
Matahari mulai masuk ke celah gorden dan mulai menyentuh kulit kedua pasangan yang masih berpelukan diranjang.
'"Ugh... " Dara melengguh hendak bangun namun ia merasakan tangan berat Rendi yang masih menimpa tubuhnya.
Bukanya semakin terlepas, pelukan Rendi terasa semakin kencang memeluk tubuh Dara.
"Apa kau tak ingin bangun? ini sudah jam 9!" kata Dara pada Rendi yang tak mau melepaskan pelukanya.
Bukan nya menjawab, Rendi malah menciumi leher Dara membuat Kegelian disana.
"Geli..."
"Geli tapi suka kan??" suara Serak Rendi kini terdengar.
"Aku ingin bangun." kata Dara.
"sebentar lagi sayang, biarkan begini sebentar saja."
"Tapi aku sudah lapar!" keluh Dara yang memang memang sudah merasakan lapar, gempuran Rendi benar benar menguras tenaganya.
"Baiklah, aku yang mengalah!" Rendi melepaskan pelukannya kemudian mengecup bibir Dara.
"Mandilah dulu, kita akan makan siang dibawah sayang."
"Hmm baiklah."
Dara memasuki kamar mandi, ia mulai melucuti pakaiannya, tak berapa lama sebuah tangan melingkar dipinggangnya, sebuah bibir mengecup lehernya dan Dara sudah tau pastilah Rendi.
"Aku ingin mandi bersama." bisik Rendi sambil mengelusi punggung Dara.
"Hmmm... pasti akan berakhir lama." gerutu Dara yang hanya dikekehi Rendi.
Seperti dugaaan Dara, hampir satu jam mereka menghabiskan waktu dikamar mandi.
Dara kini sudah mengenakan kaos warna putih dan Rok selutut warna krem. sedangkan Rendi juga sama mengenakan kaos warna putih dan celana pendek warna krem, entah siapa yang memilihkan baju yang mereka pakai namun keduanya terlihat sangat serasi sekali. Meskipun Dara berasal dari kampung namun kulit dan tubunnya sangat terawat, wajah Dara juga cantik tak kalah dengan para wanita kota, hanya saja dulu nasibnya belum beruntung namun siapa sangka dengan wajahnya ini ia bisa menarik perhatian Rendi hingga menjadi istri Rendi.
Keduanya duduk ditempat yang menghadap pemandangan danau karena hotel yang mereka sewa dekat dengan sebuah danau.
Setelah duduk keduanya memesan makanan.
"Kau suka tempat ini?" tanya Rendi saat melihat sang istri yang terkagum dengan kemewahan hotel ini.
"Hmm.. pasti menghabiskan banyak uang yaa menyewa tempat ini?" tanya Dara.
"Bahkan uangku tak akan habis kalaupun aku harus membeli tempat ini, jadi apa yang kau khawatirkan?" kata Rendi terkekeh mengapa pula Dara harus menakutkan masalah uang.
"Aku hampir lupa jika suamiku ini orang kaya." cibir Dara membuat Rendi kembali terkekeh.
Makanan datang, mereka mulai menikmati menu sarapan ala ala hotel bintang lima.
"Dimana keluargaku?" tanya Dara yang hampir melupakan keluarganya sehabis pesta semalam "Apa mereka sudah pulang?" tambah Dara.
Rendi mengeluarkan ponselnya, kemudian ia memperlihatkan layar ponsel pada Dara yang langsung membuat Dara tersenyum.
Rendi memperlihatkan sebuah foto dimana keluarga Dara sedang menikmati dan bersantai dipinggir danau.
"Aku pikir mereka udah pulang." kata Dara masih tersenyum.
"Aku nyuruh salah satu pengawal buat nemenin mereka jalan jalan disekitar sini." kata Rendi.
"Makasih yaa."
"Makasih kenapa sih.?" binggung Rendi.
"Makasih kamu udah bikin seneng keluargaku.'' kata Dara yang membuat Rendi terkekeh geli.
"Kamu ngomong apa sih sayang." Rendi hanya menggelengkan kepalanya, bukankah memamg sudah sepantasnya dirinya membuat Dara dan keluarganya bahagia?.
"Nanti habis sarapam, kita susul mereka yaaa?" pinta Dara.
"Hmm apapun untuk kamu sayang." kata Rendi.
Dara segera menghabiskan sarapan nya karena Ia ingin cepat menyusul Keluarganya.
Rendi dan Dara pun berjalan keluar hotel untuk ketaman yang ada danau nya dimana keluarga Dara sedang bersantai disana.
Sepanjang berjalan kaki, Rendi selalu menggenggam erat tangan Dara membuat semua orang yang melihat sangat iri dan bahagia melihat pasangan yang serasi ini begitu romantis sekali.
"Ayah.. Ibu.." panggil Dara saat melihat kedua orangtua nya sedang duduk diatas tikar dibawah pohon beringin sedang menikmati hawa danau. Leha dan Tomo nampak tersenyum melihat Rendi dan Dara yang berjalan mendekat.
"Dhea mana Bu?" tanya Dara yang tak melihat adiknya itu.
"Tuh lagi selfi disana." kata Ibu menunjuk pinggir Danau dimana Dhea sang adik sedang selfi seorang diri disana.
"Kok deket deket gitu, bahaya nanti kalau Dhea jatuh gimana?" khawatir Dara.
__ADS_1
Rendi memanggil salah satu anak buahnya "Kamu jaga Dhea, jangan sampai jatuh!" perintah Rendi yang hanya diangguki oleh pengawalnya. pengawal itu berlari dan mendekati Dhea.
"Makasih nak Rendi." kata Leha dan Rendi hanya tersenyum saja.
"Maafkan Ayah yang selama ini salah nilai kamu Rendi." kata Tomo tiba tiba membuat Dara dan Rendi sedikit canggung. pasalnya selama pernikahan Tomo sama sekali tak berbicara dengan Rendi, kecuali saat ijab kabul saja.
"Nggak apa apa Yah, dari awal memang saya yang sudah salah!" akui Rendi.
"Ayah hanya ingin yang terbaik untuk Dara dan sekarang Ayah percaya kamu bisa jadi yang terbaik untuk Dara." jelas Tomo yang langsung membuat semua orang yang disana lega.
"Terimakasih telah memberikan kepercayaan untuk saya Yah." kata Rendi yang sebenarnya malu mengatakan itu karena awal kemarin saat Tomo tak merestui hubungan mereka, Rendi sempat menyerah namun beruntung cinta nya untuk Dara sangatlah besar hingga ia kembali berjuang, tentunya karena Randi kembaran Rendi juga yang ikut andil dalam hubungan mereka.
"Ayah harap setelah ini kalian hidup bahagia, jika sampai kamu menyakiti Dara, Ayah yang akan ambiil Dara lagi!" jelas Tomo.
"Ya Yah, Rendi akan berusaha buat selalu membahagiakan Dara." kata Rendi mantap.
Dara dan Leha yang mendengar Ayah dan Rendi akur itu bersyukur lega. Mereka kembali menikmati liburan sebelum Keluarga Dara pulang kekampung.
"Kalian jaga diri baik baik disini, Rendi kamu juga harus ikut jaga calon anak kamu!" jelas Tomo saat akan kembali kekampung.
"Iya Yah, udah pasti itu, Ayah sama Ibu tenang aja!"
"Kalian juga jangan lupa sering pulang kampung yaa?" nasihat Leha.
"Iya Bu.. nanti Dara bakalan sering pulang."
"Kak nanti kalau pulang bawain baju yang bagus bagus yaa?" kata Dhea tak lupa dan Dara hanya mengangguk setuju.
"Seharusnya Ayah, Ibu sama Dhea tinggal disini lebih lama." kata Dara yang enggan berpisah dengan keluarganya itu.
"Ayah sama Ibu nggak mau ngrepotin kalian, lagian Ayah juga harus ngurus sawah juga." kata Tomo.
Tomo, Leha dan Dhea sudah memasuki mobil yang akan mengantar mereka sampai kampung.
"Bawa mobilnya hati hati dan pastikan keluarga saya selamat sampai kampung!" perintah Rendi pada salah satu pengawal yang mengantarkan keluarga Dara pulang.
"Iya Tuan.."
Mobil yang ditumpangi Keluarga Dara pun melaju meninggalkan hotel, tampak keluarga Dara melambaikan tangan pada Dara dan Rendi yang juga dibalas oleh Dara dan Rendi.
"Sekarang giliran kita yang pulang sayang." ajak Rendi mengandeng tangan Dara memasuki mobil.
"Kita bakalan tinggal diapartemen yang kemarin yaaa?" tanya Dara saat keduanya sudah dimobil dan mobil sudah dijalankan oleh Pengawal Rendi.
"Enggak sayang, apartemen yang kemarin punya Randi."
"Ada deh.." Rendi mengeluarkan sebuah kain hitam kemudian menutupi kedua mata Dara.
"Kamu apaan sih?" tanya Dara kesal melihat matanya ditutupin.
"Jangan marah sayang, aku mau ngasih sureprise ihh." gemas Rendi lalu mencium pipi Dara.
"Sebenernya kita itu mau kemana sih?!" kesal Dara.
"Ya aampun sabar sayang... nanti juga kamu pasti bakalan seneng." Kekeh Rendi melihat Dara cemberut tak senang.
Dara hanya merasakan mobil melaju tak bisa melihat dimana ini karena matanya yang ditutup oleh Rendi. Hingga Dara merasa mobil udah berhenti dan Rendi keluar, tak berapa lama tangan Rendi menyentuh tangan Dara dan membawa Dara keluar.
"Kita udah sampai?" tanya Dara.
"Iya sayang."
"Boleh dibuka nggak?" tanya Dara lagi.
"Nanti sayang".
Dara mendengus sebal, sebenarnya apa sih akan diberikan Rendi untuknya ,Dara sudah sangat penasaran.
"Udah sampai, sekarang coba buka?"
Dara membuka ikatan tali yang tak kencang lalu ia membuka matanya dan terkejut melihat Dara berdiri disebuah istana yang megah, ya hampir sama seperti milik Tuan Sanjaya.
"Mulai sekarang kita akan tinggal disini?" kata Rendi yang langsung memeluk Dara yang masih terbenggong tak percaya.
"Kita beneran akan tinggal ditempat segede ini?" tanya Dara tak pecaya, Rendi hanya terkekeh kemudian membawa masuk Dara.
Dara ingin tinggal diapartemen karena disana kecil dan Dara bisalah merawat sendiri namun jika rumah sebesar ini rasanya tak sanggup jika harus membersihkan seorang diri.
Pintu terbuka dan Dara terkejut banyak orang disana, orang berbaju maid sepertinya dirinya dulu berjejer rapi menyambut keduanya dan saat Dara dan Rendi masuk semua maid itu nampak membungkuk memberi hormat.
"Selamat datang Tuan Rendi dan Nyonya Dara" sapa semua Maid serentak membuat Dara merasa bagaikan ratu yang hidup diistana.
"Dara ini semua adalah pelayan dirumah ini jadi jika kau membutuhkan apapun, kamu bisa minta mereka." kata Rendi yang masih tak didengar Dara.
Dara masih merasa semua ini hanya mimpi atau ilusinya saja, bagaimana mungkin dirinya yang dulu juga hanyalah Maid sekarang bisa menjadi Nyonya seperti ini.
__ADS_1
"aapa yang kau pikirkan sayang?" tanya Rendi yang melihat Dara hanya melamun.
"Aku mimpi nggak sih?" tanya Dara takut jika ini hanya ilusi nya saja.
Rendi terkekeh gemas kemudian mencium pipi Dara membuat Dara tersentak dan semua maid yang berdiri disana kembali menunduk.
"Kamu nggak mimpi sayang , mulai sekarang kamu memang ratu dirumah ini." jelas Rendi.
"Aku pikir kamu bakalan ngajak tinggal diaprtemenn, aku nggak nyangka kita akan tinggal di istana ini."
Rendi hanya tersenyum "Ya udah sekarang kita jalan jalan keliling rumah ini yuk" Ajak Rendi dan Dara langsung mengandeng tangan Rendi tanda setuju.
"Mulai sekarang kamu nggak boleh megang kerjaan apapun dirumah ini karena semua pelayan disini sudah memiliki tugas mereka masing masing." kata Rendi.
"Trus aku ngapain dong?? bosen kalau sama sekali nggak ngapa ngapain." dengkus Dara.
Rendi hanya terkekeh kemudian membuka sebuah pintu dimana disana terdapat kolam renang yang cukup besar dan disamping kolam ada taman yang indah dan dipenuhi dengan bunga mawar yang hampir mekar.
"Kalau kamu bosen, kamu kan memanfaatkan semua fasilitas yang ada dirumah ini sayang." kata Rendi "Kamu bisa berenang, bisa berkebun, bisa olahraga atau bisa baca buku,." jelas Rendi.
"Aku beneran tinggal diistana yaa?" tanya Dara masih tak percaya.
"Aku lama lama gemes sama kamu!" kata Rendi mencium dan memeluk Dara gemas membuat Dara terkekeh geli.
Dara dan Rendi mengelilingi rumahnya dan Dara sangat kagum, disini apapun ada dan yang terakhir adalah kamar mereka berdua. Yang terlihat sangat mewah dan elegant.
"Kamu suka nggak ?" tanya Rendi.
"Ini bagus banget mewah kayak kamar Mama sanjaya." kata Dara yang dulunya sering memasuki kamar Tuan Sanjaya untuk membersihkan kamar itu.
"Cobain dulu yukk ranjangnya empuka apa nggak soalnya masih baru?" bisik Rendi ditelingga Dara membuat Dara paham apa maunya suaminya itu.
"Kalau nggak empuk gimana? mau minta tuker gitu?" kekeh Dara membuat Rendi juga tarkekeh.
Dengan tak sabar Rendi membaawa Dara dalam gendongan nya dan menjatuhkan diranjang baru mereka meneruskan kembali percintaan mereka semalam.
....
"Nggak nyangka yaa Tuan Dan Nyonya kita pasangan serasi, cantik dan ganteng." puji salah satu maid saat sedang menyiapkan makan malam untuk Dara dan Rendi.
"Iya udah gitu Tuan Romantis banget pake nyium Nyonya didepan kita lagi bikin pengen aja." kata maid yang cukup muda menimbulkan gelak tawa didapur.
"Tapi denger denger dulu nyonya itu Maid dirumah Tuan Sanjaya."
"Masa sih ?? berarty dia sama kayak kita dong?"
"Iya.. beruntung banget kan yaa?".
"Andai itu gue".
Didapur para Maid berceloteh tentang majikan baru mereka, ada yang memuji namun ada juga yang iri.
....
Kinan sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk Randi sambil terus memikirkan semua perkataan Randi semalam.
Jangan memikirkan sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain, karena semua itu akan sia sia
Kinan menjadi takut, apakah Randi mengetahui jika ia menyukai Rendi?? Ah tidak mungkin tau karena dia selama ini tak menunjukan gelagat yang aneh pada Rendi batin Kinan mencoba menenangkan pemikirannya.
Makan malam sudah siap namun belum ada tanda tanda Randi pulang, akhirnya Kinan memutuskan untuk mandi lebih dulu.
Selesai mandi , Kinan keluar dan melihat sepatu Randi sudah ada dan Kinan sudah yakin jika Randi sudah pulang.
Kinan menunggu dimeja makan, Tak berapa lama Randi sudah keluar dengan memakai baju rumahan.
"Kau terlambat malam ini?" tanya Kinan saat Randi duduk didepan Kinan.
Randi memang tak memberi batasan untuk Kinan sekalipun Kinan hanyalah pembantu dirumah ini. Bahkan Randi meminta Kinan untuk selalu menemaninya makan dimeja makan. Awalnya Kinan tak mau namun setelah Randi memaksa akhirnya Kinan mau menemani Randi makan.
"Iya , banyak sekali yang harus kuselesaikan karena Rendi belum kembali bekerja." keluh Randi.
"Kau dan Randi sekantor?" tanya Kinan penasarann.
"Tidak!!! Aku hanya sedang mengantikan Posisi Rendi saja."
"Ohh."
"Rendi itu pengusaha sukses, apapun yang ia jalankan semua berhasil, berbeda denganku yang tak pernah menghasilkan apappun."
"Sudahlah, jangan merendah seperti itu." kata Kinan.
"Memang itu kenyataanya, itulah mengapa semua wanita lebih menyukai Rendi dari pada aku meskipun wajah kami berdua sangat mirip" kekeh Rendi membuat Kinan gugup.
Lagi lagi Randi menyindirnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG....
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN YAAA BIAR SEMANGAT UP...