My Maid My Wife

My Maid My Wife
08


__ADS_3

Dara kini sudah berada didepan pintu apartemen Randi, bersama dengan Randi yang kini ada disampingnya sedang menekan tombol password masuk apartemenya.


Setelah pintu terbuka nampaklah sebuah ruangan minimalis dan terlihat sangat mewah dengan nuansa warna gold yang menjadikan ruangan minimalis itu terlihat mewah.


Tampak Randi membuka sebuah pintu yang terlihat seperti sebuah kamar.


"Disini kamarmu dan kamarku disebelah sana." kata Randi membuat Dara sedikit terkejut pasalnya kamar mereka terpisah.


"Kamu tak berharap lebih kan tentang pernikahan kita?" tanya Randi dengan wajah dingin.


"Tentu saja " jawab Dara ragu.


"Aku hanya kasian dengan mu, dengan keadaanmu setidaknya ini bisa membantumu agar kamu tak malu hamil sebelum menikah." kata Randi membuat dada Dara berdenyut nyeri tak menyangka ternyata itulah alasan Randi menikahinya.


"Sebenarnya tuan tak perlu melakukan itu, saya tidak apa apa." kata Dara mencoba tegar.


"Tak perlu sungkan lagi pula aku juga membutuhkan seorang maid diapartmen ini untuk membantuku bersih bersih, jadi lakukan yang sudah menjadi tugasmu dan aku yang akan membayarmu setiap bulan nya." kata Randi menambahkan luka dihati Dara.


"Baiklah tuan."


Dan tanpa sepatah kata lagi Randi meninggalkan Dara yang terlihat terpuruk.


Dara memasuki kamar yang memang disiapkan untuk dirinya, kamar yang tak terlalu besar dan cukup sempit jika dilihat karena hanya ada ranjang yang hanya bisa ditiduri oleh seorang saja dan juga almari kecil kemudian disamping kiri terlihat ada pintu masuk kamar mandi .


Dara mulai mengeluarkan baju bajunya dan menempatkan di almari yang sudah disediakan itu.


"Yah memang segalanya akan berakhir seperti ini, memang aku harus mengharapkan yang seperti apa lagi?" batin Dara mencoba tersenyum kemudian ia mengelus perutnya yang masih terlihat rata.


"Semoga kamu sehat terus ya sayang, Mama akan berjuang buat ngebesarin kamu sendiri." kata Dara sambil mengelus perutnya.


....


Randi sedikit resah didalam kamarnya, tentu saja ia merasa resah dan sedikit bersalah, ia sadar sangat sadar jika ucapanya sangat menyinggung dan menyakiti perasaan Dara.


Tidak seharusnya Randi bersikap seperti itu pada Dara. Lamunan pusing Randi buyar ketika ponselnya berdering .


Sayang calling...

__ADS_1


Kekasihnya menelepon, astaga Randi lupa jika ia ada janji makan malam dengan Kekasihnya.


"Lama banget sih angkatnya." suara wanita ditelepon yang sepertinya sedang ngambek.


"Maaf, aku baru sampe apartemen." balas Randi harus membohongi kekasihnya.


"Kamu nggak lupa kan sayang kalau malam ini kita dinner?" tanya Indah pada Randi.


"Enggak dong sayang, tentu aja nggak lupa, oh ya kamu mau dinner dimana biar aku booking tempatnya dulu." tanya Randi pada Indah.


"Nggak perlu boros boros makan malam diluar sayang, sekali kali kita makan diapartemen kamu aja gimana biar aku yang masakin, aku udah siapin bahan nya nih tinggal berangkat ke apartemen kamu." ucap Indah nampak sumringah.


"Eh, kamu mau kesini.? tanya Randi terlihat gelagapan.


"Iya emang kenapa? kamu sibuk yaa?" tanya Indah.


"Engg-enggak sayang, cuma kenapa harus diapartemen aku?" tanya Randi Ragu.


"Lah kan aku udah biasa kesana juga, kenapa sih kamu kok aneh ada yang kamu sembunyiin dari aku yaa?" tanya Indah curiga.


"Oke deh." jawab Indah kemudian memutuskan panggilan sepihak.


Pusing... itulah yang dirasakan Randi sekarang, ia benar benar tak ingin Indah sampai tau jika ia menikah dengan Dara, jangan sampai Indah tau , jika Indah tau bisa bisa kekasihnya itu meninggalkanya.


...


Indah menekan bel apartemen Randi berkali kali, sedikit kesal karena Randi menganti password masuk apartemennya hingga membuat Indah harus menunggu didepan pintu karena tak langsung bisa masuk.


"Lama banget sii buka nya." omel Indah saat pintu terbuka namun sedikit terkejut ketika yang membuka pintu adalah seorang wanita, wanita yang tak asing bagi Indah.


"Kamuuu?" kata Indah mencoba mengingat ingat.


"Dokter." sapa Dara sedikit terkejut melihat dokter nya kemarin memeriksanya datang kemari dengan membawa banyak belanjaan yang terlihat seperti belanjaan dapur, untuk apa, batin Dara, apa Randi menghubungi dokter indah untuk memeriksa nya batin Dara.


"Ohhh iya, kamu yang aku periksa kemarin, pantes aja nggak asing, ngmong ngmong ngapain kamu disini?" tanya Indah sedikit curiga.


"Sayang, kamu udah datang?" tanya Randi yang keluar menemui Indah membuat Dara sedikit lega tak harus menjawab pertanyaan Indah.

__ADS_1


"Jadi Tuan Randi dan Dokter Dara sepasang kekasih?" batin Dara sedikit merasa bersalah karena dokter Dara cukup baik denganya.


"Kok ada gadis yang aku ceritain kemarin di apartemen kamu?" tanya Indah lantang tanpa merasa tak enak dengan Dara yang masih disana.


"Aku lupa mau cerita, kemarin kan aku bilang kalau Dara salah satu maid dirumah papah sama mamah, la dia emang sengaja ditugasin mamah kesini buat bantu bantu bersih bersih apartemen." jawab Randi membuat Dara sedikit terkejut dengan pengakuan Randi yang tak mau mengakuinya didepan kekasihnya.


Tentu saja Randi tak akan mengakuinya, dia hanyala pembantu mana mungkin Randi mengakuinya didepan umum dan Akhirnya Dara juga mengerti inilah alasan mengapa Randi menikahinya secara tertutup dan tanpa mengundang siapapun, ternyata Randi memang tak tulus menikahinya.


"Kamu istirahat dulu sana, kan udah selesai bersih bersihnya." kata Randi pada Dara membuat lamunan Dara buyar.


"Iya, kamu lagi hamil jangan kerja terlalu berat dan keras ya? kalau Randi nyuruh kamu yang aneh aneh langsung bilang sama aku biar aku marahin Randinya." kata Indah.


"Iya Dokter terimakasih, saya permisi dulu." Dara nampak meninggalkan pasangan kekasih itu.


Dara memasuki kamarnya dan menangis sejadi jadinya disana.


Ia sangat menyesal dan merasa jahat, jika saja ia tahu lebih awal jika Randi memiliki kekasih, tentu saja ia tak akan menerima pernikahanya dengan Randi, ia lebih memilih hamil diluar nikah walaupun harus menerima hujatan banyak orang dari pada sekarang ia harus menjadi orang ketiga dihubungan Randi dan Indah yang sudah sangat baik denganya.


Ia sungguh tak bisa membayangkan jika saja Dokter Indah tau jika ia menikah dengan Randi mungkin Doker Indah akan sangat kecewa denganya.


Dara menghela nafas lelah, sepertinya memang hubunganya dengan Randi hanya sebatas pembantu dan majikan, Dara tak boleh melampaui batasnya, ya ia harus lebih berhati hati sekarang agar Dokter Indah tak mengetahui statusnya dengan Randi.


Didalam kamar, sayup sayup Dara mendengarakan suara candaan pasangan kekasih yang terlihat harmonis itu.


Dan saat sudah larut Dara mendengar suara desahan dari kamar sampingnya yang ditempati Randi, tentu saja itu suara desahan Dokter Indah dan Randi sedang bercinta.


Membuat Dara rindu...


Ya Dara rindu dengan tuan nya...


Tuan pemilik hatinya....


Bersambung.....


jangan lupa like vote dan komen...


Maaf yaa readersss... author ganti judul 😁

__ADS_1


__ADS_2