
Rendi.....
Ternyata Rendi...
yang kini berada didepanya adalah Rendi bukan Randi.
yang menikahinya Rendi bukan Randi ...
Benar Rendi ayah dari janin yang kini dikandungnya.
Cukup lama dalam lamunannya tanpa Dara sadari air yang ia isi digelas Randi ah bukan ia Rendi sudah memenuhi hingga membuat gelas itu berisi air penuh dan membludak kemana mana...
"Kamu ini apa apaan sih ???" ucap Randi kesal karena Dara membuat celana Randi basah.
"Maafkan saya Tuan, maafkan saya " ucap Dara ingin menangis , Dara menangis bukan karena Randi sedikit membentaknya tapi karena ia mengetahui kenyataanya.
Ya Dara melihat tanda lahir dibelakang leher dan Dara yakin jika itu Rendi bukan Randi.
karena hanya Rendi yang memiliki tanda lahir itu, tanda lahir yang dulu pernah ia sentuh.
"Istirahatlah ...mungkin kamu llelah" ucap Randi memelan.
"Baik Tuan, sekali lagi maafkan saya..." ucap Dara yang segera pergi dari sana.
Didalam kamar Dara menangis sejadinya, ia masih tak ingin mempercayai ini namun inilah faktanya.
Yang berbaring dirumah sakit adalah Randi sedangkan yang bersamanya saat ini adalah Rendi, ayah biologis dari janin yang ia kandung.
Mengapa Rendi tega melakukan ini... batin Dara didalam tangisnya.
Ia juga tak ingin hamil, ia juga tak ingin menikah dengan majikanya itu namun takdir berkata lain.
Jika saat malam itu Dara bisa melawan mungkin semuanya tak akan seperti ini.
Cukup lama Dara duduk dilantai menagisi nasibnya kini Dara beranjak dan duduk ditepian Ranjang.
"Nggak perlu khawatir syaang, kalau papa nggak sayang sama kamu, nggak mau mengakui kamu... mama yang akan menjaga dan memberikan segalanya yang terbaik untukmu..." ucap Dara pelan sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Setelah puas menangis, kini Dara tidur diranjangnya, tubuhnya lelah dan matanya terasa mengantuk, ia ingin tidur sejenak, setidaknya bisa melupakan rasa sakit hatinya sebentar saja.
...
Randi berkali kali mengetuk pintu kamar Dara yang terkunci.
Biasanya Randi memang memiliki kunci cadangan kamar Dara namun ia mencari kunci kamar Dara tak ketemu.
Randi sedikit khawatir sejak pagi Dara tak keluar dari kamarnya .
"Apa Dara marah ???" batin Randi masih mengetuk pintu kamar Dara dan benar saja tak ada respon.
Menghela nafas akhirnya Randi pun memasuki kamarnya.
Pagi hari Dara bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan untuk Randi.
Dara sudah bertekad untuk mengikuti permainan Rendi yang berpura pura menjadi Randi, Dara hanya ingin tau sampai mana permainan Rendi itu.
__ADS_1
Setelah sarapan sudah ia siapkan dimeja makan, Dara bergegas membersihkan ruangan, tak berapa lama Randi keluar sudah mengenakan seragam kantornya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Randi terkejut melihat Dara sudah membersihkan apartemen.
"Saya sudah menyiapkan sarapan untuk Tuan..." ucap Dara yang diangguki oleh Randi.
"Kemarin kenapa kamu tak keluar kamar seharian ??? " tanya Randi .
"Maaf Tuan, saya lelah .." ucap Dara.
"Kamu juga tak makan seharian" protes Randi.
"Saya juga sedang tak nafsu makan.." ucap Dara.
"Tapi janin kamu butuh asupan gizi dan makanan , kamu tak boleh egois " ucap Randi .
"Maafkan saya Tuan..." ucap Dara .
"Ya sudah..."
"Tuan... bolehkan saya ijin untuk pulang kampung ???" tanya Dara yang membuat Randi sedikit tersedak karena kaget.
"Untuk apa ???" tanya Randi.
"Saya hanya rindu pada keluarga saya Tuan..." ucap Dara.
"Tapi kamu tau kan kamu lagi hamil ????" tanya Randi.
"Sekarang kehamilan saya belum terlihat Tuan, jadi ijinkan saya untuk pulang kampung sebelum perut saya membesar." pinta Dara pada Randi.
"Tentu saja Tuan, saya pasti akan menjaga diri baik baik agar tak apa apa" ucap Dara menyakinkan Randi.
"Baiklah... hanya 3 hari " ucap Randi.
"Seminggu tuan..." pinta Dara sedikit memelas.
"Baiklah baiklah... hanya seminggu pastikan benar benar seminggu" ucap Randi.
"Tentu saja Tuan, terimakasih banyak tuan" ucap Dara terlihat bahagia.
"Kapan kamu akan berangkat ???" tanya Randi.
"Besok pagi Tuan..." ucap Dara.
"Hmm baiklah..."
Apakah sesederhana itu membuat kamu bahagia... batin Randi yang melihat senyum bahagia Dara.
Selesai menikmati sarapan Randi bergegas memakai sepatunya dibantu oleh Dara.
Randi nampak menelisik wajah Dara dan melihat ada sesuatu yang aneh.
"Kamu habis nangis ???" tanya Randi nampak memperjelas penglihatanya.
"Anu..tidak tuan tadi pagi saya kelilipan" ucap Dara.
__ADS_1
"Jangan bohong kamu..." ucap Randi kesal karena memang ketara sekali mata bengkak Dara seperti habis menangis.
"Ben..bennar kok Tuan..." ucap Dara gugup.
"Yasudah lah jika memang sulit untukmu jujur ..." ucap Randi kini beranjak meninggalkan Dara yang tampak menunduk.
...
Malam hari Dara menunggu kedatangan Randi dan keberuntungan bagi Dara yang telah menyiapkan makan malam karena Randi pulang lebih awal dan makan malam dirumah.
"Jadi kamu sudah berkemas untuk besok???" tanya Randi disela sela makan malamnya.
"Sudah Tuan...Apakah Tuan tak ingin mencari penganti pembantu dirumah Tuan sanjaya ???" tanya Dara takut takut.
"Tak perlu... aku akan menunggumu pulang saja..." ucap Randi membuat Dara tersenyum miris.
Menunggu karena aku ini memang penbantunya bukan istrinya, sekalipun aku memberikan keturunan padamu tidak membuatmu bisa mencintaiku..batin Dara sesak.
"Tuan...saya lelah... bolehkah saya istirahat lebih dulu.." tanya Dara .
"Tentu saja, istirahatlah..." ucap Randi yang diangguki oleh Dara dan Dara bergegas masuk kamarnya.
Setelah Dara mengetahui segalanya memang Dara tidak nyaman sering bersama Randi , ia lebih memilih menghindari Randi atau yang lebih jelasnya Rendi.
Randi pun berpikir demikian , akhir akhir ini Ia merasa Dara seperti menghindarinya.
Tak seperti biasanya Dara selalu menemaninya hingga selesai makan, kini Dara memang sudah berubah, entah apa yang membuatnya berubah.
Dara berbaring diranjang namun masih belum bisa memejamkan mata.
hingga sebuah suara pintu terbuka sedikit mengejutkanya karena itu pintu kamarnya.
Dara pura pura memejamkan mata kala ia mendengar langkah kaki memasuki kamarnya.
Apa Tuan Randi ??? batin Dara .
Langkah kaki itu kian dekat dan kini terasa duduk disamping Dara yang pura pura terpejam.
Terasa sekali Dahi Dara nampak dielus elus kemudian berpindah ke pipi Dara dan Dara bisa merasakn itu karena memang dia belum tidur.
Setelah itu nampak sebuah bibir kenyal mengecup keningnya lama hingga membuatnya merasakan nyaman yang luar biasa.
Apakah Rendi sering melakukan ini ??? batin Dara.
" Good night Dara sayang.. maaf jika masih harus sepertii ini.." ucap Randi nampak menjeda ucapanya.
Kini tangan Randi sudah berpindah keperut Dara dan mengelus perut Dara ..
"Jangan nakal ya dek diperut mama, kasian mama kamu dia sudah berjuang berat buat melewati semua ini karena papa.. Papa sayang banget sama kamu..." ucap Randi lirih membuat jantung Dara berdegup kencang.
.Deg... jadi ......
Bersambung....
jangan lupa like vote dan komen
__ADS_1