
Seorang wanita berjalan memasuki sebuah resto, Ia melirik jam tangan nya sudah lebih 15 menit dari janji yang sudah direncanakan oleh sekertarisnya, Ia sedikit terlambat.
"Dia pasti akan memaklumi nya." batin wanita itu melanjutkan langkahnya menuju meja nomer 40. meja vvip yang berada dipojok sendiri.
Senyum wanita itu mengembang ketika melihat pria yang menunggunya terlihat jenuh. Segera Ia menghampiri pria itu.
"Maafkan aku atas keterlambatan ini." kata Wanita itu yang membuat pria yang tengah duduk langsung melihat kearah suara.
Namun bukan nya menjawab, Pria itu terlihat terkejut melihat perempuan yang datang.
"La-laras? untuk apa kau kemari?" tanya Rendi terkejut melihat kedatangan mantan kekasiihnya itu.
"Tentu saja untuk membicarakan bisnis, memangnya apa lagi?" jawab Laras angkuh.
"Apa maksudmu? bisnis apa?" tanya Rendi masih binggung.
"Varncorp adalah perusahaaan milik Papiku, kau tau kan? dan aku yang akan menangani bisnis ini."
"Sialll!! bukanlah seharusnya Gilang yang menangani bisnis ini." kesal Rendi sedangkan Laras hanya terkekeh didepan nya.
"Jadi bagaimana apakah jika aku yang menanggani akan membuatmu kembali jatuh cinta padaku? kau takut tak bisa melupakanku?" Kata Laras membuat Rendi terkekeh geli.
"untuk apa? aku bahkan sudah tak mengingat apapun tentang kita." remeh Rendi "Aku hanya tak ingin ***** sepertimu nantinya akan merusak rumah tangga ku dengan istri yang sangat kucintai." kekeh Rendi.
Laras menggepalkan tangan nya "Ouh... maid mu itu?" remeh Laras tak mau kalah.
"Yes.. maid yang sangat kucintai." lagi lagi perkataan Rendi membuat Laras geram.
"Jadi bagaimana? bisakah kita memulai sekarang?" tanya Rendi.
"Tentu..." jawab Laras yang kini sudah mulai membuka berkas yang ia bawa.
Sepanjang pembicaraan, Laras selalu mencoba memancing emosi Rendi namun ia selalu gagal, karena Rendi sama sekali tak terpancing, malah Laras yang selalu dibuat geram oleh Rendi yang selalu memuji Istrinya.
Sungguh Laras dibuat penasaran bagaimana sosok Istrinya Rendi yang mantan Maid dimansion Sanjaya, tentu penampilan dan wajahnya sangatlah dekil. Hanya membayangkan saja sudah membuat Laras terkekeh geli apalagi jika sampai bertemu.
"Kapaan kapan ajaklah istrimu saat pertemuan kita." kata Laras yang membuat Rendi melirik heran.
"Aku hanya ingin berkenalan." imbuh Laras.
__ADS_1
"Baiklah.. akan ku kenalkan." jawab Rendi santai lalu ia berajak pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan pada Laras.
Sedangkan Laras hanya tersenyum menyerigai, Ia sudah sangat tak sabar bertemu dengan Istri Rendi lalu mempermalukannya.
Rendi memasuki mobilnya lalu memikirkan sejenak tentang kerjasama nya ini, haruskah ia lanjutkan atau tidak? sejujurnya Rendi sudah sangat malas berurusan dengan Laras karena wanita licik itu pasti akan melakukan sesuatu pada Dara namun jika tidak ada kerjasama ini akan membuat perusahaan yang Ia rintis mengalami pailit karena memang perkembangan perusahaan nya sedikit tidak baik. Rendi harus bekerja sama dengan Vancorp agar perusahaan nya tetap berkembang.
Sudahlah hanya melihat Laras sebentar sudah membuatnya kesal apalagi sekarang akan sering melihatnya, sepertinya Ia harus mengajak Dara jika bertemu dengan Laras agar perasaan nya bisa terkontrol tidak selalu kesal seperti ini.
Rendi segera melajukan mobilnya meninggalkan resto tempat pertemuan itu.
"Nona lebih baik istirahatlah, biar ini kukerjakan." kata Bi surti melihat Dara sibuk didapurnya.
"Tak apa Bi.. lagipula tak ada Rendi, aku sudah rindu sekali ingin memasak seperti ini." ujar Dara yang kini sedang mengayunkan spatula dengan senyuman mengembang.
"Bagaimana kalau ada aku?" sebuah suara Pria membuat Dara menghentikan aktifitasnya, berbalik lalu memastikan jika benar yang datang adalah suaminya.
"Sa-sayang.." cengir Dara.
"Maafkan saya Tuan, saya sudah meminta Nona untuk tidak memasak namun Nona memaksanya." kata Bi Surti mengadukan pada Rendi membuat Dara mendelik tak percaya.
"Jika besok aku melihat Dara didapur lagi, kupastikan kalian akan kupecat!" kata Rendi sontak membuat semua orang yang disana terkejut.
Rendi tak mengubris ucapan Dara malah pergi meninggalkan dapur, segera Dara mengejar Rendi tak peduli dengan spaghetti yang sedang Ia buat.
"Apa apaan ini, yang salah siapa yang akan dipecat siapa!" kesal salah satu maid yang ada disana.
"Sudah sudah, lebih baik kita segera siapkan makan malam untuk Tuan dan Nyonya." kata Bi Surti pada maid yang mengerutu.
Sementara itu dengan wajah memelasnya Dara mengikuti Rendi dari belakang menuju tempat tidur mereka.
"Sayang kamu kok gitu sih sama mereka." kata Dara merajuk.
"Biarin, kalau nggak gitu kamu nggak akan nurut sama aku kan?" ketus Rendi yang duduk dipinggir ranjang diikuti oleh Dara.
"Aku bosen sayang, masa kerjaan nya cuma duduk aja sih, lagian aku juga lagi kangen pengen masak." jawab Dara masih dengan wajah memelas.
"Aku nggak mau yaa kamu kecapekan, apalagi deket kompor gitu, bahaya." ketus Rendi
"Itu bukan nya emang udah kerjaan aku dulu ya, apa sih yang kamu khawatirin?" kekeh Dara membuat Rendi tambah kesal saja.
__ADS_1
"Ketawa aja terus!" ketus Rendi.
"Iya iyaa sayang, aku minta maaf yaa, udah dong nggak usah ngambek!" Dara memeluk Rendi yang merajuk membuat Rendi sedikit lega, entah mengapa Dara membuat Mood Rendi membaik.
"Kamu kok tumben pulang siang gini? mau nemenin aku makan siang yaa?" tebak Dara sambil mengelus elus dada bidang Rendi.
"Tadinya gitu, tapi ngeliat kamu didapur tadi aku jadi males." gerutu Rendi.
"Trus aku harus gimana biar kamu nggak males lagi? nggak ngambek lagi hmm?" tanya Dara yang kini berdiri kemudian duduk dipangkuan Rendi sambil mengelusi tubuh Rendi.
"Siapa yang ngajarin kamu kayak gini hmm?" tanya Rendi yang tak menyia nyiakan kenakalan Dara kali ini, segera Rendi mengecupi leher Dara sambil tangan nya menjelajahi tubuh Dara.
"Aku kan nggak mau suamiku marah marah." bisik Dara nakal membuat Rendi tak percaya Kemana istri polosnya yang kemarin, namun tetap saja Rendi menyukainya.
"Gimana kalau pembukaan makan siangnya satu ronde dulu baru kita makan siang yang beneran?" Bisik Rendi yang langsung diangguki Dara.
Kini Dara memulai permainan diatas, meskipun baru pertama kali melakukan namun Dara tidak megecewakan Rendi, sedari tadi Rendi mendesah sambil memanggil nama Dara berulang kali.
"Kamu kok pinter banget siapa yang ngajarin nakal kayak tadi?" tanya Rendi saat keduanya usai dengan satu ronde nya.
"Aku kan belajar dari kamu." kekeh Dara.
"Rasanya aku mau lagi?" bisik Rendi.
"Nanti kamu telat balik kantornya." ingat Dara.
"Kamu nggak lupa kan kalau suami kamu ini yang punya, aku nggak balik aja nggak apa apa." kekeh Rendi dengan sombongnya.
"Baiklah Tuan sombong... mari kita lakukan satu Ronde lagi." Kata Dara yang kini sudah naik ketubuh Rendi.
Keduanya Dikejutkan oleh Suara ketukan pintu saat Dara hendak mengecup bibir Rendi.
"Tuan Nona... makan siangnya sudah siap."
Shitt.....
BERSAMBUNG....
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN
__ADS_1
..