My Maid My Wife

My Maid My Wife
09


__ADS_3

Pagi hari Dara terbangun lebih awal karena ia merasakan mual hebat diperutnya.


Hoekkkk...


Hoekkkk....


Dara memuntahkan segala isi perutnya, setelah dirasa lega Dara keluar dari kamarnya dan hendak mengambil air minum namun betapa terkejutnya Dara melihat Randi dan Dokter Indah tertidur disofa sambil berpelukan dan keduanya telanjang.


Dengan penuh hati hati, Dara melewati keduanya dan cukup lega karena telah sampai di didapur tanpa menimbulkan suara meskipun dari dapur pun masih terlihat jelas sofa yang ditiduri oleh kedua pasangan itu namun Dara mencoba tak mengubris.


Setelah Cukup minum dan dirasa perutnya sudah membaik, Dara menyiapkan sarapan untuk kedua majikan nya itu.


Sampai Dara selesai menyiapkan sarapan pun kedua majikan nya itu belum bangun, sepertinya memang bagus karena Dara bisa langsung kembali kekamar tanpa harus tau mereka berdua.


.....


Randi membuka matanya dan tangan nya merasa pegal, tentu saja pegal karena disampingnya ada Indah kekasihnya yang mengunakan tanganya untuk menjadi bantalan tidur.


Cukup lama berdiam diri hingga Randi sadar jika ia dan Indah masih bertelajang bulat, ya setelah makan malam, Randi minum sedikit alkohol hingga tak sadar keduanya bergulat panas hingga mereka menikmati pergulatan disofa depan televisi.


Betapa bodohnya Randi, bagaimana jika Dara mengetahui dirinya dan Indah tertidur disofa dalam keadaan telanjang? batin Randi menyalahkan dirinya.


Diliriknya jam dinding yang tertempel masih menunjukan pukul 6 pagi.


Semoga saja Dara belum bangun batin Randi, namun betapa terkejutnya Randi melihat sarapan sudah tersaji dimeja makan, dan pastilah Dara yang membuat karena sedari tadi Indah masih tidur disampingnya.


Sebuah tangan melingkar dipinggang Randi kala Randi tengah berdiri didepan meja makan.


"Ngapain sih cuma diliatin? pembantu kamu rajin juga ya kerjanya jam segini sarapan udah siap padahal dia lagi hamil." kata Indah nampak menyender dibahu Randi.


"Aku mau mandi dulu," kata Randi melepaskan pelukan Indah, sepertinya ia sangat malas membahas Dara di pagi ini apalagi Indah yang mengajaknya bicara.


Indah pun tanpa ragu duduk dan mulai menyantap sarapan nya tanpa menunggu Randi karena ia harus bersiap juga untuk pulang bersiap siap untuk jadwal praktek nya pagi ini.


"Kamu yakin nggak mau aku anter?" Tawar Randi yang kini tengah menikmati sarapan nya setelah selesai mandi.


"Enggak sayang, aku buru buru dan kayaknya juga aku siap siap di klinik aja engga keburu kalau balik apartemen dulu." kata Indah nampak melihat isi tasnya dan melihat adakah yang tertinggal.


"Lagian kenpaa sih nggak bawa baju ganti kalau kesini?" tanya Randi.


"Yaa kan nggak tau juga kalau mau nginep." cengir Indah.


"Ya udah sayang, aku duluan yaa byeee." Indah mengecup pipi Randi kemudian berjalan keluar apartemen.

__ADS_1


Selesai menghabiskan sarapan nya Randi nampak berjalan menuju kamar Dara yang sepertinya terkunci dan benar saja saat Randi mencoba membuka ternyata terkunci.


Dan akhirnya Randi mencoba mengetuk pintu kamar Dara.


Dara yang sedang terlelap dikamarnya harus terbangun karena terdengar suara ketukan dari luar sana.


"Tuan Randi." Dara sedikit terkejut karena sepertinya ia sudah menyiapkan sarapan untuk Randi .


"Aku ingin kerumah sakit , apakah kamu ingin ikut?" tanya Randi.


"Maksud tuan, kerumah sakit menjenguk tuan Rendi?" tanya Dara Ragu.


"Hmmmm." jawab Randi.


"Mau Tuan, saya mau." balas Dara semangat.


"Oke bersiaplah, aku menunggumu dibawah, 15menit." kata Randi nampak melihat ke arah jam tangannnya.


"Baik tuan, saya segera bersiap siap." jawab Dara setelah nya menutup pintu.


Randi nampak menghela nafas kemudian turun ke bawah untuk menunggu dimobilnya.


Randi sudah berada dimobilnya dan ini sudah hampir 15 menit , terlihat Dara sudah berlari kecil menuju mobilnya.


Dara mengenakan dreees polos warna pink dan jaket jeans serta flatshoes tanpa hak yang terlihat anggun menurut Randi.


Entahlah Randi merasa Dara terlihat cantik hari ini, apakah efek karena Randi terlalu memperhatikan Dara akhir akhir ini, Randi pun tak mengerti.


"Tuan setiap hari selalu kerumah sakit yaaa?"tanya Dara saat Randu sudah melajukan mobilnya.


"Hanya beberapa kali saja." balas Randi.


"Tuan nanti langsung kekantor?" tanya Dara .


"Tentu saja." jawab Randi .


"Em, boleh nggak tuan jika saya menemani Tuan Rendi lebih lama ,emm maksudnya setengah hari dan saya akan pulang sore hari untuk menyiapkan makan malam?" tanya Dara ragu takut jika Randi memarahinya.


Terlihat Randi diam cukup lama seperti sedang memikirkan permintaan Dara.


"Maaf tuan, jika memang tidak boleh tak apa." kata Dara menyesal.


"Tak masalah, lakukan saja." kata Randi tanpa melihat kearah Dara.

__ADS_1


"Terimakasih tuan, Terimakasih." Dara terlihat sangat senang sekali.


"Apakah kamu sangat mencintainya hingga kamu terlihat senang seperti itu?" batin Randi yang tak didengar oleh Dara yang terlihat bahagia.


Kedua nya telah sampai didepan rumah sakit dan Randi memarkirka mobilnya setelah itu keduanya berjalan menuju ruangan Rendi.


Keduanya memasuki sebuah ruangan Vip yang terlihat mewah dan ya memang sangat mewah.


Sedikit terkejut untuk Dara melihat nyonya Sanjaya berada disana dengan keadaan yang sedikit mengenaskan sepertinya ia tak tidur semalaman menjaga putranya itu terlihat jelas dari kantung mata nyonya sanjaya yang terlihat menghitam.


"Sayaang." panggil Nyonya Sanjaya pada Randi dan Dara yang baru saja memasuki ruangan Rendi dirawat.


"Mama masih disini, bukan nya kemarin sudah ada suster yang menjaga Rendi?" tanya Randi pada mama nya.


"Hmm Mama nggak bisa tidur akhirnya mama memutuskan kesini untuk menemani Rendi." kata sang Mama.


"Mama sekarang pulang ya istirahat, biar Dara yang menjaga Rendi disini, nanti mama kecapekan kalau nggak pulang istirahat." kata Randi .


"Apa nggak apa apa kalau Dara menemani Rendi disini , Dara kan lagi hamil?" tanya Nyonya Sanjaya yang tak mempermasalahkan Dara yang hanya bekas pembantu ditempatnya.


"Nggak apa apa ma,. lagian Dara bosen diapartmen jadi ya aku saranin aja kesini biar lebih deket kan sama adik iparnya.m. iya kan sayang?" kata Randi mengelus rambut Dara membuat Dara sedikit merasa enak.


"Iya nyonya, saya nggak apa apa nemenin tuan Rendi disini." kata Dara pada nyonya Sanjaya.


"Kamu kan sekarang sudah bukan pembantu lagi ngapain manggilnya nyonya, harusnya manggil mama dong." protes Nyonya Sanjaya.


"Maaaf.. ma... mama.. masih belum terbiasa." kata Dara kaku membuat Randi dan Nyonya Sanjaya tersenyum Geli.


"Ya udah mama nitip Rendi yaaa, nanti mama kesini lagi." kata Nyonya Sanjaya nampak mengambil tasnya dan bersiap untuk pulang.


"Iya mamah." balas Dara.


Nyonya sanjaya keluar dari ruangan dan hanya tersisa Dara dan Randi yang masih berada diruangan itu.


"Aku berangkat dulu." pamit Randi setelah mamahnya tak terlihat.


"Baik tuan."


Kini tinggalah Dara diruangan itu, Dara memandangi wajah lelaki yang mungkin sudah ia cintai sekarang.


Lelaki yang sudah memberikan benih dirahimnya.


"Hai Tuan Rendi, apa kabar?" tanya Dara yang kini sudah duduk di depan Rendi yang masih memejamkan mata diranjang rumah sakit.

__ADS_1


Bersambung.....


jangan lupa like vote dan komen ...


__ADS_2