
Kini Dara tengah menikmati makan malam bersama dengan keluarga Sanjaya. Dimeja makan semua orang hadir, ada Papa, mama , Randi, Rendi dan juga dirinya.
"Perkiraan kamu melahirkan kapan Dara?" tanya Papa pada Dara disela sela makan malam.
"3 bulan lagi Pa." Jawab Dara yang masih kikuk karena Ia belum terlalu dekat dengan mertuanya itu meskipun mertuanya sangat menyanyanggi Dara namun Dara masih merasa minder karena dulunya ia hanya Maid dimansion ini.
Papa terlihat mengangguk "Kamu jaga Istri dan calon anakmu baik baik Rendi." perintah Papah pada Rendi.
"Tenang aja Pa... cucu Papa bakalan Rendi jagain baik baik."
"Apa nggak sebaiknya kalian tinggal disini aja? jadi Mama bisa deket sama Dara nanti kalau pas mau lahiran kan ada Mama." usul Mama.
"Nggak perlu Ma.. lagian dimansion aku juga ada banyak Maid yang nantinya nemenin Dara." kata Rendi.
"Iya Ma... Dara nggak apa apa kok." Dara juga ikut menimpali.
Rendi cukup tau mungkin Dara akan merasa tak nyaman jika tinggal bersama orangtuanya dimansion ini maka dari itu Rendi lebih memilih membeli Mansion baru untuk keluarga kecilnya itu.
"Papa harap kamu jaga calon cucu Papa baik baik Dara." kata Sanjaya.
"Iya Pa...Papa nggak usah khawatir " jawab Dara sopan.
Dara sungguh beruntung memiliki mertua yang tak mempermasalahkan status sosialnya. Dara sering membaca novel dan cerita yang menceritakan bagaimana kejamnya mertua jika mendapatkan menantu miskin namun kenyataan nya Mertuanya bukanlah orang seperti itu. Dulu sewaktu masih menjadi majikan Dara juga mertuanya sangat baik padanya. Tidak Hanya pada Dara saja, Tuan dan Nyonya Sanjaya sangat baik dengan semua maid dimansion nya.
Setelah makan malam Dara serta Rendi larut dalam obrolan bersama keluarga Sanjaya hingga larut malam dan memutuskan untuk menginap dimansion Sanjaya.
"Kamu kok kayaknya seneng banget?" tanya Rendi saat keduanya sudah berada dikamar.
"Masa sih? keliatan banget yaa?" jawab Dara malu malu Sedangkan Rendi hanya mengangguk dan berbaring diranjang.
"Sini boboan sama aku, aku pengen meluk kamu sayang." manja Rendi yang sudah menyiapkan lengan nya untuk tumpuan kepala Dara.
Dara hanya menurut dan berbaring disamping Rendi.
"Mulai besok kamu udah sibuk lagi ya?" tanya Dara yang kini sudah memeluk Rendi.
"Iya... kamu masih kangen ?" Rendi menggoda Dara.
"Kalau aku kangen trus dateng kekantor kamu nggak apa apa?" tanya Dara.
"nggak apa apa sayang, ngapain sih pake nanya!' kesal Rendi.
__ADS_1
"Mastiin aja, kali aja kamu nggak suka atau malu mungkin." Rendi yang mendengar ucapan Dara langsung ******* kasar bibir Dara hingga Dara kesulitan bernafas.
Dara memukul lengan Rendi keras karena kesal Rendi menciumnya kasar.
"Maaf sayang, lagian kamu ngomongnya suka aneh aneh, siapa coba yang malu." kekeh Rendi.
"Ya aku takut aja, aku kan dulu cuma mai-" belum sempat meneruskan ucapanya Rendi kembali memanggut bibir cherry Dara namum dengan panggutan yang lembut.
"Shhhhh." Dara mendesah kala Rendi tak hanya memanggut bibirnya namun juga tangan yang bergerilya ditubuhnya.
"Boleh nggak nenggokin dedek?" tanya Rendi dengan bola mata memanas penuh nafsu.
Dara hanya mengangguk pertanda setuju, kemudian keduanya saling melepas baju masing masing, memangut bibir penuh cinta dan menyatukan hingga hanya terdengar suara desahan dan erangan yang mengisi kamar mereka.
.....
Paginya setelah Rendi mengantar Dara kembali ke mansion, Rendi segera melajukan mobilnya menuju kantornya.
Sedangkan Dara terlihat memasuki mansion lalu berhenti kala melihat Bi surti tengah berjalan keluar membawa keranjang sayur.
"Bibi mau kepasar?" tanya Dara.
"Ohh enggak Bi... aku udah sarapan dirumah Mama tadi, ohh ya Bi, aku ikut yaa?" kata Dara.
"Ehh jangan Non, kan Non lagi hamil , nanti kalau ada apa apa saya bisa dimarahin sama Tuan Rendi." kata Bi Surti dengan raut khawatirnya.
"Enggak apa apa Bi, aku dulu juga sering kepasar kok dan juga aku nggak bakal bilang sama Rendi, ya boleh yaa?" bujuk Dara.
"Ya sudah kalau Non Dara maksa, kita belanja disupermarket saja." kata Bi Surti tak ada pilihan.
"Hmm ya sudah ayo Bi..." Dara terlihat tak sabar hingga menarik tangan Bi Surti dan berlari menuju mobil yang akan mengantar keduanya.
"Coba yang jadi istrinya Tuan Rendi itu gue, ahh ga bakal mau gue ikut ke pasar gitu, dasar udik udah kaya masih aja kampungan." batin seorang maid yang mendengarkan obrolan keduanya.
Kini Dara dan Bi Surti sudah sampai disebuah supermarket.
"Non, nanti jalannya hati hati yaa, saya takut kalau sampai ada apa apa sama Non Dara nanti saya bisa dipecat sama Tuan." kata Bi Surti dengan raut wajah khawatir.
"Iya Bi.. tenang saja..."
Keduanya pun memasuki supermarket dan mengambil troli lalu berkeliling mencari apapun yang dibutuhkan.
__ADS_1
Hingga mata Dara melihat sebotol yogurt rasa blubery kesukaannya yang dulu sering Ia beli. segera Dara mengambil botol Yogurt blueberry yang hanya tertinggal satu saja.
"Dokter aku ingin itu." suara anak kecil dibelakang Dara membuat Dara ingin menenggok dan melihat Anak kecil nerwajah pucat dan Berkepala botak tanpa rambut sedang digandeng oleh seorang pria yang seumuran dengan Rendi.
"Aku mau minuman itu." kata Anak kecil itu sambil menunjuk botol yogurt yang dibawa Dara.
"Kita cari yang lain saja bagaimana?" bujuk pria itu yang melihat di rak sudah tak ada lagi minuman Yogurt yang rasa blueberry.
"Aku mau itu!!!' anak Itu terlihat hampir menangis.
Dara yang melihat anak kecil itu segera menghampirinya. "Kau mau ini?" tanya Dara memperlihatkan botol minuman pada Anak kecil itu dan Anak kecil itu mengangguk.
"Baiklah, ini untukmu." kata Dara menyerahkan botol yogurt yang sebenarnya Ia sendiri juga ingin.
"Terimakasih kak." kata Anak kecil itu.
"Siapa namamu?" tanya Dara yang gemas melihat anak kecil itu.
"Nana." jawabnya membuat Dara terkejut, karena Dara pikir anak itu laki laki namun ternyata perempuan.
Dara berdiri "Putrimu sangat lucu." kata Dara pada Pria yang sedari tadi menatapnya itu.
"Dia bukan putriku, dia salah satu pasien leukimia dirumah sakitku " jelas pria itu.
"Ohh maafkan aku.." Dara terlihat Kikuk.
"Tak masalah, terimakasih sudah mau mengalah untuknya."
"Non Dara disini? saya cari kemana mana." kata Bik Surti terlihat sangat panik.
"Maaf Bi, " Dara hanya Terkekeh. "ya sudah saya duluan, bye Nana sampai ketemu lagi." pamit Dara pada Nana dan pria itu yang hanya memgangguk kemudian melihat punggung Dara yang semakin menjauh.
"Dokter suka sama kakak itu?" tanya Nana.
"kakak itu baik yaa sama Nana." kata Dokter itu dan Nana hanya mengangguk girang.
"Ayo kita bayar minuman mu dulu." ajak pria yang kini sudah mengendong Nana.
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN YAAA...
__ADS_1