My Maid My Wife

My Maid My Wife
12


__ADS_3

Dara sedang mengguyur badannya dibawah shower yang ada dikamar mandinya. Keringat dan penat ia rasakan setelah selesai membersihkan seluruh ruangan apartemen, jadi Dara memutuskan mandi dan setelah mandi Dara ingin keluar jalan jalan sambil mencari makanan karena sejak pagi ia belum makan, hanya meminum segelas susu ibu hamil dan ia muntahkan kembali karena rasanya begitu mual.


Dara berjalan keluar apartemen, sepertinya ia ingin memakan bakso isi telur dan rujak, Dara pun memutuskan pergi ketaman kota dimana disana banyak sekali penjual makanan gerobakan yang lezat.


Setelah sampai di taman kota dengan diantar ojek online yang tadi ia pesan, segera Dara menuju penjual bakso yang menjual bakso isi telur.


"Bang, bakso telur nya satu porsi yaa." pinta Dara pada penjual bakso itu.


"Baik neng, mau bungkus apa makan sini?" tanya penjual bakso itu.


"Makan sini aja bang." kata Dara yang langsung diangguki oleh penjual bakso itu.


Sambil menunggu pesanan datang, Dara nampak asik duduk dibawah pohon sambil melihat anak kecil yang bermain ditaman.


Tak sadar Dara sampai mengelus perutnya melihat anak kecil yang bermain dengan raut yang bahagia seperti tak ada beban.


"Baksonya neng." kata penjual bakso yang memberikan pesanan Dara.


"Makasih bang." kata Dara yang diangguki ramah oleh Penjual bakso itu.


Tanpa basa basi Dara segera menyantap bakso telurnya tak lupa menambahkan sambal dan kecap untuk membuat rasa kuah bakso menjadi nikmat.


"Hmmm jadi ini yang dinamain ngidam, enak banget." Dara dengan lahap menyantap baksonya.


Tak butuh waktu lama Dara sudah menghabiskan Bakso telurnya, rasanya Dara ingin memesan lagi baksonya namun perutnya sudah merasa kenyang dan penuh.


Setelah membayar baksonya, Dara berjalan menuju tukang rujak, ya meskipun perutnya sudah terisi bakso sepertinya masih sanggup untuk menikmati rujak .


"Bang Rujaknya 1 porsi yaa." kata Dara .


"Iya Nenng, makan sini neng?" tanya abang penjual rujak.


"Iya ban, makan sini oh iya banyakin mangga muda nya ya bang." pinta Dara.


"Siap neng, lagi ngidam ya neng??" tanya abang penjual rujak.


"Iya bang." jawab Dara sambil tersenyum.


"Wah, tapi kok sendirian aja neng ga sama suaminya, biasanya kalau lagi hamil muda kan suka manja sama suaminya , kemana mana sama suaminya." kata abang penjual rujak.

__ADS_1


"Suaminya lagi sibuk bang, banyak kerjaan." jawab Dara tersenyum miris.


"Duhh maaf ya neng, malah kepo." kata penjual rujak.


"Nggak apa apa bang." balas Dara tersenyum simpul.


Sejujurnya Dara juga ingin seperti wanita lainya yang hamil dan suaminya selalu ada untuknya dan selalu menemaninya kemanapun ia ingin pergi namun apalah daya, dia juga sadar jika statusnya hanyalah istri yang dinikahi karena terpaksa.


Ya Dara harus tetap semangat apapun statusnya ia tak masalah yang penting ia masih bisa bersama dan merawat calon anak yang kini tengah dikandungnya.


"Ini neng.." kata Abang penjual rujak sambil memberikan sepiring rujak yang membuat Dara tak bisa menahan air liurnya.


"Makasih bang." Dara segera menyantap rujak yang kini sudah dibawanya.


Setelah dirasa cukup berkulineran di taman kota akhirnya Dara memutuskan untuk pulang keapartemen, perutnnya sudah kenyang dan ia juga tak merasa mual atau ingin muntah.


Mungkin karena makanan itu yang diinginkan calon buah hatinya makanya ia tak merasa mual, padahal biasanya makanan apapun selalu membuatnya mual meskipun jarang memuntahkan hanya mual saja.


Sesampainya diapartemen, segera Dara menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang, hanya berjalan sebentar saja membuatnya terasa sangat lelah dan kantuk menyerangnya mungkin efek dari kekenyangan karena makanan yang baru saja ia makan, Dara pun memutuskan untuk pergi ke alam mimpinya sejenak.


....


Dengan kesal akhirnya ia menjawab panggilan dari Dokter Indah , kekasihnya itu.


"Hmmm... " jawab Randi dingin.


"Apakah kamu sibuk sayang?" tanya Indah ditelepon.


"Tentu saja." jawab Randi malas.


"Ahh seperti itu, padahal aku mau mengajak kamu makan siang, ya sudah kalau kamu sibuk." jawab Indah dengan nada kecewa.


"Maafkan aku sayang, mungkin hari ini aku sibuk sampai malam." jelas Randi.


"Hmm ya sudah tak apa, aku akan makan siang sendiri." kata Indah lemas.


"Maafkan aku sayang, dan sekarang aku harus meeting jadi aku matiin yaa teleponya." kata Randi dan belum sempat Indah menjawab panggilanya sudah dimatikan oleh Randi.


Randi menghela nafas kesal, sampai kapan ia harus sperti ini, sejujurnya ia sangat lelah, ia ingin kembali pada kehidupanya dahulu.

__ADS_1


sementara itu, diruangan nya Dokter Indah nampak kesal dengan kekasihnya Randi.


Bagaimana tidak akhir akhir ini ia merasa jika Randi sedikit menjauh darinya dan sudah tak perhatian lagi denganya.


Jika biasanya Randi selalu menemuinya saat makan siang dan menjemputnya saat pulang kerja jika sedang tidak sibuk, tapi sekarang sama sekali tidak pernah, entah karena kesibukanya ataupun apa, padahal kemarin sesibuk apapun Randi selalu menyempatkan untuk mengabarinya lewat telepon ataupun hanya mengirim pesan.


Randi memang sudah berubah, entah apa yang merubah sikap Randi, semoga kekhawatiran Indah tentang Randi tak pernah terjadi, ya kekhawatiran jika Randi sampai mengkhianatinya atau memiliki wanita lain.


Tidak... semoga tidak... Randi tak akan setega itu dengan nya. Ya Randi akan selalu setia dengan nya, batin Indah penuh keyakinan.


...


Malam ini sebelum kembali ke apartemen, Randi menyempatkan diri kerumah sakit untuk mengetahui perkembangan keadaan Rendi saudara nya itu.


Saat memasuki ruangan Rendi, disana sudah ada Papah dan Mamah nya yang sedang mengobrol sambil menemani Rendi.


"Pah ... mah..." sapa Randi yang langsung mendapatkan senyuman dan pelukan hangat dari sang mama, Nyonya Sanjaya.


"Kamu langsung kesini, kenapa nggak langsung pulang, kasian Dara pasti sudah nungguin kamu." kata sang Mama.


"Aku kangen sama Mama jadi kesini dulu sebentar sambil nengokin Rendi mah." jelas Randi.


"Ya sudah... Papah juga baru aja dateng." kata Mamah sanjaya mencoba mencairkan suasaana yang sedikit tegang karena sejak kejadian malam dimana kehamilam Dara terungkap Tuan sanjaya dan Randi memang tak pernah saling mengobrol ataupun hanya sekedar menyapa.


"Hmm ... Papah sama Mamah keluar dulu aja nyari makan malam, biar aku yang tungguin Rendi." kata Randi.


Meskipun sudah ada suster yang memang sengaja dipekerjakan oleh tuan Sanjaya untuk merawat Rendi namun sang Mamah tetap kekeh ingin selalu menemani Rendi sampai sadar.


"Nggak apa apa kan sayang kalau mamah sama papah tinggal sebentar?" tanya mamah pada Rendi.


" nggak apa apa mah." balas Rendi.


Tuan dan Nyonya Sanjaya pun keluar dari ruang rawat Rendi.


Kini tinggalah Randi yang sedang menatap nanar tubuh Rendi diatas ranjang sambil memejamkan mata.


"Gue harus gimana ... gue lelah ....Gue nggak bisa nahan Rindu gue sama dia... gue harap elo cepet sadar." kata Randi lirih sambil memegang tangan saudara kembarnya itu.


Bersambung....

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komen yaaa....


__ADS_2