada niat buat nyakitin kamu." kata Dara berharap dirinya dan Siti bisa kembali seperti dulu.


"Sampai sekarang kamu masih belum sadar juga? Lo itu udah ngrebut pacar gue!!" sentak Siti , kali ini Rendi cukup terkejut.


"Dia suka sama aku tapi aku nggak pernah sekalipun ngrespon! kamu salah paham sama aku! kenapa kamu nggak tanya sama dia dan malah selalu mojokin aku ?" Dara terlihat frustasi. Rendi yang melihat Dara seperti ingin menangis pun menjadi geram.

__ADS_1


"Dara masuk mobil, kita pulang sekarang!!" kata Rendi sedikit keras hingga orang orang yang menunggu bus dihalte pun melirik kearah Rendi, Dara Dan Siti.


Dara yang masih duduk pun membuat Rendi sangat geram.


"MASUK DARA!!! APA KAMU MAU MEMBANGKANG PERINTAH SUAMI KAMU SEKARANG!!!" Rendi mengatakan dengan sangat keras hingga membuat Dara takut dan segera berlari meninggalkan Siti memasuki mobil.


"Karena kamu selalu beruntung dan selalu dicintai banyak orang, jadi aku benci sama kamu Dara! sampai kapanpun!" lirih Siti saat Dara sudah tak terlihat.


...


Keheningan terjadi dimobil, entah Dara ataupun Rendi keduanya masih sama sama bungkam. Sesekali Rendi mendengar tangis sesenggukan dari Dara.


"Apa kau akan terus seperti ini dan membuat bayi kita sedih sayang?" tanya Rendi yang kini sudah sampai didepan mansion mereka "Maafkan aku sayang, aku tak bermaksud membentakmu!" kata Rendi yang kini sudah merengkuh Dara dalam pelukan nya membuat Tangis Dara semakin menjadi.


"Aku tu nggak tau apa salahku sama Siti selama ini, aku udah berusaha baik sama dia meskipun dia selalu jahat, tapi kenapa aku selalu dituduh merebut kekasih nya? Aku sama sekali nggak melakukan itu." kata Dara masih menangis.


Rendi terlihat menepuk nepuk bahu Dara mencoba menenangkan Dara. "Sudahlah sayang, jangan terlalu dipikirkan hmm, aku percaya sama kamu, kamu nggak akan seperti itu." kata Rendi.


"Aku nggak tau harus gimana biar dia maafin aku!"


"Udah sayang, kalau dia nggak bisa maafin kamu artinya dia bukan orang baik." Kata Rendi yang terlihat geram pada Siti.


"Padahal aku tadi cuma mau bantuin dia, tapi kenapa dia malah benci sama aku."


"Aku bakalan minta Mama pecat dia karena udah bikin kamu nangis." ancam Rendi.


"Jangan, aku mohon jangan lakuin itu! keluarganya lagi dililit utang nanti kalau sampai Mama mecat dia bisa bisa mereka nggak bisa bayar." mohon Dara.


"Ya udah kalau begitu jangan nangis lagi hmm.. kamu nggak kasihan sama anak kita? pasti dia ikut sedih liat Mama nya nangis."


Dara terlihat sudah mengusapi pipinya yang penuh dengan air mata dan mulai menghentikan tangisnya.


"Kamu janji yaa jangan sampai pecat dia?"


"Iya sayang, kamu juga harus janji jangan sedih lagi apalagi nangis kayak gini, pokoknya aku nggak mau kamu berhubungan lagi sama Siti itu, awas aja kalau kamu sedih lagi gara gara dia, langsung aku pecat!" ancam Rendi.


"Iya.. iya.. aku janji nggak akan nangis lagi."


"Ya udah yukk.. masuk rumah trus makan malam, aku udah laper banget sayang." keluh Rendi membuat Dara terkekeh melihat sifat manja Rendi.


Keduanya pun masuk dan langsung disambut oleh para Maid mereka.


...


"Lo tumben pagi pagi dah masak banyak banget Nan?" tanya Randi saat melihat meja makan banyak sekali lauk dan kue.


"Gabut aja Tuan, eh mumpung holiday kenapa nggak kerumah Mbak Dara lagi? aku masih pengen ngobrol ngobrol sama mbak Dara." kata Kinan yang masih sibuk memberikan toping messes pada kue donat buatan Kinan.


"Lo mau kesana lagi?" tanya Randi yang kini tengah mencicipi kue donat buatan Kinan "Enak." kata Randi yang membuat Kinan senang.


"Kalau boleh sih, lagian udah bikin kue sebanyak ini nggak bakalan habis kita berdua." kata Kinan memperlihatkan 3 loyang donat yang sudah diberikan toping.


"Ya udah kita kesana." kata Randi yang langsung membuat Kinan sumringah.


"Aku bakalan bungkus kuenya dulu." kata Kinan yang kini sibuk membungkus donatnya pada kotak donat membuat Randi curiga jika Kinan sengaja menyiapkan ini semua untuk ke mansion Rendi.


"Aku siap siap dulu yaaa?" Kinan sudah berlari kekamarnya sedangkan Randi hanya menggelengkan kepalanya tak mengerti.


"Bisa bisanya Lo tertarik sama suami orang!" desis Randi.


BERSAMBUNG...


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN.


Ohh ya readersss jangan lupa dukung novel aku....


"Sekertaris culun milik ceo tampan"

__ADS_1


__ADS_2