
Randi keluar dari mobilnya dan berjalan memasuki rumah orangtuanya, biasanya Randi jarang sekali pulang ķarena memang ia lebih sering diapartemennya namun karena malam ini ia ingin menemui Dara akhirnya ia memutuskan untuk pulang.
Randi berjalan memasuki ruang keluarga dan melihat para pembantunya sedang berkumpul dan sedang membicarakan sesuatu yang penting.
"Ada apa ini?" tanya Randi penasaran.
"Tuan Dara sedang dipanggil Tuan dan Nyonya," jawab salah satu pembantu dirumah itu.
"Memang nya kenapa?" tanya Randi
"Dara ketauan hamil dan nyonya serta tuan marah besar den, kemungkinan Dara akan dipecat." balasnya membuat Randi terkejut bukan main.
Segera Randi berlari menuju ruang kerja Papahnya dan mendengar memang suara Papahnya sedang memarahi Dara, akhirnya Randi memasuki ruang kerja tanpa mengetuk pintu.
"Aku yang akan tanggung jawab, karena bayi yang dikandung itu adalah anakku." kata Randi yang membuat ketiga orang menoleh dan terkejut melihat siapa yang datang.
"Tuan Randi." Dara sedikit terkejut.
"Apa maksud kamu Randi?" tanya Tuan dan Nyonya Sanjaya secara bersamaan.
"Randi yang bakalan tanggung jawab Pah ...Mah.. karena itu Anak Randi, maafin Randi mah Pah udah ngecewain mamah sama Papah." jelas Randi yang kini mendekati Dara yang duduk dilantai.
"Dasar brengsek kamu, Papah sekolahin kamu tinggi biar kamu jadi anak bener tapi apa sekarang, kamu ngehamilin pembantu kamu sendiri yang tidak selevel sama kita." kata Tuan Sanjaya nampak memberikan bogem pada Randi.
"Udah Pah, jangan pukul Randi." nyonya Sanjaya nampak histeris.
"Biar mah, biar otak Randi sadar selama ini kita itu udah ngajarin semua yang bener sama dia tapi malah kelakuan nya kayak gini." Geram tuan Sanjaya.
Randi nampak memeganglgi pipi bekas tinju sang papa yang terlihat memar, Dara tak kalah terkejut, ia ingin mendekati Randi namun ia sadar dirinya disini bukan siapa siapa.
"Bukan tuan Randi ,tuan, nyonya. bukan tuan Randi yang menghamili saya." kata Dara memberanikan diri.
"Aku yang menghamilimu Dara dan aku yang akan bertanggung jawab, entah mama sama papa setuju atau tidak aku akan tetap menikahi mu." kata Randi sambil masih memeganggi pipinya.
__ADS_1
"Bagus, memang kamu harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan mu itu, papah benar benar malu memiliki anak sebejat kamu." kata Sanjaya penuh emosi.
"Apa selama ini papah pernah bangga dengan apa yang sudah Randi lakukan?" tanya Randi dengan tangan mengepal, nampak sang mama berada disamping Randi sambil mengelus i punggung Randi.
"Apa maksud kamu?" tanya tuan Sanjaya tak mengerti.
"Apa papah pernah bangga dengan apa yang sudah dihasilkan Randi? apa papa pernah perhatian sama Randi seperti papa perhatian sama Rendi? apa papah sadar selama ini papah selalu menomorsatukan Rendi dan tak pernah sekalipun memikirkan Randi, bahkan papa tak pernah sekalipun bersikap adil, papah lebih menyanyanggi Rendi dari pada Randi." kata Randi penuh penekanan membuat Tuan Sanjaya hanya diam membisu tak sebrutal tadi.
"Segera tetapkan tanggal pernikahan kamu sebelum perut Dara semakin membesar." kata Sanjaya kemudian keluar meninggalkan ruangan yang masih berisi Dara yang menangis, Randi dengan tangan yang masih mengepal dan juga disamping Randi masih ada sang Mama yang ikut menangis.
....
Kini Dara berada Dikamar Randi sedang membantu Randi mengompres luka memar dari pukulan sang papah dengan Air dingin.
"Tuan jangan lakukan ini, saya mohon biarlah saya yang menanggung semua ini." kata Dara sambil sesekali masih meneteskan air matanya.
"Tak perlu merasa bersalah, aku hanya membantumu karena aku juga tau siapa yang melakukan itu padamu." kata Randi membuat Dara terkejut.
"Tentu saja, aku sering melihat Rendi keluar dari kamarmu malam malam dan ia juga mengakui semuanya padaku." jelas Randi dingin.
"Dia memang pria brengsek." kata Randi lagi.
"Tapi tak seharusnya Tuan mengantikan tuan Rendi." kata Dara sedih.
Dan Randi hanya tersenyum namun senyuman yang penuh dengan teka teki.
...
Seminggu berlalu dan hari ini adalah hari pernikahan Randi dan Dara, jangan mengharapkan pernikahan layaknya cinderella karena semua itu tak terjadi pada Dara.
Pernikahan yang terbilang sangat sederhana dan tertutup, hanya ada penghulu, orangtua Randi dan juga para asisten rumah tangga yang bekerja dirumah tuan Sanjaya.
Tak ada orangtua dari Dara ataupun kerabat seperti pernikahan pada umumnya.
__ADS_1
Sedikit menghela nafas namun Dara merasa bersyukur ada yang mau menerima keadaan nya dan juga membantunya keluar dari masalah yang cukup rumit untuknya.
Baginya Tuan Randi adalah penyelamat hidupnya saat ini.
Jika saja tak ada Tuan Randi, Dara tak pernah tau seperti apa nasibnya dengan bayi yang dikandungnya itu.
Selesai acara, Dara nampak bersiap memasukan bajunya kedalam koper, setelah menikah memang Dara akan tinggal dengan Randi di apartemen Randi.
"Hebat banget lo ya, belum ada setahun disini udah bisa dapet tuan muda kaya raya lagi. bener bener jago, ngerayu biar dihamilin trus minta tanggung jawab buat dinikahin, nggak tau malu." kata Siti sinis namun tak digubris oleh Dara.
"Belangu banget Lo, diajak ngomong nggak ngejawab, jangan mentang mentang lo udah dapetin tuan Randi trus gue takut sama elo!" kata Siti nampak menjambak rambut Dara membuat Dara meringgis kesakitan.
"Gue capek ngeladeni elo yang selama ini ngga pernah percaya sama gue." balas Dara melawan melepas paksa jambakan Siti.
"Karena emang itu kenyataanya." kata Siti sinis.
"Terserah apa yang mau elo lakuin gue udah nggak peduli." Dara terus mengemasi baju bajunya.
"Berarti kalau gue kabarin orang orang dikampung termasuk keluarga elo, nggak masalah dong." ancam Siti tersenyum sinis membuat Dara menghentikan aktifitasnya.
"Kenapa? kataya tadi nggak peduli sama apa yang gue lakuin." kata Siti santai.
"Sampai elo nyebarin di kampung dan sampai keluarga gue tau trus kenapa napa, gue nggak akan tinggal diem, elo liat aja sekarang gue udah jadi nyonya Randi dan gue bisa ngelakuian apapun karena gue banyak duit, jadi kalau elo macem macem lagi sama gue, gue pastiin elo nggak akan pernah bisa ngomong lagi." kata Dara geram, sejujurnya Dara malas meladeni Siti namun jika siti sampai mengadukan pada keluarganya ia benar benar khawatir akan terjadi sesuatu pada ayahnya yang kini sedang sakit.
"Brengsek!" geram Siti kemudian meninggalkan Dara dikamarnya.
Dara hanya tersenyum sinis, setidaknya ia bisa menakut nakuti Siti akan tak melakukan apapun lagi karena ia benar benar sudah lelah meladeni tingkah laku Siti terhadapnya.
Walaupun sebenarnya ia juga tak akan berani melakukan apapun pada Siti namun setidaknya ia kini aman dan terbebas dari gangguan dan ancaman dari Siti.
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen...
__ADS_1